Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 18: Meringkus Si Cantik


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


Baru saja Komandan Gegap Rawu dan pasukan pergi meninggalkan kedai makan itu dengan membawa ketakutan, Alma Fatara cepat memanggil anggotanya.


“Tampang Garang, bersembunyilah di atap dengan panahmu!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tampang Garang patuh, lalu menjura hormat dan bergegas pergi tanpa memikirkan nasib makanannya lagi.


“Iwak Ngasin, ajak Juling Jitu untuk menangkap dan menyandera satu anak cantik Adipati. Dan kau Mbah hitam, sandera anak yang satu lagi di tengah arena. Jangan sampai terbaca!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap ketiga lelaki itu.


“Ini baru tugas bahagia,” ucap Iwak Ngasin begitu gembira.


Mbah Hitam, Iwak Ngasin dan Juling Jitu segera bergerak cepat keluar dari kedai makan.


“Kalian berlima menyebarlah di dalam kerumuman!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan, Gagap Ayu, Kembang Bulan, Penombak Manis, dan Alis Gaib.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap mereka patuh. Kelimaanya cepat pula ke luar menyusul para lelaki.


Sebutan “Gusti Ratu” kepada Alma Fatara telah membudaya di antara mereka, termasuk keempat sahabat lengketnya.


Jika Tampang Garang pergi naik dan bersembunyi di atap kedai makan, maka yang lainnya segera masuk membaur ke dalam kerumunan warga, yang sedang menunggu Pertandingan Jagoan Tongkat dilanjutkan kembali.


Ketika Pasukan Keamanan Kadipaten kembali datang menyerbu ke arah kedai makan, Mbah Hitam dan yang lainnya bergerak memutar menghindari bertemu dengan pergerakan pasukan.


Mereka pun memantau ketika Adipati Dodo Ladoyo dan para ketua tongkat meninggalkan tribun atas. Adipati Dodo Ladoyo meninggalkan kedua putrinya di atas tribun dalam pengawalan hanya beberapa prajurit.


Ketika Adipati Dodo Ladoyo sudah meninggalkan tribun dan di saat perhatian warga tertuju kepada pergerakan sang adipati, Mbah Hitam, Iwak Ngasin dan Juling Jitu secara senyap bergerak cepat ke bawah panggung tribun.


Kedua putri Adipati Dodo Ladoyo bernama Surken dan Kinai. Keduanya adalah gadis usia dua puluhan yang cantik. Pokoknya cantik secantik telur rebus dibelah.


Keduanya terus memperhatikan pergerakan ayahnya dan pasukan besarnya. Keduanya tidak menyadari atau melihat pergerakan ketiga lelaki suruhan Alma Fatara.


Mbah Hitam memilih tahu-tahu menghilang.


“Dasar siluman!” maki Juling Jitu yang terkejut karena Mbah Hitam tahu-tahu menghilang dari mereka berdua.


“Memutar!” perintah Iwak Ngasin dengan maksud mengambil rute memutar agar tidak dicurigai sedang menuju ke bawah tribun. Jika mereka langsung menuju ke tribun, mereka akan mudah terlihat dan dicurigai.


Ketika Iwak Ngasin dan Juling Jitu berada di sisi samping kanan tribun dan jauh dari pantauan orang-orang di atas tribun, keduanya buru-buru berlari cepat masuk ke bawah panggung.


Jleg! Jleg!

__ADS_1


Setelah itu, Iwak Ngasin dan Juling Jitu melompat naik ke atas tribun lewat belakang, karena tribun itu tidak memiliki dinding, hanya lantai, tiang dan atap.


Bak bik buk! Bak bik buk!


Begitu bunyi iramanya ketika Iwak Ngasin dan Juling Jitu melumpuhkan beberapa prajurit di dekat kedua putri Adipati.


Terkejut Surken dan Kinai melihat ada serangan dari orang asing. Surken cepat bertindak menyerang Juling Jitu dengan pukulan dan tendangan bertenaga dalam tinggi, sampai-sampai Juling Jitu terkejut dan kewalahan.


Iwak Ngasin juga terkejut melihat keagresifan Surken yang di luar dugaan. Karena itu, ia memutuskan menggunakan gaya Anjengan, yaitu melompat menabrak peluk tubuh Surken. Iwak Ngasin jatuh bersama dengan menindih tubuh depan Surken. Sementara kedua tangannya memeluk dan mengunci kuat tubuh dan kedua tangan gadis itu.


Beruntungnya lagi, Iwak Ngasin dapat bonus mencium lubang hidung Surken. Surken berusaha berontak.


Kinai yang melihat kakaknya dilumpuhkan, cepat bertindak.


Wess!


“Akk!” jerit tertahan Kinai saat tiba-tiba ada sekelebatan benda hitam besar panjang menyambar tubuhnya dan menutupi pandangannya.


Benda itu adalah sosok ular Mbah Hitam yang melilit tubuh atas dan kepala Kinai.


“Jitu, cepat totok wanita ini!’ teriak Iwak Ngasin yang menahan sekuat tenaga rontaan Surken.


“Tubuhmu menghalangi!” kata Juling Jitu karena Iwak Ngasin benar-benar kenyang memeluk wanita berbau harum itu.


“Aku hitung sampai satu! Satu!” kata Iwak Ngasin sambil melepas pelukannya.


Bertepatan ketika Iwak Ngasin melepas pelukannya dan berguling ke samping, totokan Juling Jitu melesat masuk ke kisaran leher dan dada Surken. Namun, pada saat yang sama pula, bogem dapur Surken masih sempat menonjok mata kiri Juling Jitu. Pemuda juling itu tersentak dengan kisaran mata kiri yang lebam biru.


Tuk!


Iwak Ngasin melengkapi satu totokan lagi pada tubuh Surken.


Sementara itu, Agung Rupo yang berada di atas panggung arena, terkejut melihat ada serangan di atas tribun. Tanpa berteriak, ia cepat berkelebat naik dengan berlari melompati tangga-tangga tribun.


Dak!


Namun, gerakan Mbah Hitam terlalu cepat melesat di udara dengan mambawa tubuh Kinai. Ekor Mbah Hitam mengibas keras menghantam punggung Agung Rupo di udara.


Bjakk!


Agung Rupo jatuh tersungkur sempurna dengan wajah menghantam tanah becek.


Serangan di atas tribun itu tidak terdengar atau diketahui oleh sang adipati dan para pendekar, yang sudah tiba di depan kedai makan tempat Alma Fatara dan Cucum Mili bersantai.

__ADS_1


Ada sejumlah warga yang melihat serangan itu, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena bingung harus berbuat apa.


“Cepat ikat!” kata Iwak Ngasin yang sudah mengangkat tubuh Surken dengan cara memeluk bagian kedua pahanya. Sementara pusar Surken menempel di hidungnya.


“Iya, ini sudah cepat!” kata Juling Jitu sambil mengikat kedua tangan Surken pada palang di atap tribun.


Mereka berdua menggantung wanita cantik itu dengan tangan di atas, membuat perut putih langsingnya tersingkap sebagian.


“Selesai!” kata Juling Jitu.


“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin gembira lalu melepaskan gendongannya. Dengan isengnya, Iwak Ngasin menepuk bokong padat Surken lalu tertawa lagi.


Surken yang tidak bisa bersuara karena pita suaranya juga ditotok, hanya bisa mendelik marah.


Juling Jitu lalu mengambil sebilah pedang prajurit lalu diposisikan di dekat perut Surken yang terbuka. Sementara Iwak Ngasin berdiri di dekat tubuh Surken yang menggantung. Kedua ujung kaki Surken menggantung hanya dua jengkal dari lantai.


Iwak Ngasin dan Juling Jitu memandang jauh ke arah kedai makan yang sedang ramai dikepung. Mereka tidak mendengar suara ketegangan yang terjadi di sana. Mereka menunggu tanda.


Sementara itu, Mbah Hitam hilang entah ke mana.


“Jitu, alangkah bahagianya hidupku jika punya istri secantik ini,” kata Iwak Ngasin sambil kembali menepuk bokong padat Surken.


“Hati-hati, jangan sampai setelah perkara ini selesai, dia akan memburumu habis-habisan!” kata Juling Jitu mengingatkan.


“Hahaha! Mana bisa. Dia sekarang tidak berkutik di tangan kita. Bau tubuhnya saja haruuum,” kata Iwak Ngasin lalu mendekatkan penciumannya ke dekat kulit perut Surken.


Surken benar-benar murka mendapati dirinya dilecehkan seperti itu.


Ctar!


Tiba-tiba terjadi ledakan nyaring di udara, tepatnya di atas kedai makan, membuat orang-orang yang mengepung kedai terkejut dan refleks merunduk, khawatir jika kepala mereka tahu-tahu terkena sesuatu.


“Itu tandanya!” kata Juling Jitu cepat.


Iwak Ngasin lalu melepaskan totokan pada pita suara Surken, membuat gadis itu bisa bersuara.


“Ayahandaaa!” teriak Surken begitu kencang.


Teriakan yang suaranya sampai ke telinga Adipati Dodo Ladoyo dan para pendekar itu, mengejutkan mereka.


Adipati Dodo Ladoyo dan para pendekar cepat melemparkan pandangannya jauh ke belakang. Mereka melihat ke arah tribun.


Mereka melihat satu putri Adipati dalam kondisi digantung di atap tribun. Namun, tidak terlihat putrinya yang lain.

__ADS_1


“Putriku!” teriak Adipati Dodo Ladoyo kian terkejut. (RH)


 


__ADS_2