
*Setan Mata Putih (SMP)*
Roro Wiro begitu bersemangat masuk dalam pertarungan melawan kelompok lelaki berseragam dan bertopeng kain biru gelap. Ia bertarung langsung mengandalkan ilmu Tapak Sinar Abadi yang langsung memakan banyak korban dari pihak lelaki bertopeng. Ini adalah pertarungan perdananya sejak ikut mengabdi kepada Alma Fatara.
Di sisi lain, Cucum Mili berkelebat di udara sambil melesatkan delapan butir gundu peledaknya kepada gerombolan yang mengangkuti peti-peti harta.
Blar blar blar …!
Ledakan beruntun mementalkan kesepuluh lelaki yang mengangkut peti-peti harta. Hal itu membuat peti-peti yang mereka pikul juga berpentalan.
Sreek!
Bahkan peti yang berisi penuh koin perak terbuka dan isinya berserakan di tanah.
Ledakan beruntun itu mengejutkan semua pihak, terutama pemimpin gerombolan bertopeng kain.
“Murai Ranum, jaga harta itu!” teriak Cucum Mili sambil berlari ke arah pemimpin bertopeng.
“Percayakan padaku!” teriak Murai Ranum yang muncul berkelebat dengan kedua telapak tangan sudah diliputi asap hitam yang tebal.
Murai Ranum langsung memasang kuda-kuda siap tarung sambil tersenyum genit. Sepertinya dia mencoba menggoda para lelaki bertopeng kain itu.
Wus wus wus …!
Melihat uang perak berserakan, membuat para lelaki bertopeng kain kian bernafsu untuk membawa pergi peti-peti yang berserakan. Namun, mereka harus menyingkirkan si cantik genit Murai Ranum.
Belum lagi pedang-pedang para lelaki bertopeng mendekati wanita cantik bertubuh aduhai itu, para lelaki tersebut lebih dulu disongsong oleh bola-bola asap hitam padat yang menyerang wajah.
Bola-bola asap hitam menyergap wajah-wajah tanpa mau buyar atau lepas. Hal itu membuat para lelaki bertopeng gelagapan, karena mereka jadi sulit bernapas. Saat mereka mencoba membuyarkan asap hitam tersebut, hasilnya sia-sia. Asap itu melekat kuat seperti hantu lintah, melekat tapi tidak bisa dipegang. Itulah kehebatan ilmu Lintah Asap Hitam.
“Rebut peti-peti itu!” teriak pemimpin kelompok bertopeng kepada para anak buahnya.
Sebagian dari kelompok bertopeng segera bergerak beralih menuju ke posisi Murai Ranum. Melihat pergerakan musuh yang banyak menuju ke arahnya, Murai Ranum hanya bisa mendelik. Ia merasa akan kesulitan jika dikeroyok oleh lebih sepuluh orang sekaligus.
“Seraaang!” teriak Arung Seto yang muncul tiba-tiba dengan pedang terhunus. Sebagai mantan pemimpin pasukan kerajaan, teriakannya jelas terdengar mantap menggelegar.
“Adikku yang cantik, aku datang!” teriak Kalang Kabut kepada Murai Ranum, adik seperguruannya. Ia datang dengan panji berwarna biru terang berkibar di punggungnya.
__ADS_1
Seset!
“Ak! Ak! Ak!”
Juling Jitu pun muncul dengan berlari sambil melesatkan senjata barunya berupa keris-keris mini beracun. Tiga lelaki bertopeng kain langsung menjadi mangsa.
Kolong Wowo, Segara, Setoro Beksi, Kuda Paksa, dan Kura Pana juga berdatangan ke posisi Murai Ranum. Mereka langsung memainkan serangan jenis jeratan.
Kedatangan Kalang Kabut dan rekan-rekan dari Perguruan Bukit Dua membuat Murai Ranum berhenti bertarung. Ia membiarkan para lelaki itu bertarung, sedang dia memilih duduk anggun di atas salah satu peti harta.
Gempar Gendut yang datang belakangan juga tidak mau ketinggalan mendapat lawan. Beratnya dia punya badan karena penuh lemak, membuatnya lebih banyak mengandalkan ilmu jeratnya. Dia juga mantan murid mendiang Jerat Gluduk.
Sementara dua murid utama Jerat Gluduk, Aliang Bowo dan Desah Rindang, masih belum bisa diajak ikut bertarung lantaran luka mereka.
“Kakang Arung Seto memang lelaki yang bisa diandalkan. Hihihi!” ucap Murai Ranum kepada dirinya sendiri, lalu tertawa kecil sendiri. Perhatiannya lebih banyak tertuju kepada Arung Seto yang bertarung dengan pedang dan ilmu sentuhan listriknya.
Ternyata, kesaktian Kalang Kabut dan murid-murid mendiang Jerat Gluduk masih di atas para lelaki bertopeng kain itu.
Blar blar blar …!
“Akk! Akk! Akk …!” jerit sejumlah lelaki bertopeng saat tiba-tiba terjadi ledakan di salah satu anggota tubuh mereka, membuat mereka tewas atau terluka cukup berat.
Di sisi lain, pemimpin bertopeng langsung menyambut kedatangan Cucum Mili dengan permainan pedang yang sengit.
Ting!
Namun, kehebatan gerak pedang pemimpin bertopeng harus terhenti ketika Cucum Mili menangkis dengan Pedang Tengkorak Malam. Pedang warisan mendiang Tengkorak Pedang Kilat itu dengan mudahnya mematahkan pedang pemimpin bertopeng.
Cucum Mili memanfaatkan keterkejutan lawan dengan melancarkan serangan pedang beberapa tebasan, tetapi sigap lelaki bertopeng memilih aman dengan cara melompat mundur.
Karena lawan sudah tidak berpedang, Cucum Mili memilih menyarungkan pedangnya. Setelah itu, dia mengejar lawannya, tetapi langsung disambut dengan tinju yang bersinar merah.
Paks!
Cucum Mili lebih memilih mengadu tinju itu dengan telapak tangan yang membara merah. Peraduan dua kesaktian itu tidak saling mementalkan, tetapi saling mendorong. Tenaga tinju dan telapak tangan itu saling menekan.
Cess! Bluar!
“Aaak!” jerit pemimpin bertopeng saat tiba-tiba telapak tangan Cucum Mili berubah bersinar ungu, berganti ilmu menjadi Telapak Roh Laut. Akibatnya, tinjunya meledak keras, menghancurkan tangannya hingga siku.
__ADS_1
Tiba-tiba, Cucum Mili bergerak menyamping lalu pergi ke arah belakang pemimpin bertopeng. Dalam kondisi menahan sakit karena tangannya telah hilang satu, lelaki bertopeng kain itu cepat berbalik mengikuti gerak Cucum Mili yang diduganya akan membokong.
Blass!
Tiba-tiba Cucum Mili membanting satu gundu bomnya ke depan kaki musuhnya. Asap merah pekat langsung membumbung menutupi tubuh lelaki bertopeng. Cucum Mili tidak terkena asap sedikit pun. Rupanya, dia berpindah tempat untuk mengambil keuntungan dari arah angin. Karenanya, ketika bom asap diledakkan, asap merah yang bernama Asap Setan itu langsung menyergap lawan.
“Uhhuk uhhuk!” Pemimpin bertopeng itu terbatuk-batuk. Ternyata topeng kainnya tidak bisa membentenginya dari asap yang beracun.
Set!
“Aaak!”
Sebelum asap merah benar-benar buyar tertiup angin, Cucum Mili mengakhiri nyawa lawannya dengan satu sabetan Pedang Tengkorak Malam. Pemimpin bertopeng itu tumbang dengan tubuh nyaris terbagi dua, bukan cintanya yang terbagi dua.
“Ketua telah tewas!” teriak salah seorang lelaki bertopeng yang sempat-sempatnya menyaksikan pemimpinnya tumbang dengan badan nyaris putus.
Para lelaki berpakaian biru gelap yang masih bernyawa atau terluka, jadi terkejut. Mereka segera mundur lalu memerhatikan keadaan. Ternyata, jumlah mereka telah berguguran dua per tiga, sama dengan jumlah kelompok yang tersisa tinggal sepertiga dari jumlah awal.
“Munduuur!” teriak salah seorang dari lelaki bertopeng. Sepertinya dia memilih berpikir logis.
Maka belasan lelaki bertopeng, baik yang masih segar bugar ataupun sudah menuai luka, buru-buru berlari menyelamatkan diri dengan harus mengikhlaskan sepuluh peti harta yang dikuasai oleh Pasukan Genggam Jagad Sayap Laba-Laba pimpinan Arung Suto.
Arung Suto pergi menghampiri Wulung yang sedang duduk membekap lukanya. Sementara sisa pasukan kademangan yang tersisa masih ada kisaran dua puluh orang, itupun separuhnya mangalami luka serius.
“Mereka berhasil membawa kabur mayat Kang Aden Golono,” kata Wulung kepada Arung Seto seraya mengerenyit menahan sakit pada lukanya.
Beberapa prajurit segera menghampiri Wulung, satu-satunya pemimpin mereka yang masih hidup.
Cucum Mili dan Roro Wiro juga menghampiri Wulung.
“Harta itu menjadi milik kami, karena kami yang merebutnya dari para perampok itu,” ujar Cucum Mili.
“Tapi, Ketua …,” ucap Wulung berat.
“Masih untung kami datang membantu. Jika kalian ingin merawat luka, pasukan kami punya tabib handal,” kata Cucum Mili. Lalu perintahnya kepada Arung Seto, “Bawa semua peti harta itu!”
“Baik, Panglima,” ucap Arung Seto patuh.
Cucum Mili lalu berbalik pergi yang diikuti oleh Roro Wiro dan Arung Seto.
__ADS_1
Gempar Gendut datang dengan mengusiri kereta kuda. Dia menghentikan kereta kuda di depan rekan-rekannya yang sedang memanggul peti harta satu-satu. (RH)