Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 40: Jari Emas Hitam


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


Riring Belanga, Arya Mungkara, Bandeng Prakas, dan pasukan menghadapi hal semodel dengan apa yang dihadapi oleh pasukan pimpinan Pangeran Derajat Jiwa.


Sebelum masuk ke Ibu Kota Balongan, pasukan dihadapkan oleh sepuluh kepala orang digantung. Kesepeuluh kepala itu sudah berbau busuk. Namun, berbeda dengan yang ditemui oleh pasukan Pangeran Derajat Jiwa, kepala-kepala itu digantung di palang bambu yang dipasang di tiang bambu yang cukup tinggi.


Dua tombak lebih ke dalam, ada meja pendek terbuat dari bilah-bilah bambu, yang di atasnya berdiri Adipati Adya Bangira dalam kondisi kedua tangan terikat di belakang. Wajah sang adipati terlihat tegar, tetapi berkeringat.


Sama seperti istrinya ketika disandera, ada seorang bajak laut yang berdiri dengan anak panah diarahkan ke kepala Adipati Adya Bangira. Hanya, lelaki itu tidak sendiri. Di dekatnya berdiri seorang wanita bersenjata dua tambang warna hitam. Dia bernama Luli, termasuk orang kuat di kelompok.


Melihat Adipati Adya Bangira berada dalam sanderaan, Arya Mungkara dan Bandeng Prakas segera menggebah kudanya berlari maju lebih dulu.


“Gusti Adipati!” teriak Arya Mungkara, tapi terpaksa menghentikan kudanya.


Bandeng Prakas juga menghentikan kudanya, sebab mereka melihat lelaki pemanah itu menarik sedikit lebih ke belakang senar busurnya, seolah mengancam akan melepaskan anak panah ke kepala sang adipati.


Melihat kedua pemuda itu berhenti, lelaki pemegang panah hanya tersenyum sinis. Luli lalu melangkah maju.


“Mundurlah kalian semua sejauh mungkin, atau kepala Adipati berakhir saat ini juga!” seru Luli yang kedua tangannya dililiti tambang hitam hingga ke bahu.


“Arya Mungkara! Bandeng Prakas! Mundur!” perintah Riring Belanga.


“Aku hitung sampai sepuluh. Jika kalian tidak mundur, maka Adipati akan mati!” seru Luli lagi.


“Mundur!” teriak Riring Belanga.


Arya Mungkara dan Bandeng Prakas segera memutar balik kudanya. Demikian pula pasukan Kerajaan Singayam, mereka balik kanan.


Kraurg!


“Aaak!”


Tiba-tiba terdengar suara seperti gigitan yang menusuk daging dan tulang, yang langsung disusul oleh jeritan seorang lelaki.


Riring Belanga bisa melihat langsung apa yang terjadi dengan keterkejutannya. Sementara Arya Mungkara, Bandeng Prakas dan para prajurit sontak menengok ke belakang.

__ADS_1


Mereka tahu-tahu melihat ada seekor ular besar warna hitam pekat yang sudah menggigit kepala pemegang panah dan melilit tubuhnya. Sementara Luli yang juga terkejut sudah melompat menjauh dari sosok ular yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.


Sementara itu, Adipati Adya Bangira sudah dalam kondisi terjatuh di tanah dengan wajah pucat pasi. Ia terjatuh setelah tersenggol oleh lesatan badan ular. Ular hitam itu tidak lain adalah Mbah Hitam.


Sebelumnya, secara rahasia Alma Fatara telah memerintah Mbah Hitam untuk masuk ke Ibu Kota Balongan mencari Adipati Adya Bangira dan menolongnya.


Sebeumnya pula, Mbah Hitam sudah memantau sosok Adya Bangira dan mencurigainya bahwa dialah sang adipati. Setelah dia mendengar Arya Mungkara menyebut Adya Bangira sebagai adipati, barulah Mbah Hitam mengeksekusi dan menyelamatkan Adipati Adya Bangira.


“Gusti Adipati!” sebut Arya Mungkara dan Bandeng Prakas sambil kompak berkelebat dari kudanya dan berlari mendapati Adipati Adya Bangira.


Sementara itu, tanpa pikir panjang, Riring Belanga berkelebat cepat dari punggung kudanya memburu keberadaan Luli.


Blet!


Luli yang sudah siap dengan segala keadaan, langsung menyambut kedatangan Riring Belanga dengan lesatan dua ujung tali tambang hitamnya. Riring Belanga dengan mudah mengelaki lalu terus maju.


Sebagai pendekar berpengalaman, Riring Belanga yang memang lebih mengandalkan kesaktian jari-jari hitamnya, cepat memepet posisi Luli.


Luli tahu bahwa lawannya menginginkan pertarungan rapat yang akan merugikannya, karenanya Luli berusaha mengambil jarak agar dia bisa dengan leluasa mengandalkan dua tambang talinya. Namun, ternyata Riring Belanga terlalu menjaga jarak pula, seolah tidak memberi kesempatan bagi Luli untuk menjauh.


Setiap kali Luli melompat mundur dan menyerang dengan lecutan tambangnya, dengan mudah Riring Belanga menghindar lalu cepat maju memepet lagi.


Set!


Pada suatu ketika, Luli berhasil menangkap pergelangan tangan kanan Riring Belanga menggunakan satu simpul tambang yang sederhana. Ketika cakaran jari-jari hitam itu datang, segera ditangkap dengan mengikat pergelangan tangan. Jeratan simpul itu langsung memberi rasa panas pada kulit Riring Belanga.


Namun, sambil menahan perih panas di tangan kanannya, tangan kiri Riring Belanga cepat masuk mengincar leher Luli. Dengan tetap menarik kencang talinya, Luli memiringkan tubuh atasnya menghindari serangan maut Riring.


Cras!


“Akk!” pekik Luli saat tarikan balik tangan kiri lawan mencakar bahu kanannya.


Jari-jari hitam Riring Belanga seperti menggaruk permukaan bubur. Kulit bahu Luli dengan mudahnya terambil, meninggalkan lima garis jari yang menghanguskan memakan kulit dan daging, bukan seperti cakaran kuku.


Sementara tangan kiri yang terjerat, melakukan perlawanan dengan memaksa menggenggam tambang.

__ADS_1


Cess!


Jika itu tambang biasa, mungkin akan dengan mudah membakarnya, tapi itu tambang yang bertenaga sakti. Karenanya, Riring Belanga mengerahkan ilmu Jari Emas Hitam. Jari-jari tangan kanan Riring Belanga berubah menjadi mengilap seperti jari berbahan besi. Ketika jari-jari itu menggenggam tambang, muncul sinar emas yang sifatnya membakar dan memusnahkan. Seperti api yang membakar sumbu dinamit, tapi lebih cepat.


Sinar emas kecil itu bergerak cepat memakan sumbu tambang yang terpotong menjadi dua dan langsung mengenai kedua tangan Luli yang memegang tambang. Fokusnya kepada rasa sakit di bahunya, membuatnya lengah dan tidak sempat melepas pegangannya pada tambang sampai dua sinar emas itu membakar kedua tangannya.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat.


“Aaak …!” jerit Luli panjang dan tinggi, saat kedua tangannya secara perlahan dibakar musnah oleh sinar emas yang kian membesar karena mengikuti obyek yang dibakarnya.


Mengerikan. Kedua tangan Luli terbakar lalu menjadi abu yang membara. Sementara sinar emas terus menjalari hasta dan bergerak menuju lengan.


Luli yang bingung cara menghentikan atau memadamkan sinar emas pemusnah itu, hanya bisa menjerit menahan derita, terlebih kedua tangannya menghilang secara perlahan.


Adipati Adya Bangira, Arya Mungkara, Bandeng Prakas, dan para prajurit hanya bisa terbelalak melihat kengerian yang diciptakan oleh ilmu Jari Emas Hitam milik Riring Belanga.


Hingga akhirnya, dua sinar emas yang memakan kedua lengan Luli juga memakan badan Luli. Bajak laut perempuan itu akhirnya tewas sebelum raganya benar-benar habis tidak tersisa daging atau tulang.


“Di mana ular hitam tadi?” tanya Riring Belanga kepada Arya Mungkara dan Bandeng Prakas.


“Pergi dengan sendirinya,” jawab Arya Mungkara.


Terlihat lelaki korban Mbah Hitam telah tergeletak tanpa nyawa dan harapan.


“Arya, di mana Arung Seto dan Ariang Banu?” tanya Adipati Adya Bangira.


“Mereka memimpin pasukan lewat jalan pinggir sungai, Gusti,” jawab Arya Mungkara.


“Tapi sulit untuk memastikan kondisi mereka baik-baik saja, Gusti. Perangkap yang dipasang oleh bajak laut itu sungguh mengerikan,” kata Bandeng Prakas.


“Majuuu!” teriak Riring Belanga kepada pasukannya.


Maka pasukan Kerajaan Singayam bergerak memasuki Ibu Kota Balongan via jalan utara. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!



__ADS_2