
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Kedua lelaki beda usia itu akhirnya melihat keberadaan Desa Julangangin, sebuah desa yang pada bagian luarnya terlihat seperti susunan tangga alam. Kontur tanahnya seperti undakan-undakan raksasa tanah dan batu.
Jika dari sisi utara, Desa Julangangin seperti sebuah bukit karena posisinya tinggi. Ada sejumlah bangunan rumah dan kedai makan di atas undakan-undakan itu. Pada tanah datar puncaknya adalah pusat Desa Julangangin. Di sana banyak rumah-rumah warga dan pusat kehidupan dari penduduk desa. Di sana ada berbagai perkebunan dan peternakan.
Desa itu terlihat lebih indah karena pada sisi selatannya ada sebuah curug yang menjadi sumber air satu-satunya.
Kedua musafir tersebut mendekati tangga undakan yang setiap undakan tingginya setinggi lutut. Adapun sisi datarnya bervariasi, karena ada yang dijadikan lantai kedai atau rumah biasa, bahkan tempat pohon bertumbuh. Di sekitar undakan terbawah ada sekelompok kuda yang tertambat.
Orang yang tua berusia sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Lelaki bertubuh kurus itu mengenakan jubah biru gelap melapisi pakaian putihnya. Rambutnya masih ada yang berwarna hitam. Ia memiliki hidung yang pendek tanpa kumis dan jenggot. Yang aneh adalah kesepuluh jari tangannya berwarna hitam mengilap seperti berbahan besi hitam. Kuku-kukunya pun berwarna hitam. Dia adalah salah satu tokoh sakti dunia persilatan yang bernama Rereng Busa, ketua atau guru di Perguruan Jari Hitam, perguruan di Kademangan Dulangwesi yang ia bangun sejak awal.
Pemuda yang bersama Rereng Busa adalah seorang tampan berusia tiga puluh dua tahun. Ia mengenakan pakaian putih juga. Kesepuluh jari tangannya juga berwarna hitam, tetapi tidak seperti besi, seperti jari dicat tinta hitam. Ia bernama Giling Saga, salah seorang dari murid utama Rereng Busa.
“Jika melewati daerah ini, adalah wajib untuk mampir di kedai makan Mbah Lawut. Semua pendekar yang tahu dan pernah mendengar keternamaan ayam panggang Mbah Lawut, mereka pasti akan mampir ke Desa Julangangin,” kata Rereng Busa kepada muridnya, sambil tersenyum.
“Cerita Guru membuat aku penasaran untuk tahu apa bedanya dengan ayam panggang yang biasa kita buat di perguruan,” kata Giling Saga.
“Hahaha!” tawa Rereng Busa. “Kuda-kuda yang ditambat itu biasanya milik pendekar persilatan yang mampir makan di kedai desa ini. Ada dua kedai ternama. Pertama kedainya Mbah Lawut dan kedua kedainya Ki Jentang.”
“Jika kedainya Ki Jentang apa yang ditawarkan, Guru?” tanya Giling Saga.
“Hanya bubur kambing pedas,” jawab Rereng Busa.
“Boleh dicoba, Guru. Kita makan bubur kambing pedas sekaligus ayam panggang,” ujar Giling Saga.
“Hahaha! Tidak bisa. Sudah menjadi kesepakatan kedua kedai bahwa makanan mereka pantang dipadu dalam satu kesempatan atau satu hari,” kata Rereng Busa.
“Hah! Seperti itu, Guru?” kejut Giling Saga.
__ADS_1
“Iya. Itu aturan yang sudah diketahui oleh para pendekar yang pernah mampir di kedai makan di sini,” kata Rereng Busa.
Akhirnya mereka mulai menaiki undakan tangga untuk sampai ke sebuah kedai makan cukup besar, yang pada sisi belakangnya ada kepulan asap yang membumbung. Aroma ayam panggang yang harumnya sudah menggambarkan rasa manis tercium jelas.
“Sudah kau cium aroma kelezatannya, Giling?” tanya Rereng Busa seraya tersenyum.
“Iya, Guru. Benar-benar aroma yang berbeda dengan ayam panggang yang kita bakar di perguruan,” kata Giling Saga.
Pada akhirnya, mereka tiba di depan kedai makan milik Mbah Lawut. Dari luar, mereka dengan leluasa bisa melihat sejumlah pelanggan yang sedang bermakan di kedai itu. Terlihat pula kesibukan dua pelayan dan tiga orang pemanggang ayam di bagian belakang kedai.
Sejumlah pelanggang yang sudah ada di dalam kedai berdinding terbuka itu, beberapa berperawakan pendekar, laki-laki dan wanita. Ada pula yang berperawakan seperti bangsawan dan juga seperti warga desa biasa.
“Nah, yang di sana itu, itu kedai Ki Jentang!” Rereng Busa menunjuk kedai lain, jaraknya sekitar lima belas tombak jauhnya dan lebih tinggi dua undak tangga.
Guru dan murid itupun melangkah masuk. Seorang pelayan segera datang menyambut dengan senyum dan ucapan selamat datang.
“Berikan kami dua panggang utuh,” pesan Rereng Busa.
Kedatangan Rereng Busa dan Giling Saga sejenak diperhatikan oleh para pelanggan yang lain, tapi itu adalah hal yang biasa dan wajar. Biasanya pelanggan yang lain selalu memperhatikan sebentar pelanggan yang baru masuk hanya untuk melihat apakah teman atau kenalan.
“Dia Ketua Perguruan Jari Hitam,” kata seorang pendekar lelaki gemuk berpakaian berpola kulit macan tutul. Bajunya tidak berlengan, memperlihatkan lengan besarnya yang berlemak pula. Ia bernama Raja Buru, salah satu pendekar dunia persilatan.
“Kakang benar. Terlihat dari jari-jari tangan mereka yang berwarna hitam. Bukankah Sungging Arda yang berjuluk Punggawa Jari Hitam berasal dari Perguruan Jari Hitam?” kata wanita gemuk yang berpakaian hitam kuning. Bahan pakaian atasnya yang berwarna hitam terbuat dari kulit karena memiliki lapisan rambut halus seperti bulu binatang. Meski gemuk, tetapi wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan kulit yang halus dan hidung nan mancung. Usianya setara dengan Raja Buru, yaitu kisaran empat puluhan tahun. Ia bernama Ratu Kejar, istri dari Raja Buru.
“Aku tidak pernah mendengar dia berasal dari perguruan itu, tetapi Sungging Arda memang memiliki tangan seperti Rereng Busa,” kata Raja Buru.
Raja Buru dan Ratu Kejar kembali melanjutkan santapannya yang berupa ayam panggang berlumur cairan yang lengket.
Ternyata tidak pakai lama dalam menunggu pesanan. Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga pelayan datang membawa pesanan secara lengkap.
Terlihat jelas bahwa tampilan dua ayam panggang utuh begitu menggugah selera. Ayam panggang yang berlumur cairan kental dan bening. Asap tipis masih keluar dari makanan yang menjadi satu-satunya menu utama di rumah makan itu selain nasi dan lalapan.
__ADS_1
Ketika Rereng Busa mematahkan satu paha ayam jatahnya, terlihat warna daging yang matang dan berasap lebih tebal.
“Kelezatan dagingnya karena kematangan yang sempurna, dipermanis oleh madu yang meresap sampai ke dalam daging dan tulang,” kata Rereng Busa yang sudah menikmati sebelum daging masuk ke dalam mulutnya. “Hemm!”
Ketika Rereng Busa mulai memasukkan daging ayam panggangnya, lalu menggigit dan merasakannya, ia terlihat begitu menikmati, seperti bintang iklan makanan yang wajib berekspresi nikmat.
Giling Saga hanya tersenyum melihat reaksi gurunya dalam menikmati makanan itu. Ia pun kemudian memakan ayam jatahnya. Ternyata ia pun harus mengakui dengan anggukan beberapa kali sambil mengunyah.
Namun, setelah berlalu sepuluh menit kemudian. Tiba-tiba Rereng Busa mendelik dan berhenti mengunyah dalam kelezatannya, meski mulutnya penuh oleh makanan.
“Hentikan, Giling!” perintah Rereng Busa pelan. Lalu katanya lagi, “Makanan kita telah diracun!”
“Apa?!” kejut Giling Saga keras, membuat pengunjung lain jadi beralih memandang kepada mereka berdua.
Rereng Busa dan Giling Saga kompak melepeh makanan yang ada di dalam mulut mereka ke atas makanan mereka di meja.
Melihat hal itu, heranlah pelayan dan pengunjung yang lain.
Rereng Busa lalu bangkit berdiri. Sementara Giling Saga mulai merasakan reaksi racun pada dirinya. Ia mulai dilanda pusing dengan cepat.
“Siapa orang yang dengan licik meracuni makanan kami?!” tanya Rereng Busa dengan nada lantang kepada semua orang yang ada di kedai makan itu.
Terkejutlah semua orang mendengar pertanyaan itu. Mereka kian percaya ketika melihat Giling Saga mulai oleng dengan cepat dalam posisi duduknya.
Giling Saga berusaha bertahan dengan berpegangan pada sisi meja. Selain kepalanya yang dengan cepat menjadi terlalu pusing, pandangannya pun dengan cepat menjadi rabun. Makanan yang dilihatnya di meja mulai menyamar visualnya.
Rereng Busa yang masih bisa bertahan karena mengerahkan tenaga saktinya, sedang memandangi orang-orang di kedai itu satu demi satu.
“Maafkan kami, Tetua Rereng Busa!” ucap seorang lelaki berpakaian serba kuning sambil melangkah masuk ke kedai dari pintu belakang bersama enam lelaki lain. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!