Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 14: Membunuh Pembunuh


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*


 


Betok, Kungkang dan Jungkrik masing-masing menuntun dua ekor kuda yang semuanya baru selesai mereka mandikan di sungai.


“Dengan kematian Kang Aden Golono, Kang Aden Lolongo menjadi pewaris tunggal,” kata Betok.


“Seandainya aku perempuan, aku pasti akan memeras susu Kang Aden. Eh ealah, memelas kepada Kang Aden Lolongo maksudku. Memelas cintanya, walaupun Kang Adeng Lolongo itu suka marah-marah,” kata Kungkang.


“Hahaha! Tidak perlu jadi perempuan, jika Kang Aden Lolongo suka dengan sesama lelaki, aku juga mau,” kata Jungkrik.


“Helleh, itu namanya eddan!” maki Betok.


“Hahaha!” Jungkrik hanya tertawa.


“Eh, jangan-jangan … selama ini kau memperlakukan kami sebagai istrimu ketika kami tidur bersamamu, Jangkrik!” tukas Betok.


“Hah! Kau berbuat seperti itu, Jangkrik?” tanya Kungkang terkejut. Ia sampai berhenti berjalan.


“Tidaaak. Kalian pikir aku segila dan sehina itu? Aku masih punya harga diri!” tepis Jungkrik.


“Awas, jika sampai tertangkap basah kau memperlakukan kami seperti perempuan, aku kutili kau. Eh ealah, aku kuliti maksudku,” ancam Kungkang serius.


“Hahaha! Mencabuti bulu ayam saja kau tidak berani, apalagi menguliti aku,” ledek Jungkrik.


“Eh, tahan. Tunggu dulu!” seru Betok. “Lihat, ada rombongan pendekar. Seperti pasukan.”


Mereka bertiga pun memandang jauh ke jalan, di mana Pasukan Genggam Jagad baru saja menyelesaikan urusan mereka.


“Eh eh eh lihat!” tunjuk Jungkrik ke arah sebatang pohon.


Betok dan Kungkang segera alihkan perhatiannya ke arah pohon, tempat Lolongo dinyamankan oleh dua orang wanita cantik berpanah yang tidak lain adalah Janda Belia dan Bayu Semilir.


“Wah wah wah! Anak Demang enak sekali. Di mana-mana selalu dijepit,” kata Betok.


“Dijepit apa maksudmu, Betok?” tanya Jungkrik lugu.


“Hah, seperti itu saja tidak tahu!” ketus Betok.


“Ayo kita ke sana. Ada yang aneh, karena Kang Aden Lolongo tidak pakai baju,” kata Kungkang.


“Ayo!” ucap Betok pula.


Mereka bertiga lalu pergi menuju tempat Lolongo berada.


“Tapi pasukan itu menarik sekali, banyak wanita pancinya. Eh ealah, wanita cantiknya maksudku,” kata Kungkang sambil berjalan dengan tetap menarik dua kudanya.


“Jika kau disuruh memilih, tetap jadi tukang urus kuda atau jadi pesuruh di antara pendekar itu?” tanya Betok.


“Hahaha! Jelas aku memilih bergabung dengan parutan itu. Eh ealah, pasukan itu maksudku. Bisa dekat dengan gadis-gadis cantik tanpa perlu banyak uang. Dan mungkin saja, bisa kecipratan kesakitan,” kata Kungkang.


“Kesakitan apa?” tanya Jungkrik heran.


“Kesaktian maksudku. Hehehe!” ralat Kungkang.


Melihat kedatangan ketiga lelaki gendut yang membawa kuda, Janda Belia dan Bayu Semilir beralih menghadap kepada mereka yang datang. Sikap kedua wanita cantik tersebut membuat Betok dan kedua rekannya langsung berhenti.

__ADS_1


“Apa yang ka-ka-kalian perbuat terhadap Kang Aden Lolongo?” tanya Betok agak tergagap, menunjukkan nyalinya tidak semantap gayanya.


“Kami menolongnya,” jawab Janda Belia.


“Oooh, melolongnya …. Eh ealah, menolongnya maksudku,” ucap Kungkang.


“Hahaha!” Ketiga lelaki gendut itu lalu tertawa hambar.


“Siapa kalian bertiga?” tanya Bayu Semilir.


“Kami tukang kuda Demang Pahasusi. Eh ealaaah, Demang Mahasugi maksudku. Hehehe!”


“Hihihi!” tawa Janda Belia dan Bayu Semilir.


“Hehehe!” kekeh ketiga lelaki kuda itu … eh ealah, ketiga lelaki pemelihara kuda itu. Mereka merasa bahagia bisa tertawa bersama wanita cantik. Selama ini, mereka hanya sering tertawa bersama kuda cantik selain tertawa bersama sesama mereka sendiri.


“Pasukaaan, siapa kitaaa?!” teriak Panglima Besar Anjengan.


“Pasukan Genggam Jagad!” teriak seluruh Pasukan Genggam Jagad, termasuk Janda Belia dan Bayu Semilir.


Teriakan berjemaah itu mengejutkan Betok, Kungkang dan Jungkrik.


“Hua hua hua!”


“Hua hua hua!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Wik wik wik wik wik!”


“Hahaha!” tawa datar ketiga lelaki gendut pembawa kuda itu, seperti sedang menonton pertunjukan di dunia lain.


“Ayo Kakang Lolongo, kita naik kuda pulang ke rumah Kakang!” ajak Janda Belia, mantan kekasih saudara kembar Lolongo.


“Tidak, kuda itu tidak ada pelananya, aku tidak pakai celana,” kata Lolongo lemas.


“Hihihi!” tawa kedua wanita cantik itu, paham dengan maksud Lolongo.


“Semilir, mintalah pelana kuda di pasukan kita,” suruh Janda Belia.


“Baik,” ucap Bayu Semilir lalu segera berkelebat pergi ke dalam pasukan yang sedang berjalan.


“Sedang apa kalian di sini?” tanya Lolongo bernada marah kepada ketiga pengurus kudanya, tapi tidak keras.


“Tadi, kami bermaksud menolong Kang Aden. Kami kira lawan, ternyata kawan,” jawab Betok.


“Kang Aden, kenapa bisa hanya pakai sarung?” tanya Jungkrik.


“Tidak usah tanya-tanya!” bentak Lolongo keras lalu terkulai lemah lagi.


Dibentak seperti itu, ketiga lelaki gendut tersebut tidak ada lagi yang berani bertanya.


“Apakah kalian melihat Buluk?” tanya Lolongo bernada lemah.


“Tidak, Kang Aden,” jawab Jungkrik.


“Jangan lupa janjimu, Kakang Lolongo,” kata Janda Belia.

__ADS_1


“Iya, aku pasti membayar kalian berdua,” kata Lolongo yang menderita luka di kaki.


Mendadak terdengar suara keramaian dari arah yang berlawanan dengan Pasukan Genggam Jagad. Ada suara lari beberapa kuda dan keretanya, serta suara lari banyak orang.


Dari balik tikungan, muncul dua kuda yang sedang menarik sebuah kereta. Di belakangnya berlari delapan kuda yang ditunggangi oleh para pendekar. Di belakang lagi berlari puluhan centeng dan prajurit.


Orang yang duduk di kereta kuda terbuka tidak lain adalah Putri Cicir Wunga, ibu dari Lolongo. Para pendekar berkuda yang mengawal, empat di antaranya adalah Ronga Kamboja, Begar, Nuri Glatik dan Buluk.


Keberadaan Buluk menunjukkan bahwa ia telah melapor tentang nasib Lolongo kepada orangtuanya. Laporan tentang kedatangan pasukan pendekar yang banyak, pertarungan antara Dua Tengkorak Putih dengan dua pendekar sakti bayaran Demang Mahasugi, juga telah sampai dengan cepat.


Bertemunya dua pasukan yang dipimpin oleh sama-sama wanita tersebut, membuat Alma Fatara dan Putri Cicir Wunga mengangkat tangan tanda berhenti.


“Ternyata ada Bola Hitam,” batin Putri Cicir Wunga dengan tatapan serius tertuju kepada Alma Fatara yang kini berjalan di depan bersama para pengawalnya.


Putri Cicir Wunga berdiri dari duduknya.


“Apakah aku berhadapan dengan Ratu Siluman dan pasukannya?” tanya Putri Cicir Wunga.


“Benar, Bibi,” sahut Alma Fatara seraya tersenyum manis.


“Tunjukkan pembunuh putraku!” kata Putri Cicir Wunga.


“Bawa pembunuh itu, Panglima!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Anjengan patuh.


“Ibundaaa!” teriak Lolongo dari kejauhan sambil mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi. Ia berjalan terpincang dengan dipapah oleh Janda Belia.


Maka sia-sialah Bayu Semilir mengambil pelana kuda, karena kemudian Lolongo memilih berjalan terpincang.


Putri Cicir Wunga dan orang-orangnya segera melihat ke arah Lolongo.


“Kang Aden!” pekik Buluk yang baru melihat keberadaan Lolongo. Ia cepat memacu kudanya untuk menjemput majikannya.


“Buluk setan! Ke mana saja kau?!” teriak Lolongo marah.


“Aku mencari bantuan, Kang Aden,” jawab Buluk setelah dia turun dari kudanya. “Ayo, Kang Aden, aku bantu naik ke kuda.”


“Tidak usah, aku mau naik kereta kuda saja!” tolak Lolongo, tapi membentak. Lalu katanya kepada Janda Belia dengan lembut, “Ayo, Belia.”


Sementara itu, Anjengan sudah membawa Rawit Ireng ke depan kereta kuda Putri Cicir Wunga.


Anjengan membuka penutup kepala Rawit Ireng. Maka tersingkaplah wajah pembunuh Golono itu. Putri Cicir Wunga menatap dingin Rawit Ireng.


“Benarkah kau yang membunuh putraku?” tanya Putri Cicir Wunga dingin.


Rawit Ireng tidak langsung menjawab. Ia menunggu totok pada pita suaranya dibebaskan oleh Anjengan.


“Benar,” jawab Rawit Ireng jujur.


“Siapa yang memerintahkanmu?” tanya Putri Cicir Wunga.


“Bandar Bumi,” jawab Rawit Ireng. Dia tidak bisa berdusta lagi. Ia pun sudah siap jika harus mati.


Broks!


Tiba-tiba Putri Cicir Wunga menghentakkan lengan kanannya, akibatnya dada kiri Rawit Ireng langsung jebol, tanpa terlihat ada sesuatu yang menjebolnya.

__ADS_1


Alma Fatara, Anjengan dan yang lainnya hanya bisa terkejut menyaksikan hal yang juga menunjukkan tingkat kesaktian Putri Cicir Wunga. Rawit Ireng yang tidak menjerit, tumbang saat itu juga.


Sementara itu, Lolongo tiba di dekat kereta dengan tuntunan Janda Belia. (RH)


__ADS_2