
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Ketika Suraya Kencani tersadar dari pingsannya, orang pertama yang dilihatnya adalah Mbah Lawut.
“Babi set …!” maki Suraya Kencani, tetapi tertahan saat ia mengenali wajah tua Mbah Lawut. Wajah marahnya tiba-tiba luluh dan berubah sedih, “Kakang Lawut!”
Suraya Kencani bergerak bangun dan langsung memeluk tubuh lelaki tua itu.
“Dewi Kahyangan,” sebut Mbah Lawut lembut sambil balas memeluk erat tubuh Suraya Kencani. Untung, sebelumnya wanita cantik itu sudah dimandikan oleh Penombak Manis, jadi tidak bau.
“Hiks hiks hiks …!”
Suraya Kencani terdengar menangis di dalam pelukan itu. Mbah Lawut mengusap-usap punggung Suraya Kencani untuk memberikan ketenangan kepada wanita cantik berambut acak-acakan itu.
“Apa yang terjadi, Suraya?” tanya Mbah Lawut lembut.
Tiba-tiba Suraya Kencani berhenti menangis dan melepaskan pelukannya dengan wajah yang marah.
“Bebek Setan! Babi Setan! Sapi Setan! Kambing Setan! Ayam Setan! Kucing Setan! Tikus Setan!” maki Suraya Kencani menyebut tujuh nama binatang satu per satu.
“Kenapa? Kenapa kau memaki-maki seperti ini?” tanya Mbah Lawut lembut sambil satu telapak tangannya menyentuh pipi wanita itu dengan pelan.
“Aku mau bunuh setan-setan itu. Semuanya. Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati. Mereka harus mati!” desis Suraya Kencani dengan tatapan tajam penuh dendam ke arah dinding kamar.
“Mbah Lawut, bolehkah aku masuk?” tanya suara Penombak Manis tiba-tiba dari balik tirai kamar.
“Siapa itu?” tanya Suraya Kencani tegang, seolah musuh sedang datang.
“Jangan takut, jangan takut, mereka teman. Mereka yang menolongmu dan mengobatimu,” kata Mbah Lawut menenangkan. Lalu ia menyahuti Penombak Manis, “Masuklah, Manis!”
Penombak Manis lalu menyingkap tirai dan masuk. Ia langsung memandang sepasang mata Suraya Kencani yang menatap dengan tajam dan penuh curiga. Dengan bekal Sisik Putri Samudera di keningnya, Penombak Manis bisa melihat adanya aura dendam yang tinggi melekat pada warna wajah itu.
“Gusti Ratu sudah menaklukkan Perguruan Bulan Emas. Kami semua diperintahkan untuk segera ke sana,” ujar Penombak Manis.
“Apa? Secepat itu ratumu menguasai Perguruan Bulan Emas?” kejut Mbah Lawut seakan tidak percaya. “Padahal, setahuku Wulan Kencana memiliki kesaktian yang bernama Raga Abadi. Bagaimana bisa kalah?”
“Hihihi! Itu karena Mbah Lawut belum mengenal junjunganku. Selain sangat sakti, dia juga orangnya sangat baik, tapi juga sangat tegas,” kata Penombak Manis seraya tersenyum. “Suraya juga harus ikut, Mbah.”
“Aku akan ikut ke perguruan. Aku harus merawat Suraya Dewi Kahyangan sampai sembuh,” kata Mbah Lawut.
__ADS_1
“Aku tidak mau, aku takut!” ucap Suraya Kencani sambil duduknya bergerak mundur sedikit.
“Apa yang kau takutkan, Suraya? Kau dengar sendiri, Gusti Ratu yang menolongmu sudah mengalahkan kakakmu. Perguruan Bulan Emas sudah kalah, sudah dikuasai oleh Gusti Ratu,” kata Mbah Lawut.
“Apakah Mbah sudah meminumkannya obat?” tanya Penombak Manis.
“Oh ya. Belum,” kata Mbah Lawut yang baru teringat.
“Minumkan obat dulu. Setelah itu kita berangkat ke Perguruan Bulan Emas,” kata Mbah Lawut.
“Baik,” ucap Mbah Lawut.
Singkat cerita.
Mbah Lawut ternyata berhasil membujuk Suraya Kencani untuk ikut pergi ke Perguruan Bulan Emas. Mbah Lawut harus menyerahkan tanggung jawab kedai ayam panggangnya kepada pegawainya. Saat berangkat, Mbah Lawut dan Suraya Kencani satu kuda, seperti kakek dan cucu cantiknya.
Sementara itu, Dendeng Pamungkas yang saat itu belum sadarkan diri, harus mendapat ketokan batok kelapa dari Belik Ludah agar sadar.
Mereka berangkat meninggalkan Desa Julangangin saat hari mulai memasuki senja. Ada kemungkinan mereka akan tiba di Perguruan Bulan Emas ketika hari sudah malam.
Rombongan yang dipimpin oleh Gagap Ayu itu harus berhenti ketika tiba-tiba Penombak Manis berteriak.
“Be-be-berhentiii!” teriak Gagap Ayu sambil mengangkat tangannya.
Saat itu mereka baru tiba di hutan yang tidak begitu jauh dari pos penjagaan satu di luar Perguruan Bulan Emas.
“Ada apa, Mama Manis?” tanya Gagap Ayu dengan lancar.
“Aku melihat sesuatu yang aneh di arah barat,” jawab Penombak Manis sambil memandang serius ke arah barat.
Mereka semua yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang itu kompak memandang ke arah barat, tapi dengan target pandangan yang berbeda-beda.
Ketajaman mata Penombak Emas menangkap pergerakan lapisan udara yang aneh di sebelah barat, itupun berada dalam jarak cukup jauh dan tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
“Aku ti-ti-tidak me-me-melihat apa-apa, Mama Manis,” kata Gagap Ayu.
“Karena letaknya jauh dari sini. Aku yakin, kalian semua tidak akan bisa melihatnya, kecuali kita pergi melihatnya,” kata Penombak Manis. “Tunggulah sebentar, aku mau melihat ke sana.”
Penombak Manis lalu menggebah kudanya pergi memisahkan diri dari rombongan.
Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya yang lainnya pun pergi mengikuti Penombak Manis.
__ADS_1
Setelah berkuda menerobos semak belukar dan melewati sejumlah pepohonan besar, akhirnya mereka berhenti setelah Penombak Manis menghentikan kudanya.
Mereka melihat puluhan orang berseragam kuning sedang duduk-duduk bersandarkan batang pohon, rebahan dan ada yang beberapa berdiri memandang ke sana ke mari seperti orang bingung. Terlihat kentara sekali bahwa fisik mereka dalam kondisi lemas. Begitu terlihat dari ekspresi wajah mereka dan cara mereka bernapas.
Salah satu orang yang berdiri tidak lain adalah Gudibara, salah satu murid utama Perguruan Bulan Emas.
Namun anehnya, mereka seolah dikurung oleh satu lapisan udara yang luas, tinggi dan transparan, tapi terlihat jelas bahwa itu adalah lapisan udara. Anehnya pula, murid-murid yang pernah menyerang ke markas Tikus Belukar itu, bersikap seolah tidak mendengar atau melihat kedatangan rombongan berkuda pimpinan Gagap Ayu.
“Mereka murid-murid Perguruan Bulan Emas,” kata Dendeng Pamungkas.
“Tapi apa yang te-te-terjadi de-de-dengan mereka?” tanya Gagap Ayu.
“Sepertinya mereka diperdaya oleh kesaktian seseorang,” terka Geranda.
Set! Bless!
Tiba-tiba Geranda melesatkan satu kepeng uangnya dengan mengandung tenaga dalam. Ketika kepeng mengenai lapisan udara yang tinggi dan luas itu, tiba-tiba lapisan udara sirna seperti lapisan yang robek dan kemudian hilang secara perlahan.
Hal itu membuat Gudibara dan murid-murid yang dipimpinnya terkejut dan sontak menengok ke satu arah, yaitu ke arah rombongan kuda pimpinan Gagap Ayu. Seolah-olah ada tirai alam yang terbuka bagi mereka.
Satu hari satu malam lamanya, Gudibara dan kedua puluh murid yang bersamanya berada di area itu. Sejak pulang dari markas Tikus Belukar, mereka terus berjalan tanpa pernah sampai ke pergurua mereka. Jangankan sampai ke perguruan, untuk sampai ke pos penjagaan satu saja tidak sampai-sampai, padahal mereka telah berjalan selama berjam-jam.
Satu hari satu malam berjalan terus tanpa ketemu jalan pulang dan tidak menemukan makan minum, membuat mereka lemas dan menjadi putus asa.
“Murid Jari Hitam!” kata Gudibara agak keras, tetapi berdiri dengan agak membungkuk karena lemas.
“Apa yang ka-ka-kalian la-la-lakukan sampai se-se-selemah ini?” tanya Gagap Ayu.
Ingin rasanya Gudibara dan orang-orangnya tertawa mendengar perkataan Gagap Ayu yang gagap. Namun, kondisi yang sangat lemah membuat mereka tidak bisa lagi untuk tertawa. Mereka yang bertiduran, hanya kuasa bangun untuk duduk.
“Kami dibuat linglung selama satu hari satu malam tanpa menemukan jalan pulang ke perguruan,” jawab Gudibara lemah. Namun, ia tetap mengambil kedua senjata piringannya, seolah siap bertarung.
“Hahaha! Apa yang ingin kau lakukan dengan kondisi lemah seperti itu?” tanya Geranda.
“Guru kalian sudah dikalahkan oleh ratu kami dan perguruan kalian sudah kami kuasai. Jika kalian ingin pulang tanpa takut kesasar lagi, ikut saja dengan kami. Atau kalian memilih tetap tersasar di hutan ini,” kata Penombak Manis. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1