Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 13: Ayah Tengkorak Api


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


 


Ineng Santi yang memesona di setiap trek lurus dan tikungan, hanya tersenyum mendengar dua Tengkorak muda menyebut namanya.


Namun, bukan waktunya untuk meladeni kedua pemuda itu, mereka harus menuntaskan dulu urusan dengan kedua tokoh sakti yang mereka buat tidak berkutik, yaitu Juragan Gelang dan Kala Biru.


Kedua orang sakti level atas itu seharusnya bukan tandingan bagi Ineng Santi atau Cucum Mili. Namun, karena melawan mereka menggunakan taktik serangan gabungan yang begitu cepat, Juragan Gelang dan Kala Biru dibuat takluk tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk unjuk kesaktian.


“Hahahak! Belum tahu mereka,” kata Alma Fatara didahului oleh tawanya, melihat tumbangnya kedua orang sakti itu. Lalu teriaknya keras kepada pasukannya, “Siapa kitaaa?!”


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak Pasukan Genggam Jagad keras membahana, seolah mememuhi langit Kademangan Kubang Kepeng.


Warga dan prajurit Kademangan yang menonton dari jarak aman jadi berdebar mendengar teriakan para pendekar tersebut.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan melanjutkan yel-yel sang ratu.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad bersamaan.


“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi penuh semangat.


“Wik wik wik wik wik!” teriak pasukan juga penuh semangat, terlebih melihat dua pendekar penghadang sudah tidak dapat bangkit lagi.


“Wah wah wah,” ucap Tengkorak Bayang Putih menyaksikan atmosfir yang begitu bergairah.


Sementara Tengkorak Telur Bebek hanya tersenyum tanggung.


Juragan Gelang yang terkena Telunjuk Roh Malaikat tidak dibuat mati oleh Alma Fatara. Ratu Siluman tidak memberikan dosis penuh saat menusuk dada Juragan Gelang. Namun, serangan yang hanya satu kali itu cukup membuat Juragan Gelang terluka parah hingga tidak bisa bangun kembali.


Di sisi lain, Kala Biru tergeletak dengan kedua tangan dan kaki mengejang kaku dalam posisi badan agak melengkung, persis seperti kecoa terbalik.


“Pinggirkan kedua tetua ini!” perintah Alma Fatara.


Arung Seto, Gede Angin, Geranda, dan Juling Jitu segera berlari kecil maju.


“Aduh!” keluh Arung Seto yang tabrakan lengan dengan Gede Angin. Menabrak badan Gede Angin yang seperti raksasa membuat Arung Seto terdorong keras ke samping tanpa kendali.


“Aw!” pekik Ineng Santi yang tertabrak oleh tubuh Arung Seto, membuatnya juga hilang keseimbangan.


Tak ayal lagi, kedua muda mudi itu jatuh bersama ke tanah. Dan semua menyaksikan adegan drama sinetron negeri masa depan tersebut.


Ineng Santi jatuh dalam posisi berbaring, sedangkan Arung Seto jatuh di atasnya. Namun, perut Arung Seto tertahan oleh lutut kanan Ineng Santi yang menekuk ke atas.


“Oookh!” erang Arung Seto menikmati sakit yang begitu menusuk perut, tapi menyetrun ke seluruh saraf tubuh. Masalahnya, lutut kanan Ineng Santi tidak benar-benar menusuk perut Arung Seto, tetapi lebih tepatnya di bawah perut.


“Hahahak …!”


Tak ayal pula, tawa Alma Fatara dan yang lainnya meledak menyaksikan nasib Arung Seto.


Bluk!

__ADS_1


Secara perlahan, tubuh Arung Seto bergerak perlahan jatuh ke samping. Mau tidak mau, ia harus memegang keburungannya.


“Kakang Arung!” sebut Nining Pelangi dan Jentik Melati bersamaan sambil berlari ke lokasi kecelakaan terjadi.


Namun, ketika melihat Nining Pelangi telah sampai lebih dulu ke lokasi tabrakan, Jentik Melati harus rela berhenti dan tersenyum getir dan kecewa.


“Ineng Santi, kenapa kau berbuat itu kepada Kakang Arung?” tanya Nining Pelangi dengan tatapan tidak bersahabat.


“Aku hanya melindungi diriku. Aku tidak sengaja jika lututku mengenai kejantanan Kakang Arung,” jawab Ineng Santi sambil tersenyum-senyum malu. Terlihat wajah putihnya memerah jelas.


“Kakang tidak apa-apa?” tanya Nining Pelangi cemas sambil memegangi lengan Arung Seto.


“Kau tidak apa-apa, Arung? Coba aku lihat isi celanamu. Hahaha!” canda Kalang Kabut sambil berlalu lalu tertawa terbahak.


“Hahaha! Panglima Arung itu pura-pura menabrakku agar bisa menabrak Ineng Santi!” sahut Gede Angin sambil mengangkat tubuh Juragan Gelang bersama Kolong Wowo yang menggantikan Arung Seto.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang jadi tahu akal bulus Arung Seto.


Namun, urusan burung yang kecelakaan, itu murni di luar rencana Arung Seto.


Geranda dan Juling Jitu mengangkat tubuh Kala Biru ke pinggir jalan.


Alma Fatara lalu menghadap kepada posisi Dua Tengkorak Putih.


“Siapa yang mencari Ratu Siluman, silakan menghadap kepadaku!” ujar Alma Fatara kepada Tengklorak Bayang Putih dan Tengkorak Telur Bebek.


Kedua pemuda itu lalu maju kian mendekatkan jarak.


“Benar,” jawab Alma Fatara santai.


“Apakah kau yang membunuh Kakek Tengkorak Pedang Kilat?” tanya Tengkorak Telur Bebek lagi.


“Benar,” jawab Alma Fatara. “Jika kalian ingin membalas dendam, aku akan ladeni. Kalian tinggal pilih, mau mati aku bunuh atau sakit aku aniaya?” ujar Alma Fatara memberi tawaran.


“Kakang Putih, Kakang Bebek!” sebut Ineng Santi datang menghampiri Alma Fatara sambil tersenyum kepada kedua pemuda yang dikenalnya itu.


“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara mendengar panggilan untuk Tengkorak Telur Bebek.


“Hahahak …!” Menyusul Dua Tengkorak Putih yang tertawa terbahak. Kelucuan karena melihat dua gigi ompong Ratu Siluman ternyata bisa mengalahkan pesona kecantikan kedua gadis jelita itu.


Tengkorak Telur Bebek sampai memukul kepala botak Tengkorak Bayang Putih karena merasa terlalu lucunya. Pemukulan itu justru membuat Alma Fatara kian lucu pula. Ia sampai membungkuk memegangi perutnya.


Sementara Ineng Santi hanya tersenyum kikuk berada di antara “orang-orang gila” tersebut.


“Ineng Santi sayang, benarkah ini Ratu SIluman?” tanya Tengkorak Telur Bebek dengan masih menyisakan tawanya.


“Benar, Kakang,” jawab Ineng Santi sambil tersenyum malu-malu.


“Yang giginya ompong seperti ini?” tanya Tengkorak Telur Bebek lagi, seolah tidak percaya.


“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa disebut ompong.

__ADS_1


“Hihihi!” Akhirnya Ineng Santi juga tertawa, meski masih malu-malu. “Tapi aku sarankan Kakang berdua tidak melawan Gusti Ratu Siluman. Lihatlah, Tetua Juragan Gelang dan Kala Biru saja dibuat tanpa perlawanan. Kakang Tengkorak Api pun sudah terkapar di belakang.”


“Apa? Tengkorak Api ada di sini?” kejut Tengkorak Bayang Putih.


“Iya. Kakang Api terluka parah setelah melawan Gusti Ratu,” jawab Ineng Santi.


Jawaban Ineng Santi membuat Dua Tengkorak Putih saling pandang.


“Gusti Ratu Siluman!” seru seorang lelaki tiba-tiba dari jauh.


Seiring itu, sesosok tubuh berjubah merah terang berkelebat di udara. Uniknya, sepasang kakinya diselimuti kobaran api warna putih.


Jless!


Ketika lelaki berkumis merah berusia separuh baya itu mendarat di depan Alma Fatara dan Ineng Santi, terdengar suara berdesis dari bawah kaki lelaki itu seiring api putihnya padam, menyisakan asap yang mengebul ke atas.


“Paman!” sebut Ineng Santi yang mengenal siapa sosok lelaki yang baru datang tersebut.


“Paman Langkah!” sapa Dua Tengkorak Putih pula kepada lelaki berbadan gagah itu.


“Paman pasti juga seorang Tengkorak?” terka Alma Fatara.


“Benar, Gusti Ratu. Perkenalkan, hamba bernama Tengkorak Langkah Api. Ayah dari Tengkorak Api,” jawab lelaki itu dengan santun dan penuh penghormatan kepada Alma Fatara. “Hamba diberi tahu oleh istri hamba bahwa Tengkorak Api pergi ingin membunuh Gusti Ratu. Hamba hanya ingin mengetahui nasib putra hamba.”


“Oh, Kakang Tengkorak Api. Maafkan aku, Paman. Aku sudah membuat putra Paman terluka parah,” ucap Alma Fatara santun pula.


“Bisakah hamba membawanya pulang?” tanya Tengkorak Langkah Api.


“Silakan, Paman,” jawab Alma Fatara. Lalu katanya kepada Ineng Santi, “Kakak Ineng, antarkan Paman Langkah Api.”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Ineng Santi patuh. Lalu katanya kepada Tengkorak Langkah Api, “Mari, Paman!”


“Aku sarankan kalian jangan menantang Ratu Siluman. Biarkan kakek-kakek kalian yang turun tangan jika ingin membalas dendam Tengkorak Pedang Kilat. Masih untung Gusti Ratu berbaik hati tidak membunuh kalian,” kata Tengkorak Langkah Api menasihati kedua Tengkorak muda itu.


Tengkorak Langkah Api lalu mengikuti Ineng Santi.


“Bagaimana, Kakang Bebek?” tanya Alma Fatara sambil tersenyum lebar karena menyebut Tengkorak Telur Bebek “Kakang Bebek”.


“Bagaimana, Putih?” tanya Tengkorak Telur Bebek kepada rekannya.


“Kita mundur saja. Kita lapor saja ke Kakek Sabit Putih,” jawab Tengkorak Bayang Putih.


“Oh ya, karena kalian menyebut nama Tengkorak Sabit Putih, aku titip pesan kepadanya. Katakan kepadanya, Ratu Siluman mencarinya,” kata Alma Fatara.


Terkesiap Dua Tengkorak Putih mendengar hal itu.


“Baik, akan kami sampaikan,” kata Tengkorak Bayang Putih.


Dua Tengkorak Putih lalu berbalik pergi.


“Bagaimana dengan Lolongo?” tanya Tengkorak Telur Bebek berbisik kepada rekannya.

__ADS_1


“Pecundang itu sudah berada di tangan pasukan Ratu Siluman. Juragan Gelang dan Kala Biru saja dibuat tidak bisa melawan, apalagi kita,” bisik Tengkorak Bayang Putih. (RH)


__ADS_2