Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 5: Kembaran Pemarah


__ADS_3

*Setan Mata Putih (SMP)*


 


Rombongan Alma Fatara kembali melanjutkan perjalanan. Setelah menggendutkan perut dengan semangkuk bubur yang sedap, mereka harus kembali membakar lemak, meski pada hasil akhirnya lemak Anjengan dan Belik Ludah tidak menyusut sedikit pun.


Ketua Perguruan Jari Hitam Rereng Busa dan Balito Duo Lido sudah berpisah dari rombongan ratunya. Keduanya berkuda menuju pulang dengan membawa tugas dari Alma Fatara.


Pasukan Genggam Jagat sudah berjalan pada formasi pasukannya masing-masing. Mereka menuju ke wilayah timur, wilayah tempat Bukit Selubung berada.


Orang yang berjalan di bagian paling depan pasukan adalah Gede Angin selaku pembawa bendera hitam, didampingi oleh Penombak Manis. Dengan berjalannya istri Juling Jitu di depan, maka akan pasti tidak akan ada serangan dadakan dari depan. Jika ada yang ingin melakukannya, maka Penombak Manis akan cepat mengetahui.


Pasukan itu benar-benar terlihat seperti pasukan musafir. Beberapa kali ada pendekar berkuda yang melewati mereka, baik yang tujuannya searah ataupun berpapasan.


Namun, ketika rombongan itu mulai jauh meninggalkan kawasan Bukit Tujuh Kepala, ada saja orang yang cari masalah tanpa sebab perselisihan.


Berawal munculnya dua orang lelaki berkuda dari arah belakang dengan tujuan searah. Pemuda tampan berpakaian putih tiba-tiba memelankan kudanya ketika berlari di sisi rombongan. Sementara rekannya yang adalah seorang pemuda bertubuh kurus berambut keriting, kudanya berlari sampai melampaui rombongan terdepan. Ia berhenti mendadak saat mengetahui rekannya memelankan kudanya secara mendadak.


“Hahaha! Murid-murid Kebo Pute!” sebut pemuda tampan berbaju putih sambil tertawa menunjuki para personel Sayap Panah Pelangi.


“Eh, dia lagi!” ucap Tampang Garang terkejut saat mengenali wajah pemuda berkuda itu.


“Waaah, tidak punya kuda, ya? Tidak punya uang, ya? Kasihaaannya kalian. Hahaha!” ejek pemuda yang tidak lain adalah Golono.


Melebarlah mata, memerahlah telinga dan mengembanglah cuping hidung para personel Pasukan Genggam Jagad mendengar ledekan Golono.


“Kang Aden Lolongo, jangan cari masalah!” seru pemuda kurus yang segera berbalik mendekati Golono yang ia panggil dengan nama Lolongo.


“Kenapa? Jika mereka miskin, aku bisa memberi mereka uang. Aku punya banyak uang!” kata Golono yang justru menentang rekan kurusnya.


Golono menepuk buntalan kain besar yang menggantung di sisi kakan badan kuda. Buntalan yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kantung uang biasa itu terlihat sangat berat, seolah memang berisi banyak uang.


“Hoi! Jika kalian mau dapat uang, ayo jadi pelayan-pelayanku! Hahaha!” teriak Golono lalu tertawa terbahak-bahak.


Perkataan Golono itu benar-benar membuat Pasukan Genggam Jagad naik pitam.


“Kang Aden Lolongo, ayo pergi, mereka mulai marah!” kata pemuda kurus yang mulai panik melihat reaksi wajah-wajah prajurit pendekar itu.


“Golono! Jangan cari masalah dengan kami!” seru Kalang Kabut sambil berjalan mendekati kuda Golono.


“Aku bukan Golono, aku Lolongo!” ralat pemuda tampan itu.


“Oh, jadi kau Lolongo yang kurang ajar itu? Pantas!” kata Kalang Kabut yang mengenal Golono memang memiliki saudara kembar.

__ADS_1


“Karena dia telah menghina Pasukan Genggam Jagad yang hebat ini, Gusti Ratu memerintahkan untuk merampas uang dan kudanya!” teriak Anjengan lantang.


Mendengar teriakan Anjengan itu, terkejutlah Lolongo dan rekannya.


“Aku tidak takut melawan kalian! Kalian makan nasi, aku juga makan nasi!” teriak Lolongo menantang sambil memandang marah kepada pasukan yang telah berhenti menghadapi tindakan tidak jelasnya itu.


“Kang Aden Lolongo, ayo cepat pergi!” kata rekan Lolongo dengan wajah mengerenyit cemas.


“Diam kau, Buluk!” bentak Lolongo. “Aku tidak takut kepada mereka. Biar aku tabrak mereka! Hahaha!”


Setelah berkata seperti itu, sambil tertawa, dia menggebah kudanya dan bermaksud menabrak Kalang Kabut.


Set! Bluk!


Sigap Kalang Kabut menggeser tubuhnya, membiarkan kuda lewat di sisi tubuhnya, sementara kedua tangannya menyambar kaki Lolongo. Tubuh Lolongo tertarik lepas dari pelana kudanya dan terbanting tengkurap di tanah.


“Kang Aden Lolongo!” pekik rekan Lolongo yang tadi disebut Buluk. Itu bukan nama makian, tetapi memang itulah nama aslinya.


Sementara sang kuda berlari terus bermaksud menabrak barisan pasukan Sayap Laba-Laba yang isinya lelaki semua.


Seet! Blugk! Srekr!


Kura Pana, mantan murid Jerat Gluduk, cepat melesatkan sinar biru berwujud jaring laba-laba yang menjerat kedua kaki depan kuda, membuat binatang besar itu tersungkur tidak jauh dari barisan para pendekar lelaki. Seiring itu, kantung berisi uang juga jatuh memisahkan diri dari kuda. Kuatnya simpulnya membuat isi kantung itu tidak tercecer.


Setelah itu, beberapa orang segera bergerak memegang tali dan leher kuda. Kura Pana sendiri segera melenyapkan jerat sinar birunya. Kuda itu pun bisa dijinakkan.


Karena jauh dari pedangnya, Lolongo terpaksa mengamuk dengan pukulannya. Namun, dengan mudahnya Kalang Kabut menghindari beberapa agresi pukulan Lolongo, lalu dengan mudahnya meloloskan telapak tangannya ke dada Lolongo.


Buk!


Dengan kuat, Kalang Kabut hanya mendorong dada Lolongo, membuat pemuda kembaran Golono itu terjengkang keras.


Buluk cepat turun dari kudanya dengan pedang yang sudah terhunus. Ia bergerak ke dekat Lolongo dan mengacungkan pedangnya kepada Kalang Kabut.


Ting!


Diancam dengan pedang, Kalang Kabut justru maju mendekati ujung mata pedang dan menyentilnya. Buluk mendelik terkejut karena pedangnya patah oleh sentilan jari Kalang Kabut.


Sebagai murid utama dari Hantu Tiga Anak, Kalang Kabut menjadi pendekar yang memiliki kesaktian lebih unggul dari rekan-rekan barunya.


Di belakang Buluk, Lolongo sudah bangkit berdiri. Ia justru mendorong Buluk ke samping agar tidak menjadi penghalang pertarungannya.


“Minggir kau, Buluk!” bentak Lolongo. “Dia pikir aku takut. Aku anak dari penguasa Kubang Kepeng! Hiaaat!”

__ADS_1


Lolongo kali ini menyerang dengan pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga dalam. Namun, itu bukan kendala bagi seorang Kalang Kabut. Mudah bagi Kalang Kabut mementahkan serangan Lolongo dengan tangkisan yang lebih kuat.


Dak dak dak! Buk!


“Hukh!” keluh Lolongo ketika tendangan menusuk menghajar perutnya. Ia terbungkuk dengan wajah memerah dan urat wajahnya keluar semua.


Dak!


Menyusul satu tamparan keras dari kaki kiri Kalang Kabut pada wajah kanan Lolongo. Pemuda tampan pemarah itupun terbanting keras.


“Kang Aden Lolongo!” pekik Buluk sambil bergerak membantu Lolongo.


Ketika Kalang Kabut hendak melakukan sesuatu lagi kepada Lolongo atau Buluk, tiba-tiba Janda Belia berkelebat mendekat.


“Tahan, Kalang Kabut!” seru Janda Belia.


Kalang Kabut pun menghentikan gerakan dan maksudnya.


“Lolongo itu sifatnya sembarangan, berbuat tanpa memikirkan akibatnya. Dia pun tidak sebanding dengan kita. Biarkan dia pergi,” kata Janda Belia yang bersenjatakan panah. Ia mengenal baik Lolongo karena dia pernah menjadi kekasih Golono.


“Pergilah! Sebelum ratu kami memerintahkan untuk membunuh kalian!” perintah Kalang Kabut kepada Lolongo dan Buluk.


“Bawa pergi majikan bodohmu itu, Buluk!” perintah Janda Belia pula.


“Iya,” jawab Buluk. Ia lalu menarik tangan Lolongo yang bibirnya sudah pecah. “Ayo, Kang Aden!”


“Awas kalian semua. Aku akan lapor kepada ayahku!” ancam Lolongo yang terus ditarik ke kuda Buluk.


“Ayo naik, Kang Aden!” suruh Buluk.


“Itu kudaku!” tunjuk Lolongo ke arah kudanya yang sudah dikuasai oleh pasukan Sayap Laba-Laba.


“Kuda Kang Aden sudah mereka ambil. Ayo pulang, nanti kita balas dendam lagi,” bujuk Buluk.


“Iya, akan kita balas nanti. Memangnya mereka itu siapa? Berani-beraninya berurusan dengan aku!” gerutu Lolongan sambil naik ke kuda Buluk. “Heah heah!”


Baru saja Buluk mau ikut naik ke kuda itu juga, Lolongo malah menggebah kudanya dengan kencang, meninggalkan Buluk.


“Kang Aden Lolongooo!” teriak Buluk sambil berlari kencang mengejar kudanya.


“Hahaha …!” Tertawalah Alma Fatara dan pasukannya melihat adegan itu. (RH)


 

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.


__ADS_2