Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
SMP 21: Kondisi Hati yang Rumit


__ADS_3

 *Setan Mata Putih (SMP)*


 


Karena Gede Angin terjatuh di badan bukit dan membutuhkan perawatan pada luka di paha kirinya yang terkena panah, Arung Seto terpaksa naik ke puncak seorang diri.


Ketika Arung Seto tiba di puncak, dia berhenti sejenak untuk memerhatikan kondisi di sana. Setelah melihat keberadaan Alma Fatara dan yang lainnya, ia pun berjalan sewajarnya menuju ke pondok Raja Tanpa Gerak.


Ketika Arung Seto separuh jalan, ia melihat pintu di rumah yang sedikit lebih kecil terbuka.


Di ambang pintu bambu itu terlihat berdiri seorang gadis berpakaian putih dengan garis tepian warna kuning. Lagi-lagi seperti warna telor rebus dibelah tengah. Gadis itu terlihat begitu cantik dengan warna kulit yang putih bersih dan sejuk dipandang mata.


Deg!


Melihat kemunculan sosok lawan jenis yang begitu bercahaya, seketika jantung Arung Seto tersakiti. Putra sulung adipati itu tersakiti bukan karena serangan jantung mendadak lantaran penyempitan pembuluh darah, tetapi sakit karena saat ini dia sedang tersandera oleh cinta Nining Pelangi.


Gadis berambut terurai di bahu dan dada kirinya itu benar-benar menggugah perasaan jiwa muda Arung Seto.


Jika dia dan mendiang adiknya pernah terpanah oleh kecantikan Alma Fatara, kini dia seolah merasakan kondisi yang terulang kembali, tapi dengan gadis yang berbeda dan lebih dewasa dibandingkan Ratu Siluman yang suka tertawa itu.


Gadis cantik jelita itu melangkah menuruni tangga pondok lalu berjalan menuju ke rumah Raja Tanpa Gerak.


Jika Arung Seto berjalan menuju ke arah barat, maka gadis itu berjalan menuju ke arah selatan, tapi sama-sama menuju ke satu tempat. Jarak tempuh kaki mereka pun seimbang.


Berulang kali keduanya memandang ke arah teras, di mana Raja Tanpa Gerak masih berbincang-bincang dengan para tamunya, tetapi berulang kali pula keduanya saling memandang dan beradu pandang. Meski keduanya tanpa menggelar senyum manis, walau hanya setipis benang, tetapi hati dan pikiran keduanya saling mengagumi.


Ketika masih jauh, gadis berpakaian putih itu terlihat sangat cantik di mata Arung Seto. Namun, ketika jarak semakin dekat, kecantikan gadis itu tambah memikat di mata Arung Seto dan menimbulkan debaran yang asik.


“Hormat hamba, Gusti Ratu!” ucap Arung Seto ketika tiba di depan teras sambil turun menjura hormat kepada Alma Fatara.


“Kakek!” sapa wanita cantik berkulit bersih dan mulus itu. Terlihat jelas kehalusan kulit wajahnya yang seolah tidak pernah digigit nyamuk. Ia menyebut Raja Tanpa Gerak dengan sebutan ‘Kakek’. Itu artinya dia tidak lain adalah Ineng Santi, cucu Raja Tanpa Gerak yang sebelumnya ingin dilamar oleh Golono.


Alma Fatara sengaja membiarkan Arung Seto lebih dulu dalam kondisi menghormat. Ia lebih tertarik untuk melihat Ineng Santi.


“Ineng, menghormatlah kepada Ratu Siluman!” perintah Raja Tanpa Gerak seraya tersenyum kepada cucunya itu.


Ineng Santi yang sudah naik ke teras lalu turun berlutut dan menjura hormat kepada Alma Fatara.


“Hormat sembah hamba, Gusti Ratu,” ucap Ineng Santi menghormat.


“Bangunlah, Kakak!” ucap Alma Fatara dengan menyebut Ineng Santi ‘Kakak’ karena usia Ineng Santi beberapa tahun lebih tua.


Anjengan tiba-tiba mencolek lutut Alma Fatara. Ratu itu menengok kepada kakak angkatnya yang langsung memberi kode mata menunjuk Arung Seto.


“Oh. Hahaha!”

__ADS_1


Tersadarlah Alma Fatara lalu tertawa terbahak-bahak.


“Bangunlah, Kakang Arung! Hahaha!” perintah Alma Fatara lalu tertawa.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto lalu bangkit berdiri.


“Maafkan aku, Kakang. Aku terpesona oleh kecantikan cucu Kakek Raja, sama seperti Kakang yang terpesona terhadap kecantikannya,” kata Alma Fatara yang membuat Arung Seto terkejut.


Pemuda itu jadi agak salah tingkah ketika ia memergoki Ineng Santi memandanginya. Ujung-ujungnya, Arung Seto hanya bisa menelan ludahnya sendiri.


“Hehehe!” Raja Tanpa Gerak hanya terkekeh.


Sementara Ineng Santi yang kini duduk bersimpuh di antara mereka, hanya tersenyum setengah malu.


“Naiklah dan duduk di sini, Anak Muda!” panggil Raja Tanpa Gerak. “Temani aku menghadapi para wanita ini. Hehehe!”


“Aku … aku di sini saja, Tetua. Aku tidak mau bertindak lancang,” kata Arung Seto yang berdiri dengan wajah agak merunduk.


“Naiklah, Kakang Arung. Agar aku bisa menerima laporanmu,” kata Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto patuh.


Ia pun berjalan ke tangga bambu, lalu naik ke teras yang hanya setinggi pinggang. Ia lewat di dekat Ineng Santi untuk duduk di sisi Raja Tanpa Gerak. Ia bisa mencium harum tubuh gadis cantik yang kini terlihat jelas kecantikannya, seolah sempurna dengan rambut alis mata yang rapi tersusun melengkung.


Arung Seto lalu duduk di sisi Raja Tanpa Gerak.


Ketika menyebut ‘Anak Muda’, Raja Tanpa Gerak menyentuh lutut Arung Seto.


“Ini adalah cucu kesayanganku yang bernama Ineng Santi,” kata Raja Tanpa Gerak memperkenalkan.


Ineng Santi kembali tersenyum kepada semuanya, termasuk kepada Arung Seto, membuat pemuda itu serasa ingin buru-buru ke kamar kecil, agar bisa menghayal habis-habisan.


“Lalu siapa namamu, Anak Muda?” tanya Raja Tanpa Gerak yang secara tidak langsung saling memperkenalkan Arung Seto dengan cucunya.


“Namaku Arung Seto, Tetua,” jawab Arung Seto dengan gestur tubuh yang begitu hormat, santun dan merendah.


“Siapa nama ayahmu?” tanya Raja Tanpa Gerak lagi dengan lembut.


“Adipati Adya Bangira, Tetua. Ayahku Adipati Kadipaten Balongan,” jawab Arung Seto lengkap.


“Oooh. Hehehe!” kekeh Raja Tanpa Gerak. “Bagaimana bisa, putra penguasa menjadi abdi seorang Ratu Siluman?”


“Gusti Ratu Alma Fatara bukan sekedar pendekar dan ratu, tapi juga seorang penyelamat ribuan nyawa,” jawab Arung Seto.


“Hahaha! Untung kau memuji Gusti Ratu. Jika tidak, Gusti Ratu pasti akan mengirim kau pulang kepada kedua orangtuamu, Kakang!” celetuk Anjengan.

__ADS_1


“Hahaha!” tawa Alma Fatara.


“Se-se-sepertinya akan ada ga-ga-ga ….”


“Gajah?” terka Penombak Manis memotong kata-kata Gagap Ayu.


“Bu-bu-bukaaan!” bentak Gagap Ayu kepada Penombak Manis. “Ga-ga-gadis yang bu-bu-bu ….”


“Bunting?” terka Anjengan dan Penombak Manis bersamaan, lagi-lagi memotong kata-kata Gagap Ayu.


“Hahahak!” tawa terbahak Alma sendiri di saat yang lainnya menahan tawa.


“Ga-ga-gadis bunuh diri!” kata Gagap Ayu akhirnya, membuat Alma Fatara berhenti tertawa.


Mereka yang menahan tawa pun jadi penasaran.


“Siapa yang akan bunuh diri?” tanya Penombak Manis cepat.


“Nini Nining Pelangi! Hihihi …!” jawab Gagap Ayu lancar jaya, lalu tertawa terkikik.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan yang lainnya, kecuali kedua lelaki itu dan Ineng Santi.


“Apa yang kalian tertawakan, sedangkan aku tidak mengerti?” tanya Raja Tanpa Gerak.


“Ini perkara rumit, Kek. Lebih baik Kakek Raja tidak perlu tahu. Aku khawatir akan timbul masalah yang tidak perlu. Hahaha!” jawab Alma Fatara. Lalu tanyanya kepada Ineng Santi, “Apakah Kakak Ineng Santi sudah punya kekasih, atau suami?”


“Aku tidak memiliki kekasih ataupun suami,” jawab Ineng Santi.


“Sulit aku percaya jika permata seindah ini tidak didamba oleh mimpi para lelaki,” ujar Alma Fatara.


“Banyak lelaki yang menginginkan Ineng Santi menjadi istrinya, bahkan seorang raja. Namun, mereka semuanya terhalang olehku. Hehehe!” Yang menjawab justru sang kakek.


“Aku jadi penasaran, Kek. Apakah Kakak Ineng hanya menuruti pilihan Kakek atau dia memiliki seorang lelaki pujaan hati yang menjadi penghias mimpi?” tanya Alma Fatara yang memiliki maksud terselubung.


“Hehehe! Sepertinya, kondisinya memang rumit,” kata Raja Tanpa Gerak yang didahului dengan kekehannya.


“Sebenarnya aku punya seorang dambaan hati, tapi pemuda itu tidak pernah tahu bahwa aku mendambanya,” ungkap Ineng Santi.


“Ternyata, benar-benar rumit,” ucap Alma Fatara.


“Ya, benar-benar rumit,” kata Penombak Manis yang didukung anggukan wajah Anjengan.


“Kakang Arung, lebih baik Kakang sampaikan apa yang ingin dilaporkan,” kata Alma Fatara mengalihkan topik pembicaraan.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto patuh. Dia pun kemudian menjabarkan apa yang harus dilaporkan. (RH)

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.


__ADS_2