
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
Pertarungan tingkat tinggi langsung digelar oleh Riring Belanga dan Ringgi, dua wanita yang sama-sama memiliki karakter keras dan dingin.
Sing sing!
Ringgi harus terkejut ketika dua piringan emasnya yang ia jadikan senjata tidak mampu memangkas putus jari-jari Riring Belanga, ketika sayatannya ditangkis dengan tangan kosong. Hal itu jelas menunjukkan bahwa level kesaktian Jari Hitam Riring Belanga lebih tinggi dari Brata Ala dan rekan-rekannya yang tadi malam Ringgi hancurkan.
Justru sebaliknya, Ringgi harus ekstra hati-hati menghadapi serangan jari-jari Riring Belanga, terbukti pada satu ketika serangan cakaran berhasil mengenainya.
Breet!
Kibasan cakaran tangan kanan Riring Belanga berhasil menyambar perut Ringgi. Namun masih untung, cakaran itu hanya menghanguskan kain baju bagian perut saja, dengan memberi warna gosong pada kulit perut Ringgi yang putih.
“Keparat!” geram Ringgi sambil cepat mundur beberapa tindak untuk memeriksa perutnya.
Namun, Riring Belanga cepat memburu. Ia tidak mau memberi Ringgi kesempatan untuk menjauh. Mau tidak mau Ringgi harus meladeni agresi cakaran Riring Belanga.
Wulan Kencana berekspresi dingin melihat posisi Ringgi yang selama ini bisa diandalkan.
Meski Ringgi berbekal senjata dua piringan yang bisa memotong besi sekalipun, tetapi senjata itu seperti tidak berfungsi menghadapi Jari Hitam Riring Belanga.
Agresi Riring Belanga memiliki serangan jarak pendek yang cepat dan keras. Sejak awal, serangan jari-jarinya tanpa ragu berani adu hantam dengan senjata tajam Ringgi.
Merasa terdesak dengan pertarungan jarak dekat, Ringgi berusaha menciptakan jarak untuk melakukan serangan jarak jauh. Namun, Riring Belanga seolah tidak mau membiarkan itu terjadi. Ketika Ringgi melompat menjauh, lawannya itu cepat mengejarnya dan terus menempel, bukan karena terlalu cinta, tetapi karena terlalu benci.
Blar!
Pada satu kesempatan, ketika Ringgi melompat mundur dan Riring Belanga cepat memburu, Ringgi tiba-tiba bermain petasan. Ada ledakan sinar emas yang dia ciptakan dari benturan dua piringan emasnya. Ledakan itu memaksa Riring Belanga melompat mundur sambil membentengi tubuhnya dengan tenaga dalam tinggi.
Hal itu menciptakan jarak antara kedua wanita petarung tersebut.
“Sekarang waktunya mengakhiri!” seru Ringgi begitu yakin sambil melesatkan kedua piringan emasnya.
Seszz!
Set set set …!
Dua piringan emas yang memercikkan kembang api melesat cepat menyerang Riring Belanga. Setelah itu, Ringgi langsung menyusul melepas ilmu Sepuluh Purnama Kematian, yaitu sepuluh piringan sinar emas yang terkenal ganas karena kekuatan dan kecepatannya hebat.
Menyikapi serangan yang rasa-rasanya mustahil untuk bisa dihindari, maka terpaksa Riring Belanga mengeluarkan ilmu pamungkasnya, yaitu Perangkap Jari Hitam.
__ADS_1
Sejak awal ketika Ringgi melesatkan dua piringan emasnya, Riring Belanga cepat mempertemukan ujung-ujung jari tangan kanan dengan ujung jari-jari tangan kiri, lalu menariknya saling menjauhi.
Sweeets!
Ternyata dari pertemuan lima pasang jari itu muncul tali sinar hijau tanpa putus dari sesama ujung jari ketika ditarik menjauh. Jadi ada lima garis sinar hijau yang ujung-ujungnya melekat pada setiap ujung jari.
Dengan gerakan yang cepat, Riring Belanga menangkap kedua piringan emas menggunakan lima garis sinar hijau yang menempel di kesepuluh jari-jari. Anehnya, setelah kedua piringan emas itu masuk terjerat dalam lima garis sinar hijau yang bisa dipendekpanjangkan, keduanya tidak bisa keluar lagi.
Bras!
Tiba- tiba kedua piringan yang terjerat di antara lima tali sinar hijau musnah seperti bara api membakar sarang laba-lana.
“Ilmu apa yang dikeluarkan oleh Kakak Seperguruan?” tanya Brata Ala terkejut, karena dia belum pernah melihat kesaktian seperti itu selama berguru di Perguruan Jari Hitam.
“Itu ilmu Perangkap Jari Hitam. Hanya Kelas Jari Emas Hitam yang bisa menguasainya,” jelas Rereng Busa.
Sedangkan untuk mengatasi serangan sepuluh piringan sinar emas, Riring Belanga melompat sedemikian rupa sambil melepas ujung garis sinar pada jari-jari tangan kiri.
Pelepasan itu justru membuat ujung-ujung sinar yang lepas jadi saling bertemu dan menyatu, sehingga terbentuklah seperti lima tali panjang yang ujungnya diikat satu.
Proses itu berlangsung sangat cepat dan tahu-tahu perangkap sinar itu dikebutkan menjaring sebagian piringan sinar emas yang menyerang, sementara sebagian lagi tidak menemui sasaran.
Enam piringan sinar emas yang terjaring tidak bisa keluar lagi, hingga kemudian Riring Belanga melempar enam piringan sinar emas itu keluar dari dalam jeratannya dan menyerang balik Ringgi.
Set!
“Aak!” jerit tertahan Ringgi ketika satu piringan sinar emasnya mengenai lengan kirinya.
Setelah terkejut karena separuh diameter lengannya tertebas, Ringgi kembali terkejut saat lawannya tahu-tahu sudah bergerak begitu dekat dengannya.
Spontan Ringgi menghentakkan lengan kanannya dengan telapak bersinar merah terang. Dengan jari-jari berwarna hitam mengilap seperti logam dan berbentuk cakaran, Riring Belanga mengadukan tangannya yang mengandung ilmu Jari Emas Hitam.
Brosss …!
Pertemuan telapak tangan bersinar merah dan tusukan jari-jari yang mencengkeram itu menimbulkan suara ledakan mendesis keras. Namun, suara desisannya terus terdengar memanjang.
“Aaak …!” jerit Ringgi keras dan panjang tanpa henti saat melihat dan merasakan lengannya musnah dibakar oleh sinar emas, seperti api yang membakar sumbu dinamit.
Semua orang yang melihat kekejaman ilmu Jari Emas Hitam jadi terkejut dan terperangah.
Sambil menjerit-jerit, Ringgi nekat memukul-mukul lengannya yang musnah perlahan dengan tangan kirinya yang juga sudah kesakitan, bermaksud memadamkan sinar emas yang menggerogoti tangan kanannya. Namun, yang terjadi justru tangan kiri Ringgi ikut terbakar sinar emas.
__ADS_1
“Ketua! Ketua! Ketua!” sebut murid-murid Bulan Emas yang merupakan Anggota Sayap Kanan pimpinan Ringgi.
Namun, mereka hanya bisa melihat sinar emas itu memakan tubuh ketua mereka dan menyebut namanya dengan panik tanpa bisa berbuat apa-apa.
Di kubu tamu, tidak semua murid-murid Perguruan Jari Hitam yang hadir di tempat itu pernah melihat kehebatan ilmu Jari Emas Hitam, sebagian besar dari mereka baru sekedar mendengar cerita saja tentang ilmu itu. Kini mereka menyaksikan secara langsung bahwa ternyata perguruan mereka memiliki ilmu yang hebat.
Pada akhirnya, jeritan Ringgi yang memilukan menyayat hati terhenti, ketika separuh dari dada dan bahunya telah musnah. Raga yang tersisa tumbang ke tanah dan tinggal menunggu kemusnahannya.
Apa yang dialami oleh Ringgi ternyata menjadi bencana bagi Kanan Dua. Bermula ketika ia begitu terkejut dengan apa yang menimpa ketuanya.
“Ketua Ringgiii!” pekik Kanan Dua. Pekikan pemuda itu membuatnya lengah.
Swess swess swess …!
Tus tus tus …!
“Akkr …!” jerit Kanan Dua saat lima sinar biru kecil berekor tahu-tahu sudah tiba di dadanya, membolongi dadanya sebanyak lima kali.
Sebenarnya, kesaktian Nining Pelangi sedikit lebih unggul dari Kanan Dua, tetapi Kanan Dua mampu bertahan lama dengan tidak terkena serangan telak. Sejauh pertarungan, dia hanya sering terdesak. Kekurangagresifan Nining Pelangi membuat Kanan Dua mudah menjauh dan menormalkan kondisi.
Namun, kelengahannya kali ini benar-benar berbuah kemalangan. Kanan Dua tumbang tanpa nyawa dengan dada yang bolong mengerikan.
“Dendam kalian sudah terbayar, serahkan Telur Gelap itu!” seru Wulan Kencana dengan wajah yang datar, seolah kematian dua murid andalannya bukan perkara yang membuatnya marah.
“Hahaha! Baik!” seru Alma Fatara setelah tertawa tanpa beban. Lalu ia melempar batu mustika di tangannya sambil berseru, “Tangkap!”
Set! Tap!
Cepatnya lemparan Alma, membuat Wulan Kencana harus menangkap dengan tidak biasa saja. Ia menangkap Mustika Dewi Kenanga dengan tangan kanan yang mengandung tenaga dalam.
Ketika mustika berwarna jingga itu telah berada dalam genggaman telapak tangannya, ia pun meredakan kembali tenaga dalamnya.
Zerzztt …!
“Aaak …!” jerit Wulan Kencana tiba-tiba, saat Mustika Dewi Kenanga mendadak mengeluarkan aliran sinar jingga besar yang langsung menjalari seluruh tubuh.
“Guru! Guru! Guru …!” teriak murid-murid Perguruan Bulan Emas bersahut-sahutan melihat kondisi gurunya. Wulan Kencana berdiri kejang dengan wajah berteriak menahan sakit. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.