
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Awal malam ini, sebagai penguasa baru di Perguruan Bulan Emas, Alma Fatara melakukan safari lokal untuk melihat perguruan itu secara keseluruhan. Ia didampingi oleh Mbah Hitam, Rereng Busa, Balito Duo Lido, Riring Belanga, Cucum Mili, dan beberapa petinggi perguruan yang menjadi juru jelas jika sang ratu bertanya.
Seluruh ruangan yang ada di gedung utama, terutama kamar Wulan Kencana, ia longok. Sistem dan prosedur keamanan tetap diberlakukan sebagaimana biasa, jadi murid-murid itu tidak perlu repot-repot mendapat tugas baru yang membutuhkan penyesuaian.
Dapur umum dan dapur senjata, yaitu tempat pembuatan senjata Bulan Terbang, Alma Fatara Kunjungi. Alma juga mengunjungi asrama para murid, tempat latihan, sampai tempat mandi, pipis dan buang pup.
Ketika mengunjungi area belakang perguruan, Alma Fatara agak lama berhenti. Ia tertarik dengan tiang-tiang kayu besar yang tertata rapi.
“Aku ingin panggung yang aku maksud dibuatkan di atas tiang-tiang itu. Pesta akan kita pusatkan di sini. Hawa dingin dari air terjun memberi suhu yang sejuk di siang hari,” kata Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kepala Pemelihara Perguruan Jamir Beroto.
“Lapor, Gusti Ratu!” ucap seorang murid yang datang dengan berlari dan segera berlutut menjura hormat.
“Ada apa?” tanya Alma Fatara.
“Rombongan dari Desa Julangangin dan rombongan Gudibara telah tiba, Gusti Ratu!” lapor murid lelaki itu.
“Siapa rombongan Gudibara?” tanya Alma tidak kenal.
“Mereka yang ditugaskan pergi ke tempat kelompok Tikus Belukar, Gusti Ratu,” jawab Kawal Rindu.
“Suruh mereka semua datang ke air terjun!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap murid pelapor itu. Ia lalu menjura hormat dan berbalik pergi.
“Tambah jumlah penerangan di daerah belakang ini!” perintah Alma Fatara.
Singkat waktu.
Rombongan pimpinan Gagap Ayu dan rombongan pimpinan Gudibara datang dengan berjalan kaki menuju pinggiran sungai, tempat Alma Fatara dan para pejabatnya kini berada.
Di tempat itu sudah dipasang sejumlah obor sebagai penerang.
“Se-se-sembah hormat ke-ke-kepada Gu-gu-gusti Ratu Si-si-siluman!” ucap Gagap Ayu sambil menghormat dan berlutut satu kaki.
“Se-se-sembah hormat ke-ke-kepada Gu-gu-gusti Ratu Si-si-siluman!” ucap yang sama oleh rekan-rekan Gagap Ayu ikutan gagap.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara yang diikuti oleh tawa para tetua.
“Hei, ku-ku-kutang rayap!” maki Gagap Ayu marah sambil bangkit berdiri dan mendelik kepada rekan-rekannya.
“Hahaha!” tawa tertahan Geranda, Gede Angin, Penombak Manis, Alis Gaib, dan sejumlah rekan dari murid Jari Hitam.
“Ke-ke-kenapa, hah?!” bentak Gagap Ayu.
“Su-su-sudah!” kata Alma Fatara menengahi, tapi ikut gagap.
__ADS_1
Gagap Ayu jadi mendelik kepada Alma Fatara. Ia ingin marah, tapi sahabatnya itu adalah ratunya juga.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma lagi sambil merangkul bahu wanita cantik bertubuh mungil itu. Lalu kata Alma kepada yang lainnya, “Lain kali jangan ulangi seperti itu!”
“Baik, Gusti Ratu!” ucap Penombak Manis sambil tersenyum menahan tawa.
Alma Fatara melihat wanita cantik yang bersama seorang kakek dalam rombongan itu sedang menahan amarah. Namun, Alma lebih mengutamakan untuk menanyakan kondisi rombongan Gudibara yang terlihat sangat lemas.
“Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Alma kepada Gudibara dan rekan-rekan.
Terlihat sebagian dari murid-murid Bulan Emas itu sudah duduk berselonjor karena terlalu lemasnya.
“Kami menemukan mereka sedang terkurung dalam kurungan alam di hutan,” kata Penombak Manis.
“Seseorang membuat kami berjalan tanpa tujuan dan tidak pernah sampai ke perguruan selama sehari semalam. Kami belum makan dan minum selama itu,” jawab Gudibara dengan kata-kata yang lemah dan napas terengah-engah.
“Cepat beri mereka makan dan minum. Setelah itu biarkan beristirahat. Hadapkan mereka semua besok pagi!” perintah Alma Fatara.
“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Gudibara lemah sambil menjura hormat.
Seorang petinggi perguruan segera menuntun mereka untuk kembali ke perguruan.
“Siapa gadis cantik yang begitu marah ini?” tanya Alma Fatara akhirnya kepada Suraya Kencani.
“Muka-muka jelek seperti bebek mati ditabrak sapi buntung bau kentut setaaan!” teriak Suraya Kencani memaki tiba-tiba sambil memandang orang-orang Perguruan Bulan Sakti. Seolah-olah makiannya sudah siap ia lontarkan sejak tadi.
Terkejut Alma Fatara dan beberapa orang lainnya yang baru pertama kali mendengar makian semacam itu.
Suraya Kencani jadi memandang tajam kepada Alma Fatara dengan tatapan tajam.
“Suraya Kencani,” sapa Rereng Busa sambil mendekati wanita itu.
“Di mana babi setan itu? Di mana?” tanya Suraya Kencani sambil memandang mencari ke sekitar.
“Dia sudah tidak di sini. Sekarang kau aman di sini,” kata Rereng Busa lembut, seolah paham siapa yang dicari oleh wanita cantik jelita itu.
“Wanita ini bernama Suraya Kencani, Gusti Ratu. Dialah wanita pingsan yang hari ini kita tolong di tengah jalan,” kata Penombak Manis kepada Alma Fatara.
“Hmm,” gumam Alma Fatara sambil tersenyum kepada Suraya Kencani.
“Suraya Kencani, inilah Gusti Ratu yang menolongmu saat kau tidak sadarakan diri di tengah jalan,” kata Penombak Manis kepada Suraya.
“Hamba ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Gusti Ratu,” ucap Mbah Lawut sambil turun berlutut menghormat kepada Alma Fatara.
“Bangunlah, Kek!” perintah Alma.
Mbah Lawut pun bergerak bangun kembali.
“Siapa kau, Kek?” tanya Alma, karena dia memang belum pernah bertemu dengan Mbah Lawut, meski orang tua itu adalah orang yang ternama di kalangan pendekar karena ayam panggang madunya yang terkenal lezat.
__ADS_1
“Nama hamba Mbah Lawut. Hamba pemilik kedai ayam panggang madu di Desa Julangangin, Gusti Ratu,” jawab Mbah Lawut.
“Mbah Lawut ini sangat terkenal di kalangan pendekar karena ayam panggangnya yang begitu lezat,” kata Rereng Busa kepada Alma.
“Oh ya? Lalu apa hubunganmu dengan wanita cantik ini, Mbah?” tanya Alma Fatara.
“Aku pernah menjadi kekasihnya.”
Jawaban Mbah Lawut itu mengejutkan Alma Fatara dan sejumlah orang lainnya.
“Jadi aku berniat merawatnya selagi Suraya masih menderita luka,” tambah Mbah Lawut.
“Kekasih?” sebut ulang Alma dengan tatapan tidak mengerti.
“Gusti Ratu, Suraya Kencani ini adalah adik Wulan Kencana yang memiliki ilmu awet muda,” jelas Rereng Busa.
“Oooh!” desah Alma tanda mengerti. “Bawalah Tetua Suraya Kencani untuk beristirahat agar lukanya segera sembuh!”
“Terima kasih, Gusti Ratu!” ucap Mbah Lawut.
“Jika Mbah berkenan, besok masakkan kami ayam panggang yang banyak untuk murid-murid perguruan,” kata Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” jawab Mbah Lawut.
“Silakan, Mbah!” kata Alma memberi izin bagi Mbah Lawut dan Suraya Kencani pergi untuk beristirahat.
Setelah menghormat, Mbah Lawut menuntun Suraya Kencani pergi. Ada murid perguruan yang mengawal untuk menunjukkan kamar istirahat bagi kedua tamu itu.
“Sepertinya Kakek Rereng tahu sekali permasalahan yang menimpa adik Wulan Kencana itu?” tanya Alma.
“Benar. Nanti akan aku ceritakan kepada Gusti Ratu,” jawab Rereng Busa.
“Gusti, Gusti!” panggil Penombak Manis seperti memanggil teman, tapi sambil menatap jauh ke dalam kegelapan arah bawah air terjun.
“Ada apa?” tanya Alma sambil menghampiri wanita pesek manis itu.
“Jauh di bawah sana, di satu pohon hutan, ada dua manusia yang berada di atas pohon. Laki-laki dan wanita,” ujar Penombak Manis, yang membuat Alma dan yang lainnya jadi penasaran.
Namun, tidak mungkin bisa mereka melihat menembus kegelapan yang gulita, terlebih hutan yang Penombak Manis maksud letaknya jauh dari pandangan.
“Sehebat itu kehebatan Sisik Putri Samudera?” tanya Alma Fatara.
“Hehehe! Benar, Gusti Ratu,” jawab Penombak Manis seraya terkekeh.
“Siapa pun mereka, tidak ada hubungannya dengan kita,” kata Alma Fatara. Ia lalu beralih kepada Gelis Sibening. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.