
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Raja Kerajaan Singayam, Prabu Manggala Pasa, dibuat murka oleh surat dari Ketua Bajak Laut Ombak Setan yang sampai di tangannya. Surat itu dibawa oleh seorang utusan yang bernama Kelabang Basah.
Jika bukan seorang utusan, mungkin Kelabang Basah tidak akan bisa pulang ke kelompoknya yang kini menduduki Balongan, ibu kota Kadipaten Balongan.
“Bawa pergi utusan keparat itu dan usir!” perintah Prabu Manggala Pasa kepada prajuritnya.
Empat orang prajurit Istana segera datang untuk mencekal pendekar tampan dan gagah berkulit hitam itu. Namun, pemuda bernama Kelabang Basah segera bangkit dan mencegah para prajurit itu menyentuhnya.
“Aku bisa keluar sendiri!” teriak Kelabang Basah dengan suara serak-serak becek.
“Kembalilah dan tunggu kematian semua bajak laut!” teriak Prabu Manggala Pasa.
Kelabang Basah tidak menanggapi ancaman Prabu Manggala Pasa, dia terus melangkah keluar dengan pengawalan beberapa prajurit.
“Pangeran Sugang Laksama! Senopati Geruduk Ati!” panggil Prabu Manggala Pasa.
Pangeran Sugang Laksama yang tampan dan Senopati Geruduk Ati yang perkasa di usianya yang separuh abad, segera datang menghadap ke depan tahta. Keduanya juga berada di ruangan megah tersebut ketika utusan bajak laut datang.
Prabu Manggala Pasa lalu memberikan surat kain di tangannya kepada Rangga Udamaya, Panglima Pasukan Pengawal Raja yang selalu berada tidak jauh dari sang prabu.
Rangga Udamaya lalu menyerahkan surat itu kepada Geruduk Ati. Sang senopati lalu membaca isi surat tersebut. Setelah selesai membaca dan memahami maksudnya, surat itu lalu diberikan kepada Pangeran Sugang Laksama.
Usai itu, kedua orang berbeda usia tersebut menunjukkan ekspresi memendam amarah, meski tidak sekuat kemarahan Prabu Manggala Pasa.
Pangeran Sugang Laksama lalu mengembalikan surat tersebut kepada Rangga Udamaya.
“Cepat sampaikan siasat kalian setelah membaca surat itu!” perintah Prabu Manggala Pasa.
“Kadipaten Balongan memiliki tiga jalan masuk. Kita bisa mengirim tiga pasukan besar pada setiap jalan masuk sehingga bisa mengepung Bajak Laut Ombak Setan. Meskipun yang menguasai Balongan adalah sekelompok bajak laut, kita tetap harus mengirim pasukan dalam jumlah besar. Bajak laut itu seperti kelompok pendekar. Satu orang pendekar bisa sebanding sepuluh prajurit tingkat menengah. Namun, aku mengusulkan ada dua gelombang pasukan untuk menyerang Balongan. Saat ini ada enam putra Balongan yang mengabdi dalam pasukan kita, mereka bisa memimpin tiga pasukan pertama. Tiga pasukan pamungkas bisa dipimpin oleh Gusti Pangeran Sugang dan Derajat Jiwa, serta satu dari Sepuluh Panglima Pamungkas,” tutur Geruduk Ati.
__ADS_1
“Bagaimana denganmu, Ananda Sugang?” tanya Prabu Manggala Pasa.
“Aku setuju dengan strategi Senopati, Gusti Ayahanda. Namun, sepertinya ancaman ini harus kita sikapi dengan lebih serius. Isi surat ini sangat pendek. Pastinya mereka menyiapkan strategi matang untuk melakukan pemberontakan ini. Bajak Laut Ombak Setan punya nama besar di lautan, mereka tidak mungkin berbuat bodoh dengan datang jauh ke darat menyandera Balongan, sementara dua kadipaten yang mereka inginkan ada di daerah pesisir. Mereka juga menyandera Kademangan Dulangwesi. Aku curiga mereka memiliki kelompok bajak laut lain sebagai sekutu. Aku pun curiga, Kadipaten Karangijo dan Kadipaten Pantai Perak berada di bawah ancaman. Artinya, Senopati harus memikirkan untuk mengirim pasukan guna mengamankan kedua kadipaten pesisir kita dan ke Kademangan Dulangwesi,” tutur Pangeran Sugang Laksama.
“Baik, masukkan usulan Pangeran Sugang ke dalam rencana besarmu untuk membasmi semua anggota bajak laut, Senopati!” perintah Prabu Manggala Pasa.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Geruduk Ati seraya menjura hormat.
Mendengar perintah itu, tiba-tiba benak Pangeran Sugang Laksama teringat seseorang.
“Tapi, Gusti Ayahanda …” ucap Pangeran Sugang Laksama bernada berat.
“Apa yang kau beratkan, Ananda?” tanya prabu yang berwajah putih bersih itu.
“Eee …” ucap sang pangeran ragu.
“Aku tahu yang kau pikirkan. Kau memikirkan seorang wanita di laut,” kata Prabu Manggala Pasa menerka, sebelum putranya itu berbicara sekata saja.
Pangeran Sugang Laksama hanya bisa terkesiap karena terkaan ayahnya benar.
“Iya, Gusti Ayahanda,” ucap Pangeran Sugang Laksama tidak berani membantah.
“Laksanakan rencana kalian dan laporkan setelah semua pasukan sudah siap berangkat!” kata Prabu Manggala Pasa.
“Baik, Gusti Prabu,” ucap Geruduk Ati.
“Baik, Gusti Ayahanda,” ucap Pangeran Sugang Laksama pula.
Siang itu juga, Senopati Geruduk Ati memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Nantinya pasukan akan dipimpin oleh orang-orang yang tadi sudah disebutkan di depan Prabu Manggala Pasa.
Dalam waktu yang terbilang cepat, pasukan besar berkekuatan lima ribu pasukan infanteri dan seribu pasukan kavaleri sudah siap. Pasukan besar itu terbagi menjadi beberapa pasukan lebih kecil.
Sebanyak sembilan lelaki dan seorang wanita kini berbaris menghadap Senopati Geruduk Ati. Para lelaki itu bertelanjang dada, kecuali dua orang yang berpakaian mahal.
__ADS_1
Dari kesembilan lelaki, delapan di antaranya adalah pemuda yang bisa disebut tampan-tampan. Sementara yang satu sudah berusia mendekati lima puluh tahun, sama dengan sang senopati.
Adapun yang wanita berusia matang sekitar empat puluh tahun dengan model warna muka yang tegas, warna muka yang terbentuk oleh kerasnya dunia militer.
Enam dari pemuda yang berusia kisaran di bawah tiga puluh tahunan itu adalah putra Kadipaten Balongan. Mereka di antaranya bernama Arya Mungkara, Arung Seto, Ariang Banu, Bandeng Prakas, Ujang Barendo, dan Balingga.
Arya Mungkara adalah putra mantan Adipati Balongan yang kini mengabdi di sebuah kademangan di kadipaten lain.
Adapun Arung Seto dan Ariang Banu adalah putra Adipati Adya Bangira. Ayah dan ibu mereka saat ini menjadi sandera utama di tangan Bajak Laut Ombak Setan.
Bandeng Prakas adalah salah satu pemuda terpopuler di Kadipaten Balongan. Ujang Barendo adalah putra juragan jengkol di Balongan dan Balingga putra juragan ikan.
Keenam pemuda tampan itu direkrut oleh Kerajaan Singayam sebagai hukuman atas kejadian dua tahun yang lalu, yaitu satu perlombaan panahan yang akhirnya mengancam nyawa Pangeran Drajat Jiwa.
Dua pemuda lainnya yang turut berbaris adalah dua pangeran, yaitu Pangeran Sugang Laksama dan adiknya, Pangeran Derajat Jiwa.
Sosok lelaki kesembilan yaitu Panglima Pasukan Hati Besi yang bernama Kebo Angel.
Satu-satunya wanita di antara mereka bernama Riring Belanga. Wanita itu tidak berbekal senjata, tetapi ia memiliki sepuluh jari tangan yang berwarna hitam pekat, seperti jari baru dicelupkan ke dalam tinta.
“Adipati Adya Bangira dan warga Balongan kini dalam kondisi disandera oleh Bajak Laut Ombak Setan,” ujar Senopati Geruduk Ati memulai pengarahannya.
“Apa?!” kejut para pemuda yang berasal dari Balongan. Seketika wajah mereka menunjukkan keresahan.
“Karena itu kalian aku pilih untuk memimpim pasukan,” kata sang adipati, membuat para pemuda tampan itu bersikap lebih serius, jika tidak mau disebut tegang.
Senopati Geruduk Ati melanjutkan arahannya.
“Pasukan yang menyerbu ke Balongan akan dibagi enam pasukan, tiga pasukan pertama dan tiga pasukan kedua. Tiga pasukan pertama akan dipimpin oleh keenam putra Balongan. Pasukan pertama yang melalui jalan utara dipimpin oleh Arya Mungkara, diwakili oleh Bandeng Prakas. Pasukan pertama yang melalui jalan sungai dipimpin oleh Arung Seto, didampingi Ariang Banu. Pasukan pertama yang melalui jalur Kademangan Dulangwesi dipimpin oleh Balingga, diwakili Ujang Barendo. Adapun ketiga pasukan kedua dipimpin oleh Gusti Pangeran Sugang Laksama, Gusti Pangeran Derajat Jiwa, dan Riring Belanga. Khusus pasukan yang melalui Kademangan Dulangwesi, kalian harus lebih dulu membebaskan kademangan itu, karena mereka juga disandera bajak laut. Setelah itu barulah menyerang ke Balongan. Dan kau, Panglima, kau akan memimpin dua ribu pasukan menuju kadipaten pesisir di bawah komandoku!” (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!
__ADS_1