Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 3: Perjalanan Baru


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Pangeran Sugang Laksama memegang kedua bahu Putri Angin Merah yang bernama asli Cucum Mili dan berjuluk asli Ratu Kepiting. Ia menatap syahdu sepasang mata wanita cantik bercadar merah itu, seolah ingin mangalirkan rasa cinta demi meyakinkannya.


Terlihat jelas bahwa sepasang mata Cucum Mili agak memerah dan bergenang, bukan karena kelilipan debu, tetapi karena menahan gejolak perasaan. Setelah bahagia bertemu dengan pujaan hatinya, sehari kemudian dia juga harus berpisah. Mungkin itulah risiko jika seorang wanita bajak laut mencintai seorang pangeran berstatus putra mahkota.


Sugang Laksama lalu memeluk erat tubuh Cucum Mili. Wanita bercadar itupun balas memeluk erat, membuatnya akhirnya meneteskan air mata tanpa suara kecengengan.


“Aku berjanji akan menikahimu di waktu yang akan datang, tapi aku harus mengamankan semuanya agar kebahagiaan kita tidak terputus,” ucap Sugang Laksama berbisik.


“Semoga kau tidak membuatku menjadi wanita terbodoh yang harus mempercayai kata-kata bualan Putra Mahkota Kerajaan Singayam,” ucap Cucum Mili sedih. Ini untuk kedua kalinya ia sebagai seorang ketua bajak laut dilanda kesedihan. Kesedihan pertama dia alami setelah Sugang Laksama dijemput paksa oleh armada laut Kerajaan Singayam, di saat mereka berdua akan menikah di tengah samudera.


“Tidak. Sayangku, kau harus percaya kepada calon suamimu. Ini demi kebaikan kita berdua,” tandas Sugang Laksama. Ia lalu melepaskan pelukannya dan kembali menatap lekat sepasang mata kekasihnya.


Sugang Laksama lalu menyeka air mata Cucum Mili.


“Sebagai seorang ketua bajak laut, kau tidak pantas meneteskan air mata. Kau harus tegar menatap sinar harapan kita di langit,” kata Sugang Laksama lembut.


“Iya,” ucap Cucum Mili sambil mengangguk sekali.


Cup!


Tiba-tiba Sugang Laksama mengecup bibir Cucum Mili yang terlapisi oleh cadarnya. Hal itu membuat Cucum Mili mendelik terkejut. Itu adalah kecupan bibir pertama Sugang Laksama kepadanya, meski harus terhalang cadar.


Sontak perasaan dan jiwa Cucum Mili berumput-rumput laut berbuah mutiara. Ia begitu bahagia.


“Hahahak …!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa sejumlah orang di kejauhan. Mau tidak mau keduanya mengalihkan pandangan ke sumber suara tawa.


Tampak Alma Fatara dan para sahabat sudah duduk di atas punggung kuda. Para sahabat itu adalah keempat Pendekar Sungai Darah Roh, Mbah Hitam, dan Riring Belanga.


Terlihat Adipati Adya Bangira dan keluarga, Kepal Kepeng dan istri, Arya Mungkara, Bandeng Prakas, Arung Seto, Balingga, Ujang Barendo, para prajurit Kadipaten yang masih hidup, dan warga yang sudah pulang berkumpul, siap melepas kepergian Alma Fatara dan rombongan.


“Ayo, mereka sudah mau berangkat!” ajak Sugang Laksama.


Pangeran itupun lalu memegang jari-jari tangan Cucu Mili yang berkulit hitam, kontras dengan warna kulit wajahnya yang putih mulus. Namun, urusan warna bukan ukuran, yang penting rasa. Faktanya mereka berdua merasa bahagia, meski sebentar lagi akan berpisah.


Keduanya berjalan meninggalkan bawah pohon yang posisinya jauh dari kediaman Adipati, tempat warga berkumpul.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat kedatangan sepasang kekasih gelap itu.

__ADS_1


“Kurang sopan!” maki Cucum Mili kepada Alma yang duduk di atas punggung kudanya.


“Kurang sopan!” sebut Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan bersamaan, mengikuti adat Bajak Laut Kepiting Batu.


“Ku-ku-kurang sopan!” teriak Gagap Ayu pula, tapi ketinggalan.


“Hahahak!” tawa Alma yang justru menertawakan keterlambatan Gagap Ayu.


“Hei, Ayu! Jika kau tidak bisa membuat ‘kurang sopan’ menjadi bagus, lebih baik tidak usah ikut!” hardik Juling Jitu.


“Bah! Ja-ja-jadi, aku ingin ka-ka-kalian singkirkan hanya ka-ka-karena aku gagap?” tukas Gagap Ayu sewot. “Aku ki-ki-kira sahabat, te-te-ternyata penjahat!”


“Bukan seperti itu, Ayu,” ralat Juling Jitu cepat. “Kita tetap sahabat, tapi tapi tapi … untuk urusan ‘kurang sopan’ harus ….”


“Tuh, kau pun me-me-mengejek ke-ke-kegagapanku!” tuding Gagap Ayu mendelik.


“Hei, kalian ini!” hardik Alma Fatara menengahi sengketa yang tidak perlu itu. “Kurang sopan yang bagus itu milik Bajak Laut Kepiting Batu. Kurang sopan gaya kalian ya yang seperti ini, harus ada gaya gagapnya. Hahaha!”


“Hahaha!” tawa rendah mereka mengikuti tawa Alma Fatara.


“Ayo, Kakak Putri Angin Merah!” ajak Alma Fatara.


Cucum Mili yang berpenampilan anggun itu lalu naik ke punggung kuda yang sudah disiapkan untuknya. Sugang Laksama terus memegangi tangan Cucum Mili.


“Alma, jaga Putri Angin Merah demi aku!” seru Sugang Laksama.


Alma Fatara pun menggebah pelan kudanya yang diikuti oleh yang lain.


“Alma, kami akan selalu menunggumu!” teriak Ujang Barendo yang berdiri berdampingan dengan Balingga sambil melambaikan tangan. Rupanya mereka berdua bisa selamat dari racun bajak laut.


“Betul, kami akan menunggumu datang kembali ke Balongan!” teriak Arya Mungkara pula.


“Hahaha! Terima kasih Kakang-Kakang ganteng!” sahut Alma Fatara sambil menengok ke belakang dan balas melambaikan tangan.


“Jangan melupakan aku, Sayang,” ucap Sugang Laksama sambil menepuk bokong Cucum Mili, membuat gadis matang itu terkejut. “Maaf, salah tepuk. Hahaha!”


Sugang Laksama tertawa sambil ganti menepuk bokong kuda, membuat kuda pun berjalan.


Rombongan Alma Fatara melewati pagar manusia di sisi kanan dan kiri, yang adalah warga Ibu Kota Balongan yang sudah pulang dari pengungsian. Meski mereka semua sedang berduka karena ada anggota keluarga mereka yang mati, tapi mereka merasa terhibur oleh pembelaan Alma dan pasukan Kerajaan Singayam.


Hanya Alma dan keempat sahabat kentalnya yang terus melambaikan tangan kepada warga, memberi nuansa keakraban.


Hingga akhirnya rombongan itu lepas menuju jalan keluar dari Ibu Kota.

__ADS_1


Sementara itu, Pangeran Sugang Laksama masih ada sedikit urusan dengan para pemimpin Pasukan Pertama, yang pasukannya nyaris habis total dalam penyergapan. Setelah itu, ia bersama tiga puluh prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan akan pergi menyusul kepulangan Pangeran Derajat Jiwa dan pasukan yang sudah lebih dulu di hari kemarin.


“Kakak Putri, di mana kau simpan seluruh anak buahmu?” tanya Alma Fatara yang berkuda diapit oleh Cucum Mili dan Riring Belanga.


“Mereka membangun desa di sebuah pantai dan untuk sementara menyamar menjadi nelayan,” jawab Cucum Mili.


“Langkah pintar. Hahaha!” puji Alma Fatara.


“Sebenarnya kau siapa, Putri Angin Merah?” tanya Riring Belanga.


“Kekasih Pangeran Sugang. Aku adalah calon istrinya sebelum dia dipaksa menikah dengan pilihan ayahnya,” jawab Cucum Mili.


“Jadi kau adalah ketua bajak laut itu?” terka Riring Belanga. Ia pernah mendengar cerita angin tentang Pangeran Sugang Laksama yang gagal nikah dengan seorang wanita bajak laut. “Sepertinya kau menyembunyikan jati dirimu karena Gusti Prabu telah memerintahkan untuk membunuh semua bajak laut.”


“Alma, kenapa kau mengajak dia?” tanya Cucum Mili.


“Orang yang ingin kita selamatkan adalah gurunya. Jadi aku wajib mengajak Bibi Riring, kecuali dia memang tidak mau,” jawab Alma.


“Aku sedang bebas tugas dari kemiliteran Kerajaan Singayam, jadi aku tidak akan menargetkanmu, Putri,” kata Riring Belanga.


“Jika kau menargertkanku, aku pun tidak akan sungkan untuk membunuhmu!” tandas Cucum Mili.


Riring Belanga hanya tersenyum kecil.


Mereka akhirnya meninggalkan Ibu Kota Balongan untuk pergi ke suatu tempat terlebih dulu. Sebab, Alma tidak mau pergi ke Perguruan Bulan Emas tanpa membawa benda yang bernama Telur Gelap.


Sementara itu di kediaman Adipati Adya Bangira.


“Arung Seto, kau lihat adikmu?” tanya sang adipati.


“Tidak, Ayahanda,” jawab Arung Seto.


“Coba tolong kau cari keberadaannya. Cukup kesedihanku harus kehilangan Ariang Banu. Aku tidak mau jika kita tiba-tiba kehilangan Kembang Bulan,” kata Adya Bangira.


“Baik, Ayahanda.”


Arung Seto lalu meninggalkan ayahnya untuk menemukan keberadaan Kembang Bulan.


Ketika Alma Fatara dan rekan-rekan dilepas pergi, Arung Seto memang tidak melihat keberadaan adiknya yang cantik. (RH)


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!



__ADS_2