Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 32: Raden Runok Kebal


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


Bles bles bles …!


Sebanyak sepuluh bola sinar hijau gelap muncul dari kedua lengan Kluwing. Bola-bola sinar kecil itu bergelindingan dan memantul-mantul ke sekitar Raden Runok Ulung berdiri.


Namun, sebelum terjadi sesuatu yang lain, Raden RunoK Ulung hanya tersenyum sinis kepada kedua lawannya.


Blar blar blar …!


Sepuluh ledakan sinar hijau menyilaukan mata yang dahsyat terjadi di sekeliling tubuh Raden Runok Ulung, sampai-sampai tubuh orang tua yang diam saja itu tertutupi oleh cahaya hijau.


“Hahaha!”


Belum lagi kesilauan cahaya hijau lenyap, sudah terdengar suara tawa Raden Runok Ulung, menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa. Kondisi sang raden terbukti ketika terlihat sosoknya tetap utuh berdiri tanpa kerusakan pada tubuh dan pakaiannya, tetapi tanah di sekitarnya hancur berantakan berlubang-lubang.


Alangkah terkejutnya Ki Bending dan Kluwing melihat kenyataan itu. Akan repot urusannya jika ilmu Pecahan Mata Kiamat saja tidak bisa melukai Raden Runok Ulung sedikit pun.


Ki Bending dan Kluwing sedikit pun tidak tahu kesaktian apa yang membuat Raden Runok Ulung menjadi kebal seperti itu.


“Hebat sekali pusaka itu,” ucap Anjengan.


“Seharusnya kau mengambil pusaka itu untukmu sendiri, Alma,” kata Juling Jitu.


“Aku sudah punya Bola Hitam dan Benang Darah Dewa. Itu cukup bagiku,” kata Alma.


“Kau tidak akan aku biarkan hidup, Kluwing!” desis Raden Runok Ulung, lalu ia maju dengan cepat, langsung menyerang Kluwing.


Kluwing dengan cepat mengelaki tusukan-tusukan dan sabetan tongkat lancip Raden Runok Ulung. Sambil menghindar dan menangkis dengan kedua tangannya yang kuat, Kluwing juga sesekali menyerang balik.


Jari-jari tangan Kluwing memiliki kuku-kuku yang cukup panjang dan runcing.


Untuk sementara Ki Bending tidak turut campur, ia memilih mundur dan menonton. Ia mengamati Raden Runok Ulung.


Wuut! Paks!


Pada suatu saat, ketika tongkat Raden Runok Ulung mengibas hendak merobek leher lawan, Kluwing menghindar dengan turun berjongkok, lalu ia menapak dari sisi bawah kepada perut si kakek.


Namun, telapak tangan kiri Raden Runok Ulung menantang pukulan telapak tangan Kluwing. Peraduan pukulan pun terjadi keras.


Kluwing terdorong keras hingga terjengkang. Selain seolah lengan kanannya bengkak saat itu juga, Kluwing juga merasakan dadanya menjadi sesak.


“Huk uhhuk uhhuk!” batuk Kluwing.


Namun, ia memaksakan diri untuk melompat jauh ke belakang, karena Raden Runok Ulung yang tidak apa-apa sudah menusukkan tongkatnya.


Sess! Bluar!

__ADS_1


Selarik sinar hijau melesat dari ujung tongkat Raden Runok Ulung yang kemudian hanya menghancurkan tanah. Sementara Kluwing sudah jauh berdiri.


Kluwing menarik tangan kanannya ke bawah setelah ia luruskan hendak menggapai langit. Ki Bending tahu, ilmu apa yang akan dikeluarkan oleh muridnya itu, yaitu Pindah-Pindah Mati.


Kluwing lalu maju beberapa langkah, lalu menjatuhkan kepalanya ke tanah tanpa sanggahan kedua tangan.


Clap!


Namun hasinya, tubuh Kluwing masuk ke dalam tanah, seperti bayangan yang masuk ke dalam tanah tanpa merusak tanah, tapi tubuh Kluwing jadi menghilang.


Sepasang mata tua Raden Runok Ulung hanya melebar menyaksikan ilmu aneh itu. Namun, tiba-tiba Kluwing muncul melompat dari dalam tanah di belakang si kakek, tanpa ada suara atau bahkan merusak tanah sedikit pun.


Saat keluar melompat seperti itu, kedua tangan Kluwing sudah diliputi oleh sinar putih redup.


Bluar bluar!


Dua sinar putih seperti rambutan berambut putih, melesat dalam jarak dekat menghantam punggung Raden Runok Ulung.


Namun, dua ledakan sinar itu hanya membuat Raden Runok Ulung tersentak ke depan, tanpa mengalami kerusakan fisik ataupun pakaian.


Wuut!


Dengan kecepatan tinggi, Raden Runok Ulung langsung mengibaskan tongkatnya ke belakang hendak membabat Kluwing. Namun, wanita itu sudah siap dengan melompat mundur, lalu cepat masuk kembali ke dalam tanah.


Mendapati itu, Raden Runok Ulung sudah siap untuk menusuk jika Kluwing kembali muncul di sisi mana saja.


Bles bles bles …!


Blar blar blar …!


Sepuluh ledakan keras cahaya hijau menyilaukan mata terjadi di sekeliling Raden Runok Ulung, membuat sosok tua itu tenggelam oleh cahaya.


Clap! Bruzz!


Bersamaan dengan sepuluh ledakan bola cahaya, sosok Kluwing muncul dengan kedua lengan sudah bersinar kuning api.


Kluwing menghentakkan kedua lengannya lurus ke langit. Maka sinar kuning kejinggaan yang besar, berwujud ular raksasa melesat naik ke angkasa.


Arkss!


Ketika ledakan cahaya berhenti dan sosok Raden Runok Ulung kembali muncul dalam ketidakapa-apaan, sinar kuning besar berwujud ular raksasa yang ada di angkasa tiba-tiba menukik deras ke bumi, tepatnya ke atas kepala sang raden. Suara raungan sinar itu terdengar begitu mengerikan.


Jika serangan ini juga gagal, maka pupuslah harapan Kluwing untuk bisa membunuh mantan majikannya.


Bruzz! Bruask!


Bersamaan makhluk sinar itu menerkam kepala dan tubuh Raden Runok Ulung, kakek itu telah melesatkan sinar merah gelap menyerang Kluwing.

__ADS_1


Fokusnya perhatian Kluwing terhadap serangan ilmu tertingginya kepada musuh, membuat ia tidak bisa menghindari serangan ilmu Kutukan Darah Kotor Raden Runok Ulung.


Hasilnya adalah Raden Runok Ulung tidak apa-apa, hanya tanah yang dipijaknya berubah menjadi hitam berasap karena hangus.


“Akkh!” pekik Kluwing dengan tubuh terlempar jauh saat ledakan sinar merah gelap menghantam seluruh tubuhnya.


Kluwing jatuh terjengkang dengan mulut penuh darah.


“Matilah kau, Kluwing!” teriak Raden Runok Ulung sambil melesatkan tongkat seperti tombak pendek.


Set! Tes! Ctar!


Namun, satu butir sinar kuning sekecil biji rambutan melesat cepat memotong jalur lesat tongkat Raden Runok Ulung. Ledakan kecil lagi nyaring terjadi yang mementalkan tongkat sang raden.


Raden Runok Ulung mendengus sambil memandang tajam kepada Ki Bending yang menyelamatkan Kluwing.


Set!


“Akk!” pekik Kluwing tiba-tiba ketika satu anak panah tahu-tahu sudah menancap di paha kirinya.


Terkejut Ki Bending. Saat itu muncul seorang wanita muda cantik berpakaian hitam. Dia berlari datang dengan membawa busur yang diisi tiga anak panah. Di punggungnya ada sebuah pedang. Wanita itu adalah Semurai, janda Jaran Telu.


Set! Set!


Semurai kembali melepaskan panahnya, tapi membidik Ki Bending. Namun, dari tiga anak panah itu, hanya dua yang lepas melesat. Ternyata yang satu dibidik lagi ke arah Kluwing.


Ki Bending cukup mengulurkan telapak tangannya ke arah datangnya serangan. Kedua anak panah itu berhenti di udara, tepat di depan telapak tangan Ki Bending, lalu jatuh ke tanah begitu saja tanpa harga diri.


Sementara satu anak panah yang menyerang Kluwing hanya menancap di tanah, sebab wanita berbaju kuning itu cepat berguling menghindar.


“Tidak ada waktu bagimu untuk bernapas, Wanita Terkutuk!” teriak Semurai begitu keras penuh kemarahan, maklum bawaan dendam, bukan bawaan orok.


Sezz! Blaar!


Setelah membuang busurnya begitu saja, Semurai melompat ke udara sambil menghentakkan tangan kanan. Satu sinar merah berwujud kepala kerbau melesat menyerang Kluwing.


Kluwing yang tidak bisa bergerak bebas lantaran panah masih menancap di pahanya, hanya bisa menghindar sebisanya. Akibatnya, ledakan tanah yang keras mementalkan tubuhnya.


Ketika kakinya menginjak tanah, Semurai langsung melesat mengejar tubuh Kluwing yang dalam kondisi tidak terkontrol.


Set set tsuk!


“Hekrr!”


Pedang Semurai bergerak cepat menebas lengan dan menyayat punggung Kluwing yang dalam kondisi tidak bisa menawar. Gerakan ketiga dari pedang itu adalah tusukan dalam pada dada Kluwing.


“Kluwing!” teriak Ki Bending yang tidak bisa berbuat apa-apa, karena ternyata di sekelilingnya sudah ada lima bola sinar merah redup yang melayang diam.

__ADS_1


Itu adalah ilmu Lima Mata Setan Neraka milik Narisantai. (RH)


__ADS_2