
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Sebentar lagi kita akan sampai di rumah Demang Baremowo, salah satu orang yang membuat Ayah dan Emak kaya mendadak sehingga menjadi orang bersandal,” kata Alma Fatara kepada keempat sahabatnya.
“Kenapa kau tidak minta harta juga kepada Raden Runok Ulung supaya keluarga kita di desa sana menjadi kaya semua?” sesal Juling Jitu.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar penyesalan Juling Jitu.
“Jika kau ingin menjadi seorang pendekar pengelana, jangan pernah pikirkan harta emas permata. Namun, jika ingin menjadi orang kaya, lebih baik pulanglah dan jual ikan yang banyak. Atau jadi juragan perahu di Iwaklelet,” kata Alma.
“Be-be-betul. Pu-pu-pulang saja!” timpal Gagap Ayu.
“Memangnya kau tidak mau jadi orang kaya, Ayu?” tanya Juling Jitu.
“Ti-ti-tidak. Aku ha-ha-ha ….”
“Apa yang kau tertawakan, Ayu?” tanya Iwak Ngasin.
“Aku ti-ti-tidak tertawa. Apakah kau ti-ti-tidak bisa membe-be-bedakan tertawa dan gagap?”
“Hahaha!” tawa Alma dan Iwak Ngasin.
“Aku ha-ha-hanya ingin menjadi pu-pu-putri, istri seorang pa-pa-pangeran,” kata Gagap Ayu.
“Kau jangan bermimpi terlalu dalam, nanti kau tenggelam, Ayu! Hahaha!” hardik Anjengan lalu menertawakan.
“Aku yakin, jika Ayu benar-benar jadi putri, dia pasti malu untuk pulang ke desanya lagi,” kata Iwak Ngasin.
“Aku itu bu-bu-bukan wa-wa-wanita seperti ke-ke-keong lupa ca-ca-cangkang.”
“Nah, sebentar lagi kita sampai,” kata Alma bersemangat. “Tenang saja, pokoknya kita akan makan enak.”
Namun, tiba-tiba ….
“Berhenti!” perintah satu suara lelaki yang terdengar cempreng seperti kaleng gepeng.
Alma Fatara dkk pun berhenti berjalan dan menengok ke arah kanan. Mereka melihat dua makhluk berjalan ke arah mereka.
Makhluk pertama seorang lelaki gemuk tinggi seperti anak raksasa. Baju birunya agak pendek, membuat pusarnya yang laksana sumur kematian terpampang pasrah. Ia berambut pendek dan kepalanya dililit dengan tambang berwarna merah gelap. Di lehernya melingkar selingkaran tambang merah gelap. Celana hitamnya gombrong besar, tapi tidak kepanjangan. Manusia itu bernama Paus Ijo.
Sangat kontras dengan orang yang bersamanya, seorang lelaki tua tapi bertubuh mini. Tinggi si lelaki mini hanya sampai lutut Paus Ijo. Lelaki tua mini itu bernama Gede Gaya.
“Hei, mau ke mana kalian?!” bentak Gede Gaya.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma dan rekan-rekannya saat melihat sosok kedua makhluk itu.
“Hei! Kalian menertawai kami?!” bentak si mini saat mereka berdua sudah berdiri menghadang Alma dan keempat sahabatnya.
“Kalian menanyai kami?!” balas Alma Fatara tanpa rasa takut.
“Kurang ajar!” maki Paus Ijo dengan suara basnya, cocok dengan besar fisiknya. Ia merasa diejek oleh gadis cantik jelita berjubah hitam.
“Hahaha! Anjengan kalah besar!” ejek Iwak Ngasin.
“Nah, yang seperti ini nih yang cocok untukmu, Anjengan!” kata Juling Jitu pula.
“Diam kalian! Atau aku bungkam dengan pelukanku!” bentak Anjengan kepada Iwak Ngasin dan Juling Jitu.
__ADS_1
“Hahaha!” Kedua pemuda itu hanya tertawa melihat reaksi Anjengan.
“Kenapa kalian berdua menghadang kami?” tanya Alma Fatara kepada kedua penghadang mereka.
“Untuk sementara pendekar dilarang masuk ke kademangan ini!” jawab Gede Gaya lantang.
“Kenapa? Kami mau ke rumah Demang Baremowo!” ujar Alma mulai menantang pula.
“Apalagi itu. Jika kalian memaksa pergi ke rumah Demang, maka kalian akan mati. Saat ini, Bajak Laut Kepiting Batu menguasai kademangan ini!” tandas Gede Gaya sambil dongakkan dagu kecilnya.
“Oooh!” desah Alma dan Anjengan bersamaan sambil menunjuk kedua penghadang mereka.
“Jadi kalian kelompok Bajak Laut Kepiting Batu? Hah, pertemuan yang sangat kami tunggu!” kata Iwak Ngasin.
Terkejutlah Paus Ijo dan Gede Gaya melihat reaksi Alma dan rekan-rekannya.
“Hahaha! Kalian berdua, ayo ingat siapa aku!” kata Alma memberi kuis. “Jika kalian ingat, aku akan beri hadiah yang menyenangkan!”
“Hadiah apa? Hehehe!” tanya Paus Ijo mulai melunak karena ia mulai terkekeh.
“Dicium Anjengan dan Gagap Ayu,” jawab Alma sambil merangkul bahu Anjengan.
“Sembarangan!” maki Anjengan sambil menyikut samping dada Alma, sampai-sampai terguncang dada perawan itu.
“Ak!” jerit Alma tertahan sambil refleks melompat kecil ke samping menjauhi Anjengan. Ia memegangi dadanya dengan maksud berjaga-jaga.
“Hahahak!” tawa Anjengan dan yang lainnya, termasuk kedua lelaki yang menghadang.
“Jika hadiahnya kau yang mencium kami, kami akan menebaknya,” kata Gede Gaya.
“Ah, tidak jadi. Kalian maunya hanya yang cantik-cantik saja, tidak mau yang jelek-jelek,” kata Alma.
“Hahaha!” tawa Paus Ijo dan Gede Gaya saat mendengar kegagapan Gagap Ayu.
“Hei! Apa yang ka-ka-kalian te-te-tertawakan?!” bentak Gagap Ayu.
“Kami menertawakan ka-ka-kamu! Hahaha!” jawab Gede Gaya mengejek lalu tertawa terbahak.
Buk!
Tiba-tiba Gagap Ayu menonjok, tetapi dari tempatnya berdiri. Gede Gaya yang berdiri dalam jarak dua tombak, langsung terpental sejauh tiga tombak.
“Hahahak …!” Meledaklah tawa Alma dan rekan-rekan melihat lelaki mini itu terpental seperti biji salak. Bahkan Paus Ijo ikut menertawakan.
“Aku mencium bau Bola Hitam!” teriak seorang perempuan tiba-tiba, lantang dan membahana.
Jleg! Wess!
Sesosok wanita mendarat dengan keras di tanah sisi Paus Ijo. Sampai-sampai anginnya menderu keras ke segala arah. Anjengan dkk sampai terjajar beberapa tindak, kecuali Alma Fatara yang kokoh berdiri di tempatnya. Bahkan Paus Ijo sampai oleng ke samping hampir jatuh karena keberatan bobot.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma berkepanjangan melihat siapa yang hadir.
Wanita yang baru datang adalah wanita muda bertubuh sekal dengan rambut panjang yang dikepang. Ia mengenakan pakaian berwarna biru gelap. Warna kulit tangannya yang hitam, kontras dengan warna kulit wajah dan lehernya yang putih halus, membuatnya terkesan belang. Namun, putihnya kulit wajahnya membuatnya lebih jelita. Wanita yang jauh lebih tua daripada Alma itu, membawa sebuah tas kulit selempangan yang sarat akan isi, yang jelas isinya bukan buku mata pelajaran atau alat tulis lainnya.
“Tidak sopan!” bentak wanita yang tidak lain adalah Cucum Mili yang berjuluk Ratu Kepiting. Ia adalah Ketua Bajak Laut Kepiting Batu.
“Tidak sopan!” bentak Paus Ijo dan Gede Gaya mengikuti kata-kata ketuanya.
“Hahahak …!” Alma Fatara semakin tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai memegangi perutnya, bukan dadanya lagi.
__ADS_1
Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu seketika teringat dengan sosok ketua bajak laut perempuan yang pernah menyerang Desa Iwaklelet sekitar empat tahun yang lalu.
“Tidak sopan menertawai orang tua!” bentak Cucum Mili.
“Senang sekali bertemu dengan sahabat lama, Bibi! Hahaha!” kata Alma sambil masih tertawa, tapi sudah mereda.
“Tidak sopan!” bentak Cucum Mili lagi.
“Tidak sopan!” bentak Paus Ijo dan Gede Gaya pula, membuat ketiga bajak laut itu menjadi lucu.
“Tidak sopan sekali kau menyebutku Bibi, Alma! Kau pikir aku sudah setua apa, hah?!” hardik Cucum Mili yang bisa langsung mengenal Alma, meski sudah empat tahun lamanya mereka tidak bertemu.
“Aku panggil kakak saja. Aku tidak menyangka bajak laut bisa jauh dari laut. Apakah Kakak sudah tobat dan berubah menjadi kepiting sawah?”
“Aaah, itu bukan urusan anak kecil!” kata Cucum Mili.
“Hahaha! Sekarang aku bukan anak kecil lagi, Kak. Coba lihat, dada kita sudah sama besarnya!” kata Alma setelah tertawa.
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin, Juling Jitu, Paus Ijo, dan Gede Gaya.
Iwak Ngasin dan Juling Jitu tampak senang mendengar bahasan kedua wanita sakti itu. Jarang-jarang Alma mau membahas tentang dadanya.
“Ternyata kau dan gurumu berhasil membodohi aku dan suami gagalku. Buktinya kau masih menyimpan Bola Hitam sampai sekarang.”
“Eh, siapa suami gagal Kakak? Apakah Pangeran Sugang Laksama, Pendekar Pedang Jurig? Hahaha!” tanya Alma.
“Pendekar Pedang Dedemit, bukan Pedang Jurig!” ralat Cucum Mili.
“Sudah berapa lama Kakak tidak bertemu dengan si Pedang Dedemit itu?” tanya Alma.
“Sejak pernikahanku dengannya digagalkan oleh Angkatan Laut Kerajaan Singayam. Tapi sekarang adalah waktunya untuk membalas dendam atas nama cinta,” kata Cucum Mili.
“Dua tahun lalu aku sempat bertemu dengannya. Dia semakin tampan,” kata Alma bermaksud menggoda Cucum Mili.
“Benarkah? Apakah dia sudah menikah?” tanya Cucum Mili antusias.
“Sepertinya sudah.”
“Ah, persetan dengannya! Nanti aku akan bunuh istrinya dan mengambil kembali suamiku! Cuih! Kenapa jadi bahas suami gagalku? Alma, serahkan Bola Hitam itu!”
“Bola Hitam sudah menjadi senjata milikku. Siapa pun yang mau merebutnya, aku pastikan akan jera. Termasuk kau, Kakak Cucum!” tandas Alma Fatara sambil tersenyum tipis.
“Hebaaat! Aku jadi penasaran ingin tahu, kau sudah menjadi apa setelah dididik selama empat tahun oleh Pemancing Roh,” kata Cucum Mili.
“Aku sarankan agar Kakak jangan berniat merebut Bola Hitam, sangat berbahaya,” kata Alma.
“Hah! Jika sampai aku tidak bisa mendapatkan Bola Hitam darimu, maka nama Bajak Laut Kepiting Batu akan aku ganti menjadi Bajak Laut Kepiting Rebus!”
“Hahaha! Setuju!” pekik Alma setelah tertawa menertawakan pertaruhan Cucum Mili.
“Kalian semua menjauh! Ini perkara dua gadis cantik!” perintah Cucum Mili kepada anak buahnya dan rekan-rekan Alma. (RH)
*****************************
Flashback
Sehubungan novel pertama Alma Fatara yang berjudul "Dewi Dua Gigi" ada di aplikasi kuning, sehingga banyak readers yang tidak bisa mengikutinya disebabkan berbayar, maka Author berinisiatif memasukkan cerita Alma edisi pertama ke novel "Perjalanan Alma Mencari Ibu" dengan status cerita flashback.
Bagi Readers yang sudah membaca novel "Dewi Dua Gigi", harap berlapang dada untuk bersabar atau membaca ulang kisahnya.
__ADS_1
Jadi, chapter berikutnya adalah chapter flashback yang merupakan kelanjutan dari episode 5 yang menceritakan masa ketika Alma dikejar-kejar oleh kelompok Bajak Laut Kepiting Batu. Semoga bisa dimaklumi.