
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
“Alma! Kenapa kita tidak beli kuda saja, daripada jalan kaki tidak sampai-sampai?” tanya Anjengan yang berjalan paling belakang. Muatan lemaknya membuatnya selalu tertinggal di belakang.
Alma berbalik memandang kepada kakaknya. Ia melangkah mundur.
“Karna aku tidak pernah mengajak kalian, dan kalian sendiri yang memutuskan ikut, jadi kalian mau tidak mau, hidup tidak hidup, harus mengikuti keputusanku!” kata Alma.
“Hah! Seperti raja yang penindas saja,” kata Anjengan.
“Bu-bu-bu ….”
“Buluk?” terka Juling Jitu memotong perkataan Gagap Ayu.
“Bu-bu-bukan raja, ta-ta-ta ….”
“Tawon?” terka Iwak Ngasin, giliran dia yang memotong perkataan Gagap Ayu.
“Hahaha!” tawa Alma.
“Tawon mbah kau!” maki Gagap Ayu dengan lancar sambil mencoba menyepak bokong Iwak Ngasin.
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin sambil melompat kodok menghindari sepakan Gagap Ayu.
“Bukan raja, ta-ta-tapi ratuuu!” teriak Gagap Ayu. “Alma itu ra-ra-ratu Si-si-siluman Ikaaan!”
“Hahaha!” tawa Alma. Lalu katanya kepada keempat sahabatnya, “Kita ini jalan ceritanya sedang mengembara, bukan mau pergi ke suatu tempat. Jadi tidak perlu buru-buru. Lain ceritanya jika ada perkara genting untuk pergi ke suatu tempat. Aku ingin tahu dan menikmati semua daerah yang kita lewati, kenal orang-orangnya. Siapa tahu jodoh kalian ada di salah satu desa yang akan kita lewati. Jika menggunakan kuda, bisa-bisa justru akan terlewat.”
“Tapi kita perlu mengisi perut dan mengistirahatkan kaki!” sahut Ajengan.
“Be-be-be ….”
“Belut?” terka Juling Jitu lagi memotong perkataan Gagap Ayu.
“Be-be-betuuul! Aku ju-ju-juga la-la-lapaaar!”
“Hahaha! Baik, putuskan, kalian mau makan apa! Aku yang akan bayar semua!” seru Alma yang kini sudah berjalan maju.
“Eh, sini-sini!” teriak Anjengan memanggil ketiga sahabatnya yang lain selain Alma, agar datang berkumpul kepadanya.
Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Gagap Ayu segera mendatangi Anjengan untuk berkumpul berembug. Mereka saling merangkul pundak seperti tim bola voli yang sedang mengatur taktik di masa time out.
“Kita harus makan makanan yang terlezat di desa ini!” tandas Iwak Ngasin.
“Benar. Juga di kedai makan terbesar, agar persediaan makanannya tidak kehabisan jika kita minta tambah!” kata Anjengan bersemangat.
“Selagi Alma banyak uang, kita harus mencoba semua jenis makanan. Kita harus menjadikan pengembaraan ini menjadi perjalanan yang menyenangkan,” kata Juling Jitu pula.
“Be-be-belut! Eh, kok belut? Betul maksudku. Ki-ki-kita harus ko-ko-ko ….”
“Kolor?” tanya ketiga sahabat lainnya serentak memotong perkataan Gagap Ayu.
__ADS_1
“Hihihi!” Gagap Ayu justru tertawa oleh ulah ketiga sahabatnya itu. Lalu ralatnya, “Kita harus ko-ko-kompak!”
Tuuut!
Bak! Bug!
“Hahahak …!”
Tiba-tiba satu ledakan gas bawah bokong terdengar keras lagi jelas dari lubang mana keluarnya. Sontak Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Anjengan mendorong dada Gagap Ayu dengan sadis. Gagap Ayu langsung terjengkang seperti pemain gulat smack down. Sementara ketiga sahabatnya langsung menjauh sejauh beberapa tindak.
Alma pun tertawa berkepanjangan mendengar dan melihat kekisruhan para sahabatnya.
“Gagap bokong dandang!” maki Iwak Ngasin.
“Aku sumpahi bokongmu meledak!” maki Juling Jitu.
“Gagap Cebong!” maki Anjengan pula.
“Hihihi!” tawa Gagap Ayu berkepanjangan.
“Giliran menertawakan orang lain kau tidak gagap!” rutuk Iwak Ngasin kesal.
Iwak Ngasin lalu menghampiri Alma dan menyampaikan keinginan mereka.
“Hahaha! Baik, aku tidak akan menolak permintaan kalian. Coba kalian tanyakan kepada warga di sini, desa apa ini dan di mana kita bisa menemukan kedai makan terbaik,” perintah Alma.
Mendengar perintah Alma, Juling Jitu segera pergi menemui seorang warga yang sedang berjalan membawa sepanggul jala tebar, sebagai tanda bahwa ia adalah seorang nelayan.
“Ini Kademangan Santun Pongah, Kisanak,” jawab si nelayan separuh baya.
“Santun Pongah?” sebut ulang Juling Jitu karena menilai unik nama itu.
“Kalau kedai makan terbaik di kademangan ini di sebelah mana?”
“Nak Kisanak bisa lihat pohon randu tinggi itu?” tanya si nelayan sambil menunjuk ke arah sebatang tinggi pohon randu.
Juling Jitu pun memandang ke arah tunjukan si nelayan.
“Bukan ke arah sawah, tetapi pohon randu itu!” ralat si nelayan karena melihat mata Juling Jitu.
“Iya aku sudah memandang ke arah pohon randu, Ki, mataku saja yang juling!” tandas Juling Jitu.
“Oooh, hahaha! Maaf, Kisanak!” ucap nelayan itu sambil tertawa.
“Terima kasih, Paman! Hahaha!” ucap Alma Fatara ramah yang kemudian tertawa pula gegara Juling Jitu yang dianggap salah arah pandang.
“Permisi, Nak Pendekar!” ucap nelayan itu lalu pergi menuju rumahnya.
Alma Fatara dan keempat sahabatnya bergegas menuju ke arah tempat pohon randu tumbuh gagah menjulang.
“Bagaimana bisa dia tidak dapat membedakan mana bola mataku yang bercahaya laksana bintang tergoda, dan mana mataku yang tanpa roh?” gerutu Juling Jitu.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Alma mendengar gerutuan Juling Jitu.
“Lebih baik kau tutup satu matamu yang juling itu, agar jelas maksud matamu memandang siapa,” kata Anjengan dari belakang.
“Aaah, benar!” setuju Juling Jitu.
“Ka-ka-kalau ditutup se-se-se ….”
“Semut?” terka Juling Jitu memotong perkataan Gagap Ayu.
“Se-se-sebelah!” teriak Gagap Ayu kepada Juling Jitu. “Kalau di-di-ditutup sebelah, pa-pa-pasti lebih ga-ga-gan ….”
“Lebih ganjen?” Kali ini Alma yang memotong perkataan Gagap Ayu.
“Iyyaaa! Hihihi!” pekik Gagap Ayu sambil menunjuk Alma, lalu tertawa keras.
“Hahaha!” tawa Iwak Ngasin dan Anjengan juga.
“Lebih ga-ga-ganteeng!” ralat Gagap Ayu.
“Memang dasarnya aku itu ganteng sejak dilahirkan,” puji Juling Jitu.
“Hahahak!” tawa terbahak Alma.
Sambil bersenda gurau, mereka pergi ke tempat yang sudah ditunjukkan. Setelah berjalan agak jauh, akhirnya mereka bisa melihat kedai makan yang cukup besar dan ramai oleh pengunjung.
Posisi kedai tidak begitu tepat di pinggir jalan tanah kering itu, tetapi agak masuk sehingga memiliki lahan parkir yang cukup luas, meski yang parkir hanya beberapa ekor kuda saja.
“Hei hei hei! Sini!” panggil Iwak Ngasin yang berjalan di depan. Ia berhenti di tengah jalan sambil berjongkok memperhatikan sesuatu di tanah.
Sebentar kemudian, mereka berlima sudah berkumpul memperhatikan sesuatu yang ada di tanah jalanan itu.
Sesuatu yang mereka perhatikan adalah garis tebal berwarna merah terang yang melintang memotong jalan. Garis tebal itu adalah besi setebal dua jari lagi panjang yang dibenamkan dalam ke tanah. Besi panjang itu jadi mirip polisi tidur di zaman negeri masa depan.
“Ini besi yang sangat berat. Sepertinya panjang sampai ke dalam,” kata Iwak Ngasin.
“Ini besi yang bagus, warnanya bisa merah seperti ini,” kata Alma pula.
Di saat mereka sedang berjongkok dan membungkuk menekuni garis merah, dari arah salah satu ujung jalan muncul dua ekor kuda yang berlari. Salah satunya memiliki tali yang mengikat kedua tangan seorang pemuda, yang berlari terhuyung-huyung dalam kondisi sudah berdarah-darah. Pemuda yang wajahnya sudah bengkak memar itu tidak lain adalah Rawil Sembalit.
Melihat ada kuda yang datang, Alma dan keempat sahabatnya buru-buru bangkit dan menepi.
Namun, meski mereka sudah menepi, tetapi dua kuda itu tetap berhenti. Kedua kuda sengaja dihentikan di dekat garis besi merah, tidak melewatinya.
Duk!
Pemuda yang kondisinya mengibakan itu jatuh terlutut dengan kepala terkulai lemah.
Alma dan keempat sahabatnya hanya memandangi kedua lelaki penunggang kuda dan pemuda yang ditarik memakai tali.
Kemunculan kedua penunggang kuda itu juga membuat warga sekitar menjadi heboh. Terlebih mereka melihat keberadaan Rawil Sembalit yang terkenal sebagai juara memancing ikan. Sejumlah warga mulai berdatangan dan berdiri di pinggir jalan sekitar garis merah, seolah-olah akan ada pertunjukan sebentar lagi.
__ADS_1
Ya, mereka sudah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. (RH)