Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
PITAK 11: Petunjuk Eyang Kubur Biru


__ADS_3

*Episode Terakhir (PITAK)* 


 


Kepala Desa Pendekar Tua, yaitu Raja Lebah Peminat, berjalan berdampingan dengan Alma Fatara, meski di sisi kirinya berjalan Tengkorak Pedang Siluman. Sementara Ratu Tengkorak berjalan di sisi kanan Alma Fatara.


Bebeberapa tombak di belakang, rombongan Pasukan Genggam Jagad berjalan memasuki desa yang jalannya adalah bebatuan datar.


Uniknya, desa itu memiliki warga yang semuanya kakek-kakek dan nenek-nenek. Mereka memandangi tamu yang datang dari rumah-rumah mereka yang berdiri di kemiringan tebing.


Mereka menyaksikan rombongan itu dengan penuh antusias dan ramai tersenyum-senyum, baik tersenyum sendiri ataupun tersenyum kepada orang di sebelahnya.


Intinya mereka sangat gembira melihat orang-orang muda yang cantik-cantik dan tampan satu dua orang. Apalagi melihat Alma Fatara yang seperti buah manggis dibelah. Bahkan ada beberapa kakek-kakek yang melambai tangan dari teras rumahnya kepada Alma Fatara. Dan Alma pun masih sempat-sempatnya balas melambai sambil tersenyum rapat, khawatir para kakek itu mati mendadak jika melihat keompongannya.


“Eh eh!” keluh Raja Lebah Peminat sambil oleng menabrak lengan Alma Fatara. Buru-buru ia menengok kepada Tengkorak Pedang Siluman dan menghardik, “Jangan senggol-senggol seperti itu, Siluman. Nanti aku disangka kegenitan oleh Ratu Cantik!”


“Siapa yang menyenggolmu? Kau saja yang menjadikanku kambing merah demi menyenggol Gusti Ratu!” sergah Tengkorak Pedang Siluman yang tahu modus tingkat tua Kepala Desa.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara yang hanya terdorong sedikit oleh senggolan si kakek. Masih untung yang disenggol hanya lengan, bukan wilayah lainnya.


Ulah Raja Lebah Peminat ternyata tidak sampai di situ. Ia semakin menjahili Alma Fatara.


Kakek itu sengaja berhenti selangkah, lalu pandangannya menyapu bagian tubuh belakang Alma Fatara, seperti kakek cabul. Ia memandangi dari bahu, punggung, bokong hingga betis Alma Fatara. Untung Alma Fatara mengenakan jubah tebal, jadi tidak terlihat seksi.


“Dasar Tua Cabul!” bentak Tengkorak Pedang Siluman sambil menepak bokong Raja Lebah Peminat, membuat lelaki tua itu terlompat kaget. “Apa yang kau lakukan, hah?! Ingat, dia itu murid putramu!”


“Hehehe! Aku hanya mencari di sebelah mana Bola Hitam itu diletakkan,” kilah Raja Lebah Peminat sambil cengengesan.


“Apakah kau menginginkannya juga, Kek?” tanya Alma Fatara santai seraya tersenyum.


“Hahaha! Tidak perlu. Lagi pula buat apa aku punya Bola Hitam. Nanti desaku justru diserbu oleh pendekar-pendekar serakah,” kata Raja Lebah Peminat. “Ratu, tapi di belahan mana kau simpan pusaka itu.”


“Hahaha!” tawa Alma Fatara pelan. Lalu katanya, “Kurang sopan kau, Kek. Apakah mau aku tunjukkan di belahan mana?”


“Oooh, tidak-tidak. Aku tidak mau mati di tangan murid anakku,” bantah Raja Lebah Peminat cepat.


“Bukankah kau memiliki kesaktian yang tinggi, Raja Lebah?” tanya Ratu Tengkorak bermaksud memancing.


“Hehehe! Aku belum pikun, Ratu Tengkorak. Kalian berdua saja tunduk kepada murid anakku ini, bisa-bisa aku dibuat tidak tunduk lagi, tapi dibuat tenggelam di Tanah Kutukan. Apa lagi dia punya Bola Hitam,” kata Raja Lebah.


“Gusti Ratu, pergilah bersama Ratu Tengkorak. Biar aku yang mengurus Raja Lebah Genit ini!” kata Tengkorak Pedang Siluman.

__ADS_1


“Apa maksudmu, Siluman?” tanya Raja Lebah Peminat kepada Tengkorak Pedang Siluman.


“Kau bersamaku saja!” kata Tengkorak Pedang Siluman sambil tiba-tiba merangkul leher belakang Raja Lebah Peminat.


“Eh, apa yang kau lakukan, Siluman? Ingat umurmu!” hardik Kepala Desa.


“Ayo, Gusti Ratu!” ajak Ratu Tengkorak sambil memegang tangan Alma Fatara.


Clap!


Tiba-tiba Ratu Tengkorak dan Alma Fatara menghilang begitu saja. Sementara Tengkorak Pedang Siluman terus memaksa Raja Lebah Peminat yang tidak berminat dirangkul-rangkul paksa.


Ratu Tengkorak dan Alma Fatara tahu-tahu muncul di depan sebuah dua tonggak kayu kering bercabang. Di sisi kanan dan kiri dua tonggak kayu itu adalah pagar pohon alami yang tertutup rapat oleh tumbuhan rambat. Sementara antara kedua tonggak tidak ada apa-apa, sehingga membentuk sebuah celah selebar setengah depa.


Aroma bunga kamboja menyeruak kental dari area tanah di balik pagar tanaman itu. Melalui celah tonggak kayu itu, keduanya bisa melihat sejumlah gundukan tanah yang memiliki berbagai tanda bahwa itu adalah kuburan. Ada yang bertanda papan, sekedar sebatang kayu, batu, atau sebuah kendi yang berlapis lumpur kering.


“Inilah Tanah Kutukan. Hanya orang-orang yang diizinkan bisa memasukinya,” kata Ratu Tengkorak. “Termasuk Tengkorak Pedang Siluman adalah orang yang tidak diizinkan menginjak tanah pemakaman ini.”


“Hua hua hua,” ucap Alma Fatara pelan, tanda mengerti. “Lalu bagaimana denganku, Nek?”


“Tenang saja, kau datang bersamaku,” kata Ratu Tengkorak. “Tunggulah sebentar!”


Ratu Tengkorak lalu maju dan menempelkan telapak tangan kanannya pada tonggak kayu sebelah kiri. Ia memejamkan matanya.


Nenek bungkuk itu lalu diam sejenak, seperti orang yang sedang mendengarkan lawan bicaranya di ujung sambungan telepon.


“Dia ingin bertanya tentang hal yang berkaitan dengan hidup dan asal usulnya, Eyang,” ucap Ratu Tengkorak lagi, lalu diam lagi seolah menunggu. Lalu ucapnya, “Baik, Eyang.”


Setelah itu, Ratu Tengkorak menarik lepas telapak tangannya. Ia menengok kepada Alma Fatara.


“Mari, Gusti Ratu!” ajak Ratu Tengkorak tapi mempersilakan Alma Fatara masuk lebih dulu ke Tanah Kutukan.


Ratu Siluman lalu tersenyum dan melangkah untuk melewati jalan masuk itu lebih dulu.


Slap!


Namun, ketika tubuh Alma Fatara melewat dua tonggak kayu kering itu, tiba-tiba pemandangan tanah pemakaman yang penuh kuburan dan banyak pohon kamboja berubah total.


Alma Fatara kini mendapati dirinya berada di sebuah ruangan papan yang sederhana yang didominasi warna biru, seperti dicat. Bahkan langit-langitnya yang terbuat dari kayu dan atap rumbia juga berwarna biru.


Selain dia yang ada di ruangan itu, ada pula seorang nenek berambut biru gelap. Alisnya bahkan berwarna biru gelap. Sepasang matanya sudah sangat tua, nyaris tertutup rapat, sehingga terlihat dia sedang berjuang untuk melihat sosok Alma Fatara. Nenek berpakaian putih-putih itu dalam posisi duduk di balai-balai bambu warna biru dengan kedua kaki ditekuk ke samping, sementara badannya miring bertopang dengan tangan kiri. Terlihat jelas bahwa kulitnya sudah sangat tipis dan banyak bintik-bintik hitam dan cokelatnya. Bibirnya menunjukkan bahwa ia tidak punya gigi lagi.

__ADS_1


Alma Fatara berdiri diam sejenak. Ia menunggu kemunculan Ratu Tengkorak bersamanya. Namun, nenek bungkuk itu tidak kunjung muncul.


“Hormatku kepada Nenek,” ucap Alma Fatara pada akhirnya, seraya menjura hormat ala pendekar, seperti murid kepada gurunya.


“Masih sangat muda,” ucap si nenek lirih dengan suara seraknya, sehingga terdengar seperti suara tenggorokan.


“Apakah Nenek adalah Eyang Kubur Biru?” tanya Alma Fatara santun.


“Duduklah di depanku sini, Alma!” perintah si nenek. Dia menyebut nama tamunya dengan nada yang akrab.


Alma Fatara lalu bergerak maju dan duduk di depan balai-balai.


“Hanya aku yang tinggal hidup di Tanah Kutukan, yang lainnya semua tinggal mati,” kata si nenek yang menjawab pertanyaan Alma Fatara. “Coba aku lihat gelang kakimu!”


Alma Fatara lalu mencopot gelang emasnya dari pergelangan kakinya dan menyodorkannya kepada si nenek.


Sambil tangan kanannya menerima gelang bercetak kepala macan bertanduk itu, tangan kiri si nenek diletakkan di kepala Alma Fatara.


“Masih semuda ini kau sudah memegang Bola Hitam dan memiliki tenaga Keris Pemuja Bulan,” ucap si nenek. “Setiap anak manusia itu memiliki cerita hidupnya masing-masing. Yang perlu kau jaga adalah nyawa manusia, karena nyawa itu sangat berharga. Beri kesempatan kepada pendosa untuk berbuat baik. Cabut kekuasaan dari orang-orang yang tidak menghargai nyawa orang lain. Gunakan harta benda sebagai alat, jangan sebagai kenikmatan. Belalah yang benar meski dia kuat dan musuhi yang salah meski dia lemah. Jadilah pemimpin yang adil. Jika tidak bisa, setidaknya dahulukan rakyatmu. Aku ingin, sebelum aku mati, aku bisa mendengar kabar baikmu, Alma.”


Alma Fatara terdiam kusyuk mendengar petuah-petuah dari si nenek.


“Iya, Eyang,” sahut Alma Fatara pada akhirnya dengan lembut.


Si nenek lalu menarik tangan kirinya dari kepala Alma Fatara.


“Dari mana kau mendapat Gelang Macan Bertanduk ini, Alma?” tanya si nenek.


“Aku bayi yang dibuang ke lautan lepas. Hanya itu benda yang ditinggalkan orangtuaku di dalam peti bayiku. Aku tidak tahu siapa ayah ibuku, Eyang. Jadi aku mencarinya melalui gelang ini. Aku mendapat petunjuk dari Kakek Raja Tanpa Gerak setelah aku melihat Gelang Permaisuri Surga. Aku menduga, pembuat gelang ini dan Gelang Permaisuri Surga adalah orang yang sama, Eyang,” tutur Alma Fatara.


Si nenek berambut biru menyerahkan gelang itu kembali kepada Alma Fatara.


“Pembuat Gelang Macan Bertanduk ini adalah Si Tangan Cantik yang tinggal di Pulau Tunggal. Jarak terdekat untuk pergi ke pulau itu adalah lewat Pantai Racun. Hanya orang-orang Suku Hidung Kucing di Jintamani yang tahu letak Pantai Racun,” jelas si nenek.


“Si Tangan Cantik, Pulau Tunggal, Pantai Racun, Suku Hidung Kucing, dan Jintamani. Aku sudah hapal, Eyang. Terima kasih, Eyang,” ucap Alma Fatara.


“Apakah hal yang kau butuhkan sudah kau dapatkan?” tanya si nenek.


“Sudah, Eyang,” jawab Alma Fatara.


“Sekarang terimalah ini!” kata si nenek sambil menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Alma Fatara.

__ADS_1


Jess!


“Akk!” pekik tertahan Alma Fatara ketika pada dahinya yang ditutupi tangan tua si nenek muncul sinar hijau terang, tapi hanya sekejap saja. (RH)


__ADS_2