
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
“Janji suci kalian saat ini, terutama janji suci tiga pendekar tetua yang sakti, pastinya akan penjadikan Kerajaan Siluman yang sedang aku bangun semakin membesar, juga membuat Pasukan Genggam Jagad semakin kuat. Ketahuilah, Kerajaan Siluman yang aku bangun adalah kerajaan pertama untuk jenisnya, yaitu kerajaan tanpa istana dan tanpa wilayah, tapi memiliki seorang ratu, memiliki pasukan, memiliki rakyat yang terpimpin. Jika kalian berada di wilayah Kerajaan Singayam, maka hiduplah berdamai. Jika kalian hidup di wilayah Kerajaan Jintamani, maka hiduplah berdampingan dengan penguasanya. Lakukan hal yang sama jika kalian tinggal di wilayah penguasa lain. Namun, jika rakyat Kerajaan Siluman ditindas oleh penguasa, maka kita akan melawan jika memang tidak ada jalan damai. Ingat baik-baik dan tanamkan di hati kalian dalam-dalam. Siapa pun orang yang bergabung tunduk di bawah Kerajaan Siluman dan di bawah perintah Ratu Siluman, maka dia adalah saudara satu kerajaan. Haram ada permusuhan di antara abdi Kerajaan Siluman. Haram ada pembunuhan di antara rakyat Kerajaan Siluman!” seru Alma Fatara menyampaikan pidato kenegaraannya yang berapa-api, usai menerima janji suci Perguruan Jari Hitam yang dipimpin Rereng Busa, murid-murid Bulan Emas pimpinan Gudibara, Balito Duo Lido, dan Ketua Bajak Laut Kepiting Batu Cucum Mili. Alma Fatara kemudian berseru keras dengan serius, “Satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan!”
“Satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan!” teriak Anjengan keras penuh emosional karena tergugah semangatnya oleh pidato sang ratu yang tidak menyulut kerusuhan.
“Satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan!” teriak semua orang yang sudah berstatus sebagai abdi dan rakyat Kerajaan Siluman.
Teriakan bersama itu membuat mereka merinding sendiri. Bukan karena ada penampakan atau tahu-tahu mencium aroma daun kamboja, tetapi merinding karena atmosfir semangat yang sudah seperti satu pasukan raksasa.
“Hahaha …!” tawa Alma Fatara yang juga menikmati suasana perkasa itu.
“Ingat itu semua. Satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan!” seru Alma Fatara kembali menekankan. “Jika Perguruan Bulan Emas diserang, maka pasukan dari Perguruan Jari Hitam, perguruan tongkat, perguruan pengemis, pasukan siluman, akan datang ke sini membantu. Jika Perguruan Jari Hitam diserang, maka Perguruan Bulan Emas dan perguruan lain yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Siluman akan pergi ke sana membantu. Itulah satu saudara, satu darah, satu kehormatan, dan satu kejayaan! Apakah kalian paham?”
“Kami paham, Gusti Ratu!” jawab serentak seluruh orang, hingga suara keangkerannya terdengar sampai ke luar.
Tiba-tiba seorang murid datang berlari dari luar Ruang Purnama.
“Lapooor!” teriak murid tersebut sambil berlutut menghormat.
“Katakan!” perintah Alma Fatara.
“Ayam panggang madu Mbah Lawut sudah siaaap!” teriak sang pelapor.
Di dalam hati, sebenarnya Alma Fatara kesal. Di saat ia sedang berpidato berapi-api, tiba-tiba api itu dipadamkan oleh kabar ayam panggang.
“Hari ini kita pesta ayam panggang madu. Bubarlah kalian!” perintah Alma Fatara.
Semua abdi lalu menjura hormat. Sementara Alma Fatara beranjak meninggalkan kursinya. Ia dikawal oleh Mbah Hitam dan empat murid wanita yang mengawal.
“Gusti Ratu meninggalkan Ruang Purnamaaa!” teriak protokol setelah Alma Fatara tiba di pintu belakang tahta.
Mendengar itu, barulah semua abdi itu bangkit dan bubar. Sebagian segera keluar dari Ruang Purnama dan menuju ke tempat makan. Ternyata di ruang makan, tempat murid-murid biasa makan berjemaah, para personel dapur umum sedang bekerja cepat menyajikan ayam panggang madu, lengkap dengan nasi, lalap dan sambalannya.
Jika para murid memiliki tempat makan sendiri, maka Ratu dan para tetua serta para petinggi perguruan juga memiliki ruangan makan sendiri. Jika para murid mendapat jatah separuh ayam untuk satu orang, maka Ratu dan para orang dekatnya mendapat jatah satu ayam utuh untuk satu orang.
Sejak keluar dari Ruang Purnama, Nining Pelangi memantau Arung Seto tanpa berani mendekatinya, karena Arung Seto berbaur bersama Juling Jitu, Geranda, Tampang Garang, dan Gede Angin. Saat itu Nining Pelangi tersenyum-senyum samar sendiri.
__ADS_1
Ketika Arung Seto dan rekan-rekannya baru duduk di satu meja di antara jejeran meja yang panjang, muncul Anjengan dan para sahabat wanitanya yang lain. Mereka bergabung bersama Arung Seto dan lainnya.
Sambil tertawa riang, Gagap Ayu duduk rapat di sisi Arung Seto. Pemuda tampan itu hanya tersenyum, meski menahan risih.
“Hihihihi!” tawa Anjengan, Penombak Manis, Alis Gaib, Kembang Bulan dan Belik Ludah. Bocah Tabib itu ternyata lebih suka bergabung bersama ciwi-ciwi.
“Aaah, sejak Alma menjadi ratu, kita sudah sulit bersenda gurai dengannya,” keluh Anjengan.
“Itu pengorbanan yang harus kita relakan demi kejayaan Kerajaan Siluman yang dicita-citakan oleh Alma,” kata Geranda.
“Be-be-be ….”
“Beluuut?” terka Anjengan dan yang lainnya memotong perkataan Gagap Ayu.
“Hihihi!” Diterka seperti itu, Gagap Ayu bukannya kesal, malah tertawa agak malu-malu.
“Hei, kenapa kau tertawa malu-malu seperti itu saat kita menyebut belut?” tanya Alis Gaib curiga.
“Ka-ka-karena kalian me-me-menyebut be-be-belut. Hihihi!” jawab Gagap Ayu malu-malu, lalu tertawa cekikikan sambil sekali melirik kepada Arung Seto yang duduk rapat di sisi kanannya.
Gestur tubuh Gagap Ayu membuat rekan-rekannya jadi tertawa bersama. Mereka paham arah pikiran wanita mungil itu.
“Ja-ja-ja ….”
“Janda?” terka Geranda.
“Ja-ja-jangan sembarangan!” kata Gagap Ayu.
“Hahaha!” Geranda dan yang lainnya hanya tertawa.
“Eeeh, ayo makan, ayo makan!” kata Penombak Manis.
Sementara itu, Nining Pelangi menghentakkan kaki kanannya di lantai sambil mendengus kesal. Rasa cemburu merasuki hatinya melihat kedekatan Gagap Ayu dengan Arung Seto.
Dengan wajah yang ditekuk, Nining Pelangi pergi bergabung dengan rekan-rekannya sesama murid Perguruan Jari Hitam.
“Kenapa kau, Nining?’ tanya Jernih Mega.
“Tidak apa-apa,” jawab gadis berkepang tiga itu lirih. Ia kemudian bertanya mengalihkan topik, “Di mana Rinai Serintik?”
__ADS_1
Sejenak rekan-rekan Nining Pelangi itu terdiam dan sama-sama mencari di antara ramainya orang di ruang makan yang luas itu. Namun, mereka tidak melihat keberadaan Rinai Serintik.
“Aku akan mencarinya,” kata Nining Pelangi sambil bangkit dari duduknya.
“Kau tidak berminat menikmati hidangan lezat ini?” tanya Brata Ala yang sudah mengunyah makanan yang terhidang.
“Tidak,” jawab Nining Pelangi singkat dan dingin. Ia lalu melangkah pergi.
Brata Ala dan rekan-rekannya hanya bisa memendam heran dan saling pandang.
“Coba lihat di sana!” kata Brata Ala sambil menunjuk dengan pandangannya ke arah sisi lain di ruang beratap tanpa dinding tertutup itu.
Mereka semua memandang ke meja yang ditempati oleh Anjengan cs. Hingga akhirnya mereka bisa menyimpulkan hal apa yang membuat Nining Pelangi bersikap agak aneh, yaitu Arung Seto yang duduk merapat dengan Gagap Ayu dan cukup terlihat mesra dengan tawa yang cair.
Di saat hampir semua orang menikmati lezatnya ayam panggang madu Mbah Lawut, Nining Pelangi pergi mengitari perguruan itu. Tidak berapa lama, akhirnya Nining Pelangi menemukan Rinai Serintik di taman belakang perguruan.
Rinai Serinti agak terkejut ketika tiba-tiba Nining Pelangi sudah datang dari belakang dan langsung duduk di sisi kirinya.
“Apa yang terjadi denganmu, Rinai?” tanya Nining Pelangi datar, setelah menghempaskan napas panjang.
“Hatiku hancur remuk seperti kendi dibanting,” jawab Rinai Serintik dengan suara yang bergetar, sepertinya dia usai menangis.
“Karena Giling Saga?” terka Nining Pelangi.
Rinai Serintik hanya mengangguk. Ia lalu menengok menatap wajah Nining Pelangi. Terlihat sepasang matanya yang memerah.
“Kau sendiri, kenapa tidak bersama yang lainnya makan ayam panggang?” tanya balik Rinai Serintik.
“Aku sedang cemburu. Ternyata Arung Seto sangat dekat dengan si gagap itu,” jawab Nining Pelangi.
“Tapi, sepertinya kau memang datang belakangan di kehidupan Kakang Arung Seto,” kata Rinai Serintik.
“Iya. Namun, aku tidak akan menyerah!” tandas Nining Pelangi. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1