
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Belang Kucel, lakukan seperti yang aku bisikkan!” teriak Geranda teruntuk petarung yang berperut gendut seperti hamil delapan bulan.
Pertarungan model rapat di atas tiang besar terjadi seru. Keduanya saling serang dan saling tangkis, dengan memperkuat kuda-kudanya agar tidak mudah terdorong. Salah satu cara aman agar tidak didorong dengan kuat adalah satu tangan memegangi lengan lawan, sehingga lawan pun tidak berani mendorong selama tangan masih mencekal kuat. Jika dipaksa, kedua-duanya bisa jatuh bersama karena akan tertarik.
Kedua petarung masih sama penampilannya, yaitu bercawat ria tanpa busana.
“Kau pasti menang!” teriak Geranda lagi. Dia sudah melalui lima putaran pertaruhan. Ia sudah tiga kali menang dan dua kali kalah. Ini kali keenam dia bertaruh.
Dalam putaran ini, Geranda memilih Belang Kucel, seorang lelaki kekar tapi berperut balon. Namun, lawannya yang bernama Geprek Kadal adalah seorang lelaki bertubuh kekar dan kokoh. Kedua betisnya saja sudah seperti betis kuli pelabuhan.
Geranda memilih petarung yang justru sedikit orang yang bertaruh untuknya. Wajahnya yang seperti orang kurang vitamin, ditambah perut yang buncit seperti busung lapar, membuat para penonton tidak yakin dengan Belang Kucel.
Namun, sebelum bertarung, Geranda pergi membisikkan satu dua kalimat kepada Belang Kucel. Waktu naik ke atas tiang, Belang Kucel sempat kesulitan, sehingga ditertawakan oleh para penonton.
Bak!
Satu pukulan pendek mendarat di dada Belang Kucel, membuatnya terdorong hendak jatuh ke belakang. Namun, karena satu tangannya mencekal lengan kiri Geprek Kadal yang bisa mengajak jatuh bersama, Geprek Kadal yang memukul justru cepat menangkap tangan Belang Kucel lalu menariknya lagi untuk berdiri bersama di puncak tiang. Mereka berpelukan seperti saudara kembar lain bapak dan emak.
Seperti itulah pertarungan atas tiang yang arenanya sangat sempit. Jika berisiko jatuh bersama, maka mereka akan memilih saling menyelamatkan dan berdiri bersama lagi. Lalu kemudian bertarung rapat lagi.
Tanpa Geprek Kadal sadari, Belang Kucel melakukan siasat bisikan Geranda, yaitu menarik ke dalam perut gendutnya sambil bertarung menahan napas, sehingga terlihat perut Belang Kucel menjadi rata. Ruang kosong yang tercipta antara perut kedua petarung cepat tertutup karena merapat.
Dung!
Namun, ketika Belang Kucel melepas perut gendutnya, perut itu mendorong kuat perut Geprek Kadal.
Geprek Kadal yang fokus pada serangan sikut, jadi terkejut karena tahu-tahu mendapat dorongan yang ia tidak prediksi dan lihat. Dan pada saat itu, tidak ada tangannya yang mencekal tangan Belang Kucel.
“Aaww!” pekik Geprek Kadal dengan tubuh yang meluncur ke bawah tanpa ada pegangan.
Buk!
“Hukh!” keluh Geprek Kadal saat punggung kekarnya menghantam tanah halaman rumah Demang Sungkara.
“Hahaha! Hebaaat, aku menaaang!” teriak Geranda girang.
Di puncak tiang, Belang Kucel berdiri gagah dengan perut gendutnya sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan lebatnya si rambut ketiak.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat cara menang Belang Kucil. Dia kini duduk di kursi paling tengah di atas panggung. Ia duduk bersebelahan kursi dan meja dengan Demang Sungkara yang menyambutnya penuh persahabatan.
Yang menang taruhan terus tertawa girang.
“Hahaha!” tawa Geranda berkepanjangan sambil pergi ke bandar taruhan.
Kepada bandar Geranda memberikan pita pendek warna biru sebagai tanda bahwa dia bertaruh untuk Belang Kucel. Pita biru itu ditukar oleh bandar dengan kepeng sebanyak satu raupan tangan yang besar.
Sementara petaruh yang memegang pita merah, tanda mereka bertaruh untuk Geprek Kadal, mengembalikan pitanya bersama uang taruhan yang diberikan kepada bandar.
Ada pula petaruh yang mengembalikan pita warna putih. Mereka para petaruh yang memilih hasil seri, yaitu jika kedua petarung jatuh bersama. Itu sering terjadi dalam tanding tarung ini.
Dengan kemenangan itu, berarti Geranda memiliki catatan empat kali menang dan dua kali kalah.
Di sisi lain, tiga trio gendut tampak juga menikmati pertandingan dari tempat dekat kuda-kuda ditambatkan.
“Kangkung, sudah kau hitung lagi jumlah kuda kita?” tanya Betok tiba-tiba.
“Belum. Sebentar, aku pergi menghidung dulu …. Eh ealah, pergi menghitung dulu kuda-kuda kita,” kata Kungkang.
“Jangan salah, kuda orang jangan ikut kau hitung!” kata Jungkrik mengingatkan.
“Beraaas!” ucap Kungkang sambil tersenyum dan memberi jempolnya kepada Jungkrik.
“Beres!” hardik Jungkrik meralat sambil matanya mendelik.
“Hahaha!” tawa Kungkang sambil melangkah pergi lebih dekat kepada kuda-kuda yang ditambatkan.
__ADS_1
Kungkang lalu menghitung dengan teliti jumlah kuda-kuda mereka. Kuda-kuda milik Demang Mahasugi memiliki tanda yang hanya ketiga pengurus kuda itu yang tahu.
“Tiga belas, empat belas, lima belas. Jumlahnya lengkap lima belas. Ditambah tiga kuda si orang besar, jadi delapan belas kuda. Lengkap,” ucap Kungkang menghitung dan berbicara sendiri.
Tiba-tiba Kungkang merasakan bahunya dicolek tiga kali dari belakang oleh seseorang. Ia terkejut dan segera menengok.
“Kutang perawan!” pekik Kungkang terkejut bukan main. Namun, dia cepat mengendalikan perasaannya yang seketika gaduh terbirit-birit.
Kungkang melihat seorang nenek berjubah hitam yang sudah robek-robek termakan usia. Selain penampilannya yang seram, nenek bertongkat kayu merah gelap itu juga memiliki wajah yang sangat keriput menakutkan.
“Apakah kau abdi Ratu Siluman?” tanya si nenek pelan, tapi terdengar jelas.
“Iya, Nek,” jawab Kungkang dengan jantung masih berdebar kencang.
“Berikan surat ini kepada ratumu,” kata si nenek sambil menyodorkan sehelai daun yang agak lebar.
“Ma-ma-mana sunatnyaa, Nek? Eh ealah, maksudku mana suratnya, Nek?” tanya Kungkang dengan tergagap, ngeri-ngeri sedap.
“Berikan saja,” kata si nenek pelan. Ia lalu berjalan pergi menuju pintu gerbang halaman.
Kungkang hanya memandangi kepergian si nenek dengan kebingungan, sebab, tidak ada tulisan pada daun hijau itu jika daun tersebut disebut surat. Apalagi dia harus memberikannya kepada sang ratu.
Kungkang kembali melihat kepada lembaran daun itu. Namun, tetap saja tidak terlihat ada tulisan pada daun. Ia kembali melihat ke arah si nenek.
“Weleh getuk!” pekik Kungkang, karena dia sudah tidak melihat keberadaan si nenek. Seharunya nenek itu belum sampai ke pintu pagar halaman.
Kungkang segera melihat ke sekitar, mencari sosok si nenek yang gampang dikenali penampilannya.
“Kok hilang?” ucapnya kepada dirinya sendiri.
“Kau kenapa, Kangkung?” tanya Jungkrik yang datang menghampiri Kungkang, karena dia tadi melihat gelagat sahabatnya itu agak aneh.
“Eh, anumu …,” ucap Kungkang agak terkejut dengan kemunculan Jungkrik.
“Anuku atau anumu?” tanya Jungkrik meladeni kebingungan Kungkang.
“Mana suratnya?” tanya Jungkrik.
“Ini sunatnya. Eh ealah, ini suratnya maksudku,” kata Kungkang sambil menunjukkan daun lebar di tangannya.
“Jangan gila kau, Kangkung. Ini daun, bukan surat!” tandas Jungkrik.
“Justru itu, aku bingung. Nenek itu bilang, ini surat. Agar diberikan kepada Gusti Ratu. Apa iya aku memberikan daun ini kepada Gusti Ratu, lalu aku bilang, ‘Gusti Ratu, sunat’. Eh ealah, Gusti Ratu, surat maksudku,” kata Kungkang.
“Ada apa, ada apa?” tanya Betok yang akhirnya juga bergabung.
“Ada kita,” jawab Jungkrik.
“Hahaha! Aku tahu kalau kita bertiga ini adalah lelaki tampan. Namun, bukan itu maksud pertanyaanku. Kau seperti tidak pernah berpendidikan saja,” kata Betok disertai tawanya. “Kalian membingungkan apa?”
“Membingungkan ini,” jawab Kungkang sambil memajukan daun di tangannya,
“Hahaha! Seperti perempuan saja mainan daun,” ejek Betok sambil tertawa.
“Tapi daun ini harus diberikan kepada Gusti Batu. Eh ealah, Gusti Ratu maksudku,” tandas Kungkang.
“Hahahak!” tawa terbahak Betok. Lalu katanya kepada Kungkang dengan setengah berbisik, “Kau jatuh cinta kepada Gusti Ratu ya tidak apa-apa, namanya juga lelaki normal. Namun, jangan gila juga. Kau mau dipenggal oleh algojonya yang bawa bendera itu?”
“Seperti ini ceritanya, Betok,” kata Jungkrik menengahi kedua rekannya itu. “Tadi barusan, ada nenek-nenek yang memberikan daun ini kepada Kangkung. Katanya ini surat untuk Gusti Ratu.”
“Hah? Nenek-nenek? Seperti apa penampilannya, seperti apa?” ucap Betok terkejut lalu buru-buru bertanya.
“Berjubah hitam dan wajahnya sangat menyiramkan. Eh ealah, sangat menyeramkan maksudku. Sampai-sampai pikiranku larinya ke kutang perawan,” jelas Kungkang.
“Kau harus menyerahkannya segera kepada Gusti Ratu. Cepat, serahkan kepada Gusti Ratu!” kata Betok seperti orang panik.
“Tapi ini bukan ….”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Itu pasti guru dari Gusti Ratu. Guru orang sakti itu biasanya aneh-aneh kelakuannya,” kata Betok sok tahu. “Jika kau disalahkan, kita sudah punya alasan. Yang penting jujur. Aku yakin sepenuh gentong, nenek itu pasti gurunya Gusti Ratu.”
“Oh, seperti itu,” ucap Kungkang jadi terbawa oleh keyakinan Betok.
“Sudah, cepat berikan kepada Gusti Ratu!” desak Jungkrik pula.
“I-i-iya!” ucap Kungkang.
Dengan jantung berdetak seperti kucing lari, tapi pikiran yuwas wisu, Kungkang berjalan ragu menuju panggung. Ia berjalan ragu sambil menengok ke belakang, kepada Betok dan Jungkrik.
“Buruan!” teriak Betok sambil menggerakkan jari-jarinya agar Kungkang terus berjalan.
Sudah kepalang tanggung, ya pergi ke panggung sekalian. Jika salah, yang jadi sayur kangkung sekalian.
“Eit, mau ke mana, Gendut?” tanya seorang prajurit penjaga panggung sambil menahan laju perut gendut Kungkang dengan sarung pedang.
“Eh, anumu, Pak Prajurit …” jawab Kungkang dengan wajah ciut, suara gemetar dan ludah tertelan.
“Eeeh, jangan semba ….”
“Prajurit, biarkan!” seru Alma Fatara memotong kata-kata dan sikap si prajurit. “Dia pelayan kudaku!”
“Ba-ba-baik, Gusti Ratu!” sahut si prajurit tergagap sambil membungkuk dan menghormat kepada Alma Fatara. Ia seketika ciut seperti kerupuk terkena air aki.
Prajurit itu mundur setindak, memberi jalan yang lapang kepada Kungkang.
Karena di panggung itu ada banyak orang-orang kaya yang duduk di kursi, Kungkang memutuskan turun berjongkok dan berjalan beringsut menuju ke depan meja Alma Fatara, yang di belakang kursinya berdiri Anjengan dan Kembang Bulan.
“Mohon maaaaf, beribu-ribu maaf, Gusti Ratu!” ucap Kungkang sambil menghormat begitu dalam di depan meja Alma Fatara. Ia takut nantinya disalahkan.
“Ada apa beribu-ribu apa, Kungkang?” tanya Alma Fatara mengimbangi perkataan Kungkang.
“I-i-ini, Gusti Baru. Eh ealah, kok langsung salah? Ini, Gusti Ratu,” jawab Kungkang sambil mengerenyit dan menyodorkan daun lebar di tangannya.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara terbahak mendengar kesalahan lidah Kungkang.
Demang Sungkara dan para orang kaya lainnya yang duduk di kursi ikut menertawakan.
“Apa ini?” tanya Alma Fatara sambil mengulurkan tangan meraih daun yang disodorkan oleh Kungkang.
“I-i-itu, anuku ….”
“Hahahak …!” Tertawa lepas Alma Fatara dan para lelaki di sekitarnya.
“Eh, maksudku … hehehe! Tadi, ada nenek-nenek menyeramkan memberi aku daun itu, Gusti Ratu,” ralat Kungkang yang dahinya sudah penuh keringat, seperti tanda-tanda habis malam pertama.
“Kenapa diberikan kepadaku?” tanya Alma Fatara yang kian menyudutkan perasaan Kungkang yang lemah lembut selembut es krim rasa jahe.
“Kata si si si nenek, itu sunat untuk Gusti Ratu,” jawab Kungkang.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara lagi bersama Demang Sungkara dan yang lainnya, termasuk Anjengan dan Kembang Bulan di belakang.
“Mohon ampun, Gusti Ratu. Mohon ampuuun! Maksudku surat, itu surat untuk Gusti Ratu!” ralat Kungkang kian ketakutan.
“Hmmm …!” gumam Alma Fatara akhirnya setelah tawanya berhenti. Ia memandang serius kepada selembar daun segar di tangannya.
Bluap!
“Huaaa!” pekik Demang Sungkara dan beberapa lelaki lainnya terkejut, sambil sontak terlompat meninggalkan kursinya menjauhi Alma Fatara.
“Kutang perawan!” pekik Kungkang terkejut lebih terkejut, sambil refleks melempar tubuhnya ke belakang.
Bluduk!
Kungkang terguling jatuh dari atas panggung.
Yang terjadi adalah, tiba-tiba daun lebar di tangan Alma Fatara memunculkan api cukup besar, bahkan lidah apinya membakar tangan dan nyaris menyentuh wajah. Namun, Alma Fatara bisa melihat ada tulisan singkat pada daun yang terbakar di tangannya.
__ADS_1
Kejadian itu jelas menarik perhatian semua orang. Pertarungan di atas tiang bahkan terhenti. (RH)