
*Episode Terakhir (PITAK)*
Seorang nenek berjubah jingga bagus telah berdiri di satu titik. Nenek berpakaian bagus itu melepaskan Pawang Tengkorak yang baru saja diseretnya dengan begitu cepat untuk menghindari serangan golok Badak Ireng.
Di sisi lain, seorang wanita berpakaian kuning memimpin delapan rekannya yang juga berpakaian kuning membunuhi para prajurit Kademangan Gulangtara. Ada sepuluh piringan bersinar emas yang berlesatan terbang ke sana ke mari, di tambah enam belas piringan perak yang setajam pedang.
Serangan piringan terbang itu sangat membantu pasukan berseragam cokelat, yang sudah banyak berguguran dalam waktu singkat melawan pasukan kadipaten. Pasukan berpedang itu tinggal sekitar dua puluhan orang.
Bukan hanya para prajurit yang menjadi sasaran serangan piringan terbang, terutama piringan bersinar emas yang sangat ganas dan tidak terbendung, kelima pendekar yang sedang terluka dalam oleh ilmu Pawang Tengkorak, juga mendapat serangan. Bahkan, dua dari mereka sudah tewas dengan leher yang nyaris terpenggal.
“Siapa kau, Tetua?!” tanya Badak Ireng marah kepada si nenek yang tidak dikenalnya.
“Aku Wulan Kencana, Pembunuh Dari Bulan!” jawab si nenek yang tidak lain adalah Wulan Kencana, mantan Ketua Perguruan Bulan Emas.
“Bukankah Wulan Kencana adalah Ketua Perguruan Bulan Emas yang awet muda?” tanya Pawang Tengkorak tidak percaya.
“Keparat! Kau sudah aku tolong, tapi kau masih meragukanku!” bentak Wulan Kencana yang wajahnya sudah tidak hitam lagi, tetapi sudah normal seperti nenek biasa pada umumnya. Sepertinya suatu hal yang baik telah dialami oleh Wulan Kencana, karena sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan.
“Ma-ma-maafkan aku, Tetua!” ucap Pawang Tengkorak.
“Jika kau mau selamat dari Badak Ireng, berjanjilah untuk membantuku!” kata Wulan Kencana yang tidak bisa lepas dari dandanan ala wanita muda.
“Baik,” ucap Pawang Tengkorak.
“Purnama Bingar, habisi pasukan itu!” perintah Wulan Kencana kepada wanita muda yang memimpin kedelapan rekannya.
“Baik, Guru!” sahut wanita berambut ikal tapi diikat sederhana seperti warung padang. Lalu perintahnya kepada rekan-rekannya yang terdiri dari lelaki dan wanita, “Bunuh semua!”
Set set set …!
Purnama Bingar kembali mengayunkan kedua tangannya yang melesatkan sepuluh piringan sinar emas dari ilmu Sepuluh Purnama Kematian yang tersohor. Sementara kedelapan rekannya melesatkan kedua piringan mereka yang bersinar kuning.
Melihat pasukannya dibantai dengan piringan-piringan bersinar itu, marahlah Badak Ireng.
Bset! Bset!
Dari jarak jauh, Badak Ireng mengirimkan dua sinar ungu tipis dari tebasan golok besarnya.
“Ak! Akh!” jerit dua murid Wulan Kencana saat tubuh mereka terkena tebasan sinar ungu dari jarak jauh itu.
__ADS_1
Clap!
Dak dak! Pak!
“Hukh!”
Tiba-tiba Wulan Kencana telah muncul di hadapan Badak Ireng guna mencegah lelaki besar itu menargetkan murid-muridnya.
Satu dua tiga pukulan cepat Wulan Kencana ditangkis oleh Badak Ireng dengan tenaga tinggi, berujung dengan peraduan pukulan telapak tangan.
Peraduan itu mempertemukan dua tenaga sakti tingkat tinggi lalu saling dorong.
“Hebat juga kau, Badak Ireng!” puji Wulan Kencana sambil menatap tajam lelaki yang masih memegang goloknya di tangan kanan.
“Ke mana kecantikanmu yang terkenal itu, Wulan Kencana?” tanya Badak Ireng dengan sudut bibir yang tersenyum mengejek.
“Beraninya kau mengejekku!” bentak Wulan Kencana marah.
Set! Bom!
Di saat tangan kirinya masih beradu tenaga dengan si nenek, tangan kanan Badak Ireng mengayunkan golok besarnya ingin memenggal leher Wulan Kencana, mumpung lagi musim qurban.
Namun, sebelum golok besar itu sampai ke lehernya, Wulan Kencana lebih dulu meledakkan sinar jingga menyilaukan pada telapak tangannya yang sedang beradu. Hal itu membuat Badak Ireng terpental ke belakang.
Badak Ireng jatuh dengan keras. Bukan sekedar jatuh, tapi ia juga berdarah pada mulutnya.
Meski demikian, Badak Ireng buru-buru bangkit untuk menghilangkan rasa malunya.
“Kau telah memberontak kepada pemerintah, Wulan Kencana! Hiaat!” teriak Badak Ireng lalu melompat dengan golok yang sudah terangkat tinggi.
Bset! Bsoss!
“Huakr!”
Ketika sinar ungu tipis dari tebasan golok Badak Ireng melesat, Wulan Kencana menyambut dengan sinar jingga yang menyilaukan mata.
Hasilnya, Badak Ireng meraung kesakitan dengan mulut menyemburkan darah. Sementara tubuh besarnya kembali terpental, kali ini lebih deras. Goloknya terpental pula menjauh dari tubuhnya.
Sementara Wulan Kencana hanya terjajar tiga tindak.
Badak Ireng telah beradu ilmu dengan kesaktian pamungkas Wulan Kencana yang bernama Jingga Perkasa.
__ADS_1
Dengan susah payah, Badak Ireng bergerak bangkit sambil memegangi dadanya. Ia menatap tajam kepada Wulan Kencana.
Ia pun menengok sebentar melihat kondisi pasukannya. Ia hanya bisa terkejut melihat mayat-mayat prajuritnya telah ramai bergelimpangan. Banjir darah tercipta karena hampir semuanya tewas dengan luka senjata tajam.
Kondisi itu benar-benar membuat kemarahan Badak Ireng memuncak.
“Hiaat!” teriak Badak Ireng sambil berlari tertatih ke arah pertarungan para prajurit.
Joss joss!
Badak Ireng menghentakkan kedua tinjunya yang melepaskan ilmu Tinju Badak Ganda. Dua sinar kuning panjang yang depannya berwujud tinju melesat menderu keras, menyerang orang-orang berseragam kuning.
Broks broks!
Teriakan keras Badak Ireng membuat Purnama Bingar dan rekan-rekannya menengok kepada kedatangan lelaki besar itu. Mereka terkejut karena telah diserang oleh dua sinar yang mengerikan.
Purnama Bingar dan rekan-rekannya cepat berhindaran. Namun, satu sinar tinju menghantam punggung seorang murid Wulan Kencana hingga jebol dan terus mengenai rekannya yang lain. Dua orang terkena sekaligus.
Satu sinar kuning tinju lainnya juga berhasil mengenai perut seorang murid wanita, tapi bukan Purnama Bingar. Tiga murid Wulan Kencana tewas sekali serang.
Setelah serangan Tinju Badak Ganda, Badak Ireng memutuskan berkelebat mendapati seekor kuda.
Melihat upaya pelarian diri tersebut, Wulan Kencana cepat melesat terbang seperti superman sambil melesatkan sepuluh piringan sinar emas mengejar Badak Ireng.
Set set set …!
Swess! Blar blar blar!
Melihat ada sepuluh sinar emas melesat mengejarnya, Badak Ireng yang sudah duduk di pelana kuda, cepat menghentakkan lengan kanannya ke belakang.
Tiga bola sinar biru gelap melesat dari tangan kanan Badak Ireng, menghadang rombongan sinar ilmu Sepuluh Purnama Kematian.
Tiga ledakan keras terjadi di udara saat tiga bola sinar biru menghantam sebagian dari piringan sinar emas.
Adu tenaga sakti itu membuat Badak Ireng terdorong di atas kudanya, tapi hanya nyaris terjatuh. Sementara kudanya terus berlari kencang membawa Badak Ireng meninggalkan pasukannya yang tersisa.
Sinar emas yang melesat tidak mampu mengejar Badak Ireng.
Melihat pemimpinnya kabur, maka dua puluhan prajurit kadipaten yang tersisa dan dua pendekar yang masih hidup memilih kabur juga. Mereka lari tunggang langgang.
“Seperti itulah kejadiannya, Gusti Ratu,” ucap Badak Ireng mengakhiri ceritanya kepada Alma Fatara yang tidak sedetail apa yang telah diceritakan.
__ADS_1
“Jadi, Nenek Wulan Kencana sudah keluar dari Candi Alam Digdaya dan sudah kembali bugar. Hua hua hua. Tapi, kenapa cepat sekali dia keluar?” ucap Alma Fatara lirih kepada dirinya sendiri. Lalu batinnya, “Dia pasti masih menginginkan Mustika Dewi Kenanga.”
“Lalu aku bertemu dengan Ineng Santi di jalan. Ketika tahu bahwa Ineng Santi sedang mengejar rombongan Gusti Ratu, aku berniat untuk minta bantuan Gusti Ratu. Setahuku, Gusti Ratu telah menaklukkan Bukit Tujuh Kepala dan menguasai Perguruan Bulan Emas,” kata Badak Ireng. (RH)