Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 23: Siasat Bandar Bumi


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


“Kakek Sabit Putih! Kakek Sabit Putih!” panggil Tengkorak Telur Bebek setibanya di depan pintu rumah Tengkorak Sabit Putih.


Tengkorak Telur Bebek datang bersama Tengkorak Bayang Putih. Mereka berdua sudah seperti kembar siam dibelah kapak. Di mana ada Tengkorak Telur Bebek, di situ pasti ada Tengkorak Bayang Putih.


“Kalian membawa kabar penting apa?” tanya satu suara kakek-kakek dari dalam rumah. Setelah itu, barulah Tengkorak Sabit Putih muncul.


“Kami sudah bertemu dengan Ratu Siluman,” lapor Tengkorak Bayang Putih.


“Kalian terlihat baik-baik saja. Apakah kalian berhasil membunuhnya?” tanya kakek yang rambut putih panjangnya dikepang.


“Justru sebaliknya, untung Ratu Siluman tidak menghajar kami. Kami bukan tandingannya. Juragan Gelang dan Kala Biru saja dibuat tidak berkutik tanpa perlawanan. Seharusnya Kakek yang turun tangan langsung. Tengkorak Api dibuat sekarat, sampai-sampai Paman Langkah Api bersikap lembut demi bisa membawa Tengkorak Api,” tutur Tengkorak Telur Bebek berair-air, karena sampai-sampai ludahnya bermuncratan ketika bercerita.


“Jadi Tengkorak Langkah Api tidak melakukan apa-apa terhadap Ratu Siluman itu?” tanya Tengkorak Sabit Putih gusar.


“Tidak. Paman Langkah Api sudah seperti abdi ratu itu saja. Begitu tunduk. Mungkin demi mengambil Tengkorak Api yang sekarat,” tandas Tengkorak Telur Bebek.


“Ineng Santi cucu Raja Tanpa Gerak saja justru bagian dari pasukan Ratu Siluman,” kata Tengkorak Bayang Putih.


“Keparat. Jika bertemu, aku tidak akan sungkan untuk membunuh cucu pengkhianat Keluarga Tengkorak itu,” desis Tengkorak Sabit Putih. Lalu tanyanya kepada Dua Tengkorak Putih itu, “Seperti apa sebenarnya Ratu Siluman itu?”


“Aaah, lebih muda dari kami. Anaknya memang sangat cantik, tapi giginya ompong di atas. Hahaha!” jawab Tengkorak Telur Bebek lalu tertawa terbahak sendiri.


“Dia pantasnya menjadi adik kami. Namun, benar-benar gila kesaktiannya, ditambah dengan pasukan pendekarnya, luar biasa. Aku herannya, kenapa murid-murid dari Bukit Tujuh Kepala banyak yang bergabung dalam pasukannya?” kata Tengkorak Telur Bebek, masih berair-air.


“Sudahlah, lebih baik Kakek Sabit Putih yang turun langsung melawannya. Pasti seimbang,” kata Tengkorak Bayang Putih.


“Aku sedang menunggu kedatangan Ratu Maut. Kalian berdua pergilah temui Bandar Bumi di kediaman Bandar Langit. Minta semua kekuatan Pasukan Pedang Biru dan pendekar yang lain untuk menyerang Ratu Siluman. Jika dia tidak mau, tidak apa-apa, tapi jangan menyesal!” perintah Tengkorak Sabit Putih.


“Tapi kami tadi pagi berselisih dengan Pasukan Pedang Biru,” kata Tengkorak Telur Bebek.


“Katakan saja ini perintahku!” tandas Tengkorak Sabit Putih.


“Baiklah, Kek,” kata Tengkorak Bayang Putih.


Maka, Dua Tengkorak Putih pergi ke kediaman Bandar Langit, adik dari Bandar Bumi.


Kediaman Bandar Langit terletak di pinggiran barat Kademangan Nuging Muko. Bandar Langit tidaklah sesukses kakaknya. Dia lebih suka hidup sebagai petani yang punya satu kebun kopi.


Bandar Langit sangat suka dengan kopi, sampai-sampai aroma kopi sangat kental tercium pada tubuh dan pakaiannya. Saking cintanya dengan kopi, dia memilih menjadi jomblovers, jomblo yang kehilangan cinta.

__ADS_1


Rumah Bandar Langit terletak di tengah-tengah kebun kopi. Sederhana. Namun, Bandar Bumi dan putranya masih muat untuk tidur di rumah yang tanpa anggota keluarga lain. Bandar Langit tidak begitu peduli dengan urusan kakaknya. Jika seandainya Bandar Bumi mati pun, mungkin dia tidak akan peduli. Dia lebih peduli terhadap kematian satu batang pohon kopinya daripada kematian kakaknya.


Sejak Bandar Bumi dan putranya yang bernama Tenggak Telaga bersembunyi di rumah itu, kebun tersebut ramai oleh lelaki berpakaian serba biru gelap dan bertopeng kain. Mereka berpedang. Kehadiran mereka bertugas menjaga keamanan yang sebelumnya tidak pernah ada di kebun kopi tersebut.


“Kami ingin bertemu dengan Bandar Bumi. Ini perintah Tengkorak Sabit Putih!” kata Tengkorak Telur Bebek saat kedatangan mereka dihadang oleh beberapa lelaki bertopeng kain biru.


“Tunggu di sini!” perintah salah satu orang bertopeng tersebut. Ia lalu pergi menuju ke rumah Bandar Langit.


Tengkorak Telur Bebek dan Tengkorak Bayang Putih pun menunggu.


Namun, tidak lama kedua orang muda itu menanti karena Bandar Bumi datang bersama Tenggak Telaga. Mereka dikawal oleh sepuluh lelaki bertopeng.


“Mereka yang menggagalkan kami menculik putra Demang Mahasugi!” kata seorang lelaki bertopeng marah. Lelaki itu beralis merah dan salah satu matanya ditutupi oleh lipatan daun hijau yang diikat tali kecil mengelilingi kepala. Dia adalah Alis Darah yang tadi pagi mendapat sarapan telur bebek ceplok.


“Tapi mereka diutus oleh Tengkorak Sabit Putih,” kata Bandar Bumi.


Akhirnya Bandar Bumi dan para anak buahnya berhadapan dengan Dua Tengkorak Putih.


“Untuk apa kalian datang ke mari, Tukang Telur?!” bentak Alis Darah mendahului majikannya.


“Tenang, Kisanak. Hahaha!” kata Tengkorak Bayang Putih bersikap santai.


“Pesan apa yang kalian bawah dari Tengkorak Sabit Putih?” tanya Bandar Bumi kepada kedua tamunya itu.


“Jika Ki Bandar tidak mau, tidak apa-apa, tapi jangan menyesal. Itu pesan Kakek Tengkorak Sabit Putih pula,” tambah Tengkorak Telur Bebek.


Mendengar pesan itu, berubahlah warna muka Bandar Bumi dan putranya. Wajah yang awalnya dingin, kini berubah marah, tapi tidak diungkapkan kepada kedua utusan itu.


“Alis Biru, kumpulkan semua Pasukan Pedang Biru. Kita akan bertempur habis-habisan!” perintah Bandar Bumi.


“Baik, Kanjeng,” ucap lelaki bertopeng beralis biru. Dialah Ketua Pasukan Pedang Biru yang bernama Alis Biru.


Alis Biru dan Alis Merah segera pergi.


“Tenggak, pergi panggil Penguasa Jiwa, aku ingin bicara penting!” perintah Bandar Bumi kepada putranya.


“Baik, Ayah,” ucap Bandar Bumi. Ia pun segera pergi setelah memandang tajam sejenak kepada Dua Tengkorak Putih.


“Kalian ikut aku!” perintah Bandar Bumi kepada kedua pemuda tersebut.


Malam itu, Bandar Bumi mengatur siasat bersama Dua Tengkorak Putih, Alis Biru dan Alis Merah. Secara rahasia Bandar Bumi berbicara pula dengan dua pendekar yang dijuluki Penguasa Jiwa. Secara terpisah dia juga berbicara dengan tiga anggota Lima Pembunuh Gelap.

__ADS_1


Hasil dari pertemuan tersebut diwujudkan dengan dilakukannya pemantauan terhadap kediaman Demang Mahasugi secara senyap. Pemantauan itu berlangsung hingga pagi, hingga Pasukan Genggam Jagad berangkat menuju Kademangan Nuging Muko.


Awalnya, orang yang memantau rombongan Pasukan Genggam Jagad dari jarak jauh hanya beberapa orang bertopeng saja. Kemudian mereka mengikuti dari jalur yang agak jauh, agar tidak ketahuan. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam pasukan itu ada orang yang memiliki Sisik Putri Samudera, yang bisa melihat hantu hingga sesuatu yang terlalu jauh. Terlebih, sosok siluman Mbah Hitam sedang dalam mode senyap.


Semakin lama dan semakin jauh mereka mengikuti rombongan Pasukan Genggam Jagad, jumlah Pasukan Pedang Biru yang mengintai dan membuntuti semakin banyak, termasuk Dua Tengkorak Putih.


Rupanya personel Pasukan Pedang Biru disebar di sepanjang jalan menuju ke Kademangan Nuging Muko. Pasukan Pedang Biru yang mengikuti akan berkumpul dengan rekan-rekannya yang menunggu di sepanjang jalur pengintaian.


“Jika mereka hanya sekedar pasukan prajurit kademangan dan centeng-centeng tidak berkelas, seharusnya cukup sampai di sini, bisa kita serang,” kata Tengkorak Telur Bebek kepada Tengkorak Bayang Putih saat Pasukan Genggam Jagad baru hendak mencapai kebun pisang.


“Mereka memusatkan diri di kaki bukit,” kata Tengkorak Bayang Putih merujuk pada Pasukan Pedang Biru. “Tapi ada yang aku curigai dari Bandar Bumi.”


“Apa?” tanya Tengkorak Telur Bebek.


“Aku tidak tahu. Dia berbicara secara rahasia dengan Penguasa Jiwa dan Lima Pembunuh Gelap,” kata Tengkorak Bayang Putih. “Tapi aku bertanya-tanya, kenapa Bandar Bumi begitu patuh kepada Kakek Sabit Putih?”


“Entahlah,” jawab Tengkorak Telur Bebek.


Tidak berapa lama, Pasukan Genggam Jagad pimpinan Alma Fatara sudah berada di jalan dekat kebun pisang. Pasukan Pedang Biru semakin ramai bergerak dengan pedang sudah terhunus. Mereka menerobos semak belukar dan berlari kencang di dalam kebun pisang demi menyelaraskan posisi dengan pasukan berkuda.


Dua Tengkorak Putih juga terus bergerak menerobos pepohonan, bahkan berlari merunduk di balik semak belukar.


“Pasukan panah bergerak!” pekik Tengkorak Telur Bebek terkejut, ketika ia melihat pasukan wanita berkuda yang menyandang busur tiba-tiba berkelebat meninggalkan kudanya masing-masing, di saat Pasukan Genggam Jagad sudah memasuki area kaki bukit.


“Mereka pasti menyerang lebih dulu sebelum disergap,” kata Tengkorak Bayang Putih. “Ayo!”


Dua Tengkorak Putih cepat berkelebat maju untuk lebih mendekat.


Set set set …!


“Ak! Ak! Akh …!” jerit sejumlah lelaki bertopeng kain biru yang berada di balik pohon, semak belukar, di balik batu yang ada di sekitar kaki bukit yang berpohon. Mereka tahu-tahu mendapat serangan anak panah yang tidak terduga.


Alis Darah yang turut bergerak bersama pasukannya terkejut.


“Seraaang!” teriak Alis Darah sangat keras saat sudah melihat beberapa anak buahnya tumbang terkena panah dari pemanah gelap. Dia belum tahu bahwa para pemanah itu tidak gelap, tapi justru cantik-cantik.


“Seraaang!” teriak banyak orang bertopeng kain biru dari arah kanan dan kiri jalan di kaki bukit. Ada yang berlarian dan berkelebatan dari tanah tinggi yang berpohon-pohon, ada pula yang menyerang dari sisi kiri yang bermunculan dari tempat persembunyiannya masing-masing.


“Pasukaaan! Tempuuur!” teriak Panglima Besar Anjengan sambil mengangkat tinggi-tinggi pedang pusakanya.


“Pasukan Sayap Laba-Laba, tunjukkan bahwa kita adalah laki-laki!” teriak Panglima Arung Seto sambil cabut pedang juga.

__ADS_1


“Pasukan Sayap Pelangi, jangan tunjukkan bahwa kalian adalah perempuan lemah!” teriak Panglima Nining Pelangi yang langsung menyalakan bara di sepuluh jari-jari hitamnya.


“Hiaaat …!” (RH)


__ADS_2