Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Dewa Gi 21: Mengantar Wulan Kencana


__ADS_3

*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*


 


Nenek Muka Kelam alias Wulan Kencana harus sabar mengikuti Yono yang menjadi penunjuk jalannya.


Dulu, ketika Wulan Kencana pertama kali masuk ke Candi Alam Digdaya, dia harus berjuang keras menaklukkan Gerbang Putri, Gerbang Pangeran, sehingga dia memilih menyerah di Gerbang Ratu.


Saat dia masuk tanpa menggunakan jasa penunjuk jalan, dia harus menghabiskan waktu satu pekan di dalam Gerbang Putri, tiga pekan tersesat di dalam Gerbang Pangeran dan satu bulan baru bisa keluar dari Gerbang Ratu. Ia kemudian memilih tidak masuk ke Gerbang Raja yang pastinya lebih sulit dari tiga gerbang sebelumnya.


Namun, dengan dipandu oleh orang Tikus Belukar, ia bisa melewati Gerbang Putri dan Gerbang Pangeran hanya dengan hitungan beberapa jam saja. Bahkan tidak sampai satu hari, mereka sudah berada di dalam Gerbang Ratu.


Jalan yang ditempuh oleh Yono, tidak jauh berbeda dengan yang ia lalui dulu. Hanya saja, jalan yang dipilih oleh Yono seolah sudah terumus.


“Kenapa orang-orang Tikus Belukar bisa menghapal jalan dalam hutan setiap gerbang?” tanya Wulan Kencana.


“Kami tidak menghapal jalan, tapi kami mengenali tanda. Setiap hari, jalan-jalan di dalam hutan semua gerbang berubah. Jalan hari ini tidak sama dengan jalan besok hari,” jawab Yono.


“Bagaimana kalian bisa mengenali tanda-tandanya?” tanya Wulan Kencana lagi.


“Itu hasil dari pembelajaran yang bertahun-tahun dari ketua kami. Dan itu rahasia bagi orang di luar Tikus Belukar,” ungkap Yono.


Saat itu keduanya sedang berjalan di jalan setapak yang kanan kirinya diapit ilalang setinggi bahu Wulan Kencana dan seatas kepala Yono.


Pada satu titik, mereka keluar dari jalan setapak itu dan pandangan mereka bisa lebih luas. Ternyata mereka berada di atas bibir jurang. Di sisi kanan adalah jurang yang bisa melihat kondisi hutan berkabut yang ada jauh di bawah.


“Lihat itu, Nek!” Yono menunjuk jauh ke hutan bawah.


Wulan Kencana melihat jauh ke bawah. Di balik kabut yang menyelimuti hutan di bawah, terlihat ada beberapa orang berpakaian kuning yang bergerak.


“Mereka itu adalah murid-murid Perguruan Bulan Emas. Mereka masuk tanpa pemandu jalan, jadi mereka harus menderita ketersesatan yang lama di dalam hutan. Namun, mereka termasuk cepat, dalam kurang dari dua pekan, mereka sudah bisa masuk ke Gerbang Ratu ini,” kata Yono, tanpa sadar bahwa ia sedang membawa guru dari orang-orang berseragam kuning itu.


“Ayo kita lanjutkan perjalanan!” ajak Wulan Kencana.


“Baik, Nek,” ucap Yono. Ia lalu berjalan kembali ke arah kiri, yaitu ke arah ilalang yang tingginya melampaui kepala Wulan Kencana.

__ADS_1


Srek!


Sangat jelas bahwa pada dinding ilalang itu tidak ada jalan, tetapi Yono menyibak ilalang tersebut dan masuk ke dalamnya hingga hilang tertutupi kembali oleh ilalang yang merapat.


Wulan Kencana cukup terkejut. Ia buru-buru ikut masuk, khawatir ia ketinggalan oleh Yono dan tahu-tahu terpisah.


Setelah menerobos rapatnya rumput ilalang besar itu, mereka keluar sejenak di alam terbuka lalu masuk ke dalam sebuah gua yang gelap tanpa pencahayaan, kecuali sedikit cahaya pada mulut gua.


“Jika jalannya seperti ini, bagaimana bisa orang yang tanpa pemandu keluar dengan cepat,” kata Wulan Kencana.


“Dulu, Nenek Muka Kelam bisa masuk sampai gerbang mana?” tanya Yono sambil terus berjalan dalam gelap. Meski tanpa penerangan, mereka berdua tetap bisa melihat jalan meski samar.


“Aku menyerah setelah keluar dari Gerbang Ratu. Uhhuk uhhuk!” jawab Wulan Kencana lalu terbatuk dua kali. “Jika aku tidak menggunakan pemandu, aku bisa mati lebih dulu sebelum aku menemukan obat.”


Tidak berapa lama Yono dan Wulan Kencana keluar ke alam terbuka seperti savana berumput pendek. Di seberang savana itu ada lima gapura terbuat dari batang-batang pohon. Mereka berjejer yang dipisahkan oleh bongkahan-bongkahan batu raksasa.


“Jika tanpa pemandu, kau memilih gapura yang mana, Nek?” tanya Yono sambil terus berjalan menuju ke gapura di depan sana.


“Gapura paling kiri,” jawab Wulan Kencana.


“Salah. Gapura itu akan membawamu kembali ke Gerbang Putri. Yang benar adalah gapura di sebelahnya,” kata Yono.


“Candi Alam Digdaya ini seperti alam siluman. Jangan heran dengan segala keanehannya,” jelas Yono.


Tidak berapa lama, mereka berdua akhirnya tiba di depan kelima gapura. Tanpa ragu, Yono pergi masuk ke gapura kedua dari sisi kiri. Yang pasti, ada tanda khusus yang dikenali oleh Yono sehingga ia tahu jalan mana yang benar.


Setelah melalui lorong pendek, jalan mereka berwujud jalan hutan biasa yang sedikit berselimut kabut putih.


Setelah jalan itu, mereka kembali menemukan tebing batu yang cukup tinggi. Mereka masuk ke sebuah celah tebing. Ketika mereka menelusurinya, jalur celah tebing itu melengkung terus, seolah melingkar. Ada banyak lubang-lubang pintu pada dinding sebelah kanan.


Setelah melalui dua belas lubang pintu, pada lubang ketiga belas, Yono masuk, keluar dari jalur celah tebing. Wulan Kencana hanya mengikuti.


Ternyata, semasuknya mereka ke dalam lubang, mereka harus menuruni tangga yang berbahaya. Pada sisi kiri tangga adalah dinding yang rata ke atas, sementara di sisi kanan adalah jurang gelap. Pada dinding ada obor-obor batu kecil yang menjadi penerang remang-remang bagi tangga.


Wulan Kencana yang sedang terluka parah harus melangkah berhati-hati, karena lebar tangga hanya cukup untuk berdirinya dua orang. Ia tidak boleh lalai, oleng sedikit, bisa-bisa jatuh ke jurang batu yang gelap.

__ADS_1


“Hati-hati, Nek!” pesan Yono yang tidak disahuti oleh Wulan Kencana.


Ketika keduanya terdiam, suasana berubah hening. Hanya suara ketukan tongkat bambu Wulan Kencana pada tangga yang terdengar.


Di anak tangga terakhir, mereka harus berhenti. Kini mereka dihadapkan dengan dua pintu batu yang di dalamnya bercahaya sangat terang, menyilaukan. Pintu yang kanan bercahaya putih dan pintu yang kiri bercahaya hijau.


“Kita sudah sampai, Nek. Kau tinggal masuk, maka kau akan keluar dan selanjutnya kau harus berjuang sendiri di Gerbang Raja,” kata Yono.


“Pintu yang mana?” tanya Wulan Kencana.


“Yang mana saja. Keduanya sama-sama ke Gerbang Raja. Sebenarnya Gerbang Raja memiliki dua pintu masuk. Silakan. Tugasku hanya sampai di sini, Nek.”


“Baiklah,” ucap Wulan Kencana lalu berjalan maju sendiri. Dia memilih untuk masuk ke pintu bercahaya hijau.


Akhirnya Wulan Kencana pergi menghilang ke dalam cahaya. Tanpa berpikir panjang, Yono segera berbalik dan menaiki tangga.


Setelah mengantar pelanggan jasa sampai keluar dari Gerbang Ratu, Yono harus kembali keluar dari Gerbang Ratu lewat pintu masuk, lalu melewati Gerbang Pangeran dan terakhir melewati Gerbang Putri.


Sekeluarnya dari Gerbang Putri, hari sudah malam. Seorang gadis berpakaian kuning yang membawa obor logam muncul menghadang Yono.


“Ada apa Semanis Madu?” tanya Yono lebih dulu kepada wanita yang dikenalnya itu.


“Penjaga Candi memerintahkan aku untuk memberitahumu satu hal yang mungkin belum kau ketahui,” jawab gadis cantik berwajah manis yang adalah Semanis Madu, salah satu wanita pendamping Penjaga Candi.


“Apa?” tanya Yono.


“Apakah kau mengenal siapa nenek yang kau pandu?” tanya Semanis Madu.


“Aku hanya mengenalnya dengan nama Nenek Muka Kelam,” jawab Yono.


“Dia adalah Wulan Kencana, Ketua Perguruan Bulan Emas,” kata Semanis Madu.


“Hah!” kejut Yono. “Tapi setahuku Wulan Kencana adalah wanita cantik beraga muda.” (RH)


 

__ADS_1



YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.


__ADS_2