
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Ketika mencari-cari sesuatu yang mungkin adalah sebuah benda pusaka di dasar danau dengan bantuan sinar emas yang menyilaukan, Alma Fatara hanya merasakan adanya pergerakan benda besar di dalam air, lebih besar dari pergerakan ikan besar yang ia temui selama menyelam.
Alma belum melihat keberadaan makhluk besar yang ia rasakan pergerakannya. Namun, itu membuatnya waspada di dalam air.
Jbur!
Tiba-tiba ada benda besar yang menghantam sisi permukaan air danau, tepat di atas keberadaan Alma.
Alma Fatara mendongak ke atas. Dengan bantuan cahaya emas menyilaukan di tangan kirinya, Alma bisa melihat pergerakan cepat sebuah kepala ular bermata bersinar merah. Alma langsung bisa memastikan bahwa itu adalah ular besar yang tadi sore muncul.
Swess!
Sehubungan ilmu Pukulan Bandar Emas ada di tangan kiri, Alma pun melesatkan sinar emasnya menyambut mulut ular yang terbuka lebar berniat menelannya hidup-hidup.
Sinar emas itu menerobos air danau dengan dahsyat yang suaranya membuat orang-orang di atas tegang. Gerakan ular dan sinar emas itu menimbulkan ombak besar di permukaan yang tidak beraturan.
Seolah mengetahui bahwa sinar emas itu berkekuatan dahsyat, kepala ular dengan gesit meliuk cepat menghindari sinar emas. Sinar emas dari Pukulan Bandar Emas terus melesat ke permukaan dan meroket ke angkasa malam.
Bluarr!
Sinar emas akhirnya meledakkan diri di ketinggian langit malam di atas hutan, meciptakan ledakan kembang api yang sangat indah. Sekilas hutan itu mendapat pencahayaan yang terang-benderang laksana siang hari.
Pada saat yang sama, di dalam air telaga, kepala ular yang berhasil lolos dari kehancuran, menyerang kepala Alma dengan mulut terbuka selebar-lebarnya.
Seperti ikan terkejut, Alma langsung melesat mengelaki lubang mulut si ular. Alma memang berhasil lolos dari pemangsaan mulut, tetapi Alma tidak bisa menghindari lilitan tubuh si ular.
Tubuh Alma berhasil dililit di dalam air. Si ular lalu langsung membawa tubuh Alma naik keluar dari dalam air. Lilitan ular itu tidak termasuk mengunci kedua tangan Alma.
“Almaaa!” teriak Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu histeris bersamaan.
Mereka melihat Alma diangkat ke udara oleh lilitan ular berbadan panjang itu. Sementara kepala si ular berdiri tegak di atas tubuh Alma yang dililit. Sama seperti ketika si ular melilit centeng Keluarga Raden Gondo Sego.
Yang Alma lakukan dalam lilitan itu adalah mempertahankan tubuhnya dengan pengerahan tenaga dalam yang besar. Selain itu, Alma mengeluarkan sinar ungu menyilaukan mata pada telunjuk kanannya. Itu sinar ilmu Telunjuk Roh Malaikat.
“Kau pilih tunduk kepadaku atau mati, Ular Siluman?” teriak Alma, seolah ia tidak terintimidasi oleh kondisinya.
Zezz!
__ADS_1
Diteriaki seperti itu, si ular justru mendesiskan lidah besarnya yang bercabang.
“Tidak apa-apa, Alma masih bisa melawan!” kata Anjengan kepada ketiga temannya.
Mendengar itu, mereka berempat jadi tenang dan duduk dengan santai. Mereka duduk seolah sedang nonton layar tancap tengah danau.
Tanpa terlihat takut oleh sinar ungu di jari Alma, ular hitam besar itu melesatkan kepalanya dengan mulut terbuka lebar hendak mencaplok kepala Alma.
Tuks! Arrg!
Pada saat itu pula, Alma menusukkan telunjuknya yang bisa bebas. Telunjuk dan tangan Alma masuk ke mulut ular dan mengenai langit-langit dalam mulutnya. Sinar ungu yang sangat terang membuat Alma bisa melihat dengan jelas kondisi dalam mulut ular.
Ular itu meraung keras tanpa sempat menutup mulutnya untuk menggigit. Seketika itu juga, Alma merasakan bahwa kekuatan lilitan tubuh ular pada tubuhnya mengendur.
“Hahahak!” tawa Alma terbahak ketika melihat kepala dan tubuh atas ular itu oleng-oleng seperti sedang mabuk.
Jbur!
Akhirnya Alma lepas dari lilitan, membuat tubuhnya jatuh masuk ke air. Alma cepat tetap bertahan di permukaan dengan tubuh atas di luar air.
Ternyata, ular besar hitam itu sudah mulai kembali normal. Si ular memberdirikan lehernya di atas permukaan air. Sepasang matanya masih bersinar merah. Ia menghadap dan memandang tajam kepada Alma Fatara.
“Bagaimana, Ular Siluman? Apakah kau mau mati atau mau tunduk? Aku tahu kau bisa bicara!” seru Alma sambil menunjuk kepada si ular. “Hahaha! Aku tahu kau terluka oleh seranganku!”
Zezz!
Ternyata ular itu kembali menyerang Alma. Sang gadis tidak diam menunggu dicaplok. Alma pun bergerak seperti ikan kaget. Tubuhnya melesat berenang masuk ke dalam air. Dengan lihainya Alma berenang di dekat tubuh ular yang terendam di dalam air.
Saat berenang cepat seperti itu, Alma mengaktifkan senjata Benang Darah Dewa-nya.
Ketika Alma melompat keluar seperti ikan terbang, kepala ular yang sempat masuk ke air kembali cepat melesat memburunya. Namun, tiba-tiba laju kepala ular berhenti, seolah ada sesuatu yang menahannya.
Yang terjadi sebenarnya adalah ekor dan tubuh belakang ular telah dililit oleh Benang Darah Dewa yang kerasnya seperti baja, tapi tajamnya setajam golok tukang sembelih qurban.
Cprak!
Ketika kaki Alma kembali turun ke air, ia gunakan ilmu peringan tubuh tingkat tingga, membuat kembali naik ke udara mendekati kepala ular.
Seet!
Alma melesatkan kembali utas benangnya yang masih banyak tersisa. Benang yang tidak terlihat mata itu berhasil menjerat leher ular yang gerakannya terbatas.
__ADS_1
Selanjutnya, Alma telah berdiri tepat di atas kepala si ular.
“Aku tinggal menarik senjata benangku, maka kau akan mati terpenggal, Ular Siluman! Ini kesempatan terakhirmu untuk memilih!” teriak Alma.
Awalnya, ular besar itu berusaha meronta melawan jeratan Benang Darah Dewa, tetapi kemudian si ular berhenti. Ia tidak berhasil melawan jeratan Benang Darah Dewa.
“Aku menyerah!”
Tiba-tiba terdengar suara lelaki tua dan berat, juga keras. Suara itu terdengar jelas di seantero mata air tersebut.
“Wih! Suara siapa itu?!” pekik Anjengan terkejut.
“Itu suara ular!” tunjuk Juling Jitu.
“Itu ular, bukan orang, Jitu!” bentak Iwak Ngasin.
“Itu ular si-si-si ….”
“Bukan ular siapa-siapa!” sergah Anjengan.
“Maksudku ular si-si-siluman!” tandas Gagap Ayu.
Kembali ke tengah telaga.
“Akhirnya kau bicara!” kata Alma setelah menghentakkan kaki kanannya sekali ke kepala ular yang diinjaknya.
“Karena aku mengaku kalah!”
“Siapa kau?” tanya Alma.
“Namaku Mbah Hitam!”
“Mbah Hitam, apakah kau benar-benar sudah mengaku kalah dan tidak bersiasat jika kau aku bebaskan?” tanya Alma.
“Aku takluk. Aku tidak akan menyerangmu dan aku berjanji tunduk kepadamu, Gusti!” ucap suara yang bersumber dari sosok ular.
“Hahaha! Baiklah, Mbah aku bebaskan!” kata Alma.
Ia lalu menarik kembali semua benang yang cukup banyak ia keluarkan untuk mengikat ekor dan leher si ular. Alma Fatara pun kembali turun ke air.
Bless!
__ADS_1
Tiba-tiba, sosok ular hitam hilang dengan meninggalkan gumpalan asap yang kemudian tertiup oleh angin malam.
Namun, tahu-tahu ada sesosok pemuda tampan berpakaian hitam-hitam pula semodel Alma. Pemuda berkulit putih cemerlang itu berdiri di atas permukaan air dengan menginjak sebatang bambu pendek tidak jauh di depan Alma. (RH)