
*Episode Terakhir (PITAK)*
“Aku memang berseteru dengan Nenek Wulan Kencana. Namun, aku butuh alasan kuat, kenapa aku harus membantumu, Kakang Badak,” ujar Alma Fatara kepada Badak Ireng.
“Uhhuk uhhuk!” Badak Ireng batuk darah sebelum menjawab. Lalu jawabnya, “Karena Gusti Ratu bermusuhan dengan Wulan Kencana, aku menduga kuat bahwa Gusti Ratu akan memburunya. Alasan yang lain adalah aku berada di pihak pemerintah, sedangkan Wulan Kencana berkomplot dengan para pemberontak. Sebagai seorang ratu, mungkin Gusti Ratu akan menolongku karena tentunya Gusti Ratu juga membenci pemberontak.”
“Hua hua hua,” ucap Alma Fatara lirih sambil manggut-manggut, seolah sedang menimbang agar tidak bimbang. “Apa yang kalian perebutkan dengan Nenek Wulan Kencana?”
“Pawang Tengkorak telah memimpin orang merebut Gua Ular yang menjadi tambang emas milik Kadipaten Gulangtara,” jawab Badak Ireng.
“Oh, seperti itu. Jadi, jika aku bisa menghabisi Wulan Kencana dan sekutunya, berarti tambang emas itu akan menjadi milikku?” tanya Alma Fatara.
“Eee …,” dengung Badak Ireng karena bingung menjawabnya. “Tapi … tidak mungkin aku mengiyakan, Gusti Ratu. Sebab, tambang itu adalah milik pemerintah Kadipaten Gulangtara.”
“Hahaha! Tidak, aku hanya bergurau,” kata Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.
Lega pulalah Badak Ireng.
“Tapi, aku sedang terburu-buru menuju Kerajaan Jintamani. Bertarung dengan Wulan Kencana sangat berat. Dia memiliki kesaktian yang sulit membuatnya mati. Bertarung dengan kelompoknya sangat berisiko, Kakang. Lagi pula aku tidak memburu Wulan Kencana, tapi dia akan datang sendiri kepadaku,” kilah Alma Fatara cenderung menolak.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba terdengar suara lari kuda yang kencang datang mendekat dari jauh. Alma Fatara dan pasukannya segera melihat ke arah kuda yang datang.
Mereka melihat kedatangan tiga ekor kuda. Meski jauh, Alma Fatara sudah bisa mengenali dua wajah dari tiga penunggang kuda tersebut. Ia mengenali wajah pemuda tampan berpakaian hitam dan wanita dewasa berwajah dingin.
“Kakak Putri! Pangeranmu akhirnya datang!” teriak Alma Fatara kepada Cucum Mili yang berdiri tidak jauh dari kereta kuda.
Terkejutlah Cucum Mili mendengar teriakan Alma Fatara. Ia memang tidak langsung mengenali wajah ketiga penunggang kuda tersebut. Saat matanya membenarkan perkataan Alma Fatara, maka berbinar-binarlah sepasang matanya dan senyum mekar tercipta di wajahnya yang tertutupi cadar merah.
“Itu Gusti Pangeran Sugang Laksama dan Panglima Pamungkas Riring Belanga,” kata Arung Seto kepada Juling Jitu yang ada di sisinya.
Ketika ketiga kuda itu kian mendekat, maka jelaslah bahwa mereka adalah Pangeran Sugang Laksama, Panglima Riring Belanga dan seorang lelaki separuh baya berpakaian merah tapi bersabuk biru.
__ADS_1
Untuk sementara dialog antara Alma Fatara dan Badak Ireng terjeda. Alma Fatara dan pasukannya membiarkan ketiga kuda yang berlari kencang datang mendekat.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambil berdiri dari duduknya, saat ketiga orang dari Kerajaan Singayam itu menghentikan kudanya di depan rombongan.
“Alma Fataraaa!” teriak pemuda tampan berbadan gagah yang memang adalah Pangeran Putra Mahkota Kerajaan Singayam, Sugang Laksama. Pemuda berpedang itu langsung memanggil Alma Fatara saat melihatnya berdiri di atas kereta kuda.
“Kurang sopan!” bentak Panglima Besar Anjengan tiba-tiba.
“Kurang sopan!” bentak semua personel Pasukan Genggam Jagad begitu mengintimidasi.
“Hah!” kejut Pangeran Sugang Laksama mendapat bentakan dari puluhan orang. Ini pertama kali dia sebagai seorang pangeran diperlakukan sedemikian.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat reaksi pemuda tampan yang sudah beristri dan beranak itu.
“Pangeran telah lancang dalam memanggil seorang ratu,” kata Riring Belanga mengingatkan Pangeran Sugang Laksama.
“Oooh. Hahaha!” desah Pangeran Sugang Laksama mengerti, lalu tertawa ringan. Sebelumnya Riring Belanga memang sudah menceritakan tentang keratuan Alma Fatara.
Alma Fatara lalu turun dari kereta kudanya.
Cucum Mili selaku orang yang memiliki ikatan cinta dan batin kepada Pangeran Sugang Laksama, segera mengikuti Alma Fatara menuju depan rombongan. Demikian pula dengan Anjengan.
Pangeran Sugang Laksama, Panglima Riring Belanga dan yang seorang lagi telah turun dari kuda-kudanya. Panglima Arung Seto, Juling Jitu dan Gede Angin segera memegangi tali kuda.
“Sepertinya kau sudah menjadi pejabat tinggi di dalam Kerajaan Siluman, Arung,” sapa Pangeran Sugang Laksama kepada Arung Seto yang pernah menjadi perwira dalam kemiliteran Kerajaan Singayam.
“Hahaha! Masih sebatas panglima kecil, Gusti Pangeran,” jawab Arung Seto.
“Hormatku, Gusti Ratu,” ucap Pangeran Sugang Laksama sembari menghormat secukupnya kepada Alma Fatara, demikian pula dengan Riring Belanga dan lelaki satunya.
“Hahaha! Seharusnya aku yang menghormat lebih dulu,” kata Alma Fatara sambil tertawa begitu akrab. Lalu ia pun balas menghormat dengan secukupnya, yang penting takaran garamnya pas di lidah. “Hormatku, Kakang Pangeran, Kakak Riring, Paman Guru.”
“Kau masih mengingatku, Gusti Ratu,” kata lelaki separuh baya di sisi kanan Pangeran Sugang Laksama seraya tersenyum. Lelaki berbadan besar dan kokoh itu adalah Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan yang bernama Ragum Pangkuawan, kakak seperguruan Wiwi Kunai, guru Alma Fatara.
“Hahaha! Bisa durhaka aku jika melupakan Paman Guru,” kata Alma Fatara sembari tertawa.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa mereka bersama.
Pertemuan Alma Fatara dengan Panglima Ragum Pangkuawan terjadi dua tahun yang lalu di Kadipaten Balongan, ketika adipati saat itu mengadakan pertandingan memanah yang berujung kisruh.
“Pasukan Gusti Ratu semakin besar,” komentar Riring Belanga.
“Dan ini akan bertambah besar. Pendekar mana yang tidak mau bergabung jika ratunya secantik aku, Kakak. Hahaha!”
“Hahaha!” tawa mereka kembali bersama-sama.
“Kakang, apakah kedatanganmu ingin menegaskan hubunganmu dengan Kakak Putri Angin Merah?” tanya Alma Fatara.
Pertanyaan Alma Fatara membuat sang pangeran menatap fokus kepada mata Cucum Mili yang saat itu tersenyum tersipu siput.
Pangeran Sugang Laksama lalu maju ke hadapan Cucum Mili. Jarak mereka hanya sejangkauan. Pemuda itu lalu meraih tangan kanan Cucum Mili yang tidak menggenggam pedang.
Berdesir siut-siut darah cinta Cucum Mili tepat ketika jari jemarinya diraih oleh Pangeran Sugang Laksama.
“Sayang, maafkan aku,” ucap Pangeran Sugang Laksama dengan nada dan wajah yang sedih.
Deg!
Kalimat itu membuat jantung Cucum Mili seperti ditinju kangguru. Seketika terbesit dugaan-dugaan buruk berdasarkan dari nada kalimat itu.
“Maafkan aku, karena telah membuatmu lama menungguku,” ucap Pangeran Sugang Laksama yang memberi kelegaan di dalam pikiran dan hati Cucum Mili.
Cucum Mili kembali tersenyum di balik cadarnya.
“Namun, aku tidak bisa segera menikahimu,” ucap Pangeran Sugang Laksama lagi, yang membuat suasana hati Cucum Mili menjadi rusuh.
“Sebenarnya yang ingin Kakang Sugang sampaikan kepadaku, kabar bahagia untukku atau kabar buruk?” tanya Cucum Mili mulai merasa kesal dengan tatapan yang siap menangis.
“Aku tidak bisa segera menikahimu karena istriku telah mati,” kata Pangeran Sugang Laksama.
Jlegger!
__ADS_1
Seumpama ada petir di atas kepala mereka Alma Fatara dan Cucum Mili saat mendengar kalimat terakhir sang pangeran. (RH)