
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Pagi-pagi Tengkorak Api mendapat kiriman pesan melalui telepati khusus dari Tengkorak Sabit Putih. Pemuda tampan itu jadi harus bangun pagi dan menyegarkan diri dengan mandi.
“Posisi pembunuh Tengkorak Pedang Kilat ada di sekitar Bukit Selubung. Kau yang posisinya paling dekat. Cari Ratu Siluman itu dan bunuh!”
Itulah perintah Tengkorak Sabit Putih kepada Tengkorak Api melalui sambungan telepati frekuensi khusus.
“Mau ke mana kau, Tengkorak Api?” tanya seorang wanita yang sedang berada di dapur, ketika melihat putranya keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.
“Kakek Sabit Putih menyuruhku membunuh pembunuh Kakek Pedang Kilat,” jawab pemuda bertelanjang dada itu. Dia meletakkan baju merahnya di bahu kanannya. “Pembunuhnya seorang perempuan, jadi aku harus mandi dan tampil tampan dulu.”
“Bukankah Tengkorak Pedang Kilat mati dalam pertarungan yang adil di Arena Tulang?” kata wanita berambut dikuncir itu. Dia bernama Nirmaya, berjuluk Tengkorak Kaki Pedang. “Ayahmu pasti tidak setuju jika kau terlibat dalam upaya balas dendam untuk kematian Tengkorak Pedang Kilat.”
“Tapi aku tidak bisa menolak perintah Kakek Sabit Putih,” sanggah pemuda berambut ikal gondrong itu.
“Tapi ingat, jangan sampai justru kau yang mati. Ratu Siluman itu bisa membunuh Tengkorak Pedang Kilat, tentunya bisa lebih muda membunuhmu,” pesan Nirmaya mengingatkan.
“Baik, Ibu. Aku akan hati-hati,” kata Tengkorak Api.
Pemuda bercelana hitam itu lalu pergi meninggalkan pondoknya untuk menuju sungai.
Setelah mandi, Tengkorak Api langsung pergi mencari keberadaan rombongan Ratu Siluman.
Ia sempat mencari ke kaki Bukit Selubung. Di sana dia menemukan banyak jejak. Dengan cepat kemudian ia mengejar rombongan pasukan Alma Fatara.
Setelah melakukan pengejaran yang cepat dengan ilmu peringan tubuh yang tinggi, Tengkorak Api akhirnya bisa menyusul rombongan Pasukan Genggam Jagad.
Tanpa sepengetahuan siapa pun dari Pasukan Genggam Jagad, Tengkorak Api hinggap di salah satu pohon besar yang tumbuh di sisi kanan jalan dan agak ke dalam. Dari atas, pemuda itu mengamati pergerakan pasukan di jalan.
Orang yang berjalan paling depan adalah Gede Angin sebagai pembawa bendera dan Penombak Manis sebagai Mata Dewi Kerajaan Siluman. Kemudian Pasukan Sayap Laba-Laba. Barulah kemudian Alma Fatara bersama Cucum Mili, Ineng Santi dan Anjengan.
Di belakang Ratu Siluman berjalan pengawal, yakni Lima Dewi Purnama pimpinan Gagap Ayu.
Setelah itu kereta kuda terbuka yang mengangkut peti-peti harta, termasuk Kulung yang duduk bersandar dengan wajah terlihat tanpa nyawa dan tawanan Rawit Ireng yang kepalanya ditutupi kain, kondisinya pun ditotok dan terikat tali dengan kencang.
Sementara seekor kuda yang berjalan di belakangnya ditunggangi oleh Belik Ludah. Dia seperti pengantin sunat atau seperti Biksu Tong kriting kribo.
Di belakang ada Pasukan Sayap Pelangi yang dikomandani oleh Nining Pelangi.
“Pasti Ratu Siluman ada di antara keempat wanita itu,” pikir Tengkorak Api. “Tapi yang mana?”
Tengkorak Sabit Putih memang tidak memberikan ciri-ciri Ratu Siluman kepada cucunya.
“Eh, bukankah itu Ineng Santi, cucu Kakek Raja Tanpa Gerak? Seingatku, dia itu tertarik kepadaku, tapi aku pura-pura tidak menangkap maksud dari tatapannya,” kata Tengkorak Api di dalam hati.
Seet! Teb!
Tiba-tiba satu anak panah melesat yang mengejutkan Tengkorak Api. Pasalnya, anak panah itu menargetkannya. Dengan sigap, Tengkorak Api berkelebat menghindar.
Tengkorak Api memang selamat dari anak panah yang menancap di batang pohon, tetapi dia jadi ketahuan oleh Alma Fatara dan pasukannya.
“Siapa kau!” teriak Aliang Bowo sebagai orang yang pertama bereaksi.
Seet!
Dia cepat berkelebat sambil melesatkan sinar biru berwujud jala untuk menjerat sosok asing yang ketahuan mengintai mereka.
Wuss!
Tengkorak Api cepat melepaskan satu gelombang angin pukulan yang menghempaskan jala sinar biru itu.
__ADS_1
Seet!
Kembali satu anak panah dilepaskan oleh Janda Belia menyerang Tengkorak Api. Namun, kembali dengan gesit pemuda itu melompat menghindar.
Janda Belia yang merupakan bagian dari Pasukan Sayap Panah Pelangi, berada dalam posisi sebagai pasukan bayangan ketika melihat keberadaan Tengkorak Api yang mengintai.
Anggota Pasukan Sayap Panah Pelangi yang lain segera bermunculan dan melesatkan beberapa anak panah kepada Tengkorak Api.
Set set set!
Kembali dengan gerakan yang keren di udara, Tengkorak Api menghindari serangan anak panah yang cepat.
“Berhenti!” teriak Ineng Santi tiba-tiba, setelah mengenali siapa pemuda berpakaian merah itu.
Para personel Pasukan Sayap Panah Pelangi jadi menghentikan bidikannya. Aliang Bowo dan Kalang Kabut yang ingin menyerang, jadi menahan diri.
“Kau mengenalnya, Kak Ineng?” tanya Alma Fatara.
“Eh, iya,” jawab Ineng Santi sambil tersenyum malu sendiri tanpa diminta.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat reaksi Ineng Santi. Lalu perintahnya kepada pasukannya, “Tahan serangan!”
Pasukan Genggam Jagad pun menghentikan langkahnya dan maksud serangannya.
“Panglima, urus pemuda itu, siapa tahu jodohnya Kak Ineng!” perintah Alma Fatara.
Perkataan Alma Fatara kembali membuat Ineng Santi tersenyum malu.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.
Panglima Besar itu lalu melompat dan berlari menginjaki bahu dan kepala para lelaki untuk sampai di hadapan Tengkorak Api.
“Ku-ku-kurang sopan!” maki Gagap Ayu mengikuti makian itu seorang diri.
Namun, kali ini tidak ada yang tersenyum mendengar kegagapan Gagap Ayu. Kali ini perhatian mereka sedang fokus kepada Tengkorak Api, khususnya kau wanita.
“Siapa kau?” tanya Anjengan.
Karena sudah ketahuan basah, Tengkorak Api pun menjawab dengan jujur.
“Aku Tengkorak Api.”
“Oh, Anggota Kelurga Tengkorak,” ucap Anjengan sambil manggut-manggut tanda mengerti. “Apa niatanmu?”
“Aku ingin membalas kematian Tengkorak Pedang Kilat!” jawab Tengkorak Api.
“Kurang sopan!” bentak Anjengan.
“Kurang sopan!” bentak sebagian pasukan mengikuti.
Bentakan berjemaah itu membuat Tengkorak Api tersentak kaget. Ingin rasanya tertawa, tapi takut dosa.
“Apakah kau tidak melihat begitu banyak pengawal Gusti Ratu?” tanya Anjengan dengan mata mendelik-delik.
“Aku ingin pertarungan yang adil melawan Ratu Siluman!” seru Tengkorak Api.
“Mundurlah, Kakak!” perintah Alma Fatara yang tahu-tahu keluar dari balik punggung Anjengan.
Pertunjukan kecil Alma Fatara itu membuat Tengkorak Api sedikit terbeliak. Terbeliak karena tidak menyangka Ratu Siluman akan muncul dari balik punggung Panglima Besar, terbeliak karena bisa melihat jelas kejelitaan sang ratu.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.
__ADS_1
Anjengan lalu berbalik dan pergi menghadap kepada pasukannya dan berteriak.
“Pasukaaan, siapa kitaaa?” teriaknya.
“Pasukan Genggam Jagad!” teriak pasukan itu, lagi-lagi membuat Tengkorak Api agak terkejut.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.
“Hua hua hua!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Wik wik wik wik wik!”
“Hahaha …!” teriakan yel-yel ramai itu diakhiri dengan tawa.
“Istirahat!” teriak Anjengan memberi perintah.
“Asiiik!” ucap sejumlah pendekar bernada senang.
Pasukan itu lalu bergerak bebas ke pinggir jalan dan duduk santai di mana saja. Tinggallah Alma Fatara dan Tengkorak Api yang berdiri berhadapan.
“Apa yang Kakang inginkan selain kematianku?” tanya Alma Fatara.
“Tidak ada,” jawab Tengkorak Api secukupnya.
“Aku bersama Kakak Ineng Santi yang jatuh hati kepadamu. Apakah kau mau menjadi pembunuh di depan matanya?”
“Aku tidak jatuh hati padanya,” sangkal Tengkorak Api.
Beruntung Ineng Santi berposisi cukup jauh dari pertemuan itu, sehingga dia tidak mendengar kata-kata Tengkorak Api yang mungkin akan menyakiti hatinya.
“Bagus. Berarti aku bisa menjodohkan Kakak Ineng kepada pemuda yang lebih baik darimu,” kata Alma Fatara. “Apakah Kakang ingin sampai mati di tanganku, atau ingin tetap hidup?”
“Sombong!”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
“Hahahak …!” tawa Tengkorak Api saat melihat keompongan Ratu Siluman di depannya. Dia sangat tidak menyangka bahwa Ratu Siluman adalah gadis belia yang lucu. Didukung oleh pasukan yang juga lucu.
“Kau membunuhku pun tidak masalah,” kata Tengkorak Api mantap jiwa.
“Aku sudah berjanji kepada seseorang tidak akan membunuh Anggota Keluarga Tengkorak, kecuali satu orang yang menjadi dalang perbuatan licik,” tandas Alma Fatara.
“Siapa orang yang kau maksud?” tanya Tengkorak Api.
“Hahaha! Mau tahu saja,” kata Alma Fatara. Lalu katanya lagi, “Silakan!”
Bruss!
Tengkorak Api langsung menghentak pelan kedua lengannya. Maka seketika itu, kedua tangan pemuda itu diselimuti api kuning.
“Hahaha! Kau tidak akan menang dengan cara itu,” kata Alma Fatara mulai mengintimidasi lawan lewat sesumbarnya.
“Sombong!” pekik Tengkorak Api mulai berang dengan peremehan gadis belia di depannya.
“Buktikan saja! Hahaha!” kata Alma Fatara.
Tidak peduli sejelita apa Alma Fatara, tapi yang jelas suara tawanya itu membuat Tengkorak Api merasa diremehkan.
“Terkejutlah, Ratu Siluman!” pekik Tengkorak Api sambil melesat ke depan dengan kecepatan tinggi dan mengagresikan kedua tangan berapinya, yang tidak membakar pakaian dan kulitnya. (RH)
__ADS_1