Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 16: Berita Mengejutkan dari Singayam


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


“Aku harus menghabiskan masa berkabungku atas kematian istriku, aku pun tidak bisa melangsungkan pernikahan selagi tahta Singayam dikuasai oleh pemberontak,” kata Pangeran Sugang Laksama yang masih memegangi tangan kanan Cucum Mili.


Terkejut Alma Fatara dan Pasaukan Genggam Jagad yang mendengar perkataan Pangeran Sugang Laksama.


“Pangeran Derajat Jiwa telah memberontak dan merebut tahta, Gusti Ratu,” kata Panglima Ragum Pangkuawan.


“Bagaimana bisa? Bukankah kesaktian Pangeran Derajat Jiwa tidak begitu tinggi dan pengaruhnya tidak sekuat dirimu, Kakang?” tanya Alma Fatara serius.


“Derajat Jiwa telah mencuri pusaka Keris Pemuja Bulan, membuat kesaktiannya tidak terkalahkan,” jelas Pangeran Sugang Laksama.


“Hua hua hua,” ucap Alma Fatara mengerti.


Sementara Anjengan yang tahu tentang Keris Pemuja Bulan jadi terkesiap mendengar hal itu.


“Panglima Besar, istirahatkan pasukan!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan.


Wanita berbadan makmur itu lalu berbalik menghadap kepada pasukannya.


“Pasukaaan, istirahaaat!” teriak Anjengan lantang dan panjang.


Pasukan Genggam Jagad pun pada bergerak untuk mencari tempat duduk yang nyaman.


“Aku akan setia menunggu Kakang sampai tahta Kerajaan Singayam kembali. Aku bisa menunggu bertahun-tahun lamanya selama ini, maka aku pun bisa menunggu lebih lama lagi,” kata Cucum Mili dengan nada ikhlas.


Mendengar kata-kata wanita yang usianya lebih tua itu, tersentuh hati Pangeran Sugang Laksama. Terenyuh hatinya. Jiwa kasihnya terasa ingin menangis dan meraung-raung karena mendapati kesetian cinta Cucum Mili.


Pangeran Sugang Laksama lalu tanpa sungkan maju merapat kepada tubuh Cucum Mili dan mengecup dahi wanita bercadar itu. Alangkah bahagianya Cucum Mili mendapat cap bibir putra mahkota.


Setelah itu, Pangeran yang berjuluk Pendekar Pedang Dedemit tersebut, beralih kepada Alma Fatara.


“Sebagian besar panglima sudah tunduk di bawah perintah Derajat Jiwa. Lima Kadipaten sekeliling Ibu Kota sudah tunduk di bawah kuasa pemberontak. Senopati Geruduk Ati sedang menyusun kekuatan di selatan,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Apakah Kakang ingin meminta bantuanku yang hanya beberapa kepala ini?” tanya Alma Fatara.

__ADS_1


“Benar,” jawab Pangeran Sugang Laksama.


“Raden Runok Ulung telah memberi tahu kami. Gusti Ratu satu-satunya orang yang telah menyerap banyak kekuatan Keris Pemuja Bulan. Keris itu hilang sebelum Gusti Prabu Manggala Pasa naik tahta. Jadi, hanya Gusti Ratu satu-satunya orang yang bisa mengalahkan kekebalan Pangeran Derajat Jiwa,” ujar Ragum Pangkuawan.


“Apakah kalian akan melakukan perang saudara?” tanya Alma Fatara.


“Itu tidak bisa dihindari,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Akan ada banyak korban,” kata Alma Fatara.


“Semakin cepat merebut Keris Pemuja Bulan atau melumpuhkan Derajat Jiwa, maka korban semakin sedikit,” kata Riring Belanga yang sejak tadi hanya diam.


“Sebenarnya aku dan pasukanku sedang menuju Jintamani karena aku sudah mendapatkan petunjuk tentang orangtuaku. Namun, itu tidak mendesak. Hal ini bisa kita rundingkan lebih serius,” kata Alma Fatara. Ia lalu menengok ke belakang, “Kakang Badak, ke marilah!”


Agak terkejut Badak Ireng yang dalam posisi menunggu sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya. Namun, dia segera datang mendekat.


“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran,” ucap Badak Ireng sambil turun menghormat layaknya seorang abdi.


“Kau siapa, Kisanak? Kau terlihat terluka parah,” tanya Pangeran Sugang Laksama.


“Hamba Badak Ireng, Panglima Pasukan Kadipaten Gulangtara,” jawab Badak Ireng.


“Bangunlah!” perintah Pangeran Sugang Laksama.


“Benar, Gusti Pangeran. Tambang emas milik Kadipaten di Gua Ular telah direbut oleh Wulan Kencana dan sekutunya,” kata Badak Ireng setelah berdiri tegak.


“Bukankah Wulan Kencana sedang berada di dalam Candi Alam Digdaya?” tanya Riring Belanga.


“Seharusnya demikian, tapi sepertinya nenek itu sedang beruntung,” kata Alma Fatara.


“Kadipaten Gulangtara sangat kaya. Kita membutuhkan banyak biaya untuk membangun pasukan yang kuat. Kita harus mengambil pasukan kadipaten yang belum berada di bawah perintah Pangeran Derajat Jiwa,” kata Ragum Pangkuawan.


“Maaf, Gusti Ratu!” ucap Kalang Kabut yang datang menghadap. “Tenda peristirahatan sudah didirikan.”


Alma Fatara melemparkan pandangannya ke arah lain. Dilihatnya tenda darurat telah didirikan atas perintah Anjengan. Tenda itu hanya berupa atap kain yang berdiri di empat tonggak kayu, tenda yang berfungsi untuk berteduh dari panas sang mentari.


“Kita bicara di sana, Kakang, Paman,” kata Alma Fatara.


“Baik.”

__ADS_1


“Panglima Besar, perintahkan Bocah Tabib untuk mengobati Kakang Badak sebentar, agar ia lebih bersemangat menjalani hidup. Hahaha!” perintah Alma Fatara.


“Baik,” ucap Anjengan.


Panglima Besar pun mengantar Badak Ireng pergi menemui Belik Ludah yang pastinya akan memberinya getokan yang mantap.


Alma Fatara dan ketiga pejabat dari Kerajaan Singayam beralih pindah ke bawah tenda. Di sana mereka duduk di atas rumput beralaskan kain, bukan karpet.


“Sepertinya kita perlu berbelanja untuk perlengkapan semacam ini,” kata Alma Fatara mengomentari terlalu sederhananya tenda itu.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Anjengan.


Tenda itu dijaga oleh Anjengan, Gagap Ayu dan keempat murid Wulan Kencana. Mereka berdiri di sekeliling tenda. Hanya Cucum Mili yang menemani Alma Fatara duduk bersama para tamu.


“Aku sarankan, kita selesaikan dulu permasalahan tambang emas di Gua Ular. Setelah itu, paksa Adipati Abirmeta membantu dengan hartanya yang banyak. Aku dengar kabar angin bahwa dia mengambil lebih banyak emas daripada yang dikirimkan ke Istana,” kata Alma Fatara.


“Baiklah,” sepakat Pangeran Sugang Laksama. “Tapi, apakah Gusti Ratu akan ikut terlibat?”


“Aku hanya akan berhadapan dengan Nenek Wulan Kencana, yang besar-besar urusan kalian. Pasukanku akan mengurus yang kecil-kecil,” jawab Alma Fatara.


“Baiklah,” kata Pangeran Sugang Laksama.


“Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari, Sukma Senja!” panggil Alma Fatara kepada empat anggota Lima Dewi Purnama.


“Hamba, Gusti Ratu!” ucap keempat wanita cantik itu setelah berbalik menghadap kepada pusat tenda.


“Aku akan bertarung melawan guru kalian. Jika kalian ingin membantu guru kalian, aku tidak akan mempermasalahkan. Namun aku sarankan, kalian lebih baik bersikap tidak memihak,” ujar Alma Fatara.


“Kami tidak akan memihak kepada Gusti Ratu atau kepada Guru Wulan,” jawab Jing Menari mantap yang diangguki oleh ketiga rekannya.


“Baiklah,” kata Alma Fatara.


Alma Fatara lalu beralih kembali kepada Pangeran Sugang Laksama.


“Lalu bagaimana kondisi Prabu Manggala Pasa?” tanya Alma Fatara.


“Ayahanda Prabu dan keluarga yang lain dipenjara di Penjara Kerak Bumi. Selain membunuh istri dan ayah mertuaku, Derajat Jiwa juga membunuh para pejabat yang menentangnya.”


“Lalu bagaimana dengan kekuatan pasukan yang Kakang miliki?” tanya Alma Fatara.

__ADS_1


“Selain pasukan yang dibawah oleh Senopati Gruduk Ati, kami sedang mengumpulkan pasukan-pasukan kadipaten. Namun, jumlahnya masih jauh dari pasukan Kerajaan,” jawab Pangeran Sugang Laksama.


“Baik, pasukanku akan membantu menggulingkan Pangeran Derajat Jiwa. Aku akan memerintahkan Perguruan Bulan Emas dan Jari Hitam untuk mengirimkan murid-muridnya ikut berperang,” kata Alma Fatara. (RH)


__ADS_2