
*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*
Setelah makan-makan bersama, mereka sudah dijamu oleh senja.
Juling Jitu sudah kembali dari misi area belakangnya, meski wajahnya masih menunjukkan ringisan-ringisan yang samar. Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu tertawa terbahak ketika melihat kedatangan Juling Jitu.
“Awas kau, Iwak. Jika tenagaku sudah pulih dan saluranku sudah nyaman, akan aku hajar kau!” ancam Juling jitu.
“Hahahak! Aku jamin kau akan lemas sampai pagi!” balas Iwak Ngasin yang didahului dengan tawanya. Ia lalu bernyanyi tanpa musik sambil berjoged asik, “Ayo kita lemas sampai pagi. Ayo kita lemas sampai pagi. Hahaha!”
“Huh!” dengus Juling Jitu sambil pergi duduk di sebelah Mbah Hitam. Ia ingin duduk di dekat Kembang Bulan, tetapi Kembang Bulan sedang mengakrabkan diri dengan Rarami yang baru saja tiba dari tempat pengungsian warga.
Kini giliran para tokoh pemimpin yang berembug untuk membahas masalah Rereng Busa. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Rereng Busa dan Wulan Kencana, Balito Duo Lido merasa punya tanggung jawab moral untuk peduli dan membantu.
Alma Fatara, Putri Angin Merah, Riring Belanga, dan Balito Duo Lido duduk saling berhadapan dalam satu lingkaran di lantai pendapa mini milik desa.
“Sebagai orang yang pernah sangat dekat dengan Guru, apakah Wulan Kencana mungkin mencelakai Guru, Nek?” tanya Riring Belanga kepada Balito Duo Lido.
“Mungkin. Aku sangat kenal dengan watak Wulan Kencana. Dia memang pernah menjadi kekasih Pendekar Tongkat Roda, juga pernah menjadi kekasih gurumu. Namun, karena ambisi tingginya, dia lebih memilih mengorbankan cinta dan persahabatan ….”
“Maaf, aku memotong, Nek,” kata Alma Fatara tiba-tiba.
“Kambing kawin enak enak enak! Enak dipanggang, enak digoreng, enak ditiduri! Ah ah ah!” latah Balito Duo Lido terkejut lalu mendesah-desah.
“Hahahak …!” tawa Alma, Riring Belanga dan Cucum Mili.
“Apa ambisi Wulan Kencana, Nek?” tanya Alma sambil masih menyisakan tawanya.
“Menjadi yang tersakti, menjadi yang tercantik, dan menjadi yang memimpin,” jawab Balito Duo Lido tanpa mengindahkan tindakan Alma yang memotong perkataannya dengan mendadak.
“Jika murid-murid Jari Hitam datang menyerang ke Perguruan Bulan Emas tanpa membawa Telur Gelap, berarti Wulan Kencana akan tega membunuh murid-murid Guru, bahkan membunuh Guru sendiri,” kata Riring Belanga.
“Harus ada orang yang cepat memberi tahu Wulan Kencana bahwa kita sedang berusaha mendapatkan Telur Gelap. Jangan sampai dia kehilangan kesabaran dan bertindak kejam terhadap gurumu,” kata Cucum Mili.
“Apakah perlu kita berbagi tugas?” usul Alma.
“Betul, betul, betul. Perjalanan menuju kediaman Pendekar Tongkat Roda dan ke Perguruan Bulan Emas cukup memakan waktu kisaran setengah purnama, itupun jika tidak ada aral di tengah jalan. Karena aku pernah bersahabat dengan Wulan Kencana, biar aku pergi menemuinya untuk berusaha membujuknya,” kata Balito Duo Lido.
“Biar aku ikut denganmu ke Perguruan Bulan Emas, Nek,” ujar Riring Belanga.
“Baiklah, aku dan Kakak Putri akan pergi menemui Pendekar Tongkat Roda,” kata Alma memutuskan.
__ADS_1
“Tapi, apakah dia rela jika monyet kesayangannya kita lukai?” tanya Riring Belanga.
“Jika dia tidak rela, aku akan ambil paksa Telur Gelap itu. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa sendiri, memperlihatkan gigi ompongnya. “Tapi di mana kediaman Pendekar Tongkat Roda?”
“Di pinggir utara Alas Kutu. Di sana ada pertemuan dua sungai, di sanalah dia tinggal bersama Abang Ayu,” jawab Balito Duo Lido.
“Tapi Alas Kutu itu di mana?” tanya Alma lagi.
“Di lereng utara Gunung Alasan, tapi masih masuk daerah kekuasaan Kerajaan Singayam,” jawab Riring Belanga.
“Baik, aku akan pergi senja ini juga!” seru Alma Fatara memutuskan.
“Bagaimana dengan kita, Nek?’ tanya Riring Belanga.
“Aku harus mengalihkan tanggung jawab urusan desa dulu. Besok pagi kita berangkat,” jawab Balito Duo Lido.
“Baik,” ucap Riring Belanga sepakat.
“Alma, sebelum kau pergi, bolehkah aku melihat Bola Hitam-mu?” tanya Balito Duo Lido setengah berbisik.
“Hahaha!” tawa Alma datar. Lalu tanyanya, “Nenek Balito tertarik atau sekedar ingin tahu?”
“Tapi aku peringatkan, Nek. Jika Nenek Balito ingin menyentuhnya, tangan Nenek akan menjadi korban,” kata Alma.
Alma Fatara lalu tanpa khawatir mengeluarkan pusaka saktinya, yaitu Bola Hitam.
Cucum Mili, Riring Belanga dan Balito Duo Lido adalah pendekar yang bisa merasakan dengan jelas aura kesaktian Bola Hitam yang ada di tubuh Alma Fatara. Inilah pertama kali mereka bisa melihat dengan jelas dan dari dekat wujud Bola Hitam.
Mereka jadi mendelik ketika melihat pusaka yang bernama Bola Hitam itu, wujudnya kotak kubus dan berwarna biru terang, kontras dengan namanya. Alma memperlihatkan Bola Hitam di telapak tangan kanannya.
“Hihihi!” tawa Balito Duo Lido, kemudian tangan kanannya tiba-tiba bergerak cepat hendak meraih Bola Hitam.
Tus tus!
“Kucing kawin nikmat nikmat nikmat! Kucing nikmat kucing nikmat, eh kucing berak sedang kawin!” pekik latah Balito Duo Lido dengan tangan cepat terangkat ke atas dan bibir tua seksinya monyong-monyong.
Hal itu terjadi ketika Balito Duo Lido merasakan tangannya ditusuk oleh sesuatu seperti jarum yang tidak terlihat.
Gerakan Benang Darah Dewa yang keluar dari dalam lengan jubah Alma memang sangat cepat sehingga tidak sempat terlihat oleh mata Balito Duo Lido.
“Hahahak! Sudah aku peringatkan untuk tidak mencoba menyentuhnya, Nek. Aku masih menduga Nenek Balito orang baik, jadi aku tidak terlalu kasar kepada Nenek,” kata Alma Fatara.
__ADS_1
“Hihihi!” tawa Balito Duo Lido dengan ekspresi malu banyak.
Alma telah menyimpan kembali pusaka miliknya.
“Ayo, Kakak Putri, kita berangkat!” ajak Alma Fatara lalu bangkit berdiri dan melangkah ke luar pendapa mini itu.
“Alma, Alma!” panggil Cucum Mili sambil berjalan cepat mengejar Alma.
“Ada apa, Kakak Putri?” tanya Alma seraya tersenyum.
“Apakah aku tidak boleh menjajal Bola Hitam walau hanya sekali?” tanya Cucum Mili setengah berbisik.
“Hahaha! Tidak,” jawab Alma yang didahului dengan tawa khasnya. “Dengan memiliki Bola Hitam bukan jaminan menjadi pendekar tidak terkalahkan. Raja Tanpa Tahta sendiri menjadi pelajarannya. Bola Hitam tidak bisa menyelamatkannya dari racun.”
“Kau benar juga, Alma,” kata Cucum Mili.
“Aku sarankan Kakak Putri mengambil pusaka sakti yang tidak memiliki tuan,” kata Alma Fatara.
Alma Fatara dan Cucum Mili mendatangi para sahabatnya. Iwak Ngasin cs segera bangkit berdiri dari duduknya, termasuk Mbah Hitam.
“Kita berangkat!” teriak Alma Fatara.
Mbah Hitam segera pergi mengambil kuda Alma Fatara. Yang lainnya segera pergi ke kudanya masing-masing.
Setelah naik ke punggung kudanya, Alma Fatara menghampiri Kembang Bulan yang sudah di atas kuda pula.
“Kembang, kau bisa berlari kencang?” tanya Alma.
“Iya, Alma. Aku bisa berkuda dengan kencang,” kata Kembang Bulan.
“Para pejuang cinta, berangkaaat! Heah heah!” teriak Alma Fatara keras sambil mengangkat tinggi tangan kanannya, lalu menggebah kencang kudanya.
“Hidup pejuang cintaaa!” teriak Iwak Ngasin.
“Hidup pejuang cintaaa!” teriak Juling Jitu, Anjengan dan Kembang Bulan.
“Hi-hi-hiduuup!” teriak Gagap Ayu telat.
“Hahaha!” Mereka lalu tertawa bersama sambil melesat meninggalkan desa tersebut.
Balito Duo Lido, Nenek Cuping, Riring Belanga, dan Rarami hanya tersenyum melihat kepergian Alma dan para sahabatnya. (RH)
__ADS_1