Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 8: Balito Duo Lido


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Cuping. Itulah nama nenek galak yang kini diajak berbincang oleh Alma Fatara dan rekan-rekan di rumahnya. Hanya Alma, Riring Belanga dan Mbah Hitam yang duduk di balai-balai yang ada di rumah Nenek Cuping.


Juling Jitu dengan penuh semangat dan bahagia mulai mengajari Kembang Bulan berlatih. Cucum Mili hanya duduk anggun di bawah pohon sambil memerhatikan Juling Jitu mengajar.


Cucum Mili saat itu melepas cadarnya. Terlihat ia sesekali tersenyum, karena pikirannya menciptakan ilusi bahwa yang saat itu sedang berlatih bersama adalah dirinya dengan Pangeran Sugang Laksama.


Sementara Anjengan dan Gagap Ayu sibuk membantu Iwak Ngasin memasak di dapur. Hitung-hitung menghibur hati pemuda jangkung yang sedang melara itu. Masak bersama adalah hal yang biasa mereka lakukan berempat ketika di perguruan. Namun sekarang, Juling Jitu sudah punya kesibukan yang membuat  dirinya bahagia.


Nenek Cuping ditemani oleh cucunya yang bernama Rarami.


“Apa nama desa ini, Nek?” tanya Riring Belanga.


“Tinggelos,” jawab Nenek Cuping.


“Lalu ke mana penghuninya?” tanya Alma.


“Mengungsi. Kami mendengar ada serangan bajak laut kejam di Ibu Kota. Jadi warga desa memutuskan mengungsi. Kami takut jika bajak laut itu menemukan desa kami,” jelas wanita yang usianya sudah enam puluh lima tahun.


“Bajak laut itu memang kejam, tapi mereka sudah kami berantas,” kata Riring Belanga.


“Kenapa hanya Nenek Cuping dan Kakak Rarami yang ada di desa ini?” tanya Alma.


“Karena hanya aku yang berani berjaga. Cucu kesayanganku begitu sayang kepadaku, jadi dia menemaniku,” jawab Nenek Cuping lalu balik bertanya, “Siapa sebenarnya kalian ini? Lalu mau ke mana?”


“Ini Bibi Riring Belanga, salah satu panglima pasukan Kerajaan Singayam yang memimpin pemberantasan kelompok bajak laut. Aku Alma Fatara, pemimpin kelompok pembuat rusuh itu ….”


“Tapi ratu siluman?” terka Nenek Cuping memotong.


“Hahaha!” tawa Alma santai. “Tapi aku manusia biasa, Nek. Kami datang ke sini mengikuti petunjuk pendekar sakti untuk mencari seorang sakti.”


“Siapa?” tanya Nenek Cuping.


“Orang yang tidak bisa mengendalikan lidahnya. Kami tidak tahu siapa dia atau namanya. Tapi itulah petunjuknya,” ujar Alma Fatara.


“Di desa ini hanya ada satu orang sakti, yaitu Balito Duo Lido. Dia pemimpin desa ini. Sekarang sedang ada di tempat pengungsian bersama warga,” kata Nenek Cuping.

__ADS_1


“Apakah kami bisa diantar ke tempat pengungsian, Nek?” tanya Riring Belanga.


“Harus atas persetujuan dari Balito Duo Lido,” jawab Nenek Cuping.


“Baik, aku mengerti. Jika begitu, sampaikan kepada Balito Duo bahwa kami ingin bertemu dengannya hari ini juga. Katakan, panglima pasukan Kerajaan Singayam ingin bertemu,” kata Riring Belanga.


“Rarami, pergilah ke tempat pengungsian!” perintah Nenek Cuping.


“Iya, Nek,” ucap Rarami patuh.


Rarami lalu beranjak pergi setelah menghormat kepada Alma dan Riring Belanga.


Singkat cerita, sambil menunggu kabar dari Rarami, mereka akhirnya makan senja ramai-ramai hasil masakan Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu.


Kembang Bulan mulai terlihat ceria dengan tawa-tawa kecil hasil dari canda ria dengan Juling Jitu, membuat Iwak Ngasin hanya merengut, cemburu dan kesal. Juling Jitu bahkan makannya duduk di dekat Kembang Bulan.


Di tengah-tengah keasikan makan makanan hangat berupa sayur kangkung hangat dan ayam opor pedas, plus pisang manis, tiba-tiba sesuatu terjadi terhadap Juling Jitu.


“Aduh!” keluh Juling Jitu seraya mendadak mengerenyit. Posisi makannya yang sedikit terpisah dari kelompok, membuat ia tidak menjadi perhatian.


Namun, ketika Kembang Bulan bertanya, barulah Alma dan yang lainnya melirik kepada Juling Jitu.


Mendengar pertanyaan Kembang Bulan kepada Juling Jitu, Iwak Ngasin yang juga ikut makan dan duduk bersama Anjengan dan Gagap Ayu, jadi tersenyum sendiri lalu melirik.


“Aduh, perutku!” rintih Juling Jitu lalu buru-buru meletakkan piring makanannya. Ia buru-buru beranjak sambil memegangi belahan bokongnya, kemudian berlari menuju daerah belakang rumah.


“Hahahak!”


Yang tertawa justru Alma terlebih tahulu, bukan Iwak Ngasin yang akan jadi tersangkanya.


“Hahahak!” tawa Iwak Ngasin yang mengikuti tawa Alma.


Tawa kedua orang itu membuat yang lainnya jadi heran.


“Jangan kau katakan bahwa kau juga memasukkan sesuatu ke makanan kami, Iwak?” tukas Alma sambil menunjuk Iwak Ngasin.


“Aku masih mau hidup, Alma. Aku hanya meracuni makanan Juling Jitu,” jawab Iwak Ngasin.


“Hahaha!” Barulah Anjengan dan Gagap Ayu ikut tertawa.

__ADS_1


“Lanjutkan makanmu, Gadis Cantik. Jangan kau makan makanan Juling Jitu!” kata Cucum Mili kepada Kembang Bulan.


“Iya, Kak,” ucap Kembang Bulan patuh.


“Lanjutkan, tidak usah dibahas. Ujung-ujungnya pasti mereka selesaikan secara lelaki,” kata Alma Fatara.


Jlegg!


Tiba-tiba terdengar suara keras seperti benda yang jatuh menghantam tanah kering.


Ternyata di depan rumah Nenek Cuping baru saja mendarat seorang nenek gemuk bertongkat. Nenek gemuk berkulit sawo matang kering itu berjubah putih, serasi dengan warna rambut putih panjangnya yang digelung sebagian di atas kepala, lalu dijepit dengan jepit rambut besar berbahan perak. Mulut seksinya terus bergerak-gerak mengunyah daun sirih, yang sebagian sudah halus dan sebagian daunnya masih terjepit di bibir merahnya.


Para tamu yang sedang makan itu sontak mengalihkan pandangan mereka ke depan rumah, kecuali Alma yang membelakangi depan rumah. Ia sibuk menggerogoti tulang ayam.


“Siapa orang Kerajaan Singayam yang mau bertemu denganku?!” tanya si nenek setengah berteriak.


“Aku!” jawab Riring Belanga yang duduk di sisi Alma.


“Aku juga!” sahut Alma pula sambil menengok ke belakang menengok kepada si nenek jubah putih.


“Cantik betul! Cantik betul cantik betul, eh cantik betul!” pekik si nenek jubah putih tiba-tiba latah ketika melihat wajah Alma Fatara. Ia terkejut karena melihat kecantikan Alma.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan sebagian sahabatnya. Cucum Mili juga ikut tertawa melihat kelatahan si nenek yang datang dengan kehebatan itu.


“Aaah!” teriak Alma tiba-tiba sambil buru-buru memutar arah duduknya. Otaknya seakan menemukan sesuatu yang berharga. Ia menunjuk si nenek gemuk. “Ini orang yang kita cari!”


Mendengar perkataan Alma, nenek yang bernama Balito Duo Lido itu terkejut dan berubah tegang.


“Apa yang ingin kalian lakukan terhadapku?!” tanya Balito Duo Lido sambil menunjukkan tongkat kayunya dan memasang kesiagaan.


“Hahaha! Kami hanya mau mengundang Nenek Balito makan enak. Ini masakan murid-murid Pemancing Roh, Nek. Uenak sekali. Dijamin, kalau sudah makan sekali, tidak akan minta tambah lagi,” cerocos Alma sambil tersenyum-senyum.


“Hah! Murid-murid Pemancing Roh?” kejut Balito Duo Lido.


Riring Belanga juga terkejut mendengar nama Pemancing Roh disebut. Meski ia tidak kenal dengan Pemancing Roh, tetapi dia pernah mendengar nama besar di dunia persilatan itu.


“Mari sini, Balito. Makanannya masih banyak!” panggil Nenek Cuping.


“Hihihihi! Boleh boleh boleh. Aku pernah satu kamar dengan wanita sakti berjuluk Pemancing Roh itu,” kata Balito Duo Lido yang didahului dengan tawanya.  Ia lalu melangkah memasuki rumah Nenek Cuping.

__ADS_1


Iwak Ngasin, Anjengan dan Gagap Ayu sebagai pendekar kelas menengah agak ke bawah, segera berinisiatif pindah tempat untuk memberi ruang bagi Balito Duo Lido. (RH)


__ADS_2