
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Cucum Mili dalam posisi didudukkan dan dalam kondisi tidak berbaju, tetapi masih berpakaian dalam. Memang tubuhnya pasih sekal dan padat. Tubuhnya sudah dibersihkan dari darah. Perutnya sudah dibalut dengan kain sehingga tidak berdarah lagi.
Pak!
Dukun Sirip yang duduk bersila di belakang Cucum Mili, menempelkan kedua telapak tangannya ke kulit punggung ketuanya. Ia menyalurkan tenaga hangat tapi cenderung panas. Kepala Cucum Mili yang awalnya tertunduk, segera terangkat dengan wajah mengerenyit menahan panas dan sakit.
“Frukr!”
Tiba-tiba Cucum Mili justru menyemburkan darah kehitaman dari mulutnya.
“Ketua!” sebut Mutiara Laut Hitam, Gingsul Camar dan Tonggos Walet yang juga berada di kamar itu. Mereka terkejut melihat hal itu, terutama Dukun Sirip.
Dukun Sirip cepat menghentikan penyaluran tenaga saktinya yang bersifat mengobati. Ia menarik kembali kedua telapak tangannya. Di kulit punggung Cucum Mili yang mulus hitam manis ada membekas cap telapak tangan Dukun Sirip.
“Tidak bisa!” kata Dukun Sirip, membuat wanita yang lain terkejut dan menatap tabib bajak laut itu.
“Kenapa, Dukun?” tanya Tonggos Walet.
“Luka Ketua terlalu parah, aku tidak sanggup. Namun, jika ini dibiarkan, nyawa Ketua akan terancam,” ujar Dukun Sirip.
“Ketuaaa!” Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara teriakan dari luar rumah.
Teriakan itu membuat Mutiara Laut Hitam teringat dengan kondisi di luar, terutama dengan kondisi Udang Karang yang di ambang kematian.
“Ketua!” sebut Mutiara Laut Hitam memanggil Cucum Mili yang dalam kondisi mata terpejam. Namun, dia yakin ketuanya masih sadar.
Cucum Mili tidak menyahut, meski wajahnya bergerak mengerenyit.
“Ketua!” panggil Mutiara Laut Hitam lagi.
“Hmm?” sahut Cucum Mili dengan bergumam.
“Nyawa Udang Karang tergantung dari keputusan Ketua,” ujar Mutiara Laut Hitam.
“Kenapa?” tanya Cucum Mili sangat lemah.
“Alma meminta Demang Baremowo dan istrinya dibebaskan. Jika tidak, Udang Karang akan dibunuh,” jawab Mutiara Laut Hitam.
Cucum Mili tidak langsung menjawab. Dia kembali diam.
“Tidurkan aku,” ucap Cucum Mili lemah.
Dukun Sirip lalu membaringkan tubuh atas Cucum Mili perlahan.
“Bagaimana, Ketua?” tanya Mutiara Laut Hitam lagi.
“Selamatkan Udang Karang,” jawab Cucum Mili.
“Baik, Ketua,” ucap Mutiara Laut Hitam.
__ADS_1
Mutiara Laut Hitam lalu segera keluar. Ia berkelebat ke atas pagar halaman rumah dan langsung memandang kepada Alma dan kelompoknya.
“Jangan bunuh Udang Karang!” seru Mutiara Laut Hitam.
“Kakang Udang Karung baru akan dilepas setelah kalian mendatangkan Demang Baremowo dan Nyi Bungkir dalam keadaan selamat!” seru Alma Fatara.
“Baik,” jawab Mutiara Laut Hitam. Lalu teriaknya kepada Bulak Balok, “Bulak Balok! Bebaskan Demang dan istrinya, lalu bawa ke sini!”
“Hua hua hua siap!” pekik Bulak Balok patuh. Dia lalu bergegas pergi.
“Tapi longgarkan lilitan ular ini!” teriak Udang Karang yang menderita kesakitan.
“Mbah Hitam, beri dia napas!” perintah Alma kepada ular hitam pengawalnya.
Ular hitam besar yang siap menerkam kepala Udang Karang sewaktu-waktu, melonggarkan sedikit lilitannya, membuat lelaki kekar itu tidak begitu merasa kesakitan.
Sementara para anggota bajak laut lainnya tetap bersiaga dalam mode siap bertarung.
Terpaksa mereka harus menunggu lagi.
“Kakak Arang!” panggil Alma kepada Mutiara Laut Hitam.
“Hei, siapa yang kau panggil Arang?!” bentak Mutiara Laut Hitam. “Namaku, Mutiara. Mutiara Laut Hitam!”
“Oh, Hitam. Hahaha!” kata Anjengan lalu tertawa sendiri.
“Apanya yang lucu, Anjengan?” tanya Juling Jitu.
“Jika orangnya putih lalu namanya Hitam, itu baru lucu!” kata Juling Jitu.
“Be-be-betul!” kata Gagap Ayu pro Juling Jitu.
“Hahaha …!”
Para bajak laut yang sedang tegang karena Udang Karang terancam ditelan ular besar, tiba-tiba tertawa ketika mendengar kegagapan Gagap Ayu.
“Apa yang ka-ka-kalian te-te-tertawakan?!” teriak Gagap Ayu gusar kepada para bajak laut. Lalu teriaknya, “Mbah Hitam!”
Para bajak laut mendadak berhenti tertawa, mereka cepat siaga untuk mengantipasi serangan dari si ular besar. Namun, serangan itu tidak terjadi.
“Hihihi …!” Giliran Gagap Ayu yang tertawa terkikik-kikik seorang diri karena melihat reaksi para bajak laut.
“Kakak Mutiara, sampaikan kepada Kakak Cucum. Jika dia bersedia untuk berhenti menginginkan Bola Hitam, aku bersedia mengobatinya dengan Bola Hitam!” seru Alma kepada Mutiara Laut Hitam.
“Baik, akan aku sampaikan!” jawab Mutiara Laut Hitam.
Mutiara Laut Hitam lalu kembali masuk ke dalam untuk menemui sang ketua.
“Bagaimana dengan Ketua, Dukun Sirip?” tanya Mutiara Laut Hitam.
Dukun Sirip hanya menggeleng kepala dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ketua. Aku tidak bisa berbuat banyak,” ucap Dukun Sirip.
“Berapa lama waktu yang aku miliki?” tanya Cucum Mili, masih dalam kondisi mata terpejam menahan kesakitan dan kelemahan.
“Mungkin hanya sekitar tiga hari, atau bisa lebih cepat dari itu,” jawab Dukun Sirip.
“Tidak aku sangka, sekian lama aku menjadi ketua bajak laut, aku bisa dibuat sekarat oleh bocah kemarin malam,” keluh Cucum Mili.
“Ketua!” sebut Mutiara Laut Hitam.
“Ada apa?” tanya Cucum Mili.
“Gadis ompong itu menawarkan untuk mengobati Ketua,” ujar Mutiara Laut Hitam. “Tapi dengan syarat, Ketua harus berhenti menginginkan Bola Hitam.”
Perkataan Mutiara Laut Hitam sampai membuat Cucum Mili membuka matanya. Ia menatap sayu kepada wanita berkulit gelap seperti wanita Afrika itu.
“Lebih baik Ketua terima saja tawaran itu. Bola Hitam tidak lebih penting dari impian cinta, Ketua,” timpal Dukun Sirip.
“Kehilangan Bola Hitam seperti aku kehilangan tangan, tapi kehilangan cintaku, seperti aku kehilangan kepala,” ucap Cucum Mili lemah. Lalu katanya, “Katakan kepada Alma, aku setuju dengan syaratnya.”
“Baik, Ketua,” ucap Mutiara Laut Hitam patuh.
Ia lalu kembali pergi ke luar untuk menemui Alma Fatara. Ia kembali hinggap di atas pagar.
“Ketua kami setuju untuk diobati dan setuju dengan syaratmu, Alma!” seru Mutiara Laut Hitam.
“Baik, tapi aku harus memastikan dulu keselamatan Demang dan istrinya,” kata Alma Fatara.
Mereka kembali menunggu.
Dalam masa tunggu itu, keempat sahabat Alma memilih bersenda gurau sesama mereka saja. Sering kali mereka tertawa dan berdebat untuk perkara yang tidak penting.
Pada akhirnya, Bulak Balok yang awalnya pergi seorang diri, kini datang dengan serombongan orang. Enam orang lain yang bersamanya adalah sesama anggota bajak laut, tapi dua lainnya bukan. Dua orang lain itu adalah seorang lelaki separuh baya dan seorang wanita cantik yang jauh lebih muda.
Lelaki separuh baya adalah sosok lelaki bertubuh kurus berkulit putih tanpa gemuk. Ia mengenakan pakaian bagus warna putih. Kepalanya dihiasi ikatan kain berwarna hitam. Dialah yang bernama Demang Baremowo.
Adapun yang wanita, masih berusia tiga puluhan tahun. Ia mengenakan pakain warna hijau segar. Sejumlah perhiasan emas melekat pada tubuhnya. Ia adalah Nyi Bungkir, istri Demang Baremowo.
Selain Bulak Balok, mereka terkejut melihat keberadaan ular besar yang melilit tubuh Udang Karang.
“Paman Baremowo! Bibi Bungkir!” teriak Alma sambil lambaikan tangan kepada rombongan yang dibawa oleh Bulak Balok.
“Alma!” sebut Demang Baremowo dan Nyi Bungkir terkejut, tapi sumringah.
Bulak Balok dan rekan-rekannya lalu membiarkan kedua tawanan mereka pergi kepada Alma Fatara. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ayo like komen juga di sini!
__ADS_1