Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 16: Alma-Demang Bersekutu


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


 


Pasukan Genggam Jagad dalam masa rehat bebas. Mereka mendapat jamuan berupa nasi bungkus daun jati yang diorder khusus oleh keluarga Demang Mahasugi dari UMKM Kademangan Kubang Kepeng.


Di sisi lain, tepatnya di pendapa sederhana di halaman, duduk berembug Demang Mahasugi dan istrinya bersama Alma Fatara. Pendamping Ratu Siluman hanya Ineng Santi serta Cucum Mili. Di sisi belakang, duduk Lima Dewi Purnama pimpinan Gagap Ayu.


“Hasil pertarungan ini menunjukkan bahwa aku dan suamiku setuju dengan pembagian harta yang sudah Gusti Ratu bagi tersebut. Namun, separuhnya lagi akan menjadi milik Gusti Ratu dan pasukan, jika Gusti Ratu bisa mempersembahkan mayat Bandar Bumi ke rumah ini,” ujar Putri Cicir Wunga.


“Hua hua!” ucap Alma Fatara, tapi tidak kencang dengan wajah tersenyum sumringah. “Tapi aku menolak, Bibi, Paman.”


“Kenapa? Bukankah kalian membutuhkan biaya besar dengan membawa banyak pasukan seperti ini?” tanya Demang Mahasugi. Dia sebelumnya sudah mendapat pengaduan bahwa dua pendekar sakti bayarannya telah dilumpuhkan oleh Ratu Siluman.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. Lalu jawabnya, “Aku seorang ratu, Paman.”


“Oh, kami mengerti,” ucap Demang Mahasugi.


“Namun, tanpa Paman dan Bibi bayar, aku tetap akan membunuh Bandar Bumi, karena dia adalah orang dibalik upaya pembunuhan terhadap Tetua Raja Tanpa Gerak,” ujar Alma Fatara.


“Para pendekar bayaranku banyak yang mati. Aku rugi banyak, harta dan nyawa,” keluh Demang Mahasugi.


“Jika Gusti Ratu memang berniat membunuh Bandar Bumi, maka izinkanlah sejumlah orangku untuk ikut serta,” kata Putri Cicir Wunga.


“Tapi dengan syarat, Bibi, yakni tidak memiliki niatan lain,” kata Alma Fatara.


“Baik, aku mengerti,” kata Putri Cicir Wunga.


“Apa yang kau mengerti, Nyai Putri?” tanya Demang Mahasugi yang tidak paham.


“Juragan Gelang dan Kala Biru dibuat nyaris mati karena mereka menginginkan pusaka Bola Hitam yang dimiliki oleh Gusti Ratu. Makanya aku memilih menantang Gusti Ratu untuk mengukur kesaktiannya. Terbukti aku kalah. Jika aku berbuat seperti Juragan Gelang dan Kala Biru, mungkin aku akan bernasib seperti mereka,” jelas Putri Cicir Wunga.


“Oh,” desah Demang Mahasugi tanda mengerti.


Pembahasan itu membuat Alma Fatara, Cucum Mili dan Ineng Santi tahu bahwa Putri Cicir Wunga memiliki kesaktian jauh di atas suaminya. Terbukti bahwa Demang Mahasugi tidak bisa merasakan aura keberadaan Bola Hitam yang tersimpan rapi di balik pakaian Alma Fatara.


“Tapi, aku memerlukan berita tentang Bandar Bumi, Paman,” kata Alma Fatara.

__ADS_1


“Bandar Bumi adalah salah satu orang terkaya di Kademangan Nuging Muko. Dia memiliki pasukan pendekar sendiri. Dia masih termasuk paman dari istriku. Tadi malam para pendekarku menyerang ke kediaman Bandar Bumi, tetapi mereka justru dijebak dan dibantai habis. Bandar Bumi saat ini sedang bersembunyi. Dia bahkan mengincar Lolongo, saudara kembar Golono,” kata Demang Mahasugi.


“Bukankah Demang bisa bekerja sama dengan Demang Kademangan Nuging Muko?” tanya Cucum Mili.


“Kami tidak akur,” jawab Demang Mahasugi dengan wajah yang tidak nyaman.


“Untuk urusan dengan Demang Nuging Muko, serahkan kepada kami, Paman,” kata Alma Fatara.


“Karena apa yang akan kami lakukan berhubungan dengan kepentingan Demang juga, bisakah kami dibantu dipinjamkan kuda? Sebab aku lihat Demang memiliki banyak kuda,” kata Cucum Mili.


Demang Mahasugi tidak langsung menjawab. Ia terdiam, seolah sedang meninbang-nimbang.


“Paman Demang tidak perlu khawatir, Gusti Ratu tidak memiliki niatan jahat selain untuk menghukum yang jahat. Aku berjanji kepada Paman dan Bibi, aku yang akan membunuh Bandar Bumi. Kakang Golono dibunuh ketika dia ingin meminangku, jadi aku yang akan membalaskan dendamnya,” kata Ineng Santi.


“Baiklah,” kata Demang Mahasugi akhirnya. “Pakailah kuda-kudaku sebanyak yang kalian mau. Namun dengan syarat, kuda-kuda itu harus kembali dalam jumlah yang utuh.”


“Baik, Paman. Setelah beristirahat, kami akan segera pergi ke Kademangan Nuging Muko,” kata Alma Fatara.


“Aku ingin tahu, di mana letak Kerajaan Siluman?” tanya Putri Cicir Wunga.


“Aku tidak mengerti,” kata Putri Cicir Wunga.


“Alma Fatara memang pendekar gila, Nyai Putri,” celetuk Cucum Mili.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar perkataan Panglima Laut-nya.


Semakin heranlah Putri Cicir Wunga dan suaminya.


“Kerajaan Siluman adalah kerajaan tanpa istana dan tanpa wilayah. Tanah yang kami pijak dan di mana ada rakyat Kerajaan Siluman, itu kami anggap sebagai kerajaan dan wilayah kami, tanpa bermaksud mengganggu penguasa wilayah. Tapi Kerajaan Siluman memiliki seorang ratu bernama Ratu Siluman dan pasukan yang bernama Pasukan Genggam Jagad. Itulah Kerajaan Siluman, Bi,” jelas Alma Fatara.


“Oh, jadi seperti itu,” ucap Demang Mahasugi.


“Pantas aku tidak percaya jika ada perempuan yang mengaku sebagai seorang ratu. Bagaimana mungkin ada seorang ratu di wilayah kerajaan lain?” kata Putri Cicir Wunga.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepada Paman dan Bibi.”


“Apa?” tanya Demang Mahasugi.

__ADS_1


“Apakah Tengkorak Sabit Putih pernah berseteru dengan Paman?” tanya Alma Fatara.


Agak terkesiap Demang Mahasugi mendengar pertanyaan itu.


“Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku menjadikan Tengkorak Sabit Putih sebagai pendekar bayaranku untuk menghancurkan sebuah perguruan. Perguruan itu memiliki banyak harta simpanan. Namun kemudian, harta simpanan itu ternyata tidak ditemukan. Tengkorak Sabit Putih menuduhku telah mengambil harta itu. Karena dia menuduhku, jasanya tidak pernah aku bayar sampai sekarang,” tutur Demang Mahasugi.


“Selama ini dia sungkan kepadaku, karena itu dia tidak pernah berurusan langsung dengan keluargaku,” kata Putri Cicir Wunga.


“Oh, seperti itu,” ucap Alma Fatara.


“Kenapa Gusti Ratu tiba-tiba menanyakan perihal tersebut?” tanya Demang Mahasugi.


“Kami curiga bahwa Tengkorak Sabit Putih adalah dalang di balik permusuhan terhadap keluarga Paman. Ada upaya adu domba antara Paman dengan Raja Tanpa Gerak yang dilakukan oleh Bandar Bumi. Namun, kami curiga bahwa Bandar Bumi tidak bertindak atas alasan permusuhannya sendiri. Ada orang yang lebih kuat berada di belakangnya. Untuk sementara ini kami mencurigai orang itu adalah Tengkorak Sabit Putih. Keluarga Tengkorak juga memiliki urusan denganku, karena aku yang membunuh Tengkorak Pedang Kilat,” jelas Alma Fatara.


“Keparat jahanam!” maki Demang Mahasugi gusar.


Wezzz!


Alangkah terkejutnya semua orang yang berada di pendapa itu, saat mereka merasakan ada tenaga sakti yang melesat cepat menyerang.


Alma Fatara dan yang lainnya cepat berkelebatan meninggalkan pendapa tersebut.


Brask!


Satu kilatan sinar hijau tipis dan besar membelah pendapa sehingga rusak berat, di saat pendapa itu sudah kosong.


Bukan hanya Alma Fatara dan tuan rumah yang terkejut, para pendekar, prajurit dan centeng yang ramai ada di halaman rumah itu juga terkejut.


Tiba-tiba seorang nenek gemuk berpakaian abu-abu, berbekal dua pedang bagus, telah berdiri di tengah-tengah halaman. Dia adalah Tengkorak Pedang Siluman. Dialah yang melesatkan sinar tipis hijau dari pedangnya.


Kini dia berdiri dengan tangan kanan menghunus pedang berbilah warna hijau muda dan bergagang warna hitam. Warna hijau muda pedang itu membuatnya terlihat seperti pedang mainan yang besar. Senjata itu bernama Pedang Siluman Hijau.


“Ratu Siluman, sudah waktunya kau membayar dengan nyawamu!” seru Tengkorak Pedang Siluman, langsung kepada Alma Fatara yang baru mendarat di tanah. Ia bisa langsung mengenali Alma Fatara karena bisa merasakan aura kesaktian Bola Hitam.


“Hahaha! Sepertinya kita wajib bertarung, Nek,” kata Alma Fatara santai, sambil melangkah mendatangi si nenek.


“Dan kau wajib mati!” teriak Tengkorak Pedang Siluman sudah kadung marah duluan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2