Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 24: Pasang Serangan


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


Setan Gagah datang ke pesta Perguruan Bulan Emas bersama dua orang muridnya, yaitu murid tertuanya yang bernama Obok Jenggala dan murid wanita kelelakiannya yang bernama Roro Wiro.


Ketiganya bersikap tidak kalah ramah ketika tuan rumah menyambut dengan ramah. Setan Gagah memiliki pembawaan yang lebih tenang dibandingkan dari rekan-rekannya yang sudah datang sebelumnya.


Ketika dia datang, kondisi pesta hanya ada kemeriahan dan kegembiraan. Tidak ada lagi keributan yang lagi-lagi memperebutkan orang ganteng.


“Tetua yang satu ini tidak memiliki karakter jahat pada wajah dan sorot matanya,” kata Penombak Manis kepada Tampang Garang yang sudah kembali ada di sisinya. “Perhatikan, kedua muridnya terlihat menikmati pesta, tidak ada gelagat waspada atau mempelajari lingkungan sekitarnya.”


“Berarti mereka aman?” tanya Tampang Garang.


“Iya, tapi tetap waspada. Mungkin saja penilaianku bisa salah,” jawab Penombak Manis.


Tidak berapa lama, rombongan dari kelompok pemandu Tikus Belukar datang dengan memberikan pemandangan yang menggembirakan mata dan hati. Pasalnya, ada sepuluh orang katai yang datang memenuhi undangan pesta tersebut. Kelompok Tikus Belukar dipimpin oleh Jongkol Pedih. Ia didampingi oleh istrinya.


Dalam rombongan itu ada pula bintang Tikus Belukar, yaitu Yono dan istri tercinta yang bernama Klenting Bengi.


Namun, dalam rombongan itu ada satu-satunya orang yang tertinggi di antara mereka, seorang wanita cantik plus manis dan pastinya pakai susu, karena dia seorang wanita. Orang itu tidak lain adalah Semanis Sari.


Semanis Sari mewakili Penjaga Candi yang tidak bisa datang karena harus menjaga Candi Alam Digdaya, mungkin takut candinya digondol maling kalau ditinggal.


“Salam!” seru Jongkol Pedih saat tiba di depan barisan penyambut di gerbang utama.


“Hoya hoya hoi! Hahaha!” teriak para anggota Tikus Belukar lalu tertawa ramai.


Kawal Rindu dan para anak buahnya hanya tersenyum lebar melihat tingkah gerombolan yang lucu-lucu itu. Berjalan saja, mereka terlihat lucu.


“Kawal Rinduuu, rupanya kau sudah semakin menua. Hahaha!” sapa Jongkol Pedih yang kenal dengan wanita berusia separuh baya itu.


“Lama tidak bersua, Jongkol. Sepertinya kelompokmu semakin kaya saja karena banyak yang minta dipandu ke Candi Alam Digdaya,” kata Kawal Rindu.


“Hahaha!” tawa Jongkol Pedih.


“Termasuk gurumu. Wulan Kencana juga menggunakan jasaku untuk diantar sampai Gerbang Ratu!” celetuk Yono.


“Guruku?” tanya Kawal Rindu terkejut.


“Benar. Dua hari lalu aku mengantarnya. Gurumu terluka parah. Katanya mau mencari obat mujarab di Candi,” tandas Yono.

__ADS_1


“Itu benar,” timpal Semanis Sari. “Penjaga Candi menitipkan ucapan maaf karena tidak bisa hadir. Penjaga Candi harus menjaga candi.”


“Oh, tidak apa-apa,” ucap Kawal Rindu. “Mari, silakan!”


Dua orang murid wanita Bulan Emas segera memandu menuju ke lokasi pesta.


“Salam!” seru Jongkol Pedih saat mereka tiba di depan barisan penyambut yang cantik-cantik dengan senyum-senyum selembut gula kue salju.


“Hoya hoya hoi! Hahaha!” sorak Yono dan rekan-rekannya lalu tertawa, membuat pesta itu semakin ramai. Seketika mereka menjadi pusat perhatian.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan seorang diri.


“Hua hua hua!” teriak seluruh personel Pasukan Genggam Jagad yang saat itu ada di sana.


“Hahaha …!” tawa para anggota Tikus Belukar setelah mereka dibuat terkejut oleh balasan tersebut. Mereka jadi merasa lucu sendiri.


Para tamu itu disambut langsung oleh Rereng Busa. Tanpa mempedulikan sambutan tuan rumah, Yono dan rekan-rekannya memilih meninggalkan Jongkol Pedih dan istrinya, serta Semanis Sari.


Yono dan istrinya memilih mendatangi Brata Ala yang sedang bersama Rinai Serintik. Mereka pun terlibat dalam obrolan santai.


Deretan kursi di panggung tamu semakin ramai terisi. Namun, kursi terbesar yang ada di tengah-tengah belum ada yang menduduki. Kursi berbantal empuk dan lebih bagus itu rencananya akan diduduki oleh Ratu Siluman.


Meja-meja yang berjejer di depan mereka pun telah penuh oleh makanan masakan dan bebuahan yang matang di pohon.


“Banyak juga tamunya,” kata Tampang Garang.


Tidak lama setelah kedatangan kelompok Tikus Belukar yang meriah dan lucu, tiba-tiba suasana semakin meriah dan memanjakan mata para lelaki.


“Hahaha …!” tawa berkepanjangan Kebo Pute yang datang bersama sepuluh wanita muda-muda, licin-licin, bening-bening, plus warna warni.


Ketua kelompok Pemanah Ujung Pelangi itu datang bersama sepuluh muridnya, yang semuanya membawa senjata busur di punggung, lengkap dengan tabung berisik anak panahnya. Uniknya, kesepuluh wanita cantik itu mengenakan pakaian yang berbeda satu sama lain, tidak ada yang sama. Sepuluh warna itu jelas bisa dipikirkan sendiri apa saja dia.


“Hahaha …!”


Tawa Kebo Pute terus terdengar, menunjukkan kejumawaannya dan persahabatannya. Namun, gaya Kebo Pute tidak bisa mengelabui pandangan mata Sisik Putri Samudera.


“Tampang Garang, coba lihat. Orang ini luar biasa dalam menyembunyikan tampang liciknya. Ia tampil dan tertawa seperti tanpa beban dan tanpa kewaspadaan, tetapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan niat jahatnya,” kata Penombak Manis serius.


“Begitu banyak lawan sakti, apakah Gusti Ratu bisa menghadapinya?” tanya Tampang Garang.

__ADS_1


“Jangan pernah meragukan Gusti Ratu Alma, Tampang. Lihat, bagaimana aku yang beberapa hari lalu adalah seorang yang layak mati di tangannya, tapi kini aku begitu dipercaya sebagai mata dewanya,” tandas Penombak Manis. “Yakinlah, suatu saat nanti kau pun akan diberi kesempatan untuk menjadi pendekar hebat seperti yang lainnya.”


“Ya, aku yakin,” ucap Tampang Garang optimis.


Plok plok plok …!


Tiba-tiba para hadirin bertepuk tangan meriah. Murid-murid Perguruan Bulan Emas dan Jari Hitam bertepuk tangan meriah, termasuk kelompok Tikus Belukar. Sementara para tetua undangan dan para muridnya, hanya bertepuk tangan pura-pura terhibur.


Saat itu, dua petinggi Perguruan Bulan Emas sedang tampil di panggung utama. Mereka sedang mempertunjukkan ilmu Sepuluh Purnama Kematian, ilmu tersohor milik perguruan itu.


Jadi, ada dua puluh piringan sinar emas yang terbang berputar-putar di udara, saling melintasi tanpa saling beradu. Kedua puluh piringan sinar emas itu membentuk formasi-formasi yang berbeda dan terlihat indah.


“Hahaha …!”


Ketika disambut oleh Rereng Busa, tawa Kebo Pute kian menjadi-jadi.


“Seolah-olah hanya dia orang terhebat di sini,” ucap Lelaki Tombak Petir sinis yang didengar oleh Galah Larut dan Hantu Tiga Anak yang duduk di sebelahnya.


“Tawa Kebo Pute memang menjengkelkan,” kata Hantu Tiga Anak tetap santai.


“Wah wah wah! Rupanya aku termasuk undangan yang terlambat datang! Hahaha!” kata Kebo Pute saat tiba di panggung tamu. Tawanya tidak tertinggal.


Rereng Busa, Riring Belanga, Setan Gagah, dan Jongkol Pedih menyambut tawa Kebo Pute dengan tawa pula, agar suasana benar-benar berpadu dalam keselarasan dan keharmonian.


Mereka semua kemudian memandang ke bawah ketika ada rombongan yang cukup besar tiba di tempat penyambutan. Yang datang adalah Jerat Gluduk bersama semua muridnya yang sedang tidak memiliki tugas penting. Bisa dikatakan bahwa Ketua Perguruan Bukit Dua itu membawa semua muridnya, kecuali istrinya.


Rereng Busa sebagai penyambut tamu, segera berkelebat terbang turun untuk menyambut Jerat Gluduk.


Setelah basa basi, Rereng Busa mengajak Jerat Gluduk naik ke panggung tamu. Sementara itu, kedua puluh murid Jerat Gluduk bergerak menyebar secara samar. Mereka berpura-pura mencari tempat yang nyaman untuk menonton pertunjukan di atas panggung. Namun, tangan mereka selalu ditempelkan kepada benda yang ditemuinya.


“Apa kau bisa melihat apa yang dilakukan oleh murid-murid tetua botak itu, Tampang?” tanya Penombak Manis serius.


“Mereka hanya mencari tempat duduk untuk menonton,” jawab Tampang Garang sesuai dengan penglihatannya.


“Berarti hanya aku yang bisa melihatnya. Kau harus pergi melapor kepada Gusti Ratu lagi. Murid-murid tetua itu memasang sinar-sinar hijau yang samar pada benda-benda yang mereka sentuh dengan tangannya. Sekarang ini, ada banyak sinar hijau bercokol di kursi-kursi, kayu-kayu, meja, hingga di tiang-tiang panggung. Katakan kepada Gusti Ratu, sepertinya hanya aku yang bisa melihat sinar-sinar itu. Terbukti tidak ada reaksi dari Guru atau Kakak Seperguruan,” kata Penombak Manis agak panjang.


“Baik!” ucap Tampang Garang jadi agak tegang. (RH)


 

__ADS_1



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2