
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Bluar bluar bluar …!
Lima ledakan bola sinar merah dari ilmu Lima Mata Setan Neraka mementalkan orang-orang terdekat, termasuk Jaran Telu. Posisinya yang berada di belakang Narisantai membuatnya begitu merasakan hawa panas yang membakar kulit.
Puluhan centeng bercelurit yang sudah balik badan, dibuat tersungkur massal saling tindih-tindihan. Adapun para centeng berpedang di belakang tubuh Jaran Telu, berjengkangan massal pula. Sejumlah warga yang terjangkau daya ledakan, berjengkangan pula di tempatnya masing-masing.
Adapun Iwak Ngasin, Juling Jitu, Anjengan, dan Gagap Ayu yang posisinya lebih depan dibandingkan warga, turun berjengkangan.
Sementara Alma Fatara melindungi dirinya dengan ilmu Tameng Balas Nyawa yang berupa lapisan sinar ungu tebal tapi bening. Adapun Narisantai selaku pemilik ilmu, berdiri santai di tempatnya.
“Gagap biang onar!” teriak Anjengan lalu cepat melompat menimpa tubuh Gagap Ayu yang menjadi biang terjadinya ledakan dahsyat itu. “Kenapa kau ledakkan bola-bola itu? Aku cekik kau sampai kelojotan!”
Jaran Telu cepat bangkit dengan wajah memerah seperti udang rebus, bahkan ada kulit wajahnya yang melepuh.
Iwak Ngasin dan Juling Jitu cepat bangkit. Mereka tegang dan langsung waspada. Mereka memandang Alma Fatara, menunggu komando darinya.
Sejumlah centeng bercelurit kubu Keluarga Raden Gondo Sego menderita luka bakar pada tubuh bagian belakang. Sejumlah centeng berpedang kubu Keluarga Runok Ulung pun menderita luka bakar pada wajah dan tubuh depan.
“Narisantai! Kenapa kau ledakkan ilmumu?!” teriak Dugalara gusar dari atas punggung kudanya. Ia dan adiknya berposisi cukup aman dari jangkauan kekuatan ledakan.
“Bukan aku yang meledakkannya, tetapi gadis itu!” jawab Narisantai sambil menunjuk Gagap Ayu dan Anjengan yang sedang bergulat.
“Tangkap pendekar asing itu!” teriak Jaran Telu kepada para centengnya yang berkondisi masih sehat.
“Tangkap pendekar asing itu!” perintah Dugalara pula.
Maka pasukan centeng dua keluarga yang bermusuhan itu berhamburan ke arah Alma Fatara dkk.
“Kabuuur!” teriak Alma Fatara mengomandoi keempat sahabatnya.
Anjengan yang terkejut cepat melepaskan Gagap Ayu, lalu bersama-sama mereka bangkit kemudian berlari tunggang langgang.
Demikian pula dengan Iwak Ngasin dan Juling Jitu, keduanya buru-buru lari menyelamatkan diri ke arah yang lain.
Wuss!
Alma Fatara cepat menghentakkan kedua lengannya ke dua arah, melepaskan angin pukulan untuk menghalau para centeng itu. Dua angin keras menderu menghalau dua pasukan centeng, membuat para lelaki itu terhempas berjengkangan seperti wanita dan bergulingan seperti kambing.
Wess! Zing! Wess!
Narisantai melesatkan sinar merah berpijar menyerang Alma. Alma cukup mengeluarkan ilmu perisai Tameng Balas Nyawa, berupa dinding sinar ungu bening lagi tebal.
__ADS_1
Sinar merah berpijar menghantam dinding sinar ungu, membuat ilmu Darah Sakit Hati memantul balik dan lurus ke arah tuannya sendiri.
“Hah!” kejut Narisantai lalu buru-buru menghindari serangan ilmunya sendiri.
Bluar!
Sinar merah berpijar ilmu Darah Sakit Hati akhirnya meledakkan lahan kosong.
“Hahaha!” tawa Alma menertawakan Narisantai.
“Hiaaat!” teriak Jaran Telu sambil melesat cepat memukulkan tongkatnya kepada Alma.
“Jiaaak!” pekik Alma Fatara seperti orang ketakutan. Buru-buru ia berkelebat pergi menjauh. Ia lalu berlari menyusul Anjengan dan Gagap Ayu.
“Kejaaar!” teriak Dugalara sambil menunjuk ke arah kepergian Alma dan kedua sahabat wanitanya.
“Kejar merekaaa!” teriak Narisantai sambil menunjuk ke arah kepergian Iwak Ngasin dan Juling Jitu.
Maka, orang-orang bercelurit pergi mengejar Alma, Anjengan dan Gagap Ayu. Orang-orang berpedang berlari mengejar pelarian Iwak Ngasin dan Juling Jitu.
“Gara-gara kau, Gagap Ayu!” teriak Anjengan sambil berlari paling belakang, karena ia tertinggal oleh Alma dan Gagap Ayu.
“Ha-ha-hancurkan mereka semua, Ge-ge-gendut!” teriak Gagap Ayu.
“Hiaaa!” teriak Anjengan dengan sangar sambil berbalik menunjukkan kegarangannya dengan gigi dibuka selebar-lebarnya, jari-jari tangan siap mencekeram.
“Awas!” teriak Warga Sengko yang terkejut dan tiba-tiba berhenti, membuat para anak buanya turut berhenti mendadak.
“Hiaaat!” teriak keras Anjengan sambil menghentakkan kedua tangannya ke depan.
“Menghindaaar!” teriak Warga Sengko berkomando sambil melompat jauh ke samping.
Seluruh anak buah Warga Sengko berlompatan seperti kucing ke kanan dan ke kiri. Namun, tidak ada serangan yang keluar dari hentakan tangan Anjengan.
“Hahahak …!” Anjengan tertawa terbahak dan berkepanjangan melihat Warga Sengko dan para anak buahnya seperti sekelompok jangkrik yang rerumputannya diusik.
“Kurang ajuuur!” teriak Warga Sengko gusar bukan main.
Sezt!
Baru saja mereka hendak bergerak menyerbu Anjengan, tiba-tiba di udara sudah melesat dua sinar kuning tipis melengkung yang menebas sejumlah pangkal dahan di pohon sisi kanan dan kiri.
Bsrak! Bsrak!
__ADS_1
Sejumlah dahan berdaun rindang menimpai para centeng itu dengan berbagai hasil. Ada yang sekedar sakit, ada yang patah tulang, ada yang bocor kepala sampai ada yang pingsan. Sementara Warga Sengko berhasil selamat dari timpaan batang pertama setelah ia menebaskan celuritnya, menebas kilat dahan yang setebal lengan kekarnya.
Duk!
“Akk!” erang Warga Sengko tertahan saat dahan lain sebesar betisnya menimpa pinggang belakangnya. Ia meringis sambil melengkungkan tubuh ke depan.
“Hahahahak!” tawa Alma dan Anjengan bersama-sama.
“Woi!” teriak Gagap Ayu dari jauh memanggil kedua sahabatnya.
“Ayo ayo ayo kabur! Hahaha!” kata Alma mengajak Anjengan lalu tertawa sambil berlari pergi ke arah Gagap Ayu.
“Hahahak!” tawa Anjengan sambil berlari pergi.
Mereka bertiga tertawa bersama seperti tiga anak nakal usai mengerjai orang tua.
Karena pimpinan mereka tidak bisa mengejar lagi, para centeng yang selamat dari timpaan dahan memilih tidak mengejar.
Sementara di tempat lain. Iwak Ngasin dan Juling Jitu berlari kencang karena dikejar oleh puluhan lelaki berpedang berseragam merah gelap. Jarak kejar tidak terlalu jauh.
“Juling, lakukan sesuatu!” teriak Iwak Ngasin.
“Melakukan apa? Mereka kebanyakan!” teriak Juling Jitu.
“Buat mereka kelilipan!” teriak Iwak Ngasin lagi.
“Kenapa aku tidak kepikiran, ya?” ucap Juling Jitu kepada dirinya sendiri.
Juling Jitu lalu berlari ke arah sebongkah batu sebesar rumah. Ia melompat hanya untuk menolakkan kakinya pada batu, kemudian dia melompat balik ke hadapan massa yang mengejar.
Sress!
Juling Jitu menghentakkan jari-jemarinya yang kemudian melesatkan serbuk sinar kuning halus yang banyak. Serbuk sinar itu berlesatan seperti jutaan serangga kecil yang terbang menaburi wajah-wajah para centeng itu.
“Aak! Aaa! Akk …!”
Para lelaki berpedang itu terpaksa berhenti berlari ketika mata mereka tersusupi oleh sinar-sinar halus. Seketika mereka terpejam dengan kondisi mata yang menderita. Panas, perih dan sakitnya berdenyut-denyut.
Para lelaki yang terkena serbuk sinar ilmu Pasir Angin Senja langsung kelojotan tidak karuan, sambil memegangi kelopak matanya. Sementara mereka yang selamat karena lebih dulu memejamkan mata, jadi kebingungan dan merasa ikut menderita.
“Jiahahaha!” pekik Juling Jitu tertawa sampai melompat girang di tempat.
“Jangan tertawa, nanti perempuan cantik itu mengejar kita juga!” kata Iwak Ngasin sambil menarik tangan Juling Jitu dan membawanya berlari.
__ADS_1
Maka ilmu Pasir Angin Senja cukup membuat Juling Jitu dan Iwak Ngasin meloloskan diri. (RH)