
*Episode Terakhir (PITAK)*
Seorang lelaki berpakaian cokelat dan bersenjata pedang datang berlari memasuki Gua Ular.
“Lapor, Ketua!” seru lelaki itu sambil berlutut menghormat kepada Pawang Tengkorak.
“Ada apa?” tanya Pawang Tengkorak selaku pemimpin para lelaki berpakaian cokelat.
Datangnya lelaki berpakaian cokelat itu menarik perhatian Wulan Kencana.
“Ada rombongan pendekar yang datang ke arah tempat ini!” lapor lelaki itu.
Pawang Tengkorak dan Garap Jaran saling pandang.
“Golok Kuda, kau pergilah menghadang mereka. Mungkin itu Badak Ireng yang datang kembali membawa bantuan,” perintah Wulan Kencana.
“Baik, Tetua,” jawab Garap Jaran patuh, meski di dalam hati masih setengah menentang kepemimpinan Wulan Kencana.
Si Golok Kuda lalu membawa sejumlah lelaki berpakaian cokelat untuk naik ke atas tebing yang menjadi akses menuju ke Gua Ular.
Setibanya di luar gua, Garap Jaran segera berkelebat naik ke tebing batu. Para lelaki berpakaian cokelat yang mengikutinya segera berlari mengejar, khawatir tertinggal bus.
Jleg!
Garap Jaran mendarat mantap di atas batu. Dari titik itu dia bisa melihat kedatangan Ratu Siluman dan Pangeran Sugang Laksama bersama pasukannya. Alma Fatara tetap duduk di kereta kudanya, tapi kali ini posisinya di depan dan diiringi oleh kuda Putra Mahkota Kerajaan Singayam, Ragum Pangkuawan dan Riring Belanga. Sementara di belakang ada Pasukan Sayap Panah Pelangi, Pasukan Sayap Pelangi, dan lainnya.
Kebanyakan dalam pasukan itu adalah wanita karena pasukan batangan sedang berada di sungai belakang tebing.
Set set set …!
Belasan lelaki berseragam cokelat yang baru naik ke atas tebing batu, harus terkejut. Mereka dan Garap Jaran langsung disambut oleh dua puluh panah. Sepuluh anak panah biasa, sepuluh lagi anak panah sinar putih.
Teb teb teb …!
“Ak! Akk! Aakk …!”
Para lelaki berseragam cokelat berjeritan karena tidak sempat menghindari hujan panah, seolah para pemanah itu telah menunggu kemunculan mereka.
Ting ting! Ayu Ting Ting!
Sementara Garap Jaran menggunakan golok bergagang kepala kudanya menangkis beberapa anak panah yang menyerangnya.
“Hah!” kejut Garap Jaran dan buru-buru dia menebaskan goloknya seperti algojo memancung.
Hal yang mengejutkan Garap Jaran adalah kemunculan sosok besar Ireng Cadas yang tahu-tahu telah melesat dalam jarak yang dekat. Karena itulah dia buru-buru menebaskan pedangnya.
Zass!
__ADS_1
Tebasan golok bertenaga dalam tinggi yang menyambut kedatangannya, membuat Ireng Cadas memberikan telapak tangannya untuk menangkis tebasan golok.
Namun, golok itu tidak bisa melukai kulit telapak tangan Ireng Cadas yang bersinar hijau berpijar.
Jleg! Paks!
“Huakk!”
Tiba-tiba satu sosok besar seorang wanita telah melompat tinggi di udara lalu mendarat tepat di belakang punggung Ireng Cadas. Sosok Ireng Kemilau itu lalu menghantam punggung saudara seperguruannya dengan telapak tangan kanan.
Hantaman itu mengandung tenaga dalam tinggi yang mengalir malaui tubuh Ireng Cadas, lalu meledak pada titik pertemuan golok dan telapak tangan.
Ledakan tenaga itulah yang kemudian melemparkan tubuh Garap Jaran ke belakang. Otomatis tubuh pemuda tampan itu terlempar jatuh ke bawah. Sementara golok kudanya terlempar jauh pula.
Bugk!
Beruntung, tubuh Garap Jaran jatuh di tanah pasir di antara dua batu di pinggir sungai.
“Uhhuk!”
Meski jatuh di tanah empuk, tetap saja Garap Jaran terbatuk darah dan merasakan sakit pada seluruh tubuhnya yang serasa remuk.
Seeet!
Alangkah terkejutnya Garap Jaran melihat jauh di atas telah mengudara satu sosok wanita gemuk yang membawa banyak selendang warna-warni pada tubuhnya. Dan satu selendang berwarna hitam telah melesat memanjang ke bawah, tepatnya ke arah tubuhnya yang terbaring.
Tidak peduli bahwa tubuhnya sangat sakit, Garap Jaran cepat berguling menghindari ujung selendang yang datang.
Ketika ujung selendang tidak mengenai tubuh Garap Jaran dan mengenai pasir, maka ledakan keras terjadi. Tanah pasir terhambur ke udara dan ke segala arah. Sementara si pemuda tampan terlempar sejauh satu tombak.
“Seraaang!” teriak seorang lelaki berpakaian cokelat yang berjaga di sekitar mulut Gua Ular kepada rekan-rekannya.
“Seraaang!” teriak belasan lelaki berseragam cokelat yang berlari menyambut turunnya tubuh besar Ireng Gempita ke pinggir sungai.
Set set set …!
Das das das …!
Belum lagi kaki besar Ireng Gempita mendarat, ia sudah melesatkan tarian selendangnya yang berseliweran begitu indah, tetapi mematikan.
Belum lagi para lelaki berpedang itu menemui Ireng Gempita yang imut dengan dua pipi bakpaonya, senggolan kain selendang hitam dan merah lebih dulu melemparkan mereka jatuh berserakan.
Buru-buru para korban selendang itu bergerak bangkit kembali, tetapi mereka harus mengerang kesakitan. Meski hanya sehelai kain, tetapi hantaman selendang itu lebih keras dari serudukan banteng Spanyol.
“Seraaang!” teriak ramai lelaki berpakaian cokelat lagi. Mereka muncul dari dalam Gua Ular.
Dengan hanya Ireng Gempita, pasukan lelaki berpakaian cokelat itu bisa diatasi. Terlebih ketika dua Ireng lainnya juga turut turun bergabung.
Jleg! Jleg!
__ADS_1
Ireng Cadas dan Ireng Kemilau telah mendarat untuk mempercepat menghabisi pasukan berpedang itu.
Serangan pasukan lelaki berbaju cokelat memberi kesempatan Garap Jaran mundur mengamankan diri.
“Kenapa ada Lima Pembunuh Gelap yang datang?” tanya Garap Jaran kepada Pawang Tengkorak, merujuk julukan awal dari Tiga Penjaga Emas.
“Mana aku tahu!” jawab Pawang Tengkorak.
Kedua pendekar sekutu Demang Mahasugi itu kini sama-sama telah terluka parah.
Set set set …!
Tiba-tiba muncul sejumlah piringan terbang bersinar kuning dan sepuluh piringan sinar emas yang melesat dari dalam gua. Rombongan piringan milik murid-murid Wulan Kencana itu menyerang Tiga Penjaga Emas.
Melihat kedatangan serangan kelas tinggi, Ireng Gempita juga tidak mau setengah-setengah. Ia pun menyalurkan tenaga sakti ke dalam kedua kain selendang yang sedang ia mainkan.
Ia berlari berat maju menyambut serangan piringan terbang bersinar itu. Ternyata kebutan selendangnya yang meliuk-liuk bisa mementalkan beberapa piringan bersinar kuning. Namun, tidak bagi piringan sinar emas.
Piringan sinar emas dari ilmu Sepuluh Purnama Kematian itu justru merobek dan menjebol kain selendang Ireng Gempita.
“Kiamat Serentak Tingkat Langit!” teriak Ireng Cadas keras, menyebut salah satu ilmu pamungkas mereka bertiga.
Zurss zurss zurss!
Blar blar blar!
Tiga sinar hijau menyilaukan mata dilepaskan oleh ketiga orang bertubuh besar itu. Ireng Gempita ikut melesatkan sinar hijau menyilaukan karena selendangnya tidak bisa mengatasi ilmu Sepuluh Purnama Kematian.
Tiga ledakan keras terjadi ketika tiga sinar hijau menghantam tiga piringan sinar emas yang berseliweran.
Set set set!
Namun, masih ada tujuh piringan sinar emas yang terus berusaha menyerang Tiga Penjaga Emas.
Set set!
Blar blar!
Tiba-tiba satu sosok wanita berpakaiah hitam datang dari sisi atas tebing dan melesatkan dua sinar emas kecil. Dua sinar emas itu menembak dua piringan sinar emas dan menghancurkannya.
Riring Belanga telah datang membantu dan langsung melesatkan ilmu Jari Emas Hitam, kesaktian tertinggi yang dimiliki oleh murid tertinggi Perguruan Jari Hitam.
Tiga Penjaga Emas kembali mengeluarkan ilmu Kiamat Serentak Tingkat Langit untuk menghancurkan tiga piringan sinar emas. Sementara dua sisanya dihancurkan lagi oleh sinar emas ilmu Jari Emas Hitam.
Penghancuran itu membuat Purnama Bingar yang mengendalikan sepuluh piringan sinar emasnya dari dalam gua, muntah darah setiap kali piringan sinar emas dihancurkan oleh tenaga sakti yang lebih kuat. Hal itu karena Purnama Bingar terhubung langsung dengan kesepuluh piringan sinar emasnya.
Wusss!
Tiba-tiba satu gelombang angin dahsyat bertiup dengan kecepatan badai dari dalam gua dan menerbangkang Tiga Penjaga Emas dan Riring Belanga. Bagitu kuatnya angin tersebut, sampai-sampai tiga Ireng yang bertubuh besar terbang terhempas lalu jatuh di bebatuan pinggir sungai.
__ADS_1
“Beraninya kalian berurusan denganku?!” teriak kencang Wulan Kencana tiba-tiba dari kedalaman Gua Ular. Dialah yang baru saja melepaskan angin dahsyat dari Kipas Raja Dunia.
“Hahaha! Apakah itu kau, Nenek Wulan?!” tanya satu suara wanita yang menggema keras di tempat itu, yang didahului oleh tawa khasnya. (RH)