
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Mbeeek!
Itulah jeritan terakhir dari si kambing yang menjadi korban uji coba pertunjukan ilmu Bulan Kembar Empat.
Keberadaan empat bola sinar kuning terang di sekelilingnya, membuat darah kambing tersedot keluar dari dalam tubuh lalu menguap. Sampai kambing itu kehabisan darah. Jika dilihat dari kekurusan bangkai kambing itu, sepertinya bukan hanya darah yang hilang, sebagian dari daging pun seolah hilang. Jangan tanya bagaimana proses ilmiahnya sehingga daging si kambing bisa raib sedemikian drastisnya.
Seep!
Tiba-tiba keempat bola sinar itu lenyap begitu saja dan Kawal Rindu telah menjura hormat ke arah panggung tamu. Artinya, pertunjukannya selesai.
Plok plok plok …!
Tepuk tangan meriah diberikan lebih ramai dari sebelumnya.
“Ah, itu hanya kambing yang tidak bisa melawan. Apa hebatnya? Hehehe!” kata Perkasa Rengkah sinis lalu terkekeh kecil, menganggap lucu pertunjukan tersebut. Sementara tangannya bertepuk pelan saja.
“Sepertinya kau tertarik untuk mencoba ilmu itu,” kata Jerat Gluduk yang duduk di sebelah Perkasa Rengkah.
“Jika ada waktunya, aku ingin mencicipinya. Hahaha!” kata Perkasa Rengkah jumawa lalu tertawa agak keras.
Tangkar Biawak selaku host, kembali naik ke atas panggung, tapi kali ini dia berdiri di pinggir panggung. Dan seiring perginya Kawal Rindu, dari belakang panggung muncul terbang dengan santun, empat wanita muda yang cantik-cantik. Mereka mendarat lembut di lantai panggung dan berdiri berjejer dengan jarak sedepa. Mereka tidak lain adalah empat pengawal pribadi Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara.
“Sudah waktunya, para tetua dan para guru, para hadirin semua, kita sambut kedatangan Yang Mulia Gusti Ratu Siluman, Dewi Dua Gigi Alma Fataraaa!” teriak Tangkar Biawak keras dengan sedikit mengandung tenaga dalam.
“Hahaha …!”
Terkejut semua orang yang duduk di kursi kehormatan, termasuk Riring Belanga yang duduk tepat di sisi kanan kursi kebesaran untuk sang ratu. Mereka melihat, tahu-tahu sosok wanita berjubah hitam dan berambut panjang lurus, melesat terbang dari kursi besar yang ada di tengah-tengah mereka. Bagaimana tidak terkejut, hingga pembawa acara berteriak, kursi di tengah itu masih kosong. Bagaimana bisa tiba-tiba sosok yang dipanggil sang ratu itu muncul dari kursi tersebut.
Alma Fatara terbang sambil tertawa berkepanjangan, bukan karena ada yang lucu, tapi sekedar menunjukkan kegembiraannya dengan suasana pesta yang sedang berlangsung.
“Hormaaat!” teriak Anjengan tiba-tiba dengan lantang.
“Sembah hormat kami kepada Gusti Ratu!” seru semua abdi Kerajaan Siluman sambil turun berlutut, memberi atmosfir yang membuat bulu kuduk dan bulu tangan berdiri.
Atmosfir itu bahkan membuat para tetua yang berasal dari Bukit Tujuh Kepala terperangah, antara takjub dan gentar. Suasananya benar-benar seperti sebuah kerajaan.
“Bola Hitam!” sebut beberapa tetua secara bersamaan, tapi setengah berbisik. Karena yang berucap beberapa orang, jadi ucapan berbisik mereka terdengar dengan jelas.
Ucapan mereka keluar setelah mereka merasakan adanya aura sakti yang mereka kenal, yaitu aura pusaka Bola Hitam.
“Hahaha …!”
Hingga Alma Fatara mendarat di tengah-tengah panggung, di hadapan keempat pengawalnya yang juga berlutut menghormat, ia masih tertawa dan berbalik menghadap ke arah panggung tamu. Para guru dan tetua yang tidak ikut menghormat, kini bisa melihat dengan jelas kejelitaan dan kemudaan Ratu Siluman.
“Bangunlah rakyatku yang sama-sama bahagia!” seru Alma Fatara setelah tawanya yang memperlihatkan ompongnya itu berhenti. Ia tersenyum lebar.
Maka, semua orang yang termasuk sebagai rakyat Kerajaan Siluman segera bangkit.
“Selamat datang, selamat datang dan selamat berbahagia. Hormatku yang setinggi-tingginya kepada para guru dan tetua yang baru kali ini aku jumpai!” seru Alma Fatara lalu menjura hormat dengan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan kepala menunduk.
Para penguasa Bukit Tujuh Kepala hanya manggut-manggut melihat kerendahan jiwa gadis yang bernama Ratu Siluman.
__ADS_1
“Sungguh suatu kehormatan bagiku bisa berkenalan dengan para guru dan para tetua sekalian. Pesta ini aku adakan semata-mata ingin berkenalan lebih dekat dengan para tetua penguasa Bukit Tujuh Kepala. Aku sangat berterima kasih karena semua orang yang aku undang sudi datang. Tidak banyak cerewet, langsung saja aku sampaikan. Aku sebagai Ratu Siluman, ratu dari Kerajaan Siluman, mengumumkan kepada para guru dan tetua serta para pendekar yang turut hadir, Perguruan Bulan Emas kini bagian dari Kerajaan Siluman. Semua penghuni Perguruan Bulan Emas yang tinggal di sini adalah rakyat dari Kerajaan Siluman. Dan aku katakan, kini Perguruan Bulan Emas memiliki keluarga besar yang tidak terpisahkan, yaitu semua rakyat Kerajaan Siluman yang ada di seluruh dunia!” seru Alma Fatara, memaksa orang-orang yang baru kali ini mendengar tentang Kerajaan Siluman jadi berasumsi dengan dugaannya masing-masing.
Tiba-tiba Perkasa Rengkah berdiri dari duduknya dengan busungan dada yang angkuh.
“Maafkan aku, Ratu Siluman. Aku justru menangkap bahwa perkenalanmu itu tidak lebih adalah satu ancaman yang halus kepada kami sebagai penguasa tujuh bukit,” kata Perkasa Rengkah.
“Benar!” seru Lelaki Tombak Petir juga sambil berdiri pula dari duduknya. Ia berani berdiri karena ada temannya.
Tudingan kedua guru itu membuat suasana pesta berubah tegang.
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa mendengar sikap kedua kakek-kakek itu.
Melihat Alma Fatara justru tertawa, Jerat Gluduk jadi naik pitam, sama seperti Galah Larut dan Hantu Tiga Anak. Agak berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh Kebo Pute yang lebih santai dan Setan Gagah yang tidak memiliki niat permusuhan.
“Kau meremehkan kami, Ratu Siluman!” tukas Jerat Gluduk.
Blar blar blar …!
Tiba-tiba terjadi beberapa ledakan beruntun yang menghancurkan bagian timur tribun.
Semua terkejut, kecuali satu dua orang. Jerat Gluduk dan murid-muridnya bahkan ikut terkejut, karena mereka belum memutuskan untuk meledakkan sinar-sinar hijau yang mereka pasang. Lalu siapa yang meledakkan beberapa sinar hijau mereka.
Beruntung, titik-titik yang ada sinar hijaunya sudah dikosongkan oleh murid-murid Bulan Emas dan Jari Hitam. Jadi, tidak ada korban yang jatuh dari beberapa ledakan itu. Murid-murid Bulan Emas langsung meraih piringan terbangnya dan siap untuk bertarung, meski musuh belum jelas siapa dan yang mana.
“Apakah pestaku ada yang menyerang?” tanya Ratu Siluman kepada orang-orang yang ada di panggung seberang.
Terdiamlah para penguasa tujuh bukit dan Jongkol Pedih. Mereka justru saling pandang. Melihat tingkah rekan-rekannya, Kebo Pute justru berkata yang menjerumuskan.
“Hahaha! Mengaku saja. Sebagai seorang guru dan penguasa bukit, sangat pengecut jika tidak mau mengakui serangan siapa itu,” kata Kebo Pute yang didahului dengan tawa bernada mengejek.
“Kenapa kau marah, Hantu? Apakah kau pelaku serangan itu?” tanya Perkasa Rengkah dengan pandangan tidak bersahabat.
“Aaah! Sudah, sudah! Aku yang memerintahkan murid-muridku melakukannya untuk berjaga-jaga!” teriak Jerat Gluduk karena kesal. Ia lalu berdiri dan berkata lantang kepada Alma Fatara, “Ratu Siluman! Jika kau tiba-tiba muncul dan mengusir Wulan Kencana dari perguruannya, kau juga pasti memiliki niat jahat kepada kami!”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara pendek. Lalu katanya yang bermaksud menyulut kemarahan para tamunya, “Aku akan memberi para guru dan tetua kepuasan. Jika ada yang merasa diremehkan olehku yang terlalu muda ini, silakah maju untuk aku buktikan bahwa dia memang pantas aku remehkan!”
“Kurang ajar!” maki Jerat Gluduk marah sambil menghentakkan satu tangannya karena begitu kesal.
“Kutu kampret!” maki Hantu Tiga Anak pula ikut marah.
“Monyet cebok!” maki Lelaki Tombak Petir pula.
“Ayo, tidak usah basa-basi, siapa yang menginginkan Bola Hitam, kita habisi langsung Ratu Siluman itu!” teriak Galah Larut, yang tanpa sadar dia membongkar niatan asli mereka.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara mendengar teriakan Galah Larut.
“Bodoh! Kau membongkar niatan kita!” maki Perkasa Rengkah kepada Galah Larut.
“Hahaha! Tidak usah pura-pura lagi, sekali tercebur ke dalam parit, ya sudah, jangan takut bau tahi sekalian!” kata Kebo Pute yang didahului tawa pendeknya.
Kebo Pute lalu berkelebat terbang pergi ke panggung.
“Ayo!” teriak Galah Larut mengajak sambil dia berkelebat pula menyusul Kebo Pute.
Pada akhirnya, Perkasa Rengkah, Hantu Tiga Anak, Jerat Gluduk, dan Lelaki Tombak Petir menyusul dua rekan mereka.
__ADS_1
Jleg jleg jleg!
Mereka mendarat di panggung utama dan langsung mengepung Alma Fatara. Ratu Siluman sendiri sudah dibentengi oleh empat pengawal wanitanya yang berposisi di empat penjuru. Mereka sudah memegang dua piringan terbang mereka.
Clap!
Tiba-tiba para tetua dikejutkan oleh kemunculan Mbah Hitam di sisi Alma Fatara.
Sementara di panggung tamu, tinggallah Rereng Busa, Riring Belanga, Jongkol Pedih, Setan Gagah, dan Semanis Sari.
“Kalian berempat pergilah, ini pertarungan para pemimpin!” perintah Alma Fatara kepada keempat pengawalnya.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap keempatnya sambil tetap menatap para pengepung itu.
Keempat pengawal itu lalu melompat terbang meninggalkan panggung. Mereka pergi naik ke atas panggung tamu.
“Sudah aku duga, para guru akan datang ke pestaku demi Bola Hitam. Hahaha!” kata Alma Fatara lalu tertawa rendah.
Terkesiaplah keenam kakek itu mendengar perkataan Alma Fatara.
“Kau memang sengaja menjebak kami!” tukas Hantu Tiga Anak mendelik.
“Hanya mereka yang berhati serakah yang merasa terjebak. Kalian bisa lihat, Ketua Tikus Belukar tidak merasa dijebak,” kilah Alma. “Tapi tunggu, tidak ada rasa sayang jika kita bertarung tanpa saling kenal. Para guru sudah mengenal siapa aku, tapi aku belum mengenal nama-nama para guru sekalian. Jadi, jika kalian mati, aku bisa memberi nama pada makam kalian sebagai penghormatan terakhirku.”
“Sombong sekali!” teriak Perkasa Rengkah.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang tidak sungkan memperlihatkan gigi ompongnya. “Aku memang sombong jika bertarung dengan musuh.”
“Perkenalkan, aku penguasa Bukit Tujuh, Galah Larut, Ketua Perguruan Kaki Bayangan!” koar Galah Larut.
“Aku Jerat Gluduk, Ketua Perguruan Bukit Dua!”
“Aku Kebo Pute, ketua kelompok Pemanah Ujung Pelangi. Penguasa Bukit Enam. Hahaha!”
“Aku Perkasa Rengkah, Ketua Perguruan Amuk Bumi di Bukit Satu!”
“Aku Hantu Anak Tiga, Ketua Perguruan Tiga Anak di Bukit Lima!”
“Aku Lelaki Tombak Petir, Ketua Kelompok Tombak Petir di Bukit Tiga!”
“Loh, kenapa kurang satu?” tanya Alma Fatara.
“Aku ada di sini, Gusti Ratu!” sahut Setan Gagah di panggung tamu sambil berdiri dari duduknya. Lalu katanya sebelum ditanya, “Aku tidak mau ikut-ikutan dalam perkara Bola Hitam!”
“Pengecut kau, Setan!” maki Hantu Tiga Anak gusar.
“Maafkan aku, sahabatku!” kata Setan Gagah.
“Kita bukan sahabat!” tegas Hantu Tiga Anak.
Dugk!
Tiba-tiba sebuah benda cukup besar melesat melambung di udara yang tinggi lalu jatuh keras tidak jauh dari kaki-kaki para tetua. Keenam pengeroyok itupun terkejut bukan main melihat benda yang jatuh ke lantai tersebut. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.