
*Setan Mata Putih (SMP)*
Bukan hanya Golono yang terkejut melihat para prajurit yang datang berlari terbirit-birit dari arah sungai. Para prajurit dan centeng yang saat itu sedang bekerja di sekitar juga jadi terkejut.
“Dedemit sungai mengamuk!” teriak para prajurit yang datang dengan napas terengah-engah.
“Cemong dibawa dedemit ke dalam sungai!” teriak prajurit yang datang belakangan.
Belum apa-apa, kegaduhan yang tercipta tiba-tiba itu sudah membuat Golono naik pitam.
Plak!
Secara acak, Golono main tampar saja prajurit yang didapatinya paling dekat.
Suara tamparan yang cukup keras itu mengejutkan para prajurit dan centeng. Seketika mereka semua berhenti gaduh, hanya napas mereka yang tidak berhenti keluar masuk, tapi tidak bikin enak.
“Dedemit, dedemit, dedemit! Bicara apa kalian, hah?!” bentak Golono kepada jemaah sekalian.
Tidak ada yang berani berkata untuk menjawab. Mereka lebih dulu takut ditampar daripada mengungkap kebenaran. Wulung selaku pemimpin prajurit juga tidak bisa menjawab, sebab ia juga tidak tahu apa yang terjadi di jembatan.
“Tolooong …! Tolooong …!” teriak seseorang dengan suara yang maksimal, sampai warna suara seraknya terdengar jelas.
Sebelum para prajurit itu ada yang menjawab pertanyaan Golono, tiba-tiba seseorang datang berlari dari kejauhan dan kegelapan. Semua mata seketika dilambungkan ke arah sumber suara di kegelapan. Namun, yang mereka dapati hanya kegelapan, karena cahaya sekian banyak obor tidak menjangkau ke sumber suara, yaitu dari arah sungai.
“Tolooong …!” teriak orang itu lagi, tapi kali ini ia muncul keluar dari hitamnya kegelapan.
Orang yang berpakaian seragam prajurit warna kuning hitam itu berlari terbirit-birit dan terbasah-basah, tapi tidak terkencing-kencing.
“Itu Cemong!” teriak salah satu prajurit yang lebih dulu mengenali wajah ketakutan prajurit yang datang dalam kondisi kuyup.
“Huaaa!” teriak para prajurit dan centeng yang langsung berhamburan menjauh ketika sosok Cemong mendekat. Mereka menghindar karena takut juga.
Ternyata, Cemong datang dengan membawa seekor ular yang menggantung di rambutnya dan ada beberapa ekor ikan yang diuntai dengan tali menggantung di lehernya. Hal itu membuatnya seperti makhluk yang aneh dan menakutkan, lebih menakutkan dari orang gila.
Sing!
Melihat kemunculan Cemong, Golono sampai mencabut pedang dan maju hendak menyerang prajuritnya itu. Buru-buru Wulung selaku pemimpin prajurit cepat menghadang majikannya.
“Jangan, Kang Aden! Itu Cemong, prajurit kita sendiri!” kata Wulung sambil merentangkan kedua tangannya seperti mau menangkap bebek.
“Katanya dia dibawa dedemit sungai, tapi kenapa dia tidak apa-apa?” tanya Golono emosi.
“Biar aku yang mengatasinya, Kang Aden!” kata Wulung, mencoba menenangkan kucing pemarah itu.
“Huh!” dengus Golono, tapi memberi kesempatan kepada Wulung.
Wulung lalu mendatangi Cemong yang masih dalam kondisi panik. Ia menerangi Cemong dengan obor yang dipegangnya. Ternyata, sejumlah ikan yang dikalungkan di leher Cemong masih ada yang bergerak-gerak karena belum mati. Adapun ular setebal beberapa jari, yang menggantung di rambut gondrong Cemong yang terurai, tidak menggigit rambut Cemong, tetapi leher ular itu diikat oleh rambut.
“Apa yang terjadi denganmu, Cemong?” tanya Wulung.
“Anu … eee … aku ditarik dedemit sungai ke dalam air. Lalu aku tahu-tahu sudah terdampar di tanah sungai. Lalu aku berlari ke mari!” jawab Cemong dengan terengah-engah.
“Lau kenapa bisa ada ular diikat di rambutmu dan ikan di lehermu?” tanya Wulung curiga.
“Hah, ular!” sebut ulang Cemong.
__ADS_1
Prajurit yang basah kuyup itu segera memeriksa tubuhnya.
“Aaa!” pekik Cemong terkejut tapi tertahan, saat mendapati ikan-ikan yang menggantung di lehernya, seolah-olah sebelumnya dia tidak sadar bahwa ada ikan di lehernya.
Cemong kembali meraba area belakang badannya. Ia pun memegang badan ular yang sudah mati. Saat dilihatnya ….
“Aaa …! Ulaaar …!” teriak Cemong kencang sambil berlari ke sana ke mari tidak karuan sambil melompat-lompat panik berusaha menjauhi ular tersebut.
Seperti bayangan, ular itu justru terus mengikuti Cemong karena tergantung oleh rambutnya sendiri.
“Singkirkan ularnya, singkirkan!” teriak Cemong.
Set!
Wulung lalu bergerak cepat menghampiri Cemong dan menebas ular yang menggantung di belakang anak buahnya.
“Hahahak …!” tawa terbahak satu suara perempuan tiba-tiba. Namun, sumber suara itu terdengar cukup jauh.
Sangat jelas terdengar bahwa tawa itu sedang menertawakan apa yang terjadi.
Mereka semua segera memandang ke sekitar, mencari-cari wanita pemilik suara.
“Itu pasti dedemit sungainya!” terka seorang prajurit.
“Bukan, itu pasti dedemit jembatannya!” sangkal prajurit yang lain.
“Diam kalian!” bentak Wulung sebelum Golono marah lebih dulu. Lalu perintahnya, “Cepat periksa tempat ini dan cari dedemit itu!”
“Haaah! Cari dedemit?” sebut ulang sejumlah prajurit kompak. Mereka semua tidak langsung bergerak, tapi memilih bertahan karena dihinggapi rasa takut.
Maka, mau tidak mau, para prajurit dan centeng itu bergerak menyebar dalam format berkelompok-kelompok kecil. Jelas mereka takut jika harus bergerak sendiri-sendiri.
Tinggallah Golono, kedua centengnya, Wulung, dan Cemong.
“Kalian berdua, bakarkan ikan itu untukku!” perintah Golono kepada dua pendekar yang mengawalnya.
Kedua pendekar bersenjata kapak dua mata itu bernama Buritan dan Gaeng Lemu. Keduanya bertubuh besar karena agak gemuk. Buritan memelihara brewok yang liar seperti semak belukar. Sedangkan Gaeng Lemu memelihara tiga lembar jenggot, seolah simbol tiga permintaan kepada jin dan jun.
“Wulung, bakar ikan itu untuk Kang Aden Golono!” Buritan justru melemparkan perintahnya kepada Wulung.
“Aku memerintah kalian, bukan dia!” bentak Golono kepada Buritan.
Namun, Buritan dan Gaeng Lemu bukan pendekar ciutan nyali, yang jika dibentak sedikit langsung melempem seperti kerupuk jengkol.
“Wulung lebih pandai dalam membakar ikan. Kami sudah pernah mencuri ikan bakarnya,” kilah Buritan berdusta dengan santai.
“Oh seperti itu,” ucap Golono melunak. Lalu perintahnya kepada Wulung, “Wulung, bakarkan ikan itu. Harus enak!”
“Baik, Kang Aden,” ucap Wulung patuh sambil melirik Buritan yang hanya tersenyum.
Mau tidak ikhlas, Wulung lalu mengambil ikan yang masih ada di leher Cemong.
Sementa itu, para prajurit ngalor ngidul menjelajahi area sekitar, bahkan sampai ke pinggir sungai lagi. Dengan mengandalkan obor, mereka memeriksa semak-semak sampai mencari ke atas-atas pohon. Namun, mereka tidak menemukan satu pun dedemit.
Wulung mulai membakar ikan yang sudah ditusuk dengan batangan kayu bambu kecil. Sementara Cemong duduk di dekat api demi kehangatan yang nyata.
__ADS_1
Di sisi lain, Golono duduk menunggu di kereta kuda.
Bress!
“Janda buluan!” maki Cemong terkejut sambil spontan terlompat mundur menjauhi api.
Beda dengan Wulung, sebagai pemimpin prajurit, dia hanya terlompat mundur sambil tetap memegangi tiga tusukan ikannya yang belum matang.
Hal itu terjadi karena tiba-tiba dari sisi atas ada seguyuran air yang jatuh, menyiram dan memadamkan api unggun kecil tersebut.
Buru-buru keduanya melihat ke langit gelap. Mereka hanya menemukan dedaunan pohon yang terkesan angker dan langit yang berbintang, tapi tidak banyak.
Mendengar teriakan Cemong dan melihat api unggun telah padam, Golono segera memandang ke tempat Wulung dan Cemong berada.
“Ada apa?!” tanya Golono dengan berteriak.
“Ada hujan yang menyiram api!” sahut Wulung.
“Hujan dari Singayam!” maki Golono, karena dia tidak merasakan ada serintik pun hujan yang turun.
Byur!
Tiba-tiba Wulung, Cemong, Buritan, dan Gaeng Lemu melihat Golono yang masih berada di aras kereta kudanya, diguyur oleh seterjunan air dari sisi atas yang gelap.
“Hahahak …!” tawa terbahak Buritan dan Gaeng Lemu. Sementara Wulung dan Cemong hanya menahan tawanya.
Berdiri mematung Golono di kereta kudanya. Sorot matanya yang tajam jelas menunjukkan bahwa dia sangat marah.
“Diam kaliaaan!” teriak Golono penuh kemarahan sambil menunjukkan pedangnya ke arah kedua pendekar centengnya. Tangannya sampai gemetar, bukan karena kedinginan, tetapi karena terlalu hebatnya dia menahan marahnya.
Terdiamlah Buritan dan Gaeng Lemu.
Golono lalu berteriak keras sambil memandang ke atas langit.
“Keluar kau, dedemit keparaaat!”
“Hahahak …!” tawa terbahak satu suara perempuan tanpa terlihat wujudnya. Gaya tawanya seperti bapak-bapak.
Namun kali ini, suara tawa itu tidak jauh, tapi terdengar dekat, walaupun tidak sedekat hatimu.
“Tunjukkan wujudmu, Perempuan Siluman!” teriak Golono semakin kesal.
“Hahaha! Tahu saja kalau aku siluman,” sahut suara perempuan itu sambil tertawa.
“Tunjukkan wajahmu!” teriak Golono lagi. Marahnya tidak ada habisnya.
“Jika aku tunjukkan wajahku, nanti kau pasti akan terpikat. Hahaha!” kata suara itu.
“Cuih! Aku akan sayat-sayat wajah jelekmu!” teriak Golono.
“Hahahak …!” Suara itu justru kian tertawa. Namun kemudian, suara tawa itu terdengar menjauh. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
YUK KUNJUNGI cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan". Bntu like dan komen. Cari di profil, ya.
__ADS_1