
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
“Berisik sekali!” rutuk Tengkorak Pedang Siluman sambil bangkit tanpa menderita luka yang berarti.
Bisa tidak terluka oleh Tinju Roh Bumi adalah perkara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pukulan jarak jauh itu termasuk salah satu ilmu tertinggi Alma Fatara. Pantas saja jika tusukan Benang Darah Dewa pun tidak berkutik.
“Gila, baru kali ini Tinju Roh Bumi bertemu lawan,” kata Anjengan kepada Gagap Ayu yang berdiri di sebelahnya.
“Be-be-benar. Apakah Alma akan ka-ka-kalah?” kata Gagap Ayu serius.
“Tidak akan. Jika Tengkorak Pedang Kilat bisa dibunuh, tentunya kakaknya juga bisa dibunuh,” kata Anjengan optimis.
“Ki-ki-kita keroyok sa-sa-saja!” usul Gagap Ayu.
“Itu sama saja menjatuhkan harga diri Alma,” tolak Anjengan.
“Memang ha-ha-harga diri Alma be-be-berapa ke-ke-kepeng?” tanya Gagap Ayu.
“Aaah, aku potong lidahmu nanti!” ucap Anjengan kesal sambil memegang gagang pedang pusakanya.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu sendirian.
Set! Tap!
Tengkorak Pedang Siluman mengarahkan tangan kanannya ke Pedang Siluman Hijau. Pedang itu tertarik dan melesat ke dalam genggaman si nenek.
Setelah itu, pedang tersebut diputarkan ke sekeliling tubuh, menimbulkan lingkaran sinar-sinar hijau seperti gelang-gelang besar yang mengurung.
“Ayo kita mulai lagi, Nek! Hahaha!” teriak Alma Fatara lalu tahu-tahu lenyap seperti setan, tapi suara tawanya tertinggal di belakang.
Clap! Bluar! Clap! Bluar!
Tiba-tiba Tengkorak Pedang Siluman juga menghilang dari tempatnya begitu saja.
Kemudian kedua petarung bertemu di udara dengan suara ledakan sinar hijau dan ungu yang beradu. Lalu langsung hilang lagi dan muncul bertemu di koordinat yang lain di udara. Sama, dihiasi ledakan tenaga sakti sinar hijau dan ungu. Sinar hijau dari ilmu Selimut Hijau, sinar ungu dari ilmu Pukulan Roh Bumi.
Tiga kali adu sakti terjadi diakhiri dengan tubuh kedua petarung saling terpental ringan. Namun, keduanya mendarat dengan tubuh yang sempoyongan, meski tidak sampai jatuh. Tubuh Tengkorak Pedang Siluman sudah tidak dikurung oleh gelang-gelang sinar.
Set set set!
Bseng bseng bseng!
Bset! Bset! Seds!
“Uhk!”
Dengan Pedang Siluman Hijau-nya, Tengkorak Pedang Siluman kembali melesatkan tiga sinar hijau tipis. Namun, Alma Fatara melindungi tubuhnya dengan ilmu Tameng Balas Nyawa.
Ketiga sinar hijau tipis tersebut memantul balik saat menghantam sinar ungu tebal yang melindungi Alma Fatara.
Lagi-lagi Tengkorak Pedang Siluman menebas sinar-sinarnya sendiri. Dua sinar bisa ia hancurkan, tetapi satu yang terakhir berhasil menghantam tubuh depannya.
Tidak seperti pendapa yang terbelah dua saat terkena sinar hijau itu, tapi tubuh Tengkorak Pedang Siluman terpental keras tanpa luka sayatan sedikit pun atau luka dalam.
Sezt Sezt!
Di saat Tengkorak Pedang Siluman terpental, Alma Fatara melesat maju ke udara sambil mengibaskan kedua tangannya bersusulan. Ia melepaskan ilmu Sabit Murka.
__ADS_1
Karena dalam kondisi terpental, Tengkorak Pedang Siluman hanya bisa menangkis dengan pedang hijaunya.
Sinar kuning tipis melengkung melesat sekilat menghantam Pedang Siluman Hijau, membuat pusaka itu terpental dari genggaman Tengkorak Pedang Siluman. Lalu sinar kuning sabit kedua tidak bisa ditolak menghantam dada.
Desk!
“Akk!” jerit Tengkorak Pedang Siluman dengan tubuh yang terlempar agak jauh ke belakang dan jatuh berdebam di tanah.
Biasanya ilmu Sabit Murka bisa memotong besi dan tubuh, tetapi kali ini tidak. Tengkorak Pedang Siluman hanya terpental dan menjerit sakit, tapi tidak mengalami luka yang berarti.
“Wah, hebat sekali kau, Nenek Siluman!” teriak Alma Fatara memuji.
“Jangan banyak bibir kau, Anak Siluman!” teriak Tengkorak Pedang Siluman masih seperti yang tadi, suka marah-marah.
“Aku Ratu Siluman, bukan Anak Siluman!” seru Alma Fatara sambil melesat maju hendak menyerang si nenek lagi.
Sing! Swoosh!
“Harrr!”
Tengkorak Pedang Siluman mencabut Pedang Sepuluh Siluman miliknya sebelum serangan Alma Fatara sampai. Pedang itu langsung bersinar biru dan mengeluarkan makhluk sinar seperti setan tanpa tubuh bawah.
“Wow!” sorak para penonton terkejut.
Monster sinar itu meraung keras sambil menyambut serangan Sabit Murka Alma Fatara.
Sezt! Blass!
Sinar sabit kuning menebas makhluk sinar biru yang menyeramkan, menimbulkan ledakan tenaga sakti yang hebat. Terbukti Alma Fatara terlempar dan jatuh, tapi Alma Fatara menahan tubuhnya dengan kedua kaki dan satu tangan menjejak kuat pada tanah.
Namun, Tengkorak Pedang Siluman sendiri tidak tergeser sedikit pun dari tempat berdirinya.
“Gusti Ratu! Jangan mengalah!” teriak Geranda dari pinggiran.
Tiba-tiba dalam pikiran Geranda terbetik satu kesimpulan.
“Wah, berarti ada kemungkinan Gusti Ratu kalah,” ucapnya kepada dirinya sendiri. Lalu otak judinya pun bersinar cemerlang.
Geranda tiba-tiba maju dan menghadap kepada rekan-rekannya.
“Woi para manusia pemuja kepeng! Ayo pasang taruhan kalian. Caranya gampang, tinggal pilih, siapa yang akan menang. Pilih Ratu Siluman atau pilih Nenek Siluman?” teriak Geranda. “Ayo, ayo! Keluarkan kepeng kalian, keluarkan untuk mendapat yang lebih banyak!”
Terkejut Alma Fatara dan Tengkorak Pedang Siluman mendengar teriakan Geranda. Demikian pula Demang Mahasugi dan istrinya, serta yang belum mengenal Geranda.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang sudah berdiri tegak kembali.
“Aku bertaruh tetap mendukung kemenangan Gusti Ratu,” seru Gede Angin.
“Aku pilih Gusti Ratu!” teriak Juling Jitu.
“Aku pilih Nenek Siluman!” teriak Kolong Wowo.
“Maaf, aku pilih Nenek Siluman!” teriak Kalang Kabut.
Akhirnya, untuk pertarungan ini anggota Pasukan Genggam Jagad terpecah keyakinan. Sebagian meyakini bahwa ratu mereka tetap akan menang meski mulai terlihat tidak unggul.
“Kurang ajar, mulai ada yang meragukan kesaktian adikku,” rutuk Anjengan. Lalu teriaknya, “Geranda, aku bertaruh setengah kantung kepeng untuk Gusti Ratu!”
“Aku dengar!” sahut Geranda yang posisinya agak jauh. “Ayo, siapa lagi?!”
__ADS_1
“Aku bertaruh tiga kantung kepeng untuk Gusti Ratu!” teriak Demang Mahasugi tiba-tiba.
“Wah!” kejut Geranda karena Demang Mahasugi ikut pasang taruhan. Lalu teriaknya, “Siap, Kanjeng Demang!”
“Hahaha!” tawa pendek Demang Mahasugi.
“Tikus dekil!” maki Tengkorak Pedang Siluman karena pertarungannya dibuat ajang perjudian. Dia termasuk pendekar yang memuja Raja Dangdut yang mengatakan dalam lagunya “uang judi najis tiada berkah”.
Swoosh!
“Huarrk!”
Tengkorak Pedang Siluman kembali mengeluarkan makhluk sinar menyeramkan dari dalam tubuh pedangnya yang bersinar biru. Makhluk menyeramkan itu berbeda dari yang sebelumnya, ini lebih besar ukurannya dengan suara yang lebih menggentarkan hati.
Monster sinar itu melesat cepat ke arah Alma Fatara.
Boos! Blass!
Alma Fatara mengadu monster itu dengan Tinju Roh Bumi, berupa sinar ungu berkekuatan tinggi.
Seperti peraduan sebelumnya, terjadi ledakan tenaga sakti yang menghancurkan sosok monster sinar biru, tanpa berpengaruh pada Tengkorak Pedang Siluman.
Bugk!
Namun, berbeda dengan Alma Fatara. Dia kembali terlempar cukup jauh. Kali ini dia jatuh berdebam, seperti karung beras yang dilempar jauh.
“Akk!” erang Alma Fatara sambil menggeliat menahan sakit pada tubuhnya.
Alma Fatara buru-buru bangun, karena Tengkorak Pedang Siluman kembali mengeluarkan makhluk sinar birunya yang berbeda. Pastinya itu lebih kuat dari dua makhluk sinar sebelumnya.
Swess! Blass!
“Huakr!” pekik Alma Fatara memuntahkan darah segar dari mulutnya dengan tubuh terpental jauh hingga ke depan teras rumah Demang Mahasugi. Alma Fatara jatuh di antara kaki-kaki para panglimanya.
Itu terjadi setelah ilmu Pukulan Bandar Emas yang berkekuatan tinggi bertemu dengan makhluk sinar menyeramkan yang ketiga. Ternyata sinar emas menyilaukan mata itu tidak bisa unggul.
“Gusti Ratu! Gusti Ratu!” sebut Anjengan dan Ineng Santi lalu cepat membantu Alma Fatara kembali bangkit.
“Bi-bi-biar kami yang ma-ma-maju, Gu-gu-gusti Ratu,” kata Gagap Ayu.
“Tidak, ini pertarunganku, bukan pertarungan kalian. Aku masih hebat,” kata Alma Fatara sambil tersenyum kecil dengan tatapan tajam kepada Tengkorak Pedang Siluman.
“Hihihi …!” tawa terkikik Tengkorak Pedang Siluman di depan sana. Lalu serunya, “Ini adalah pertanda kematianmu, Ratu Siluman!”
Alma Fatara lalu melompat maju lebih dekat, seperti tadi. Ia menyeka darah pada sekitar mulutnya dengan lengan jubahnya.
“Ini belum lebih parah dari luka yang diberikan oleh Tengkorak Pedang Kilat!” seru Alma Fatara. “Apakah ada yang lebih kuat?”
“Kau baru melawan Siluman Tingkat Tiga. Masih ada tujuh siluman lagi yang kekuatannya lebih tinggi di dalam pedangku!” seru Tengkorak Pedang Siluman.
“Jika seperti itu, keluarkan!” tantang Alma Fatara.
“Anak Setan sombong!” maki Tengkorak Pedang Siluman lalu kembali mengeluarkan makhluk sinar birunya berwujud menyeramkan, seperti setan tanpa tubuh bawah, sementara mulutnya menganga lebar.
Swoosh!
“Hurrrgr!”
Swess!
__ADS_1
Alma Fatara kembali mengeluarkan sinar kuning emas menyilaukan mata, tapi tidak langsung dilepaskan.
“Aku bisa mati jika beradu kesaktian dengan siluman dari pedang itu,” pikir Alma Fatara. (RH)