
*Setan Mata Putih (SMP)*
Demang Mahasugi mengerutkan kening saat melihat kedatangan kuda yang ditunggangi oleh Lolongo. Ia tahu bahwa kuda itu adalah kuda milik Buluk. Partanyaannya: Di mana Buluk dan di mana kuda Lolongo?
Tiga pendekar yang duduk berseberangan meja dengan Demang Mahasugi juga menengok ke arah kedatangan Lolongo ke rumah panggung itu.
Dua orang prajurit kademangan segera menyambut lari kuda Lolongo dengan memegangi talinya. Lolongo sendiri segera melompat turun dari kuda.
Melihat Lolongo setengah berlari dan naik ke rumah semi permanen itu, Demang Mahasugi segera bangun dari duduknya.
“Aku tinggal sebentar,” kata Demang Mahasugi kepada ketiga pendekar.
Demang Mahasugi terpaksa merehat pembicaraannya dengan ketiga tamunya demi melayani salah satu dari putra kembarnya.
Satu orang pendekar wanita berusia matang yang sejak tadi berdiri di belakang kursi Demang, segera mengikuti majikannya dengan tetap menjaga jarak.
Demang Mahasugi mencegat putranya di dekat tangga.
“Ayahanda harus membalaskan dendamku!” ujar Lolongo dengan wajah dan nada yang emosi.
“Siapa yang menghajarmu?” tanya Demang Mahasugi yang sudah bisa menerka apa yang terjadi dengan putranya itu.
Lolongo memang sering dihajar oleh pendekar yang tidak memiliki rasa keseganan kepada ayahnya. Lolongo memang terkenal sering membuat ulah meski dia tidak memiliki kesaktian yang mumpuni. Sering kali ia pulang dalam kondisi babak belur, sehingga ayahnya sudah hapal. Namun, sejauh ini arogansinya tidak sampai membuatnya harus berada di ambang kematian.
“Aku dihajar oleh Kalang Kabut!” jawab Lolongo.
“Kalang Kabut murid Hantu Tiga Anak?” terka Demang Mahasugi.
“Benar!” jawab Lolongo dengan nada masih keras.
“Kau pergi bersihkan dulu dirimu, nanti aku urus cecunguk itu!” tandas sang ayah.
“Belum tahu dia kalau aku punya ayah yang berkuasa. Pasti akan mampus dia!” desis Lolongo.
Sebelum pergi masuk ke dalam rumahnya, Lolongo sejenak memandangi ketiga pendekar yang sejak tadi memandanginya. Ia tidak mengenal dua pendekar lelaki dan satu pendekar wanita itu. Setelah itu, Lolongo pergi masuk dengan melewati dua prajurit penjaga pintu rumah.
Namun, baru saja Demang Mahasugi hendak kembali ke kursinya, dari luar pagar halaman luas itu berlari masuk kuda yang ditunggangi oleh pemuda tampan berpakaian warna hijau muda. Wajah pemuda itu sangat mirip dengan Lolongo. Ia adalah Golono, kembaran Lolongo.
Demang Mahasugi akhirnya memilih menunggu di dekat tangga. Ia berniat bertanya kepada Golono terkait perkara yang dialami oleh Lolongo.
__ADS_1
Namun, Golono yang ditunggu justru berjalan hendak menuju ke bagian belakang rumah, tidak berniat naik.
“Golono!” Lelaki bertubuh tinggi itu terpaksa memanggil putranya tersebut.
Golono pun berhenti dan berbelok arah menuju tangga, tapi dia berhenti di depan tangga papan itu. Ia mendongak kepada ayahnya.
“Ada apa, Ayahanda?” tanya Golono.
“Apakah kau tahu apa yang terjadi terhadap Lolongo?” tanya Sang Demang.
“Aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya sejak pagi,” jawab Golono. “Apakah dia babak belur lagi?”
“Dia bertengkar dengan Kalang Kabut murid Hantu Tiga Anak,” kata Demang Mahasugi.
“Mampuslah dia!” kata Golono sambil tersenyum sinis. “Aku pamit, Ayahanda. Aku harus rapi-rapi.”
“Mau ke mana kau?” tanya Demang Mahasugi.
“Aku mau pergi ke Bukit Selubung,” jawab Golono singkat.
“Kau akan kemalaman,” kata Demang Mahasugi. “Lagi pula untuk apa kau ke sana?”
“Besok saja kau pergi agar tidak malam,” saran Demang Mahasugi tanpa terkejut dengan niatan putranya.
“Jika aku menunda, otakku bisa pecah memikirkan niatanku,” tandas Golono.
“Lalu apa yang ingin kau bawa ke sana?” tanya Demang Mahasugi.
“Kekayaan Ayahanda. Aku ingin diantar dua kereta kuda dan tiga puluh prajurit, dua puluh centeng,” kata Golono dengan ekspresi serius.
“Kau sampaikan saja maumu kepada ibumu, biar nanti ibumu yang melaporkannya kepadaku. Aku harus melanjutkan pembicaraan penting dengan tamuku,” ujar Demang Mahasugi yang tidak keberatan atas permintaan putranya.
“Baiklah,” ucap Golono lalu berlalu begitu saja meninggalkan tangga menuju bagian belakang rumah besar itu.
Barulah setelah itu, Demang Mahasugi bisa kembali ke kursinya. Ia kembali duduk berseberangan meja dengan ketiga pendekar tamunya. Pengawal wanitanya yang bersenjatakan pedang ikut berpindah tempat.
Pendekar pertama adalah seorang lelaki separuh baya yang masih bugar dengan rambut yang masih murni hitam. Ia berjubah hitam. Ada sebatang tongkat kayu yang bersandar pada kursinya. Bagian ujung atas tongkat ada tengkorak kepala manusia asli. Pendekar itu dikenal dengan julukan Pawang Tengkorak.
Pendekar kedua seorang pemuda tampan yang memiliki tulang rahang yang kokoh dan dahi yang agak lebar. Pemuda berambut pendek itu mengenakan ikat kepala warna biru berbahan anyaman tali benang. Ia berbaju biru dan bercelana putih dengan sabuk berwarna kuning. Ada sebilah golok hitam bergagang kepala kuda. Pemuda berusia kisaran tiga puluhan tahun itu bernama Si Golok Kuda, nama aslinya Garap Jaran.
Sementara pendekar ketiga adalah seorang wanita yang sebagian rambutnya di gelung di atas kepala, berhias tiga tusuk rambut. Wanita berusia empat puluh tahun itu mengenakan jubah putih tanpa kancing. Pinjung merahnya agak rendah, seolah bermaksud pamer dua sembulan bukitnya yang masih bisa bersaing di pasaran. Ia memiliki sepuluh jari tangan yang berkuku panjang berwarna hijau muda. Ia bernama Cantik Kuku Hijau, meski pada dirinya yang cantik hanyalah sembulan dua bukitnya.
__ADS_1
“Putramu kembar, Demang?” tanya Garap Jaran.
“Iya. Aku sangat menyayangi keduanya. Jadi semua kemauannya harus aku penuhi,” jawab Demang Mahasugi.
“Kedua putramu sangat tampan juga,” puji Cantik Kuku Hijau.
“Jangan katakan bahwa kau jatuh hati kepada anak ingusan, Cantik,” timpal Pawang Tengkorak seraya melirik kepada rekannya itu.
“Sampai di mana pembahasan kita tadi?” tanya Demang Mahasugi, bermaksud mengalihkan topik obrolan.
“Sungai di Gua Ular,” jawab Garap Jaran.
“Sebenarnya seperti ini. Sungai itu tinggal kalian rebut dan menjadi milik kalian, bukan milikku. Aku hanya akan jadi penadah emas yang ditemukan di sungai itu. Hanya semudah itu. Bagaimana?” ujar Demang Mahasugi.
“Menyingkirkan Badak Ireng jelas bukan perkara mudah, Demang. Di belakangnya jelas ada kekuatan yang lebih besar ….”
“Jelas itu!” kata Demang Mahasugi agak keras, memotong kata-kata Pawang Tengkorak. “Itu sudah menjadi rahasia pasar. Jika aku tidak yakin dengan kesaktian kalian bertiga, tentunya sudah pendekar lain yang saat ini duduk di kursi kalian. Untuk mendapatkan keuntungan hidup, risiko harus ditantang. Sangat tidak lucu jika seorang pendekar takut bertaruh nyawa demi keuntungan besar.”
“Bagaimana, Cantik?” tanya Pawang Tengkorak.
“Demang akan memberikan tawaran ini kepada pendekar lain dan kita nantinya hanya akan gigit jari kaki, jika ini tidak kita ambil,” jawab Cantik Kuku Hijau.
“Aku seperti menjual harta karun dengan harga murah karena menceritakan rahasia ini,” kata Demang Mahasugi.
“Baik, aku ambil rencana ini,” kata Garap Jaran.
“Baiklah!” tandas Pawang Tengkorak.
“Tapi ingat, aku tidak akan membayar kalian. Dengan memiliki Sungai Gua Ular, apa yang kalian dapat terlalu banyak,” kata Demang Mahasugi.
“Kami paham,” kata Cinta Kuku Hijau.
“Kami tidak akan mengungkapkan bahwa rahasia keberadaan sungai itu kami tahu darimu, Demang,” kata Pawang Tengkorak.
“Hahaha! Itu harus,” kata Demang Mahasugi seraya tertawa. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.
__ADS_1