
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
“Alma!” pekik terkejut empat Pendekar Sungai Darah Roh dan Arung Seto saat melihat Alma Fatara terbakar oleh api ketika melewati garis bakar benteng gaib Ronggo Palung.
Pangeran Derajat Jiwa dan para prajurit juga terkejut melihat Alma Fatara terbakar.
Namun kemudian, mereka semua menjadi lega, ketika melihat api itu menyala pada tubuh Alma hanya sekejap belaka. Api itu bisa langsung padam tanpa membakar kain pakaian atau sehelai rambut pun milik Alma.
Bagi yang belum tahu, ketahuilah bahwa Alma sejak kecil sudah kebal dengan senjata tajam dan api atau panas. Kesaktian itu bukan ilmu yang dipelajari, tapi sudah bawaan lahir.
“Hahahak! Kageeet! Pasti kageeet!” seru Alma Fatara komedi sambil menunjuk Ronggo Palung yang memang terbelalak. Lalu teriaknya, “Waktunya Ratu Dewi Dua Gigi unjuk gigi!”
Tiba-tiba Alma berpindah tempat dan tahu-tahu sudah berada satu tombak di depan dinding gaib berikutnya.
Bong! Krerek!
Tidak tanggung-tanggung, Alma Fatara langsung menggunakan Bola Hitam, senjata kotak yang berubah warna hitam, tapi diselimuti sinar bening berbentuk bola. Bola Hitam dilesatkan ke depan sehingga menghantam dinding gaib. Seiring Bola Hitam melesat balik ke genggaman Alma, dinding gaib itu berubah menjadi berwujud, tetapi bukan dinding sinar hijau seperti sebelumnya, melainkan berubah menjadi dinding kristal atau kaca tipis.
Menyaksikan perubahan yang tidak terbayangkan itu, Ronggo Palung semakin terbelalak.
Buss! Prakr!
Alma menyerang tanpa jeda. Selanjutnya ia melesatkan Tinju Roh Bumi. Sinar ungu berpijar langsung memecahkan dinding yang wujud lengkapnya adalah kubah raksasa. Pecahan-pecahan kristal kaca itu menghujani semua orang yang dilindunginya, tetapi tidak melukai, hanya membuat panik sebentar.
Sess! Ctar!
Seset seset!
Selanjutnya, Alma Fatara mengayun Bola Hitam ke tanah seperti membanting mainan yoyo. Ketika Bola Hitam menggesek tanah, tercipta ledakan sinar biru. Dari ledakan itu, berlesatan belasan sinar-sinar biru tipis berekor ke arah depan, ke arah Ronggo Palung dan gerombolannya.
Set set set …!
“Akk! Akk! Akk …!”
Sigap Ronggo Palung dan gerombolannya melompat menghindari sinar-sinar biru yang tinggi lesatannya kisaran setinggi paha hingga pinggang.
Para anggota bajak laut yang tidak beruntung harus menerima tubuhnya terpotong dua, baik itu pada bagian paha atau pinggang. Kecepatan lesatan sinar-sinar biru itu memang sulit dihindari. Maka wajar jika sebanyak delapan anggota bajak laut harus tewas dengan tubuh terpotong.
“Hahahak! Rasakanlah bagaimana rasanya dibantai!” teriak Alma yang didahului dengan tawa terbahaknya.
Tawa Alma itu justru memberi ruang bagi para bajak laut untuk memberikan perlawanan balik.
“Bunuh!” teriak Ronggo Palung sambil menghentakkan kedua tangannya.
__ADS_1
Swusss! Swess! Bluarr!
Ronggo Palung melesatkan sinar hijau besar seperti mulut terbuka lebar. Alma Fatara memilih melesatkan sinar emas menyilaukan dari ilmu Pukulan Bandar Emas.
Pada pertengahan jarak, sinar hijau mencaplok sinar emas sehingga sinar menyilaukan itu tertutupi, tapi langsung meledak dahsyat pula, menciptakan kembang sinar-sinar emas dan hijau. Indah.
Namun, tidak indah bagi Ronggo Palung dan Alma Fatara.
Ronggo Palung terpental keras dan sampai menyemburkan darah segar lewat mulutnya. Sementara Alma Fatara hanya terjengkang di tempatnya. Kuatnya daya ledak dua kesaktian itu juga membuat sejumlah bajak laut terjengkang, meski tidak sampai mengalami luka dalam seperti Ronggo Palung.
“Jangan kasih cintaaa!” teriak Kodok Pulau sambil melompat jauh seperti kodok.
Fuf! Set!
Dalam lompatan seperti kodok terbang itu, Kodok Pulau meniupkan sumpit beracunnya. Namun, Alma sigap menangkap jarum itu dan membiarkan tubuh Kodok Pulau lewat begitu saja.
Set!
“Aakk!” pekik Kodok Pulau yang baru mendarat saat ia merasakan ada jarum menusuk bokongnya. Alma telah melesatkan jarum itu kepada pemiliknya.
“Seraaang!” teriak tiga anggota bajak laut bersamaan menyerang Alma dari depan.
Alma Fatara maju menyambut dengan langsung menangkap dua bilah golok yang membacok. Alangkah terkejutnya bajak laut itu melihat Alma dengan tenangnya menangkap mata goloknya yang setajam makian.
Ketika kedua tangan Alma sedang memegangi golok, bajak laut lain cepat menusukkan tombak ikannya.
Alma Fatara lihai menghindari tusukan tombak itu, sementara dua ujung Benang Darah Dewa-nya melesat menusuki jari-jari si bajak laut pada tombaknya.
“Akk!” jeritnya dan spontan melepaskan pegangannya pada tombaknya.
Set set set!
“Akk!”
Alma Fatara melepaskan pegangannya pada kedua bilah golok lalu dengan cepat jari-jarinya berkelebat menyayat seperti pedang tajam. Perut, dada dan leher dirobek oleh ujung jari-jari Alma, membuat tangannya berlumuran darah.
Tus tus tus …!
“Aaak!”
Pada saat yang sama, dua ujung Benang Darah Dewa menusuki dada anggota bajak laut bertongkat tadi. Tusukan-tusukan berkecepatan mesin pada jantung jelas mengakhiri nyawa.
Dari sisi lain datang tusukan pedang pendek.
Tap!
__ADS_1
Sambil menghindar, Alma menangkap pergelangan tangan pemegang pedang.
Tes!
“Akk!” jerit panjang lelaki bajak laut itu panjang, setelah tahu-tahu lengannya tercekik dan kemudian putus oleh Benang Darah Dewa.
Itulah kehebatan Benang Darah Dewa yang bisa menyerang tanpa perlu dipegang, seolah-olah dia punya nyawa sendiri.
Alma Fatara pun mengeksekusi lawannya dengan sayatan jari-jarinya pada leher lawan.
Zez! Ses! Sus!
Tiba-tiba tiga jenis sinar berbeda bentuk dan warna dilesatkan oleh tiga anggota bajak laut.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara sambi melesat maju menyambut ketiga kesaktian itu dengan ilmu perisai Tameng Balas Nyawa.
Zing! Beng beng beng!
Tubuh depan Alma dilapisi dinding sinar ungu bening lagi tebal. Ketiga sinar yang menghantam dinding perisainya tidak meledak atau hancur, tetapi memantul balik lurus kepada pemiliknya masing-masing.
Ketiga anak buah Ronggo Palung yang tidak menyangka dengan hasil itu, hanya bisa terkejut dan telat untuk menghindar. Ketiganya pun dihantam oleh kesaktiannya masing-masing. Dua orang terpental jauh ke belakang dengan luka dalam mengancam nyawa. Sementara yang seorang lagi, tidak terpental, tetapi perutnya hancur hingga ke dalam-dalam, lalu tumbang.
Di saat Alma Fatara membunuhi anggota bajak laut itu satu demi satu, dari arah lain muncul Pasukan Pamungkas pimpinan Riring Belanga.
“Almaaa!” teriak Arya Mungkara dan Bandeng Prakas kencang lagi bersamaan. “Hahaha!”
Kedua pemuda tampan itu kemudian tertawa senang.
Mendengar panggilan Arya Mungkara dan Bandeng Prakas dari kejauhan, Alma Fatara menyempatkan diri mencelat tinggi ke udara sambil melambaikan tangan kepada kedua pemuda itu.
Alma yang sempat-sempatnya melakukan itu, membuat Derajat Jiwa dilanda cemburu tinggi. Namun, ia saat itu dalam kondisi terluka parah.
“Siapa gadis muda itu?” tanya Riring Belanga kepada Adipati Adya Bangira.
“Namanya Alma Fatara, gadis ceria yang berkesaktian tinggi,” jawab Adipati Adya Bangira.
“Tanganku gatal untuk ikut menghabisi para bajak laut itu, tetapi aku tidak akan mengganggu anak itu,” kata Riring Belanga.
Tinggal delapan orang anak buah Ronggo Palung yang tersisa. Sementara Ronggo Palung sendiri dalam proses mengobati luka dalamnya usai adu kesaktian dengan Alma.
Alma Fatara kembali menghabisi anggota bajak laut itu. Perpaduan kecepatan gerak, pedang tangan dan Benang Darah Dewa cukup bagi Alma untuk menghabisi kedelapan anggota bajak laut yang tersisa.
Pada akhirnya, tinggallah Ronggo Palung seorang diri. Alma Fatara membiarkannya sampai selesai menyembuhkan diri. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Sambil menunggu up dari Om Rudi yang sedang sakit parah, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!