Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 42: Benteng Kokoh


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Pasukan panah telah membuat formasi agak jauh di depan garis bakar milik bajak laut pimpinan Ronggo Palung yang berjuluk Hantu Dasar Laut.


Garis bakar adalah dinding gaib yang dibuat oleh kesaktian Ronggo Palung.


“Hahaha!” Ronggo Palung yang berdiri di depan para anak buahnya, tertawa seolah meremehkan.


“Panah!” teriak Pangeran Derajat Jiwa yang memimpin langsung perlawanan terhadap Bajak Laut Ombak Setan.


Set set set …!


Hujan panah pun melesat ke arah posisi Ronggo Palung dan pasukannya.


Ces ces ces …! Tek tek tek …!


Ketika anak-anak panah itu melewati garis bakar, mereka terbakar semua, tetapi terus melesat hingga kemudian mereka berjatuhan pada posisi segaris, tepat dua tombak di depan Ronggo Palung. Semua anak panah itu seperti menabrak dinding gaib yang keras.


Terbeliak sepasang mata Derajat Jiwa. Namun, ia seolah belum yakin dengan apa yang dihadapinya.


“Panah!” perintah Derajat Jiwa dari atas punggung kudanya.


Set set set …!


Ces ces ces …! Tek tek tek …!


Hujan panah kedua mengalami kodisi dan hasil yang sama.


“Akan ada yang terus mati jika pemilik Bola Hitam tidak maju!” seru Ronggo Palung.


Crek!


Ronggo Palung menancapkan golok gergajinya di tanah depan kakinya berdiri. Ia lalu merentangkan kedua tangannya yang berotot-otot besar. Kemudian kedua lengannya ia angkat sedikit lalu dibantingkan ke bawah.


“Hiaaah!” teriaknya.


Ses ses ses …!


Ketika kedua tangan Ronggo Palung membanting, dari dalam tubuh lelaki besar itu berlesatan puluhan sinar-sinar biru kecil berekor, seperti lesatan puluhan kembang api tahun baru. Sinar-sinar itu berlesatan menyerang pasukan panah.


Pasukan panah terkejut dan langsung berlarian kocar-kacir ke belakang. Derajat Jiwa bahkan harus berkelebat menjauh meninggalkan kudanya.


Blar blar blar …!


Puluhan ledakan tercipta. Banyak yang hanya menghancurkan tanah, tetapi sejumlah prajurit tewas dengan tubuh hancur. Kuda Derajat Jiwa pun terpaksa menjadi korban tidak berdosa.


Untuk sementara, Alma Fatara dkk dan Arung Seto hanya membiarkan Derajat Jiwa untuk unjuk kekuatan.


“Pasukan Keluarga Kerajaan, maju!” perintah Derajat Jiwa.


“Siap!” teriak kedua puluh prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan.


Kedua puluh prajurit berseragam kuning kunyit itu lalu serentak turun dari kudanya. Kemudian mereka berkelebat berlari di udara sambil mencabut pedangnya masing-masing.


“Eksekusi Pedang!” teriak pemimpin dari kedua puluh prajurit itu.


Mereka pun membentuk satu saf yang rapat mmenghadap kepada kubu musuh. Kemudian, pedang mereka dilambungkan ke udara.


Set set set …!

__ADS_1


Maka, sebanyak dua puluh pedang yang seragam melesat terbang.


Tek tek tek …!


Ketika pedang-pedang itu menembus garis bakar, senjata-senjata itu tidak terbakar, mungkin karena berbahan logam. Pada akhirnya mereka berhenti di satu dinding gaib, seperti para anak panah tadi. Bedanya, pedang-pedang itu tidak jatuh, tetapi berusaha menekan untuk bisa tembus.


Bress!


Ctar ctar ctar …!


Menghadapi serangan itu, Ronggo Palung hanya mengencangkan kedua genggaman tangannya.


Tiba-tiba dinding gaib itu menampakkan diri dalam wujud dinding sinar hijau. Ternyata dinding itu seperti kuba raksasa yang mengurung Ronggo Palung dan seluruh anak buahnya.


Kemunculan dinding sinar itu membuat semua pedang yang berusaha menembus, berhancuran dan jatuh ke tanah.


Bersamaan dengan itu, kedua puluh prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan berjengkangan. Masing-masing mengalami pendarahan pada mulutnya.


Setelah itu, dinding kubah raksasa itu menghilang kembali.


“Setaaan!” teriak Derajat Jiwa murka.


Apa yang dialami oleh kedua puluh prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan membuat Derajat Jiwa dilanda kebingungan. Jika dia memaksa menyerbu, para prajuritnya hanya akan habis terbakar. Ia sempat memandang kepada Alma Fatara dan rekan-rekannya.


“Di mana harga diriku jika meminta bantuan kepada Alma untuk maju …” pikir Derajat Jiwa. “Biar aku urus sendiri.”


Derajat Jiwa lalu berkelebat maju.


“Ayo, tunjukan kehebatan kalian, sebelum aku yang menyerang kalian sampai habis!” teriak Ronggo Palung.


Derajat Jiwa lalu memasang kuda-kuda untuk mengerahkan ilmu kesaktiannya.


Zess!


Pada kedua kepalan itu muncul sinar merah. Sementara kedua bawah kaki Derajat Jiwa mengepulkan asap tebal.


Sinar merah pada kedua kepal tangan itu secara perlahan membesar seperti balon yang ditiup.


Derajat Jiwa yang sudah mengerahkan ilmunya yang berjudul Dua Rembulan Merah itu, mulai menarik kedua tangannya ke sisi pinggang.


“Hiaaat!” teriak Derajat Jiwa sambil menghentakkan kedua tangannya.


Zerss!


Swusss! Bluar!


“Huakrr!”


Dua bola sinar merah melesat cepat melewati garis bakar tanpa kendala. Namun, pada saat yang sama, Ronggo Palung juga menghentakkan kedua lengannya dengan telapak terbuka, melesatkan sinar hijau besar berwujud seperti mulut menganga.


Di tengah jarak, sinar hijau besar Ronggo Palung memakan dua bola sinar merah lalu meledak dahsyat di titik pertemuan itu.


Derajat Jiwa terpental keras ke belakang dengan mulut menyemburkan darah. Sementara Ronggo Palung hanya terjajar dua tindak tanpa mengalami luka dalam sedikit pun.


“Bajak laut itu sangat sakti,” ucap Juling Jitu terpukau.


“Alma, kenapa kau belum bertindak?” tanya Anjengan.


“Hahaha! Biarkan saja si pangeran itu merasakan jadi pemimpin,” jawab Alma. “Aku ingin melihat dulu sehebat apa kesaktian Hantu Dasar Laut itu.”


“Ta-ta-tapi, pa-pa-pangeran sombong itu sudah ka-ka-kalah,” kata Gagap Ayu.

__ADS_1


“Kita tunggu sebentar lagi,” kata Alma.


Derajat Jiwa bergerak bangkit berdiri sambil memegangi dadanya. Banyak darah yang keluar lewat mulutnya.


“Aku sudah mengerahkan ilmu tertinggiku. Jelas bajak laut ini tidak bisa aku kalahkan,” pikir Derajat Jiwa.


Ia lalu berbalik dan memandang kepada Alma Fatara.


“Alma!” panggil Derajat Jiwa.


“Apakah giliranmu sudah selesai, Gusti Pangeran?” tanya Alma Fatara.


“Jika kau tidak bisa menaklukkan bajak laut itu, pasukanku terpaksa mundur!” kata Derajat Jiwa.


Alma Fatara lalu melangkah maju dan melewati Derajat Jiwa.


Alma terus berjalan dan akhirnya berhenti di depat garis bakar. Di depannya berserakan mayat-mayat prajurit kerajaan yang hangus.


“Hahaha!” tawa Ronggo Palung saat melihat siapa yang maju. “Masih begitu muda, tapi sudah terlalu cantik. Muda tapi matang. Muda tapi sudah layak diajak berlayar.”


“Hahaha!” tawa para anggota bajak laut mendengar perkataan ketuanya.


“Hei, pemilik Bola Hitam yang cantik jelita!” sebut Ronggo Palung dengan senyum otak kakusnya. “Aku bisa menawarkan keuntungan berlipat ganda. Serahkan Bola Hitam dan jadilah istriku!”


“Hahahak!” tawa terbahak Alma tiba-tiba, memperlihatkan gigi ompongnya.


“Hahaha …!” tawa ramai para anggota bajak laut melihat deretan gigi Alma yang menodai kejelitaannya.


Di saat para anak buahnya tertawa, Ronggo Palung justru tidak tertawa. Dia terkejut melihat Alma yang tertawa tiba-tiba.


“Paman Hantu Dasar Laut!” panggil Alma Fatara.


Terkesiap Ronggo Palung mendengar julukannya disebut.


“Wah! Kau sudah mengenalku rupanya, Ikan Manis. Itu berarti, kau tidak akan menolak tawaranku yang keuntungannya berlipat ganda?” seru Ronggo Palung.


“Hahaha! Aku bukan Ikan Manis, tetapi aku adalah Ratu Dewi Dua Gigi, Ratu Siluman Ikan. Aku akan menjadi hantu ikan bagimu, Paman!” seru Alma pula. “Lebih baik tidak usah pikirkan urusan burung Paman dulu, lebih baik pikirkan bagaimana cara menyelamatkan nyawa Paman dariku. Jika Paman mati, aku jamin burung Paman tidak akan ada yang mengganggu!”


“Hahahak …!” tawa para anggota bajak laut mendengar bahasan Alma.


“Diam kalian!” bentak Ronggo Palung kepada anak buahnya.


Sontak para bajak laut itu diam, tapi masih menahan tawa.


“Sudah terlalu banyak orang yang Paman bunuh. Maka aku sebagai Ratu Dewi Dua Gigi, berkewajiban untuk membunuh Paman dan semua anak buah Paman!” tegas Alma.


“Hahaha! Aku takuuut!” ejek Ronggo Palung dengan ekspresi kacau.


Alma Fatara lalu melangkah maju menembus garis bakar.


Blep!


Seketika itu juga, api menyelimuti tubuh Alma Fatara.


Terkejutlah semua orang yang berada di pihak Alma. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil menunggu up dari Om Rudi, ayo baca, like dan komen juga di chat story yang berjudul "Hantu Pelakor"!


__ADS_1


__ADS_2