Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Kerja Bu 17: Duka dan Dendam


__ADS_3

*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)* 


Bajingu adalah seorang warga Kademangan Santun Pongah. Ia sedang berjalan dengan bahu memanggul tangkai beberapa buah kelapa muda.


Tiba-tiba dia berhenti dengan pandangan yang heran, saat melihat keberadaan sebuah tongkat berwarna biru yang menancap di sebatang pohon, tidak jauh dari Sungai Hijau.


“Itu seperti tongkat milik Den Jaran Telu,” ucap lelaki separuh baya berblankon cokelat lusuh itu.


Bajingu kemudian berjalan mendekati pohon tempat tongkat menancap. Namun, lelaki itu kembali berhenti ketika pandangannya menangkap keberadaan dua kaki yang tergeletak, sementara tubuh dua kaki itu terhalang oleh batang pohon.


“Jangan-jangan …” sebut si petani sepotong kata.


Bajingu segera melangkah lebih maju dan dengan cepat ia bisa melihat sesosok tubuh lelaki tergeletak diam di tanah. Bagian leher dan badan atasnya berlumuran darah yang sudah mulai mengering.


“Den Jaran Telu!” pekik Bajingu terkejut bukan main. Ia sampai tergidik ngeri ketika melihat luka besar pada leher Jaran Telu.


Bduk!


Seketika ia menjatuhkan dahan kelapa yang dipikulnya. Ia lalu berlari langsung sprint, layaknya seorang sprinter tingkat kademangan.


“Ada apa, Bajingu?!” teriak seorang warga bertanya, ketika melihat Bajingu berlari seperti kucing dikejar sapu.


“Anu!” jawab Bajingu sambil lalu.


Warga yang bertanya hanya bisa bingung, karena tidak bisa menafsirkan “anu” Bajingu.


Bajingu terus berlari kencang. Beberapa warga yang dilaluinya hanya bisa saling pandang melihat Bajingu begitu energik.


Pada satu tempat, Bajingu berpapasan dengan dua lelaki berpedang yang merupakan centeng Keluarga Raden Runok Ulung. Kedua lelaki itu kompak menyilangkan pedangnya yang masih berwarangka, menghadang lari Bajingu.


Tak!


Karena terlalu kencangnya berlari, Bajingu tidak memiliki cukup jarak untuk mengerem. Dahinya terpaksa menghantam sarung pedang yang merupakan jenis benda padat. Suka tidak suka, Bajingu terpaksa jatuh terlentang.


Bajingu meringis sambil mengusap dahinya yang sedikit benjol dan memerah. Ia segera bangkit.


“Ada apa, Bajingu?” tanya salah seorang centeng.


“Anu!” jawab Bajingu sambil menunjuk jauh ke arah tadi dia datang.


“Anu-anu apa?” tanya centeng itu sambil menusuk pelan lambung kiri Bajingu, membuat lelaki yang lebih tua itu terjinjit mengkerut karena merasa geli.


“Anu, Den Jaran!” jawab Bajingu yang masih dikuasai oleh rasa panik.


“Kenapa Den Jaran?” tanya si centeng lagi.

__ADS_1


“Den Jaran di sana! Mati!” tandas Bajingu.


“Apa?! Mati?!” teriak kedua centeng itu kompak serentak terkejut.


“Cepat lapor Gusti Raden!” kata centeng yang sejak tadi bertanya.


Kedua centeng itu buru-buru balik kiri dan berlari sprint, seolah sedang adu lari berebut janda segar. Mereka meninggalkan Bajingu. Sama seperti Bajingu tadi, mereka berlari seperti kucing yang dilempar piring karena ketahuan nyolong ikan segar.


Tidak sampai lima menit mereka berlari, masuklah mereka ke halaman rumah besar kediaman Raden Runok Ulung. Di salah satu sisi halaman, sedang berlangsung pengobatan mata yang dilakukan oleh dua orang tabib. Pasiennya adalah para centeng yang mengalami luka mata akibat ulah Juling Jitu.


“Gusti Raden! Gusti Raden!” teriak kedua centeng itu begitu berisik.


Sebentar saja, Raden Bagus Penjogo keluar bersama istrinya, Raden Ayu Rungki.


“Ada apa lagi?!” bentak Raden Bagus Penjogo marah, karena ia merasa terganggu oleh keributan tiba-tiba itu.


“Anu, Gusti Raden … di sana ada yang mati!” lapor si centeng dengan wajah berkeringat dan napas tersengal-sengal.


“Jika teman kalian mati, urus sendiri, tidak perlu kau melapor seperti itu kepadaku!” bentak Raden Bagus Penjogo.


“Ma-ma-masalahnya … orang yang mati adalah Gusti Jaran Telu!” tegas si centeng.


“Appa?!” pekik Raden Bagus Penjogo.


“Jaran Telu putrakuuu!” jerit histeris Raden Ayu Rungki.


Teriakannya yang mengandung tenaga dalam mengejutkan semua orang di rumah itu dan di sekelilingnya. Kedua centeng yang datang melapor jadi gemetar ketakutan. Mereka seolah sedang berhadapan dengan makhluk dari alam lain.


“Di mana putraku? Di mana?” tanya Raden Ayu Rungki sambil menangis.


Deg!


Tersentak jantung dan otak kedua centeng itu, karena mereka tidak tahu di mana mayat Jaran Telu berada. Mereka lupa menanyakan kepada Bajingu tentang keberadaan mayat Jaran Telu.


“Kenapa kalian diam, hah?!” bentak Raden Bagus Penjogo.


“Ka-kami lu-lupa menanyakannya kepada Bajingu, Gusti,” ucap si centeng mendadak gagap karena takut.


Plak! Buk!


Dengan keras, Raden Bagus Penjogo menampar centeng tersebut dan menendang perut centeng satunya. Kedua centeng itu terbanting dan terjengkang ke tanah.


“Ampun, Gusti! Ampuni kami!” seru si centeng sambil keduanya berlutut menghormat sangat dalam. “Ka-kami diberi tahu oleh Bajingu.”


“Siapa itu Bajingu?!” Raden Bagus Penjogo masih berteriak marah.

__ADS_1


“Warga kademangan ini, Gusti,” jawab si centeng yang masih berlutut nyaris bersujud, saking takutnya dihukum lagi.


“Maaf, Gusti. Itu orang yang bernama Bajingu,” ucap seorang centeng penjaga yang berdiri tidak jauh dari mereka. Ia menunjuk ke luar pagar.


Di luar pagar, Bajingu sedang berdiri bimbang. Ia ingin masuk, tetapi ia ngeri mendengar suara kemarahan Raden Bagus Penjogo.


“Hei! Sini, kau!” teriak Raden Bagus Penjogo, masih marah.


Mau tidak mau, dalam kondisi perasaan ketakutan, Bajingu berjalan buru-buru mendatangi sang bangsawan.


“Hamba, Gusti Raden,” ucap Bajingu sambil menjura hormat di depan Raden Bagus Penjogo, tepatnya di belakang kedua centeng yang masih berlutut. Kali ini suara Bajingu bergetar.


“Di mana kau melihat putraku mati, Ki?” tanya Raden Ayu Rungki yang masih menangis.


“Di-di-di pinggir sungai, Gusti,” jawab Bajingu, masih gemetar.


“Cepat ambilkan kuda!” teriak Raden Bagus Penjogo kepada siapa saja.


Dari pintu lain di rumah itu, melangkah keluar Raden Runok Ulung.


“Siapa yang mati?!” tanya Raden Runok Ulung dengan suara menggema, mengandung kemarahan yang ditahan.


“Keluarga Gondo Sego telah membunuh Jaran Telu, Ayah! Sudah waktunya salah satu keluarga harus musnah dari muka bumi ini!”


“Kau bawa pulang Jaran Telu, biar aku yang datang langsung ke rumah Gondo Sego keparat itu!” perintah Raden Runok Ulung.


Kepala keluarga itu cepat berjalan masuk kembali ke dalam dengan tangan kiri menggenggam erat tongkat pendeknya yang lancip. Sepertinya Raden Runok Ulung hendak mengambil sesuatu di dalam.


Ternyata benar, sekeluarnya kembali, ia membawa sebuah keris bagus yang sudah terselip di perutnya. Keris itu bergagang dan berwarangka berukir warna biru gelap kehitaman. Itulah yang bernama Keris Lidah Malaikat. Salah satu pusaka menakutkan yang dimiliki oleh keluarga itu.


Sementara Raden Bagus Penjogo sudah naik kuda. Sejumlah centeng berpedang sudah berkumpul siap berangkat mengikuti.


“Jika kau bertemu dengan Narisantai, suruh menyusulku ke kediaman Gondo Sego!” pesan Raden Runok Ulung kepada putranya.


“Baik, Ayah!” sahut Raden Bagus Penjogo. Lalu perintahnya kepada Bajingu, “Bajingu, tunjukkan jalan!”


“Baik, Gusti!” jawab Bajingu lalu pegi berlari.


Raden Bagus Penjogo segera mengikuti dengan berkuda, kemudian para centeng menyusul bergerombol.


Sementara itu, Raden Runok Ulung baru menaiki kudanya. Ada pula sejumlah centeng yang siap mengawal.


Raden Ayu Rungki hanya bisa bersedih hati.


“Pergi kabari istri Jaran!” perintah Raden Ayu Rungki kepada seorang centeng penjaga.

__ADS_1


“Baik, Gusti.” (RH)


__ADS_2