
*Setan Mata Putih (SMP)*
“Kenapa ada murid Perguruan Jari Hitam, murid Setan Gagah dan murid Hantu Tiga Anak di sini?” tanya Raja Buru yang mengenali Roro Wiro dan Murai Ranum. Sedangkan Nining Pelangi ia kenal dari warna jari-jari tangannya yang hitam pekat seperti arang.
“Kami adalah utusan dari Ratu Siluman,” jawab Nining Pelangi.
“Oh!” desah Raja Buru terkejut, karena dia bertemu dengan Ratu Siluman beberapa hari lalu di kedai Ki Jentang sedang makan bubur. Ratu Siluman makan bubur.
“Pemuda aneh itu adalah adik seperguruanku yang hilang. Aku harap Demang Mahasugi tidak membunuhnya,” ujar Nining Pelangi.
“Bagaimana jika aku tetap membunuhnya?” tanya Demang Mahasugi menantang.
“Mohon maaf, Demang. Lebih baik jangan membunuhnya. Karena jika Demang membunuhnya, bisa-bisa Demang akan berhadapan dengan Ratu Siluman dan pasukannya. Ketua Perguruan Jari Hitam adalah abdinya Ratu Siluman,” kata Raja Buru menyela.
“Siapa sebenarnya Ratu Siluman itu? Wilayah ini adalah kekuasaan Kerajaan Singayam, tidak ada kerajaan lain yang dipimpin oleh seorang ratu,” kata Putri Cicir Wunga.
“Aku sepakat dengan Raja Buru,” kata salah seorang pendekar tua yang duduk di kursi atas teras. Dia seorang lelaki separuh baya, tetapi kepala depannya sudah botak seperti seorang profesor. Ia berjubah kuning kunyit, tapi lengan jubahnya pendek. Ada sejumlah gelang di kedua pergelangan tangannya. Wajar jika dia dijuluki Juragan Gelang. “Aku juga menyarankan agar Demang fokus kepada satu musuh yang jelas, jangan menambah musuh baru, apalagi memiliki pasukan pendekar setingkat murid Setan Gagah dan Hantu Tiga Anak.”
Demang Mahasugi terdiam sejenak, ia berpikir.
“Benar, Kakang. Kita harus membereskan dulu masalah kita dengan Paman Bandar Bumi, karena dia yang telah membunuh anak kita dan menyerang rumah kita,” kata Putri Cicir Wunga.
“Baik, aku serahkan setan itu kepada kalian. Namun, jika dia kembali muncul menyerang kediamanku, maka aku akan langsung membunuhnya!” kata Demang Mahasugi kepada Nining Pelangi.
“Terima kasih atas kebaikan Demang,” ucap Nining Pelangi sambil menghormat secukupnya.
Kulung terkulai lemah, semakin lemah. Dia sudah tergeletak. Matanya yang terpejam sudah tidak bersinar putih lagi dan kuku-kukunya sudah tidak panjang lagi.
Raja Buru lalu memadamkan tiga benang sinar birunya yang menjerat kedua tangan dan leher Kulung. Ia juga menarik dengan tenaga dalam pasak-pasak sinar hijaunya yang menancap di tubuh Kulung.
Kulung tidak pingsan, dia hanya mengalami kelemahan.
Nining Pelangi menghampiri Kulung dan membantunya berdiri. Murai Ranum segera membantu panglimanya turut memapah Kulung.
__ADS_1
“Aku pikir adik seperguruanmu itu adalah mayat yang dibangkitkan juga seperti Golono!” celetuk Raja Buru.
Terkejut Demang Mahasugi dan istrinya mendengar perkataan Raja Buru yang perlu penjabaran karena menyebut nama anak mereka.
“Apa maksudmu menyebut nama Golono, Raja Buru?” tanya Putri Cicir Wunga cepat.
“Oh. Aku melihat Golono dihidupkan kembali oleh Penguasa Jiwa. Jadi aku kira murid Jari Hitam itu ….”
“Berarti orang yang menculik jasad putraku adalah orang-orang suruhan Bandar Bumi. Benar-benar keparat!” kata Demang Mahasugi memotong kata-kata Raja Buru.
“Lalu di mana jasad putraku, Raja Buru?” tanya Putri Cicir Wunga lagi.
“Aku tidak tahu. Dia dibuat seperti murid Jari Hitam itu. Namun, istriku sedang mengikuti mayat hidup Golono,” jawab Raja Buru.
“Aku tidak akan menunda lagi untuk membunuh Paman Bandar Bumi. Bahkan ketika anakku sudah menjadi mayat pun, masih juga diperlakukan begitu buruk,” gusar Putri Cicir Wunga. Lalu teriaknya kepada khalayak, “Aku akan membayar lima kantung kepeng perak setiap mayat anggota keluarga Bandar Bumi!”
Agak terkejut Demang Mahasugi mendengar sayembara istrinya. Berbeda dengan para pendekar bayaran yang menjadi riuh kasak-kusuk.
Tiba-tiba para pendekar yang berkumpul di depan teras berpergian begitu saja, tanpa pamit atau salam kepada tuan rumah.
Bahkan dua pendekar senior yang duduk di teras langsung menghilang seperti setan. Tinggallah Juragan Gelang dan rekannya yang masih duduk di kursi atas teras. Sementara di depan teras tersisa lima pendekar bayaran lainnya. Namun pada akhirnya, mereka pun sepakat pergi menyusul pendekar-pendekar lainnya.
Tinggallah Nining Pelangi dan keempat rekannya yang tersisa.
“Kami izin pamit, Demang. Tugas kami sudah terlaksana,” ucap Nining Pelangi yang dalam posisi memapah Kulung bersama Murai Ranum.
“Sampaikan kepada ratu kalian, aku menunggu kedatangannya besok,” kata Demang Mahasugi.
“Baik,” jawab Nining Pelangi.
Namun, belum juga Nining Pelangi dan rekan-rekannya berbalik pergi, tiba-tiba ….
“Demang Mahasugi, putramu telah pulang!” teriak seorang perempuan dari arah pintu gerbang pagar halaman.
Mereka yang masih ada di tempat itu segera melemparkan pandangan ke arah jauh.
__ADS_1
Tampak seorang wanita bertubuh gemuk berpakaian berbahan bulu kulit binatang, berjalan datang dari arah gerbang. Dia memanggul sesosok tubuh.
“Golono!” pekik Putri Cicir Wunga yang langsung mengenali model dan warna pakaian putranya.
Demang Mahasugi dan istrinya kompak langsung berkelebat berlari di udara malam dan turun bersama menghadang langkah Ratu Kejar yang datang.
Ratu Kejar menghentikan langkahnya dan menurunkan mayat yang ada dipanggulannya. Mayat yang memang adalah jasad Golono, langsung diterima oleh Demang Mahasugi. Warna kulit Golono sudah menghitam karena pengaruh racun yang membunuhnya.
“Golonooo!” ratap Putri Cicir Wunga menangis sambil memeluk erat jasad Golono yang mulai berbau.
Demang Mahasugi hanya memandangi wajah mayat putranya yang menghitam. Rasa dendam membara di dalam dadanya. Ingin rasanya saat itu juga dia melihat Bandar Bumi dan anak-anaknya tergeletak menjadi mayat di depannya.
“Jika putramu Golono menjadi target pembunuhan, kau juga harus melindungi putramu yang satunya lagi, Demang,” kata Ratu Kejar.
Terkesiaplah Demang Mahasugi.
“Lolongo!” sebut Demang Mahasugi.
Buru-buru Demang Mahasugi berkelebat kembali ke teras.
Sementara itu, Nining Pelangi dan rombongan berjalan pergi dengan membawa Kulung yang mengalami luka dalam parah.
“Juragan Gelang, Kala Biru, putraku yang bernama Lolongo sedang berada di Nuging Muko, tidak jauh dari Bandar Bumi, aku minta kalian pergi sekarang juga ke sana untuk memastikan keselamatannya!” perintah Demang Mahasugi.
“Jika kami menemukannya masih dalam kondisi bernyawa, maka akan kami pastikan keselamatannya. Namun jika sudah tanpa nyawa, kami lepas tangan,” kata Kala Biru, seorang lelaki yang lebih tua dari Juragan Gelang. Dia berpakaian serba biru gelap dan membawa sebuah bumbung bambu yang memiliki tutup. Tidak jelas apa yang ada di dalam bumbung bambu itu.
“Iya, aku mengerti,” kata Demang Mahasugi.
Juragan Gelang dan Kala Biru lalu bangun dari duduknya. Dengan santainya mereka bertolak dari teras itu dan melayang turun ke tanah halaman. Selanjutnya mereka berjalan menyusul kepergian Nining Pelangi dan lainnya.
“Begar, urus jasad Golono!” perintah Demang Mahasugi kepada Ketua Satu Centeng Demang.
“Baik, Kanjeng Gusti,” ucap Begar patuh.
Begar lalu mengajak beberapa anak buahnya untuk menghampiri Putri Cicir Wunga yang masih memeluki jasad putranya. (RH)
__ADS_1