
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Tongkat Lelaki Tombak Petir yang berselimut aliran listrik berwarna kuning, menargetkan Wulan Kencana yang kini duduk sendiri di kursi.
Dengan ekspresi wajah tua yang marah, Wulan Kencana menghentakkan lengan kirinya ke atas, menyambut datangnya tongkat yang sangat cepat dengan tenaga sakti tingkat tinggi.
Tseks! Bluar!
Ketika ujung tongkat yang lancip bertemu lapisan tenaga sakti Wulan Kencana, tongkat itu masih bisa menusuk sejauh satu hasta. Namun, ketika mendekati telapak tangan Wulan Kencana, terjadi ledakan tenaga sakti yang keras.
Wulan Kencana langsung terpental bersama hancurnya semua kursi kayu. Lelaki Tombak Petir yang masih berada di udara, juga terpental bersama tongkatnya.
Bugk!
“Hugk!” keluh Lelaki Tongkat Petir dengan mulut sedikit menyemburkan darah.
Sementara itu, Wulan Kencana segera bangun dari jatuhnya. Wajahnya berkeringat dan pucat.
Set set! Tseb!
“Aaak!”
Belum lagi sempurna penglihatannya menguasai medan, Wulan Kencana sudah diserang oleh dua pisau terbang yang bersinar biru redup. Satu pisau dengan lihai dapat dihindari oleh si nenek, tetapi satu lagi berhasil menancap di bahu kirinnya.
Wulan Kencana pun menjerit nyaring. Pisau itu bukan sekedar pisau biasa, tetapi selain pisau sakti, juga mengandung racun yang langsung bekerja tanpa interview lagi.
“Kau dalam kondisi terluka, jangan harap kau bisa lolos dari kematian kali ini, Wulan!” teriak Perkasa Rengkah yang baru saja menyerangkan dua pisaunya.
“Aku tidak akan mati! Kalian semua akan menyesal!” teriak Wulan Kencana begitu murka.
Ia mencabut pisau yang menancap di bahunya, membuat darah berwarna kehitaman mengalir deras keluar dari bahunya.
Set!
Wulan Kencana balik melesatkan pisau itu kepada Perkasa Rengkah. Namun, dengan mudah penguasa Bukit Satu itu menangkap pisaunya sendiri.
“Tidak ada jalan kehidupan bagimu kali ini, Perempuan Licik!” desis Galah Larut di sisi lain.
“Hahaha! Bukit Tujuh Kepala tanpa dirimu akan sangat tenang, Wulan!” kata Kebo Pute di sisi kanan Wulan Kencana. Ia berbicara dalam posisi sedang memegang busur warna biru terang dengan anak panah berwujud sinar merah bergolak lidah api.
“Aaarrg!” teriak keras Wulan Kencana sebagai peluapan rasa sakit dan marah.
Sess! Bsets!
Baru saja Wulan Kencana memunculkan sepuluh piringan sinar kuning emas, Galah Larut sudah lebih dulu melakukan tendangan mengibas di tempatnya berdiri.
Sekelebat sinar merah seperti meteor melesat sangat cepat menghantam tubuh Wulan Kencana.
Bluarr!
Satu ledakan tenaga sakti yang dahsyat terjadi, ketika Wulan Kencana menangkis serangan Galah Larut dengan telapak tangan kiri bersinar jingga.
Hasilnya, tubuh si kakek jangkung terpental keras ke belakang. Hal yang sama terjadi pada tubuh Wulan Kencana, seiring sepuluh piringan sinarnya yang belum sempat bekerja lenyap begitu saja.
__ADS_1
Set!
“Aakk …!” jerit panjang Wulan Kencana. Ketika tubuhnya terpental, ada lesatan segaris sinar merah yang melintas begitu cepat menusuk tembus tubuhnya.
Panah yang menyambar itu tidak melukai fisik si nenek, tetapi menghancurkan organ di dalam tubuh.
Tubuh si nenek berhenti di bawah sebatang pohon. Ia dalam posisi terlentang, tidak bergerak. Namun, terlihat bahwa kulit lehernya telah menghitam karena pengaruh racun dari pisau Perkasa Rengkah.
“Uhhuk uhhuk!”
Mendadak Wulan Kencana terbatuk seiring tubuhnya tersentak. Terlihat jelas batuknya mengeluarkan darah kental.
“Benar-benar hebat, belum juga mati!” puji Kebo Pute. Lalu tanyanya kepada Jerat Gluduk, “Kau tidak mau ikut membunuh Wulan Kencana, Jerat?”
Terkejut Jerat Gluduk ditanya seperti itu.
Sementara di teras rumah Jerat Gluduk, terlihat berdiri Nyui bersama Desah Rindang. Di sekitar juga telah ramai oleh murid-murid Perguruan Bukit Dua menonton.
“Kami tahu kau juga sangat benci dengan perempuan siluman itu. Tidak usah berpura-pura welas asih kepada perempuan selicik dia!” kata Perkasa Rengkah pula.
“Aakk …!” teriak Wulan Kencana tiba-tiba sambil menggeliat hendak bangun dengan mulut penuh darah hitam.
“Biar aku yang menuntaskan hidupnya!” desis Hantu Tiga Anak.
“Ayolah, Jerat!” teriak Kebo Pute memprovokasi.
Sebelum pertarungan ini terjadi, kondisi Wulan Kencana masih dalam kondisi terluka parah. Pengobatan bantuan yang diberikan oleh istri Jerat Gluduk dua malam yang lalu, hanya membantu meringankan luka dalam itu beberapa persen saja.
Itulah sebabnya, ketika dikeroyok oleh para kakek sakti, Wulan Kencana tidak bisa berbuat banyak. Padahal jika secara normal, kesaktian Wulan Kencana di atas para batangan tua itu.
Di sisi lain, Hantu Tiga Anak telah siap melepaskan satu kesaktian pamungkasnya. Di kedua telapak tangan Hantu Tiga Anak telah bercokol sinar biru pekat berbentuk tengkorak manusia. Wajah Hantu Tiga Anak juga bersinar biru gelap menunjukkan bayangan tengkorak.
Jress!
Sebelum Hantu Tiga Anak menyerang, Jerat Gluduk ternyata lebih dulu melesatkan sinar merah panjang, depannya bulat tapi belakangnya berekor.
Sess! Zerzz!
Wulan Kencana yang sudah tidak berdaya, masih berusaha menyalakan sinar jingga di tangannya, tetapi sinar merah itu telah menghantam tubuhnya.
“Aaakk!” jerit panjang Wulan Kencana, ketika sinar merah yang menghantam tubuhnya jadi melekat seperti jaring di seluruh tubuh, lalu memberi sengatan listrik yang tinggi.
Wulan Kencana berdiri dalam kondisi kejang-kejang. Darah berkeluaran dari mulut, hidung, mata, dan telinganya.
Pada saat itulah, tiga sinar biru gelap berwujud tengkorak kepala manusia milik Hantu Tiga Anak melesat mendatangi Wulan Kencana.
Buss!
“Huaakrrr!”
Secara serentak ketiga sinar biru gelap itu menghantam wajah, dada dan perut Wulan Kencana. Si nenek pun terlempar keras dan jauh.
Brakr!
__ADS_1
Pagar kayu yang ada di dekat bibir jurang bukit rusak berpatahan dihantam tubuh Wulan Kencana. Namun, tubuh si nenek berhenti tepat di bibir jurang. Diam. Tidak bergerak lagi.
Keenam kakek pengeroyok Wulan Kencana menatap serius ke arah tubuh Wulan Kencana.
“Mati kau, Nenek Keparat!” maki Perkasa Rengkah.
“Hahaha! Akhirnya nenek cantik itu mati,” kata Kebo Pute puas.
“Belum tentu. Coba periksa dulu!” kata Galah Larut sambil mengerenyit menahan sakit dari luka dalamnya.
“Bowo! Periksa tubuh nenek itu!” teriak Jerat Gluduk kepada muridnya.
“Baik, Guru!” sahut Aliang Bowo.
Ia lalu berlari menuju bibir jurang yang berjarak cukup jauh. Setibanya di sana, ia memeriksa tubuh Wulan Kencana. Setelahnya, ia berdiri dan menghadap kepada para tetua.
“Sudah mati, Guru!” teriak Aliang Bowo.
“Kau yakin?” tanya Jerat Gluduk.
“Sebentar, Guru. Aku periksa lagi!” jawab Aliang Bowo.
Aliang Bowo lalu kembali memeriksa tanda-tanda kehidupan pada tubuh Wulan Kencana. Ia mengangguk yakin. Ia pun berdiri kembali.
“Hasilnya mati, Guru. Yakin, nenek ini suah mati!” teriak Aliang Bowo.
“Tendang saja mayatnya ke jurang!” perintah Jerat Gluduk.
Dug!
Aliang Bowo langsung menendang tubuh Wulan Kencana sehingga tergeser dan jatuh bergulingan ke dalam jurang yang cukup dalam tapi tidak berbatu.
“Lalu bagaimana dengan Bola Hitam?” tanya Lelaki Tombak Petir yang menderita luka dalam. Ia dan Galah Larut menderita luka dalam karena adu kesaktian dengan Wulan Kencana.
“Lakukan saja sesuai yang diarahkan oleh Wulan Kencana. Jika satu lawan satu melawan Ratu Siluman, aku yakin kita akan kalah seperti nenek itu,” kata Hantu Tiga Anak.
“Lebih baik kita ajak Setan Gagah bergabung,” usul Jerat Gluduk.
“Biar aku yang nanti pergi menemuinya,” kata Hantu Tiga Anak.
“Jangan sampai kalian datang ke pesta itu tanpa punya rencana!” kata Perkasa Rengkah mengingatkan. Dia lalu berbalik dan melangkah pergi, menunjukkan bahwa pertemuan itu sudah berakhir baginya.
Tanpa kata-kata perpisahan atan salam, satu demi satu kakek-kakek sakti itu pergi begitu saja, kecuali Jerat Gluduk.
Sementara itu, di dasar jurang, tepatnya di bawah pohon bambu, mayat Wulan Kencanaa tergeletak sendiri. Kulit wajahnya sudah berubah warna menjadi hitam karena pengaruh racun pisau Perkasa Rengkah.
Namun, tanpa diundang, tiba-tiba ada seekor ular besar merayap, tidak melompat-lompat. Ular itu merayapi tubuh Wulan Kencana sambil bermain lidah, bukan bermain lidah di tubuh si nenek.
Saat itu, tiba-tiba jari telunjuk tangan kiri Wulan Kencana tersentak kecil satu kali, tapi selanjutnya tidak. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.