Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 32: Golono Hidup Lagi


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Pelacakan jejak Setan Mata Putih yang dilakukan oleh pasangan suami istri Raja Buru dan Ratu Kejar terus berlangsung hingga malam hari.


Kedua pendekar bertubuh gemuk itu sampai ke sebuah desa di Kademangan Nuging Muko.


Bau asing yang mereka curigai sebagai bau tubuh Setan Mata Putih telah menuntun keduanya sampai ke tempat itu.


Saat ini, Raja Buru dan Ratu Kejar sedang mengintai di sebuah perkebunan. Posisi mereka berlindung di balik pohon dan di dalam kegelapan malam.


Mereka mengintai ke tengah kebun yang di sana ada sejumlah obor penerangan. Di sana ada tiga kandang yang terbuat dari batangan-batangan besi, lebih tepatnya kerangkeng manusia.


Di dalam tiga kerangkeng itu ada makhluk yang dirantai seperti manusia. Pencahayaan yang tidak begitu terang membuat makhluk di dalam ketiga kerangkeng tidak begitu jelas terlihat. Tempat itu dijaga oleh sejumlah orang bersenjata golok. Orang-orang itu berpakaian serba gelap.


“Aku yakin, itulah makhluk yang kita buru,” kata Raja Buru dengan setengah berbisik.


“Kita harus cari tahu siapa penguasa tempat ini,” kata Ratu Kejar.


“Bukankah kediaman Bandar Bumi tidak jauh dari tempat ini?” kata Raja Buru. “Kemungkinan besar dia dalang dari semua ini.”


“Lebih baik kita tarik satu orang untuk kita tanyai,” kata Ratu Kejar.


Wanita gemuk itu lalu bergerak perlahan untuk lebih mendekat ke lokasi. Raja Buru membiarkannya.


Sebagai seorang pemburu, Raja Buru dan Ratu Kejar mengadopsi tekhnik-tekhnik binatang pemburu, yaitu bergerak sangat perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun dalam gerak dan langkahnya.


Ratu Kejar mendekati lelaki penjaga yang paling dekat dengannya. Lelaki penjaga itu sedang duduk setengah malas di pokok pohon yang telah lama tumbang.


Dari belakang, pelan-pelan Ratu Kejar mendekat lalu tangan kirinya membekap mulut lelaki itu, sementara tangan kanannya menotok. Seketika lelaki penjaga tersebut mendelik mengejang tanpa bisa bersuara. Pelan-pelan Ratu Kejar menarik tubuh penjaga itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


Sementara sesama penjaga tidak ada yang peduli dengan keberadaan rekannya tersebut. Mungkin karena di antara mereka tidak ada saling ketertarikan, maklum sesama batangan.


Ratu Kejar terus menarik korban yang diculiknya menjauh ke belakang. Korban itu lalu diambil alih oleh Raja Buru yang membawanya lebih menjauh.


Pada suatu tempat, suami istri itu berhenti. Raja Buru membebaskan totokan korbannya, tetapi tangannya yang besar mencekik leher.


“Jangan berteriak jika masih ingin hidup!” ancam Raja Buru berbisik kepada sanderanya yang telah ketakutan.


“I-i-iya,” jawab penjaga itu tergagap.


“Siapa yang kalian kurung di dalam kerangkeng itu?” tanya Raja Buru.

__ADS_1


“Aku … aku tidak tahu,” jawab penjaga itu.


“Apakah makhluk yang dikurung di dalam kerangkeng itu manusia?”


“Iya.”


“Kau tidak kenal siapa mereka?” tanya Raja Buru lagi.


“Ti-ti-tidak.”


“Dasar lelaki kurang pergaulan!” maki Ratu Kejar, tetapi berbisik pula.


“Siapa majikanmu?” tanya Raja Buru lagi.


“Kanjeng Bandar Bumi.”


“Kakang, ada yang datang,” kata Ratu Kejar kepada suaminya.


Raja Buru segera menengok ke arah tengah kebun. Benar, ada sejumlah orang yang datang ke tengah kebun, ke tempat keberadaan tiga kerangkeng manusia.


Duk!


Raja Buru lalu meninju batok kepala sanderanya. Penjaga malang itu jadi tidak sadarkan diri. Pelan-pelan Raja Buru meletakkan kepala korbannya ke tanah agar tidak bersuara.


“Itu Tenggak Telaga, putra Bandar Bumi,” bisik Ratu Kejar, meski suaminya pun mengenali pemuda berpakaian biru bagus di antara orang yang datang.


“Sepertinya aku mengenal dua orang berpakaian merah itu,” kata Raja Buru.


Dua orang yang dimaksud oleh Raja Buru adalah dua orang lelaki separuh baya yang sama-sama berjubah merah. Keduanya mengenakan ikat kepala yang dihiasi dengan ruas-ruas tulang jari tangan manusia. Keduanya mengenakan kalung berbandul tengkorak kepala tikus. Keduanya membawa kendi yang berbeda warna, yaitu merah dan biru.


Lelaki berkendi merah bertubuh agak pendek dan berambut lebat mengembang seperti mengenakan rambut palsu. Dia bernama Rogoh Wetan.


Sedangkan lelaki berkendi biru yang rambut atasnya digelung, bernama Genda Rukyoh.


“Jika tidak salah mereka yang terkenal dengan nama Penguasa Jiwa. Jauh sekali mereka bermain,” kata Ratu Getar.


“Oh iya. Mereka memiliki kesaktian yang bisa membangkitkan orang mati yang belum dikubur,” kata Raja Buru yang baru teringat dengan kenangan masa lalu.


Sreeekr!


Terdengar suara rantai besi yang ditarik kencang.


Dua orang penjaga kerangkeng telah membuka salah satu kandang besi itu. Mereka menarik rantai besar yang mengikat sosok lelaki di dalam kerangkeng.

__ADS_1


Dengan tarikan itu, sosok di dalam kurungan dipaksa keluar. Sosok itu adalah seorang lelaki yang kemudian berdiri diam dengan kepala yang terkulai lemah, seolah ingin jatuh. Rantai mengikat kuat tubuhnya.


Lelaki bernama Rogoh Wetan lalu bergeser berdiri ke depan lelaki yang dirantai. Ia menuangkan air kendi merahnya ke telapak tangan kanannya.


Blep!


Tiba-tiba telapak tangan kanan merah itu menyalakan api yang cukup besar. Telapak tangan berapi lalu didekatkan ke wajah tertunduk lelaki yang dirantai, sehingga jelaslah wajahnya.


Terkejut Raja Buru dan Ratu Kejar saat melihat jelas wajah lelaki yang akan disulut api.


Rogoh Wetan lalu menempelkan telapak tangan berapinya ke dahi lelaki yang membuat Raja Buru dan Ratu Kejar terkejut tanpa suara. Wajah itu kemudian didorong agar tegak.


Meski dahinya ditempeli api, tetapi api itu tidak membakar kulit atau rambut si lelaki muda yang hanya diam tanpa menjerit.


“Bukankah Golono sudah dikabarkan mati?” kata Raja Buru heran.


Sebelumnya, Raja Buru dan Ratu Kejar sudah tahu tentang kabar kematian putra Demang Mahasugi yang bernama Golono. Kabarnya, jasad Golono diculik oleh satu kelompok asing.


Lelaki yang dahinya sedang ditempeli oleh api, tidak lain adalah Golono yang katanya sudah mati dibunuh di Bukit Selubung.


“Arrkk!”


Tiba-tiba sosok Golono itu meraung dan sepasang matanya berubah bersinar putih seperti lampu.


Rogoh Wetan kemudian menarik lepas tangannya dari dahi Golono. Ia lalu masuk ke dalam kurungan yang kosong dan duduk bersila di sana. Tenggak Telaga membantu memasukkan dupa kemenyan dan sebaskom air putih bertabur bunga tiga rupa.


Sementara itu, para penjaga melepas belenggu rantai pada tubuh sosok Golono. Pemuda yang katanya sudah mati itu lalu berjalan pergi.


Tenggak Telaga bersama empat lelaki bersenjata golok segera mengikuti Golono dari belakang.


Penjaga kerangkeng kembali menarik keluar seorang lelaki yang dikurung. Orang yang ditarik keluar juga diikat dengan rantai. Dia masih muda. Namun yang ini, kepalanya tidak terkulai seperti Golono tadi. Pemuda ini memiliki mata yang biasa.


“Kakang, lihat jari-jari tangan lelaki itu!” bisik Ratu Kejar.


“Jari-jari hitam?” ucap Raja Buru terkejut.


Meski kondisi pencahayaan di sana seperti warung remang-remang, tetapi Raja Buru dan Ratu Kejar bisa melihat dengan jelas bahwa jari-jari tangan lelaki kedua yang dikeluarkan dari kurungan berwarna hitam pekat.


“Apakah pemuda itu murid Perguruan Jari-Jari Hitam?” ucap Raja Buru lagi.


“Arrgkk!” raung lelaki yang berjari tangan hitam itu, ketika Genda Rukyoh menempeli dahinya dengan telapak tangan berapi.


Tiba-tiba sepasang mata pemuda itu bersinar putih semua. Satu hal yang aneh lagi adalah kuku-kuku pemuda itu tumbuh memanjang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2