
*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*
Setelah Alma Fatara menyelamatkan Aning Sulasih dari ancaman panah Bidik Bajing, Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu langsung kompak menyerbu Si Kaki Pantai.
“Hiaaat!” teriak lelaki besar tinggi itu sambil mengibas berputar kedua tombak panjangnya, membuat keempat pendekar dari Sungai Darah Roh itu kompak melompat mundur menghindari putaran dua mata tombak.
Karena merasa kini dia seorang diri, Si Kaki Pantai merasa tersudut dan jalan satu-satunya untuk bertahan dan melawan adalah mengamuk.
“Dia pikir dia saja yang bisa mengamuk. Kita tunjukkan, kita juga bisa mengamuk!” teriak Iwak Ngasin seperti komandan perang dadakan.
“Aaagrr!” teriak keras mereka berempat di tempat sambil mengencangkan semua otot atas dan bawahnya, seperti segerombolan babon yang direbut pasangannya.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara melihat tingkah keempat sahabatnya.
“Berisik sekali!” gerutu Pangeran Derajat Jiwa dengan pandangan sinis.
“Gagap Ayu!” teriak Iwak Ngasin.
“Ti-ti-tit Karang Ba-ba-bajaaa!” teriak Gagap Ayu yang sudah terbakar semangat tempurnya, sambil melakukan gerakan tinju berulang dengan ritme cepat.
Buk buk buk …!
Tenaga keras dari ilmu Tinju Karang Baja menghantam beruntun tubuh Si Kaki Pantai, membuatnya terguncang-guncang di tempat. Hal itu ternyata tidak membuat Si Kaki Pantai terluka, justru membuatnya kian murka.
“Aku jadikan kau tikus bonyok, Bocah Kecil!” teriak Si Kaki Pantai sambil berlari maju menusuk-nusukkan kedua tombaknya menyerang Gagap Ayu.
Dengan lincah tapi kewalahan, Gagap Ayu mengelaki tusukan-tusukan itu.
“Lawan aku!” teriak Anjengan yang melesat menabrakkan tubuhnya dari samping ke tubuh Si Kaki Pantai yang sepadan.
Bak! Buk!
Meski berhasil dijatuhkan, tetapi Si Kaki Pantai bisa langsung balik melawan. Dua sikutan keras Si Kaki Pantai mendarat di dada dan perut Anjengan. Kerasnya sikutan itu sampai membuat Anjengan menggulingkan tubuhnya menjauhi Si Kaki Pantai.
Belum lagi Si Kaki Pantai menombak sasaran empuk berlemak itu, Juling Jitu sudah datang menerkam dari atas. Posisi Si Kaki Pantai yang setengah berbaring di tanah, menyambutkan kedua kakinya ke perut Juling Jitu.
“Hukh!”
Cling!
Juling Jitu yang bermata juling, melotot ternganga. Saat tusukan dua kaki besar itu ke perutnya, ia berasa tiba di ujung maut. Namun, pada saat yang bersamaan, dari jari-jari Juling Jitu bertebaran sinar-sinar kuning halus yang langsung menerpa wajah Si Kaki Pantai.
“Aaakk!” jerit Si Kaki Pantai sangat keras dan panjang sambil memegangi matanya yang sangat sakit dan buta saat itu juga.
Sementara itu, Juling Jitu diam kaku, melotot dengan mulut menganga lebar. Pada tubuh dan dadanya seperti hilang napas. Kondisinya seperti pelakor sedang sakratul maut.
__ADS_1
“Juling Jitu!” sebut Iwak Ngasin terkejut, lalu buru-buru menarik tubuh Juling Jitu agar menjauh dari Si Kaki Pantai yang mengamuk membabi buta.
Tanpa pikir panjang atau pendek, Iwak Ngasin langsung menempelkan bibirnya ke mulut Juling Jitu. Rupanya di masa itu, murid-murid Wiwi Kunai dan Garudi Malaya sudah diajarkan cara memberi napas buatan.
“Hahahak …!”
Melihat sahabatnya dalam kondisi kritis dan sedang panik, Alma Fatara malah tertawa terbahak.
Buk!
“Uhhuk uhhuk uhhuk!”
Setelah mentransfer napas ke organ pernapasan Juling Jitu, Iwak Ngasin lalu memukul dada sahabatnya itu dengan kencang. Ternyata pukulan itu berhasil membuat Juling Jitu bernapas yang membuatnya justru terbatuk-batuk, menunjukkan kehidupannya.
“Hiaaat! Hiaaat! Mati kalian!” teriak Si Kaki Pantai mengamuk menyerang membabi buta. Tanpa bisa melihat, Si Kaki Pantai menyerangkan kedua tombaknya secara asal.
Bertarung tanpa bisa melihat, jelas bukan kondisi yang baik bagi Si Kaki Pantai. Meski ia pendekar berkesaktian cukup tinggi, tapi dasarnya dia bukan tipe pendekar buta yang terbiasa bertarung tanpa melihat.
Ia pun menjadi bulan-bulanan Iwak Ngasin dan ketiga sahabatnya. Meski Si Kaki Pantai mengeluarkan ilmu pamungkasnya yang bisa melesatkan sinar-sinar kuning pelumpuh tenaga, tetap saja tidak ada yang mengenai sasaran.
Hingga akhirnya, Anjengan menghajar Si Kaki Pantai dengan ilmu Ubur-Ubur Hijau yang meledakkan kulit-kulit tubuh pria besar itu. Disusul dengan Tinju Karang Baja dari Gagap Ayu. Lalu diakhiri dengan ilmu Ombak Hitam.
Maka matilah Si Kaki Pantai.
“Siapa kita?!” teriak Iwak Ngasin merayakan kemenangan mereka.
“Woi woi woi! Woi woi woi!” Tiba-tiba terdengar teriakan liar yang ramai datang dari arah Ibu Kota, tepatnya dari arah alun-alun yang dekat dengan sungai.
Alma Fatara dkk serta Pangeran Derajat Jiwa dan pasukannya segera memusatkan perhatiannya ke arah dalam.
Mereka melihat sekitar lebih dari dua puluh anggota bajak laut berjalan bergerombol tanpa gentar mendekat ke arah pasukan Kerajaan Singayam. Jika membandingkan dari jumlah, seharusnya mereka gentar, sebab mereka akan berhadapan dengan ratusan orang prajurit.
Rombongan bajak laut itu dipimpin langsung oleh Ronggo Palung, sang ketua. Dia datang dengan gagahnya sambil memikul golok panjangnya yang memiliki sisi bergerigi seperti gergaji.
Melihat kemunculan gerombolan bajak laut itu, Pangeran Derajat Jiwa selaku pemimpin tertinggi pasukan segera ambil keputusan.
“Pasukan pertama, seraaang!” teriak Derajat Jiwa tanpa mau berlama-lama.
“Seraaang!” teriak pemimpin prajurit pasukan pertama yang jumlahnya tinggal tujuh puluhan orang.
“Seraaang!” teriak para prajurit dengan pedang terhunus.
Alma Fatara dkk dan Arung Seto bersama ibunya segera minggir agar tidak terseruduk oleh pasukan itu.
“Woi woi woi …!” teriak para bajak laut itu, tetapi tetap berjalan santai dan arogan di belakang Ronggo Palung, seolah-olah mereka tidak sedang diserang.
“Hahaha …!” tawa mereka melihat gelombang kedatangan pasukan itu.
__ADS_1
Melihat para bajak laut itu tidak mengangkat senjata untuk bersiap satu pun, Alma Fatara segera curiga.
“Tahaaan!” teriak Alma Fatara kencang.
Ternyata teriakan Alma membuat pasukan itu berhenti di tengah jalan. Pemimpin prajurit dan pasukannya jadi menengok bingung. Mereka memandang kepada Alma.
Pangeran Derajat Jiwa juga jadi terkejut mendengar teriakan Alma Fatara.
“Mundur kalian semua atau kalian akan celaka!” seru Alma Fatara.
“Jangan dengarkan Alma, aku pemimpin kalian!” teriak Derajat Jiwa. Lalu perintahnya lagi, “Seraaang!”
“Seraaang!”
Maka para prajurit itu kembali melanjutkan larinya ke arah gerombolan bajak laut.
Ketika pasukan prajurit itu tinggal beberapa tombak di depan pasukan bajak laut, terjadilah sesuatu yang mengejutkan.
Bress bress bress …!
“Akk! Akk! Akh …!”
Pemimpin prajurit dan puluhan prajurit terdepan berjeritan dengan mengerikan, seiring tubuh mereka yang tiba-tiba terbakar ketika melewati satu titik tertentu.
Melihat rekan-rekannya tiba-tiba terbakar secara total dari kaki sampai ujung kepala, puluhan prajurit yang ada di barisan belakang terkejut bukan main. Mereka buru-buru berhenti berlari.
Alma Fatara dkk dan Derajat Jiwa terkejut melihat kenyataan yang terjadi di depan sana.
“Munduuur!” teriak seorang prajurit berinisiatif ambil alih komando pasukan itu.
Puluhan pasukan yang tidak sampai ke zona bakar, buru-buru mundur dengan melangkah mundur cepat.
“Habiskan!” teriak Ronggo Palung lantang.
Sebanyak sepuluh anak buah Ronggo Palung lalu berlari maju dengan senjata masing-masing. Mereka menyerbu puluhan prajurit yang sedang jejeritan lari ke sana ke sini dan berguling-guling menahan panas api.
“Woi woi woi …!” teriak para bajak laut itu sambil dengan leluasa merusak tubuh para prajurit yang terbakar dengan senjatanya, mempercepat akhir dari derita mereka dengan menambah derita baru.
“Siapa pemilik Bola Hitam, maju!” teriak Ronggo Palung tiba-tiba.
Mendengar teriakan Ketua Bajak Laut Ombak Setan itu, melebar mata Alma Fatara dan keempat sahabatnya, tetapi membuat Derajat Jiwa dan Arung Seto tidak mengerti apa yang dimaksud Ronggo Palung. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!
__ADS_1