Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 40: Mimpi Hebat Sang Ratu


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Informasi bahwa Wulan Kencana masuk ke Candi Alam Digdaya sudah sampai kepada Alma Fatara. Karena itulah, dia bertanya kepada Suraya Kencani ketika sedang mengobati wanita cantik itu dengan Bola Hitam.


“Aku sempat berbicara dengan Ketua Tikus Belukar tentang Wulan Kencana. Dia mengatakan bahwa Wulan Kencana masuk ke dalam Candi Alam Digdaya. Namun, yang dicarinya hanyalah obat mujarab dan Jarum Kesaktian. Menurut Ketua Jongkol Pedih, seseorang yang masuk ke dalam Candi, dia tidak boleh mengambil apa yang tidak diniatkannya sejak awal,” kata Alma Fatara kepada Suraya Kencani.


Saat itu, nenek jelita tersebut dalam kondisi terbaring. Sementara Alma Fatara sambil memasangkan dua bagian kotak biru terang sebagai bantalan kepala Suraya Kencani.


“Kemungkinan besar Wulan Kencana akan datang dengan kondisi yang lebih bugar dan kesaktian baru, atau berbekal senjata pusaka baru. Apakah Tetua bisa menghadapinya?” tanya Alma Fatara kepada Suraya Kencani.


“Aku sangat yakin bisa. Kami sama-sama memiliki ilmu Raga Abadi. Dan kini aku memiliki pusaka Kuncup Mawar Putih,” jawab Suraya Kencani.


“Bukankah pusaka itu sudah habis kelopaknya?” tanya Alma Fatara.


“Kelopaknya akan tumbuh kembali di saat purnama,” jawab Suraya Kencani.


“Tapi jika Tetua dan perguruan kelak mengalami kesulitan, kirimlah utusan untuk mencariku di Kerajaan Jintamani. Perjalananku saat ini menuju Kerajaan Jintamani,” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Suraya Kencani dalam kondisi tetap berbaring.


“Jika Wulan Kencana berhasil mendapatkan Jarum Kesaktian, dia pasti pergi mencariku karena mustika pasangan pusaka itu ada padaku,” kata Aalma Fatara.


“Apa yang sebenarnya dia inginkan?”


“Kesaktian seratus pusaka masa lalu,” jawab Alma Fatara.


Maka, malam itu juga, Alma Fatara mengobati Suraya Kencani menggunakan kesaktian Bola Hitam. Prosesi itu berlangsung hingga beberapa jam.


Setelah memastikan suasana tengah malam itu aman, Alma Fatara bisa tidur nyenyak di kamarnya. Hingga-hingga ia bermimpi cukup aneh.


Awal mimpi dimulai dengan scene Alma Fatara berada di kolong sesosok makhluk sangat besar, yang tinggi bawah perutnya tidak terlalu jauh dari kepala. Ketika ia mendongak, yang dilihatnya hanya warna gelap. Tubuh makhluk itu terbagi tiga, yaitu kepala, badan dan ekor yang seperti perut lebih besar dari badan. Makhluk yang bukan manusia itu berdiri di atas kaki-kakinya yang panjang, berbulu dan berwarna ungu gelap. Makhluk itu berkaki delapan. Jadi Alma Fatrara berdiri di dalam kurungan delapan kaki besar berujung rungcing dan tajam. Namun, Alma Fatara masih bisa melewati celah antarkaki yang lebar.


Dalam kondisi itu, Alma Fatara juga melihat ke sekeliling yang berkabut tebal. Namun, di balik kabut itu, samar-samar terlihat banyak makhluk besar-besar tapi pendek yang mengepung, tidak jelas makhluk apa itu gerangan.

__ADS_1


Alma Fatara yang kala itu sudah merasa akrab dengan makhluk raksasa yang ada di atasnya, cepat melesatkan ujung Benang Darah Dewa yang melilit pada salah satu pangkal kaki si makhluk. Selanjutnya, seperti seorang Tarzan, Alma Fatara melesat berayun dengan satu tangan berpegangan pada benang saktinya. Ia berayun naik keluar dari kolong makhluk ungu tersebut, lalu bersalto cepat beberapa putaran.


Jleg!


Alma Fatara mendarat dan berdiri gagah di atas punggung seekor laba-laba raksasa berwarna ungu gelap. Itu adalah jenis laba-laba besar yang dikenal dengan nama tarantula.


Dengan berdiri di atas punggung laba-laba hitam ungu itu, Alma Fatara bisa melihat lebih jelas makhluk-makhluk yang mengepungnya. Makhluk-makhluk yang besarnya sedikit lebih kecil dari si laba-laba itu tidak lain adalah kura-kura raksasa, dalam arti ukurannya beberapa kali lebih besar dari kura-kura besar yang normal.


“Antulaaa!” teriak Alma Fatara sambil menunjuk ke depan.


Tiba-tiba tarantula raksasa bernama Antula itu berlari sangat cepat ke depan. Namun, kaki-kaki yang lancip menginjaki para kura-kura yang berkerumun seperti satu pasukan besar. Kaki-kaki Antula menusuk masuk menjebol cangkang-cangkang kura-kura, membuat binatang amfibi itu meraung-raung kesaktian.


Hingga akhirnya, Alma Fatara bersama Antula menjauh meninggalkan kepungan para kura-kura raksasa. Dan Alma pun terbangun. Ia cepat memeriksa ke sekeliling. Hening. Kondisi kamar pun temaram dengan penerangan dua nyala dian saja.


“Mimpi yang hebat,” ucap Alma Fatara lirih.


Setelah memikirkannya sejenak, Alma melanjutkan tidurnya yang tanpa teman.


Keesokan paginya, setelah matahari pagi terbit, Alma Fatara melantik secara resmi Suraya Kencani sebagai Ketua Perguruan Bulan Emas di depan semua warga perguruan. Warga Kerajaan Siluman lainnya menjadi saksi pelantikan.


Awalnya Alma Fatara bingung bagaimana teknis pelantikannya. Namun, Kawal Rindu memberi tahu bahwa ketua perguruan memiliki tiara kecil yang terbuat dari emas murni. Ternyata tiara itu ada tersimpan di antara koleksi perhiasan Wulan Kencana.


“Beri hormat!” seru Kawal Rindu.


“Hormat kami, Ketua!” seru seluruh murid Perguruan Bulan Emas.


Sementara orang-orang Perguruan Jari Hitam dan seluruh anggota Pasukan Genggam Jagad tidak memberikan hormat kepada Suraya Kencani, karena mereka bukan bagian dari Perguruan Bulan Emas.


“Bangunlah! Kesejahteraan atas kalian!” seru Suraya Kencani.


Sebagai ketua yang baru, Suraya Kencani pun menyampaikan pidato kenegaraannya untuk pertama kali.


“Kepada seluruh murid Perguruan Bulan Emas, sekarang akulah ketua kalian. Aku tidak pernah bermusuhan dengan kalian di masa lalu. Aku hanya bermusuhan dengan kedua guru kalian. Jadi kalian tidak memiliki alasan untuk memusuhiku. Sebagai ketua kalian, aku akan menganggap kalian sebagai murid-muridku juga. Di bawah kepemimpinanku, kita harus menjadikan perguruan ini berdiri dengan penuh kemartabatan. Matinya enam dari ketujuh penguasa bukit, menjadikan Perguruan Bulan Emas menjadi perguruan nomor satu di kawasan Bukit Tujuh Kepala. Kalian harus ingat, kita masih memiliki seorang ratu yang berkesaktian tinggi, dan kita juga memiliki Kerajaan Siluman yang punya pasukan hebat. Apakah kalian semua siap membantuku menjayakan Perguruan Bulan Emas?” seru Suraya Kencani berpidato.


“Kami siap, Ketua!” jawab seluruh murid Perguruan Bulan Emas serentak.

__ADS_1


Setelah pidato itu, upacara pelantikan ketua baru Perguruan Bulan Emas berakhir. Massa pun dibubarkan.


Setelah kondisi Ruang Purnama cukup sepi, Mbah Lawut pergi menemui Suraya Kencani.


“Dewi Kahyangan,” sebut Mbah Lawut lembut kepada Suraya Kencani.


Wanita jelita itu seketika tersenyum manis kepada kakek di depannya.


“Aku sangat bahagia kau telah sempurna dalam kesehatan. Kini kau pun telah menjadi orang nomor satu di Perguruan Bulan Emas. Sudah waktunya aku harus kembali ke Desa Julangangin,” ujar Mbah Lawut.


“Lawut, tinggallah di perguruan ini,” kata Suraya Kencani sambil memegang kedua lengan mantan kekasihnya itu.


“Hahaha!” tawa pendek Mbah Lawut. “Aku harus menjaga kemasyhuran ayam panggang maduku. Aku tidak mau dicari banyak pendekar hanya karena ayam lezatku hilang dari peredaran.”


“Aku begitu sayang kepadamu, Lawut. Kau selalu ada untukku di masa-masa sulit,” kata Suraya Kencani lembut.


“Pujianmu membuatku sedih. Apa yang aku lakukan belakangan ini, sangat jauh dari kata penebusanku yang tidak bisa mendampingi selama kau menderita puluhan tahun lamanya,” ucap Mbah Lawut dengan mata berkaca-kaca, kembali membayangkan masa-masa sulit Suraya Kencani di kala kegilaannya.


“Hihihi!” tawa Suraya Kencani sambil bergerak menyeka air mata tua Mbah Lawut. “Sudahlah Lawut, semua sudah berlalu.”


“Carilah pasangan yang lebih muda dan tampan. Jika kau tetap bertahan denganku, nanti kau akan cepat menjadi janda,” ujar Mbah Lawut.


“Selama kau masih hidup, aku tidak akan menikah dengan siapa pun, Lawut,” kata Suraya Kencani.


“Hahaha!”


“Hihihi!”


Tertawalah mereka berdua dalam kebahagiaan. (RH)


 


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.


AUTHOR tidak ada yang sempurna dalam menyuguhkan sebuah karya. Saya Rudi Hendrik, secara pribadi mengucapkan "mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf dan dosa. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin". 


__ADS_2