Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 23: Rebutan Arung Seto Lagi


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Hantu Tiga Anak datang bersama dua dari tiga muridnya yang adanya memang tiga orang. Murid yang sudah ketahuan identitasnya adalah Murai Ranum, yang terkenal genit dan berani menggoda lelaki tanpa kenal tampang.


Murid tertua bernama Kalang Kabut, lelaki berusia separuh baya bertubuh kurus kecil, tapi memelihara kumis tebal yang terkesan beratnya melampaui kapasitas dibandingkan dengan ukuran wajah. Ia mengenakan pakaian warna hitam-hitam dengan senjata seruling terselip di pinggang belakangnya.


Murid kedua bernama Jaya Hongge sedang mendapat tugas untuk pergi mencari Kipas Raja Dunia di Candi Alam Digdaya, sama seperti perguruan lain yang sudah mengirimkan utusannya masuk ke Candi Alam Digdaya. Namun, hingga hari ini, belum ada yang berhasil keluar dari Candi Alam Digdaya.


Sama seperti Galah Larut dan Lelaki Tombak Petir sebelumnya, Hantu Tiga Anak pun disambut oleh Kawal Rindu, kemudian diantar oleh seorang murid wanita Bulan Emas, lalu disambut oleh Rereng Busa, selanjutnya diajak naik ke panggung tamu.


“Tetua itu juga menunjukkan sorot mata yang licik, dia juga memiliki niat jahat sama seperti dua tetua sebelumnya,” kata Penombak Manis kepada Tampang Garang.


“Apakah kita akan diserang?” tanya Tampang Garang.


“Mungkin, tapi itu sama saja cari mati,” jawab Penombak Manis. Lalu perintahnya, “Kau pergi beri tahu Gusti Ratu. Minta petunjuk!”


“Baik,” ucap Tampang Garang patuh lalu segera pergi.


Jika Kalang Kabut ikut menemani gurunya naik ke panggung, Murai Ranum justru berkeliaran mencari calon mangsa.


Sebagai gadis penggoda yang lihai, Murai Ranum bisa dengan muda menemukan calon mangsa. Wajah Arung Seto begitu bercahaya di antara wajah para lelaki lain yang di bawah SNI.


Saat itu, Arung Seto sedang berada di antara sejumlah murid Bulan Emas yang bertugas memantau keamanan.


Dengan genitnya, Murai Ranum berjalan berlenggak-lenggok tepat di depan jejeran para lelaki Bulan Emas, sambil tersenyum semanis mungkin, jika bisa sampai senyumnya membuat para lelaki itu mengidap diabetes.


Murai Ranum berjalan seolah sengaja membusungkan dadanya yang menantang di depan mata para lelaki itu. Masih untung dada itu masih terbungkus rapi. Aroma tubuhnya yang harum seperti pengharum ruangan seolah memberi bius halusinasi.


“Aw!” pekik Murai Ranum nyaring ketika pijakan kaki kirinya meleset dan pergelangan kakinya tertekuk ke sisi dalam, membuatnya jatuh terduduk.


“Hahaha …!” tawa murid-murid Bulan Emas dan Jari Hitam melihat insiden itu.


Mereka tertawa kencang bukan karena menertawakan Murai Ranum yang jatuh, tetapi menertawakan Arung Seto yang celananya kedodoran separuh karena tertarik oleh tangan si gadis cantik.


Murai Ranum jatuh tepat di depan Arung Seto berdiri. Ketika jatuh, tangan kirinya seolah refleks mencari pegangan dan yang terpegang adalah kain celana Arung Seto.


Meski ditertawakan, Arung Seto buru-buru membenarkan celananya dan segera memegang lengan Murai Ranum untuk membantunya berdiri.

__ADS_1


“Nisanak, kau terluka?” tanya Arung Seto.


“Ah, tidak apa-apa, tapi pergelangan kakiku seperti terkilir,” kata Murai Ranum dengan nada yang manja dan wajah yang mengerenyit.


“Kami memiliki tabib yang hebat, kakimu pasti akan langsung sembuh jika diobati olehnya,” ujar Arung Seto bersemangat, maksudnya bersemangat menolong, bukan bersemangat ambil kesempatan.


“Oh ya? Aku mau diobati,” kata Murai Ranum semangat tahun 2022. “Tapi bantu aku berjalan.”


Sementara itu, dari atas panggung tamu, Hantu Tiga Anak membiarkan saja muridnya membuat ulah. Ia dan Kalang Kabut hanya memandangi dari kejauhan.


Arung Seto lalu memapah Murai Ranum untuk berjalan. Gadis cantik itupun mengambil kesempatan dengan merangkul bahu Arung Seto.


“Aduh, pelan-pelan!” keluh Murai Ranum manja.


“Iya,” ucap Arung Seto.


“Rezeki orang tampan,” ucap salah satu murid lelaki Bulan Emas yang tadi berdiri di sebelah Arung Seto.


“Untung tidak dilihat Nining Pelangi,” kata murid yang lain.


“Itu Nining Pelangi datang!” tunjuk murid yang lain.


Mereka melihat Nining Pelangi berjalan tergesa-gesa mendekati Arung Seto dan Murai Ranum dari arah samping. Wajahnya menunjukkan sinyal peperangan.


“Hei!” bentak Nining Pelangi sambil mencekal tangan Murai Ranum yang merangkul bahu Arung Seto.


“Eh, apa-apaan ini?” pekik Murai Ranum yang terkejut, karena ia tidak melihat kedatangan Nining Pelangi.


Setelah menyingkirkan tangan Murai Ranum dari bahu Arung Seto, Nining Pelangi mendorong Murai hingga jatuh terduduk di tanah.


“Singkirkan tangan genitmu itu dari bahu kekasihku!” sentak Nining Pelangi.


Buru-buru Murai Ranum bangun dengan wajah marah.


Buk!


Tiba-tiba satu tendangan kaki mendarat di perut Nining Pelangi, padahal dia melihat Murai Ranum tetap berdiri dua kaki saat tendangan itu muncul mengenai perutnya. Entah bagaimana bisa, tapi tendangan itu terlalu cepat. Yang jelas, itu membuat Nining Pelangi terjengkang.


Murid-murid yang ada di sekitar mereka segera menjauh dan menjadi riuh.

__ADS_1


“Jangankan baru kekasih, jika kakang tampan ini adalah suamimu, tetap akan aku goda!” tandas Murai Ranum tanpa takut merasa bersalah.


“Dasar perempuan binal!” maki Nining Pelangi yang sudah bangun. “Akan aku buat kau tidak lagi berani pamer muka perkututmu itu!”


Nining Pelangi bergerak maju hendak menyerang Murai Ranum. Yang mau diserang pun juga bergerak maju.


Namun, kedua wanita cantik itu tiba-tiba ditangkap tubuhnya agar tidak saling bertemu. Nining Pelangi segera dihadang dan dipeluk oleh Arung Seto agar tidak maju. Adapun Murai Ranum, ada dua tangan kekar yang tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Tangan itu tidak hanya memeluk perutnya, tapi juga merangkul dadanya.


“Jangan buat ribut lagi, Nining Sayang!” kata Arung Seto.


“Murai Sayang, jangan mengacaukan pesta ini!” kata lelaki yang memeluk Murai dengan maksud menahannya agar tidak bertarung.


Ketika Murai Ranum menengok, ternyata orang yang memeluknya adalah Galak Gigi.


“Lepaskan aku, Gigi Ganteng!” pekik Murai Ranum sambil melepaskan dirinya dari pelukan tangan perkasa Galak Gigi.


Sementara Nining Pelangi tidak berusaha melepaskan diri dari pelukan Arung Seto, karena tidak mudah mendapat pelukan dari kekasihnya itu.


Keributan itu jelas menarik perhatian banyak orang, terutama para tetua yang ada di atas panggung tamu. Mereka sejenak meninggalkan pertunjukan di atas panggung utama dan beralih kepada pertengkaran yang terjadi di bawah.


Mau tidak mau, Rereng Busa sebagai guru Nining Pelangi dan Hantu Tiga Anak sebagai guru Murai Ranum harus turun panggung.


Kedua orang tua itu melayang di udara seperti burung, lalu mendarat di antara kedua wanita yang bertikai.


Sementara itu, Tampang Garang sedang menghadap Alma Fatara di Ruang Purnama yang sepi. Di dekat Alma Fatara ada Mbah Hitam dan empat pengawal wanita berseragam kuning.


“Berdasarkan penglihatan Penombak Manis, ketiga tetua yang sudah datang memiliki niat jahat dan licik!” lapor Tampang Garang.


“Percayai saja apa yang dikatakan oleh Penombak Manis dari hasil penglihatannya. Tampang Garang, apa yang didapat oleh penglihatan Penombak Manis, laporkan saja kepada Galak Gigi agar dia dan anggotanya jadi tahu dan lebih waspada!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang patuh.


“Jika semua tamu undangan sudah datang, cepat lapor ke mari!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu.” (RH)


  


__ADS_1


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2