Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 6: Menculik Anak Demang


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


Lolongo tertidur dalam posisi terlentang bebas, dengan kedua tangan merentang menggapai kedua sisi ranjangnya yang lebar dan berkasur empuk. Ia tidur dalam kondisi tubuh atas telanjang. Mulutnya menganga lebar dan dengan lendir bening mengalir melewati sudut kiri bibirnya. Tampak ada beberapa jejak cupangan di lehernya. Ada pula jejak gincu belepotan di sekitar bibirnya yang terbuka.


Pria bertubuh lembek itu tidur dengan hanya bersarung sebagai penutup pusat keperkasaannya. Paha putihnya tersingkap di situ-situ saja, tidak ke mana-mana. Pakaiannya, lengkap dengan cawatnya, terserak di sekitar ranjang.


Sebagai anak sultan yang bermalam di penginapan termahal di Kademangan Nuging Muko, Lolongo adalah pemuda yang mengerti dengan dunia birahi dan merupakan seorang penikmat perempuan penjaja “kue apam”.


Tanpa disadari oleh si pemuda, di kedua sisi ranjang kamarnya sudah berdiri tiga orang lelaki berpakaian biru gelap dan bertopeng kain. Mereka sudah menghunus pedang masing-masing.


Tak!


Seenaknya saja salah satu dari mereka memukul kain sarung Lolongo dengan sisi lebar pedangnya, tentunya pada bagian sarung yang ada isinya.


“Hmmm!” gumam Lolongo dengan wajah mengerenyit sambil menggeliat, tapi kedua matanya masih terpejam lengket. “Pelan-pelan dong, Sayang. Aku pikir kalian sudah pulang, ternyata masih ketagihan pasak cintaku.”


Mendengar ceracauan pemuda tampan itu, lelaki bertopeng kain tadi kembali memukulkan bilah pedangnya dengan lebih kencang.


Tak!


“Aww!” pekik Lolongo kencang, sampai-sampai dia tersentak bangun duduk dan sepasang matanya terbuka nyalang.


Alangkah terkejutnya Lolongo melihat keberadaan tiga orang lelaki bertopeng sangat dekat dengannya.


“Siapa kalian?!” teriak Lolongo keras, langsung marah.


Namun, kedua tangannya langsung dicekal kuat oleh lelaki yang berdiri di kanan dan kiri ranjangnya. Sementara dua mata pedang sudah menempel mengancam di batang lehernya.


Seketika gemetarlah bibir Lolongo yang memiliki jejak air liur. Ia ketakutan. Merinding seluruh rambut di badannya karena bisa merasakan rasa tajam dari mata pedang orang-orang bertopeng itu.


“Jika masih mau hidup, jangan banyak tingkah, menurut saja,” kata lelaki bertopeng satunya datar, tapi mengancam. Lalu perintahnya, “Bawa!”


Kedua lelaki yang sudah mencekal, segera menarik kedua tangan Lolongo agar pemuda itu turun dari ranjang tersebut.


“Hei! Tunggu-tunggu, sarungku lepas!” teriak Lolongo panik, ketika ia sudah turun dari ranjang dengan kedua tangan masih dipegangi kuat dan lehernya masih diancam dua pedang. Masalahnya, sarung yang ia kenakan melorot jatuh dari pinggang ke lantai.


Lolosnya si sarung, jelas membuat Lolongo murni telanjang. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk meraih sarung itu. Para penjahat itupun tidak mau peduli dengan ketelanjangan Lolongo.


“Ayo jalan!” perintah salah satu lelaki yang mencekal tangan Lolongo sambil menarik paksa.


Sambil menjaga lehernya agar tidak teriris pedang, Lolongo melangkah sambil menyeret kaki kanannya agar kain sarungnya tetap tersangkut pada kakinya.


“Waaah! Apa itu?” pekik sejumlah warga yang ada di dalam penginapan itu, ketika melihat beberapa lelaki bertopeng keluar dengan membawa sesorang lelaki bugil.


“Aww!” pekik beberapa warga perempuan pula, terkejut dan langsung menutupi wajah mereka, tapi mata tetap mengintip di sela jari yang direnggangkan.


“Kang Aden Lolongo!” teriak seorang lelaki yang terkejut melihat kondisi Lolongo. Orang itu tidak lain adalah Buluk, ajudan pribadi Lolongo.

__ADS_1


Buluk buru-buru berlari ke arah ketiga orang bertopeng itu.


“Lepaskan Kang Aden!” teriak Buluk sambil cabut pedangnya.


Sing! Tang! Buk!


Namun, lelaki yang tidak memegangi Lolongo cepat mencabut pedang pula, lalu menangkis serangan pedang Buluk. Kemudian dengan cepat kakinya berkelebat menendang dada Buluk.


Buluk terjengkang keras di dekat pintu penginapan. Buluk cepat bangkit dan memasang kuda-kuda lebih serius. Dia siap tarung.


Sementara itu warga yang ada di dalam penginapan segera berkeluaran atau menjauh ke pojok ruangan.


“Jika kau menyerang lagi, leher majikanmu ini akan langsung putus,” kata lelaki bertopeng dengan tenang, tapi sangat mengancam.


Berpikir normallah Buluk. Perlawanannya justru akan membahayakan majikannya itu.


“Buluk, cepat pulang, laporkan kepada ayahku!” teriak Lolongo.


Tanpa menyahut lagi, Buluk cepat berlari ke luar penginapan. Ternyata, ketiga lelaki bertopeng itu membiarkan Buluk pergi tanpa berusaha mencegahnya.


Sementara Lolongo terus diseret ke luar penginapan. Ternyata, di depan menginapan adalah pasar pagi Kademangan Nuging Muko.


“Awww!” pekik ramai warga ibu-ibu dan nenek-nenek yang banyak memenuhi pasar pagi itu.


Masih untung itu adalah pasar. Biasanya, para wanita yang ada di pasar hanyalah golongan ibu-ibu dan nenek-nenek yang sudah terbiasa melihat lelaki bugil. Golongan gadis-gadis biasanya malas ke pasar, mereka lebih suka bermalas ria di rumah, menonton televisi, main ponsel, atau komitmen bangun siang. Jadi, Lolongo tidak terlalu malu jika hanya ditonton oleh kaum emak-emak.


“Waaah, ada tanda cintanya!” teriak seorang warga yang posisinya tidak terlalu jauh dari Lolongo.


“Hahaha!” tawa warga ramai-ramai.


“Dasar anak muda zaman sekarang, sukanya tidak pakai celana!” gerutuh seorang nenek-nenek pedagang sayur terong.


“Bukankah Kakek Sugiono juga tidak suka pakai celana, Nek Yabi?” tanya wanita yang lebih muda, sesama pedagang sayuran.


“Kalau sudah tua, masih pantas kalau tidak pakai celana, agar angin bisa masuk. Terong tua itu gampang keringatan,” kilah si nenek.


“Minggir, minggir!” teriak salah seorang lelaki bertopeng kain biru yang datang bersama sejumlah rekannya yang berseragam dan bersenjata sama.


Ternyata anggota kelompok yang menyandera Lolongo tidak hanya bertiga, masih ada belasan orang lagi.


“Biarkan dia memakai sarungnya, terlalu menarik perhatian!” perintah lelaki bertopeng yang baru datang kepada ketiga rekannya. Dia memiliki sepasang alis yang berwarna merah terang. Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok itu.


“Baik, Ketua,” ucap lelaki bertopeng yang memegangi tangan Lolongo.


Kedua lelaki penyandera itu lalu melepaskan tangan Lolongo, tapi pedang masih mengancam di leher.


“Pakai sarungmu!” perintahnya.

__ADS_1


Lolongo lalu berbungkuk perlahan untuk meraih sarungnya yang sejak tadi ia seret. Ia pun tidak mau jika lehernya terluka. Setelah menarik sarungnya, lalu mengikatnya dengan kuat, tiba-tiba dia berteriak sambil memandang jauh ke depan.


“Ayaaah!” teriaknya tiba-tiba.


Teriakan Lolongo itu mengejutkan para lelaki bertopeng kain itu. Mereka sontak mengalihkan pandangan untuk melihat ke arah jauh, sesuai arah pandangan Lolongo. Namun, mereka tidak melihat keberadaan sosok Demang Mahasugi, ayah Lolongo.


Karena kedua penyanderanya juga mengalihkan perhatiannya, Lolongo cepat mendorong kedua pedang yang ada di dekat lehernya. Ia lalu cepat berlari kabur.


Set! Set!


“Aaak!” jerit Lolongo saat betis kirinya tersayat oleh sebilah pedang yang dilesatkan oleh sosok yang tadi disebut “Ketua”.


Bruk!


Apesnya, Lolongo tersungkur jatuh menabrak tubuh si nenek pedagang terong.


“Aww! Anak muda otak cawat! Nenek-nenek cantik masih juga mau digauli!” sumpah serapah Nenek Yabi sambil memukuli kepala Lolongo dengan dua buah terong. Istri Kakek Sugiono itu tidak tahu bahwa Lolongo terluka oleh pedang di kakinya.


“Aaak!” erang Lolongo yang pasrah saja dipukuli memakai terong kulit ungu.


Beruntung si nenek, pas ketika dia ditubruk, Lolongo dalam kondisi bersarung.


“Jatuh harga terongku, jatuh harga terongku!” ratap Nenek Yabi merasa sial.


“Ayo!” kata seorang lelaki bertopeng kain sambil mencekal kembali tangan Lolongo bersama rekannya.


Lolongo kembali diseret paksa. Dia terpincang. Terlihat kaki kirinya berdarah banyak.


“Hei! Berhenti!” teriak keras seseorang dari kejauhan.


Ketika para lelaki bertopeng itu melihat ke sumber suara, sejumlah prajurit kademangan yang menjadi keamanan pasar, berlari datang dengan pedang di tangan yang sudah terhunus.


Orang-orang berpakaian biru gelap itupun bereaksi. Mereka segera bergerak dan justru mengepung para prajurit yang hanya berjumlah enam orang.


“Prajurit Kademangan jangan ikut campur. Ini urusan pendekar!” kata ketua kelompok itu datar kepada para prajurit.


“Ba-ba-baik!” ucap salah satu prajurit yang sudah dikepung.


“Bagus. Ayo kita pergi!” kata ketua kelompok.


“Berhenti! Lepaskan putra Demang Mahasugi itu!” seru seseorang tiba-tiba dengan cukup lantang.


Belum lagi kelompok bertopeng itu berjalan pergi, mereka harus memastikan lebih dulu siapa orang yang berani berurusan dengan mereka.


Orang yang baru datang adalah dua orang pendekar muda yang tampan-tampan.


“Sialan! Dua Tengkorak Putih!” rutuk ketua kelompok itu saat mengenali dua orang yang ingin berurusan dengan kelompoknya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2