
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Kini, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara berseberangan kubangan kering dengan Pengemis Kaya.
Sementara Mbah Hitam, Cucum Mili, Anjengan dan yang lainnya menonton dari tempat yang agak jauh. Mereka juga sudah mengamankan para kuda setelah sempat kocar kacir karena berpentalan jatuh.
“Aku beri saran kepadamu, Kek. Lebih baik jangan menggunakan tongkatmu jika bertarung melawanku, nanti kau bisa celaka!” seru Alma Fatara.
“Hahaha!” tawa Pengemis Kaya. “Sepertinya kau anak yang licik, Alma!”
“Bukan licik, tapi cerdik. Hahahak!” kata Alma lalu tertawa terbahak.
“Baik, aku tidak akan memakai tongkat!” kata Pengemis Kaya lalu menancapkan tongkat hitamnya ke tanah hingga masuk sedalam empat jengkal.
“Hahaha!” tawa Alma santai. “Jika kesaktianmu sama tingginya dengan Pengemis Batok Bolong, lebih baik urungkan niatmu membalas dendam. Ketahuilah, aku lebih sakti dari dua tahun yang lalu!”
“Hahaha! Sombong juga kau Alma!”
“Tapi kesombonganku sepadan dengan kesaktianku, Kek. Hahaha!”
“Sepertinya kau juga seorang pembual bau kencur!”
“Kau bisa membuktikannya sendiri, Kek!”
Tiba-tiba Alma Fatara berlari kencang menuruni kawah untuk menyeberang sampai ke posisi Pengemis Kaya. Kakek berjubah biru gelap itu sempat terkesiap melihat tindakan Alma.
Sess! Blar!
Clap!
“Kejutan!” pekik Alma yang memang mengejutkan Pengemis Kaya.
Setelah tidak menyangka melihat Alma berlari menuruni kubangan raksasa itu, padahal dia bisa melompat sebagai orang sakti, Pengemis Kaya menjajal Alma dengan melemparinya bola sinar kuning, tapi sebesar kepalan saja.
Alma Fatara menghindar dengan cara melompat bersalto, membuat tanah dasar kubangan meledak.
Namun, ketika Alma mendarat dari hindarannya, tiba-tiba Alma menghilang seperti sulap. Tahu-tahu ia muncul di udara, tepat di sisi kiri tubuh Pengemis Kaya sambil berkata “Kejutan”.
Kaki kanan Alma sudah mengibas kencang lagi kuat.
Dak!
Meski terkejut oleh kejutan dari Alma, sebagai pendekar tua yang kenyang dengan garam kehidupan dan micinnya pertarungan, Pengemis Kaya dengan sigap menangkis tendangan itu menggunakan tangan kiri. Terasa sekali tingginya tenaga dalam pada tendangan itu, membuat Pengemis Kaya harus menguatkan kekuatan pijakannya di tanah.
Wuut!
Namun, kaki kiri Alma menyusul dengan kecepatan lebih ekstrem dan kuat.
Clap!
__ADS_1
Ternyata Pengemis Kaya memilih tahu-tahu menghilang tanpa jadi tempe. Tendangan kaki kiri Alma membabat angin di saat si kakek berpindah posisi agak menjauh.
“Aku tidak terima kau menghindar seperti itu, Kek!” teriak Alma Fatara lalu melesat langsung mendapati Pengemis Kaya.
Dengan hanya mengandalkan tenaga dalam pada kedua tangan dan kakinya, Alma menggempur Pengemis Kaya dengan pukulan dan tendangan. Kecepatan serangan tangan dan kaki Alma itu tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
Mungkin hanya Penombak Manis yang bisa melihat dengan jelas gerakan kedua petarung, itu karena kelebihan Sisik Putri Samudera. Sementara Mbah Hitam hanya bisa melihat dengan samar gerakan Alma dan Pengemis Kaya, tapi dia masih bisa mengikuti jalannya pertarungan.
Pengemis Kaya meladeni Alma Fatara dengan kecepatan setan pula. Sebagai pendekar tua, meski ia terkejut melihat kesaktian Alma, tetapi ia justru bersemangat mendapat lawan yang jarang ia temukan. Apalagi Alma adalah seorang gadis yang masih belia.
Pengemis Kaya tidak hanya menangkis dan bertahan, tetapi dia juga melakukan gempuran balik berupa pukulan dan tendangan yang tidak kalah cepatnya.
Cukup lama dua pendekar beda generasi itu saling jual dan beli serangan dengan kecepatan setan. Hal itu benar-benar membuat Pengemis Kaya senang dan penasaran.
Set set set …!
“Bocah licik!” maki Pengemis Kaya sambil tiba-tiba melesat mundur meninggalkan Alma Fatara yang justru tertawa di tempatnya berdiri.
“Hahahak …!” tawa Alma terbahak-bahak seperti bapak-bapak.
Sementara para penonton yang tegang sejak tadi, jadi agak lega. Sebab, jika Alma tertawa, itu artinya dia unggul.
Pengemis Kaya kini berdiri dalam kondisi berdarah bersamaan dengan pakaian yang robek di empat bagian, yaitu bahu, dada, lengan kiri, dan paha kiri. Empat robekan berhias warna merah darah, menunjukkan bahwa keempat luka itu berdarah.
Karena terlalu tajamnya sayatan jari-jari Alma Fatara yang tiba-tiba menjadi pisau jari di tengah adu serangan, sampai-sampai membuat Pengemis Kaya tidak menjerit kesaktian. Ia hanya terkejut mendapati jari-jari tangan Alma bisa setajam pedang. Hai itulah yang membuatnya memaki lalu melesat mundur.
“Ini pertarungan bertaruh nyawa, Kek. Jika aku tidak licik, bagaimana mungkin aku bisa menang melawang dedengkot pengemis sepertimu? Hahaha!” kata Alma membeli diri. “Aku beri tahu, jari-jariku memang setajam pedang. Jadi jangan dekat-dekat kepadaku. Hahaha!”
“Baiklah, aku tidak akan mendekatimu!” seru Pengemis Kaya.
Orang tua dekil itu bergerak turun berjongkok.
“Eh, apa yang ingin kau lakukan, Kek? Apakah kau hendak buang kotoran?” tanya Alma sambil menunjuk Pengemis Kaya.
Dalam posisi berjongkok, Pengemis Kaya telah merentangkan kedua tangannya yang bersinar merah berpijar menyemburkan kembang api.
“Hup!” kelit Pengemis Kaya sambil tiba-tiba melompat melenting tinggi ke udara, sampai setinggi pucuk pohon.
Ses ses ses …!
Dari atas udara itu, kedua tangan Pengemis Kaya bergerak cepat bergantian seperti mesin, melemparkan bola-bola sinar berpijar ke bawah.
Blar blar blar …!
Alma Fatara terlihat seperti anak ayam yang sedang dibombardir oleh seekor elang. Ia berlari terbirit-birit ke sana dan ke sini, beberapa kali melompat sambil menjerit. Ada sebanyak dua puluh bola sinar merah yang menghujani Alma dan meledakkan tanah secara acak.
Sebenarnya, bisa saja Alma Fatara tahu-tahu menghilang seperti setan dalam menghindari hujan bola sinar itu, tetapi memang dasarnya Alma adalah mantan anak pantai yang jahil. Ia lebih memilih bertingkah seperti orang yang kewalahan.
Ses ses ses …!
__ADS_1
Setelah dua puluh bola sinar dilepaskan sebagai serangan udara dalam waktu yang begitu singkat, Pengemis Kaya kembali melempari Alma dengan bola-bola sinar merah berpijar saat tubuhnya melayang turun ke tanah.
Lagi-lagi Alma Fatara mengandalkan kecepatan gerakannya dalam menghindari serbuan sinar yang datang dari arah horizontal.
Blar blar blar …!
Sinar-sinar itu menghancurkan apa saja yang dihantamnya. Tanah, batang pohon, semak Belukar, dan lainnya, dihajar hancur. Mbah Hitam dan rekan-rekan sudah dalam posisi aman, sehingga tidak memungkinkan akan jadi target salah sasaran.
Sampai ketika kedua kaki Pengemis Maling mendarat di tanah, ia masih terus melesatkan sinar-sinar merah, seolah-olah bahan bakarnya tidak mengenal kata habis.
Untuk bagian yang itu, Alma Fatara menghindari serangan sambil melompat maju mendekati posisi Pengemis Kaya.
Si kakek terus menyerang tanpa kata menyerah.
Zing!
Tes tes tes!
Ketika jarak Alma kian dekat dengan Pengemis Kaya, si kakek tetap melesatkan bola sinarnya. Menurutnya, semakin dekat jarak berarti peluang kena semakin besar.
Namun tiba-tiba, tubuh Alma Fatara dilindungi dinding ungu bening yang tebal. Sebanyak tiga sinar merah terakhir menghantam dinding sinar itu.
“Setan!” pekik Pengemis Kaya terkejut saat melihat tiga sinar merah terakhirnya yang dia lesatkan, memantul balik kepadanya dalam jarak dekat.
Clap! Ctar!
“Hukh!” keluh Pengemis Kaya.
Pengemis Kaya sudah menghilang dari tempatnya dalam menghindari tiga serangan sinarnya sendiri. Namun, sinar itu masih sempat menghantamnya lebih dulu. Satu ledakan membuat Pengemis Kaya mengeluh dengan tubuh terlempar pendek sejauh dua tombak saja.
“Yeee!” sorak Pasukan Genggam Jagad tiba-tiba, menggantikan keramaian ledakan yang menghancurkan area jalan hutan kecil itu.
“Hidup Gusti Ratu Siluman!” teriak Anjengan dari kejauhan.
“Hidup Gusti Ratu Siluman!” teriak yang lain lebih ramai.
Namun ternyata, Pengemis Kaya tidak apa-apa. Terbukti dia bangkit dengan kondisi yang masih seperti semula, dengan empat luka berdarah.
“Benar-benar licik cara bertarungmu, Bocah Setan!” rutuk Pengemis Kaya.
“Hahahak …!” Alma Fatara justru membalas dengan tawa terbahaknya. “Kau harus terbiasa dengan cara bertarungku, Kek. Aku masih memberi kelonggaran kepadamu!”
“Sombong!” teriak Pengemis Kaya membentak. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1