Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 19: Kembang Bulan


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Kembang Bulan dan Emban terus menerobos jalan apa pun dan menembus kegelapan malam demi keluar dari ibu kota kadipaten itu.


Namun, para anggota bajak laut sudah terdengar jelas kian mendekat, membuat Emban panik. Ia panik bukan karena mengkhawatirkan keselamatannya, tetapi ia mengkhawatirkan keselamatan majikannya, Kembang Bulan.


“Bagaimana ini, Gusti?” tanya Emban.


“Kita harus terus lari, Emban!” kata Kembang Bulan sambil menarik tangan Emban yang bertubuh kurus.


Keduanya terus berlari di dalam kegelapan.


Bruk!


Karena Kembang Bulan tersandung oleh sesuatu, ia pun terjatuh. Mau tidak mau, Emban pun terjatuh karena tertarik tangannya.


“Landak Becek, beri cahaya!” teriak Si Keong Samudera.


Sess! Slass!


Landak Becek lalu melesatkan sebola sinar putih ke angkasa yang kemudian meledak, menyebarkan cahaya terang ke segala penjuru.


Emban yang bangun lebih dulu dari jatuhnya, tertangkap basah keberadaannya.


“Di sana!” teriak Kodok Pulau sambil menunjuk jauh.


Sadar sudah terlihat, Emban cepat menekan kepala Kembang Bulan agar tetap merunduk di tanah.


“Bersembunyilah, Gusti. Jangan sampai mereka melihat. Jangan sia-siakan pengorbananku, Gusti!” kata Emban dengan ekspresi mantap hati.


Emban tiba-tiba berlari meninggalkan Kembang Bulan, membuat gadis itu terkejut. Ia ingin berteriak memanggil, tetapi ia lebih dulu sadar akan kondisi yang terjadi. Ia langsung bisa memahami apa maksud dari tindakan Emban.


“Itu dia! Dia mau melarikan diri!” teriak Si Keong Samudera yang perhatiannya memang sudah terpusat ke daerah tersebut.


Kodok Pulau yang memiliki ilmu lompatan jauh seperti Belalang Laut, lebih dulu melompat mengejar Emban. Sekali lompat dia sudah separuh jarak. Pada lompatan kedua, Kodok Pulau yang sudah dipastikan bisa menjangkau posisi Emban, memasang sumpitnya di mulut.


Set! Tseb!


“Akk!”


“Hihihi …!”


Sebelum Kodok Pulau meniup sumpitnya, satu batang anak panah sudah lebih dulu melesat dan menusuk tubuh Emban. Wanita kurus separuh baya itu hanya bisa menjerit dengan tubuh tersungkur dan meregang nyawa.


Kembang Bulan yang mendengar jeritan pembantunya itu, hanya bisa menangis dan membekap mulutnya sendiri agar ia tidak menjerit dan suara tangisnya tidak terdengar.

__ADS_1


Sementara itu, seorang bajak laut perempuan bersenjata panah tertawa keras menertawakan Kodok Pulau yang didahuluinya.


“Kurang ajar!” maki Kodok Pulau kepada rekan wanitanya yang bernama Bidik Senja.


Ketika Wanita berambut pendek seperti lelaki itu menghampiri korbannya, ternyata Emban sudah tewas.


Sementara itu, Kembang Bulan harus menahan kesedihan dan dirinya. Ia harus bertahan untuk tetap bersembunyi di bawah pagar, selagi orang-orang ganas itu berkeliaran di daerah tersebut.


“Keong Samudera, bawa mayatnya!” perintah Rumput Laut kepada rekan bertubuh besarnya.


Tanpa berat hati, Si Keong Samudera mengangkat mayat Emban yang berhias satu anak panah yang menghancurkan jantungnya.


Para anggota bajak laut itu segera meninggalkan area itu.


Setelah tidak mendengar lagi adanya suara orang, Kembang Bulan pelan-pelan mulai bangkit dan mengintip area sekitar.


Ketika melihat kegelapan benar-benar diyakini sepi, Kembang Bulan segera pergi dengan perasaan yang hancur. Ia harus selamat. Ia sangat ingat pesan Emban yang mengatakan, “Jangan sia-siakan pengorbananku, Gusti.”


Akhirnya Kembang Bulan meneruskan larinya demi menyelamatkan dirinya. Dia tidak punya tujuan pasti, kecuali keluar dari Ibu Kota.


Beberapa kali Kembang Bulan harus tersandung karena memang jalan yang begitu gelap. Berulang kali pula ia dikejutkan oleh suara binatang malam.


“Sepertinya aku sudah keluar dari Ibu Kota,” batin Kembang Bulan setelah jauh berjalan.


Blep!


Tiba-tiba di salah satu sudut kegelapan muncul kobaran api begitu saja di atas sebatang pohon. Hal itu mengejutkan Kembang Bulan. Api itu ternyata bercokol di sebuah telapak tangan seorang lelaki yang berdiri di sebatang dahan.


Orang di atas pohon melempar kobaran api di tangannya ke bawah, tepatnya ke depan Kembang Bulan berdiri. Api itu jadi membesar karena ia jatuh pada tumpukan dedaunan kering. Besarnya api yang membakar membuat Kembang Bulan terlihat jelas.


“Hahaha! Aku tidak menyangka di malam gelap seperti ini kijang cantik yang berkeliaran,” kata lelaki di atas pohon.


Lelaki berambut gondrong dan berpakaian warna merah di atas pohon itu lalu melompat turun layaknya seorang pendekar. Dia berdiri berseberangan api yang setinggi lutut, sehingga Kembang Bulan pun bisa melihat dengan jelas sosok lelaki yang tergolong masih muda itu.


“Si-siapa kau?” tanya Kembang Bulan dengan suara bergetar halus.


“Tidak perlu kau tahu siapa aku. Tapi, kau pasti tahanan kami yang berhasil kabur. Sudah menjadi jatah keberuntunganku, kau datang sendiri kepadaku,” kata lelaki yang bersenjata tongkat kayu seperti stick billiard.


Set! Tuk tuk!


Tiba-tiba lelaki itu menusukkan tongkat kayu kurusnya kepada Kembang Bulan. Gadis cantik itu hanya bisa terkesiap terkejut. Tusukan tongkat itu begitu cepat dan tahu-tahu membuat Kembang Bulan diam tidak bisa bergerak dalam berdirinya.


“Ketua Ronggo bisa menikmati gadis-gadis darat yang cantik-cantik, tapi anak buahnya tidak mendapat bagian. Ini jelas keberuntunganku. Dan aku tidak mau berbelit-belit seperti ular. Kau akan aku berikan kenikmatan hebat yang tidak terlupakan di malam ini. Hahaha!” kata lelaki itu lalu menancapkan tongkatnya di tanah.


Dia lalu berdiri diam sambil menatap tajam kecantikan Kembang Bulan. Lalu muncullah senyum setannya. Ia tiba-tiba melompat seperti kucing menerkam kepada Kembang Bulan.


“Jangaaan!” pekik Kembang Bulan dengan mata yang mendelik, tanpa bisa bergerak mengelak.

__ADS_1


Seeet! Krakr!


“Akhhr!”


“Aaa …!”


Namun, sebelum terkaman si pemuda menabrak tubuh indah Kembang Bulan, tiba-tiba ada makhluk hitam besar dan panjang melintas sangat cepat. Tubuh lelaki itu tahu-tahu hilang dari depan Kembang Bulan, berganti gerakan benda hitam yang tidak jelas itu apa.


Kembang Bulan dan lelaki itu sama-sama menjerit dengan nada yang berbeda membelah kegelapan.


Kembang Bulan seketika terdiam gemetar di dalam ketertotokannya. Ia sangat takut menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan.


“Akrr!” jerit lelaki itu karena bahu kanannya dalam kondisi digigit seekor ular hitam besar.


Ular panjang sebesar paha orang dewasa tersebut bergerak cepat melilit tubuh si lelaki, yang kesakitan dan tidak bisa melawan. Setelah melilit tubuh korbannya, si ular hitam melepaskan gigitannya dan mengangkat tinggi kepalanya dengan mulut menganga lebar.


Pcrok!


“Aaa …!” jerit Kembang Bulan saat melihat si ular mencaplok kepala dan tubuh lelaki tersebut, lalu menelannya secara perlahan.


“Hahahak!” tawa satu suara perempuan tiba-tiba, tapi tawanya seperti bapak-bapak.


Tawa itu membuat Kembang Bulan kembali terkejut. Untung dia tidak punya riwayat penyakit jantung.


Dari arah kegelapan sebelah depan, muncul sosok serba hitam. Jelas itu adalah seorang perempuan, tetapi Kembang Bulan tidak tahu apakah itu manusia atau dedemit, sebab rambutnya terurai lurus dan panjang. Namun, jelas dialah yang tertawa.


“Biar aku yang membebaskan totokannya!” teriak seorang pemuda tampan berbaju putih tiba-tiba. Meski tampan, tetapi sepasang matanya juling. Ia tidak lain adalah Juling Jitu. Ia muncul berlari dari belakang sosok wanita berpakaian hitam.


“Eeeh! Aku saja!” teriak pemuda yang lain sambil menangkap tangan Juling Jitu dan menariknya ke belakang. Pemuda bertubuh kurus tinggi itu adalah Iwak Ngasin.


“Tidak akan aku biarkan kau yang melakukannya!” teriak Juling Jitu juga sambil melompat menggapai pergelangan kaki Iwak Ngasin.


Bduk!


Iwak Ngasin jadi jatuh tersungkur.


“Da-da-dasar mata lalat!” maki seorang wanita bertubuh indah berpakaian merah terang. Ia berkelebat melewati atas api yang masih berkobar membakar dedaunan.


Tuk tuk tuk!


Wanita cantik setengah rasa itu adalah Gagap Ayu. Ia langsung menotok beberapa titik pada tubuh Kembang Bulan guna membebaskan totokannya.


“Yaaah!” keluh Iwak Ngasin dan Juling Jitu saat melihat mereka keduluan Gagap Ayu.


“Hahahak …!” tawa wanita berpakaian hitam dan Anjengan melihat tingkah sahabat mereka. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2