Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 21: Empat Guru VS Alma


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


“Bersiaplah, Kakek-Kakek!” teriak Alma Fatara sambil merendah memasang kuda-kuda dan tangan kiri lurus ke belakang.


Swiiit!


Baru saja keempat guru tongkat yang mengepung Alma Fatara hendak maju menyerang dengan tongkatnya, tapi memilih tahan langkah ketika pakaian Alma tiba-tiba menggembung seperti balon gas. Mereka tidak tahu ilmu apa yang akan dikerahkan oleh Alma Fatara.


Wusss!


Selanjutnya Alma meloncat pendek di tempat sambil menghentakkan lengan kanannya ke bawah. Angin yang menghantam lantai panggung arena tidak menghancurkan papan tebal itu, tetapi menyebar keras ke segala penjuru.


Keempat tetua yang tidak sempat menghindar, berusaha bertahan melawan angin dahsyat itu. Namun, mereka tetap terhempas, meski kemudian mereka berusaha tidak keluar dari arena dengan cara masing-masing.


“Waaah!” teriak para penonton yang juga terkena terpaan angin dahsyat itu.


Mereka yang mengelilingi arena terdorong dan jatuh saling berjengkangan tanpa menderita luka. Hitung-hitung dapat pengalaman dihempas angin bertenaga sakti. Mereka buru-buru berbangunan sambil saling menertawakan nasib sendiri.


“Serang!” teriak Satria Tongkat Ular sambil maju lebih dulu menyerangkan tongkat ular hijaunya.


Alma Fatara dengan mudah menghindari serangan pertama lawan.


“Jangan beri angin segar!” seru Ki Rusuh yang segera mengikuti menyerang Alma dengan tongkat merah gelap tebalnya.


“Tunggu apa lagi, Dempak?” kata Pengemis Tongkat Celaka kepada Dempak Debar.


Ketua Perguruan Tongkat Putih hanya memandang tajam kepada Pengemis Tongkat Celaka. Selanjutnya ….


“Hiaaat!” teriak keduanya kompak sambil maju bersama ikut menyerang Alma Fatara dengan tongkat mereka.


“Waaah! Hahaha!” sorak penonton terpukau melihat Alma Fatara yang bertarung begitu cepat dan sanggup menghindari setiap serangan tongkat. Mereka bahkan tertawa.


“Wah, seharusnya aku bertaruh untuk Ratu Siluman Ikan!” sesal seorang warga yang taruhannya sudah tidak bisa ditarik atau diubah.


“Cek cek cek, hebat sekali bidadari itu!”


“Gerakannya seperti siluman!”


“Yaaah, kenapa empat guru tongkat jadi seperti ayam sakit?”

__ADS_1


Itulah sejumlah reaksi para penonton ketika melihat kelincahan dan kecepatan gerak Alma Fatara.


“Hahaha! Aku pasti menang banyak!” ucap Geranda tertawa senang melihat kehebatan Alma Fatara.


Alma Fatara bergerak berseliweran di antara kelebatan-kelebatan batang tongkat. Jika tidak sempat menghindar, Alma Fatara bisa menangkis dengan kedua batang tangannya tanpa takut cedera.


“Mengapa anak ini punya gerakan secepat setan?” tanya Ki Rusuh terkejut, karena baru kali ini tongkatnya susah untuk mendapat sasaran gebuk atau tusuk.


“Sejak tadi dia hanya menghindar dan menangkis. Apa jadinya jika dia menyerang balik?” ucap Dempak Debar sambil memilih giliran untuk menyerang.


“Kau jangan permalukan posisimu sebagai seorang guru, Dempak!” hardik Pengemis Tongkat Celaka yang tidak suka dengan perkataan Dempak Debar.


“Hahaha …!” tawa Alma Fatara yang sejak tadi hanya menari-nari mempermainkan keempat guru tongkat itu.


“Mustahil anak ingusan seperti ini bisa mempecundangi kita! Naikkan tingkat serangan kalian, jangan takut untuk membunuhnya!” teriak Satria Tongkat Ular kepada rekan-rekannya.


“Jika Kakek berempat sudah masuk ke tahap berniat ingin membunuhku, maka jangan salahkan jika aku bertindak kejam!” seru Alma Fatara pula memberi ancaman psikis.


“Aaah, peduli setan!” teriak Satria Tongkat Ular. Dia lalu memutuskan melompat mundur setelah jenuh dengan usahanya yang tak kunjung berhasil.


“Lihat, Guru Tongkat Ular mundur!” seru seorang penonton sambil menunjuk.


“Bodoh! Guru Tongkat Ular mundur karena mau kentut, bukan kalah!” hardik penonton yang lain.


“Kau ini aneh Geranda, ayahmu dipermalukan, kedua adikmu disandera, tetapi kau justru bertaruh untuk Ratu Siluman itu,” kata rekan Geranda.


Geranda sebenarnya putra Adipati Dodo Ladoyo, tapi dia memiliki masalah besar dengan ayah dan keluarga besarnya.


“Ini urusan uang, bukan urusan keluarga!” tandas Geranda yang tampannya hanya setengah kilogram.


Sementara di panggung arena, di saat tiga guru tongkat lainnya masih berusaha mencoba keberuntungan untuk menggebuk Alma, setidaknya bisa menggebuk bokongnya, Satria Tongkat Ular telah bergerak seorang diri di tempatnya berdiri dengan satu kaki.


Sess!


Tongkat ular itu tiba-tiba bersinar hijau. Tubuh Satria Tongkat Ular sampai bergetar karena mengerahkan tenaga sakti yang tinggi.


“Minggir kalian bertiga!” teriak Satria Tongkat Ular kepada ketiga rekannya.


Sersss!


Satria Tongkat Ular menusukkan kepala tongkat ularnya ke depan, mengarah Alma yang ada di tengah panggung sedang bertarung. Pada saat yang sama, ketiga guru tongkat lainnya serentak melompat mundur menjauhi Alma Fatara.

__ADS_1


Dari tongkat Satria Tongkat Ular melesat tujuh sinar hijau panjang berwujud duplikat tongkat, menyerang Alma Fatara. Lesatannya teratur berturut-turut seperti antrian minyak goreng murah.


Zing! Beng beng beng …!


Hanya seperkian detik saja, tubuh Alma telah dilapisi dinding sinar ungu tebal tapi bening. Bersamaan dengan munculnya ilmu Tameng Balas Nyawa milik Alma, sinar-sinar hijau berwujud tongkat menghantami dinding itu.


“Wooow!” teriak orang banyak menyaksikan sinar-sinar tongkat memantul balik dan lurus ketika menghantam dinding Tameng Balas Nyawa.


“Mati aku!” pekik Satria Tongkat Ular terkejut bukan main, sampai-sampai ia terpaku bingung.


Prasss! Blir blir blir …!


Namun, sebelum serangan balik kesaktiannya menghantam tubuhnya sendiri, Satria Tongkat Ular masih sempat menggerakkan jari-jari tangannya yang langsung menciptakan tenaga perisai.


Tenaga perisai yang hanya terdengar suaranya tanpa terlihat wujudnya itu, kemudian dihantam beruntun oleh ketujuh sinar hijau berwujud tongkat ular. Tujuh ledakan nyaring yang suaranya agak berbeda seperti biasa terjadi pada tubuh Satria Tongkat Ular.


Tongkat ular sang guru sampai terpental jauh ke belakang dan jatuh di tanah kosong yang berlumpur. Sementara tubuh tua Satria Tongkat Ular tetap berdiri di tempatnya.


Namun, Satria Tongkat Ular berdiri dalam kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena menahan tenaga sakti seperti sebelumnya, tetapi karena menahan rasa sakit yang luar biasa pada seluruh syaraf dan persendiannya. Sepasang mata, hidung, mulut hingga kedua telinga, mengeluarkan darah. Namun, dia belum mati, tapi mungkin sekarat.


“Apa yang terjadi?!” teriak seorang penonton mengekspresikan keterkejutannya.


“Satria Tongkat Ular tumbang!” teriak Geranda keras saat melihat tubuh Satria Tongkat Ular perlahan bergerak tumbang ke belakang.


Bdak!


Sampai-sampai batok kepala belakang si kakek terdengar keras menghantam lantai arena.


Tiga guru tongkat lainnya terkejut melihat kenyataan pahit itu. Demikian pula dengan Adipati Dodo Ladoyo yang sejak tadi menyaksikan penuh keseriusan dari atas tribun.


“Siapa sebenarnya anak gadis belia itu? Baru sedikit saja kesaktian tingginya sudah terlihat. Ternyata dia tidak sekedar sesumbar,” batin Adipati Dodo Ladoyo. “Geranda benar-benar kurang ajar. Anak itu justru menjagokan musuh.”


“Hei, para penonton!” teriak Alma Fatara kepada khalayak tiba-tiba.


“Hamba, Gusti Ratu! Hahaha!” teriak Geranda menyahut sambil menjura hormat, tapi sekedar bergurau karena dia langsung tertawa.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut puluhan penonton sambil menjura hormat, tapi bergurau pulau. Mereka mengikuti Geranda karena mereka sama-sama suka melihat kecantikan dan kesaktian Alma Fatara.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara melihat tingkah Geranda dan sejumlah penonton. Lalu teriaknya, “Aku sarankan kalian lebih menjauh, karena guru-guru tongkat sudah tidak mempedulikan keselamatan kalian!”


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Geranda dan sejumlah penonton yang mengidolakan Alma Fatara. “Ayo mundur, mundur, mundur!”

__ADS_1


Maka penonton pun bergerak mundur massal lebih menjauh dari pinggiran panggung arena.


“Bagaimana, para tetua? Masih mau lanjut?” tanya Alma Fatara dengan senyum memesonanya, tapi bukan bermaksud untuk memikat hati ketiga orang tua itu. (RH)


__ADS_2